Sabtu, 04 Agustus 2012

Melihat dunia dengan hati sederhana

Dalam kalangan agama Buddha ada perkataan: “Keyakinan adalah sumber pengetahuan dan jasa pahala untuk memupuk segala akar kebajikan”, kalau disebutkan pada masa sekarang, artinya kita mesti memiliki keyakinan yang kokoh, dengan kebijaksanaan memilih orang, hal atau benda tertentu, setelah yakin benar kalau di kemudian hari tidak akan timbul keraguan lagi, maka kita harus fokus dalam mendalami dan menerapkan satu ajaran, barulah nantinya dapat menggapai keberhasilan.
 
Orang buta membawa pelita penerang jalan

Master berbagi sebuah kisah. Seorang buta pagi-pagi sekali sudah hendak pergi ke vihara untuk mengikuti acara kebaktian, karena jarak dari rumahnya sangat jauh, dia berangkat lebih awal, sebelum fajar menyingsing sudah pun tiba di vihara; bhikkhu di vihara bertanya: “Pagi-pagi sudah datang, kenapa tidak membawa pelita?”

Dia menjawab: “Saya tidak dapat melihat, ada atau tidak membawa pelita sama saja.”

Bhikkhu kembali bertanya: “Apakah anda tidak kuatir akan jatuh ke parit atau mengalami kecelakaan?” Dia menjawab: “Walau ini adalah kali pertama bagi diri saya untuk mengikuti acara kebaktian pagi di vihara, namun saya pernah ke sini beberapa kali di saat-saat biasa, saya sudah hapal arah dan kondisi jalan.”

Orang buta ini mendengarkan pembabaran Sutra dan menanyakan berbagai masalah di vihara, tanpa terasa hari sudah sore menjelang malam, dia lalu bersiap-siap untuk pulang dan berkata pada bhikkhu: “Bolehkah meminjamkan sebuah pelita pada saya?”
 
Bhikkhu berkata: “Apakah ada gunanya anda membawa pelita? Pagi-pagi buta anda sanggup datang, kenapa sekarang anda butuh pelita?”

Orang buta berkata: “Pada pagi-pagi buta, saya yakin tidak ada orang di jalan, sehingga tidak akan ditabrak orang; sekarang malam sudah hampir tiba, banyak orang berlalu lalang di jalan, saya membawa pelita agar orang dapat melihat saya dan tidak menabrak saya.” Ini menunjukkan kalau dia percaya pada diri sendiri, namun tidak berani mempercayai orang lain.

Dengan keraguan pada diri sendiri dan orang lain, kebijaksanaan tidak akan tumbuh berkembang

Dalam kehidupan bukankah juga demikian? Jika ingin percaya pada diri sendiri, juga percaya pada orang lain membutuhkan adanya kebijaksanaan sangat tinggi. Di antara sesama selalu saja saling meragukan dan saling cemburu, membuat pikiran menjadi kacau, sudah jelas di depan mata adalah jalan lebar nan luas, malah membuat batasan bagi diri sendiri dalam melangkah.
 
Orang masa kini memiliki banyak macam keraguan, pertama adalah “ragu pada diri sendiri”, ada sebagian orang memiliki kondisi hidup kurang baik atau taraf pendidikan rendah, selalu merasa rendah diri dan tidak berani bersosialisasi dengan orang; kadangkala ketika ada orang secara tidak sengaja memandang pada dirinya, atau kebetulan sedang berbicara dan memandangnya sekilas, dirinya langsung curiga kalau orang lain sedang meremehkan dan membicarakan dirinya.

Tidak percaya diri akan menimbulkan “kebodohan tersembunyi” dalam batin, membuat seseorang menutup diri dan tidak mampu membangkitkan kebijaksanaan; secara perlahan-lahan dalam batin akan timbul kerisauan dan pola pikir menjadi melenceng, selanjutnya membuat gunjingan dan memutar-balikkan prinsip kebenaran, pada akhirnya berbuat banyak kesalahan.   

Jenis keraguan lain adalah “ragu pada guru”, pepatah mengatakan ‘biar sehari saja menjadi guru diri kita, harus diperlakukan sebagai orangtua seumur hidup”, dengan menghormati guru barulah mampu menaruh perhatian pada ajarannya; kalau sudah memilih guru arif, harus dihormati dan dikasihi. Bila ada keraguan akan prinsip-prinsip atau kepribadian dan ajaran guru, bagaimana mungkin dapat belajar kebenaran sejati dan memupuk jiwa kebijaksanaan sendiri?
 
Maka, kita harus selalu mengingatkan diri sendiri, jangan ragu pada diri sendiri mau pun orang lain, jika ada keraguan dalam batin, kita tidak akan mampu mempelajari maksud sesungguhnya yang terkandung di dalamnya. Pepatah kuno mengatakan: “Dalam beberapa orang dalam kebersamaan, setiap orang tentu memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat dijadikan pelajaran dan panutan, sehingga setiap orang seakan merupakan guru.” Tak peduli bertemu dengan teman yang dapat memandu di jalan benar atau teman buruk yang mengajak berbuat hal jahat, semuanya adalah pendidikan tentang sifat berwujud, jangan memperlakukan masalah antar orang sebagai perselisihan; begitu timbul perselisihan, harus dianggap sebagai sarana untuk menempa diri.

Kebijaksanaan dapat membedakan benar dan salah, serta mengiyakan diri sendiri, kepercayaan diri ini dengan sendirinya akan dapat mengakumulasi keberhasilan yang berlimpah. Kita harus belajar untuk memandang segala sesuatu dengan hati sederhana dan jernih, lebih mendekatkan diri pada teman yang dapat memandu di jalan benar, agar dapat menampilkan kehidupan yang terang benderang dan bebas dari kerisauan.

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 6 Maret 2006
 
單純心看世界
 
佛家有云:「信為道源功德母,長養一切諸善根」,以現代而言,就是必須要有堅定的信念,以智慧選擇人事物,肯定後不再起疑心,一門深入實踐,方能有所成 就。

盲人提燈

分享一則故事。有位盲者一早要去寺院禮拜,離家很遠,所以他提早出門,在天未亮就抵達寺院;寺院裡的僧人問:「清早就來,怎麼沒提燈?」

他說:「我看不見,提不提燈都一樣。」

僧人又問: 「你難道不怕掉到水溝,或是發生意外?」他說:「雖然是第一次清早出門參加寺院的早課,但是平時就來過幾次,能熟悉道路的方向與狀況。」

這位盲者在寺院裡聽經、請教問題,不知覺已到黃昏,準備起身回家,對僧人說:「能不能借我一盞燈?」

僧人說:「提燈對你有用嗎?大清早都能 來了,為何現在需要提燈?」

盲者說:「清早時刻,我相信路上沒有行人,不會被人擦撞到;現在夜色已近,路上行人多,提燈是怕別人看不到 我,會撞到我。」這就是他相信自己,卻不敢肯定別人。

自疑而疑他 智慧不增長

人生不也是如此?要相信自己又肯定別人,需要有很高的智慧。人與人之間總是互疑猜忌,因此心念混亂,明明眼前是一條康莊大道,卻自我障礙設限。

現代人有許多種疑心,一是「自疑」,有些人外在條件不如意,或是教育程度稍低,心生自卑,不敢與人合群;有時候別人無意看他一眼,或者正好在說話,就疑心他 人輕視、議論自己。

對自己沒信心,內心就會「暗鈍」,以致自我封閉,無法開啟智慧;慢慢地心起煩惱,產生不正確的觀念,進而搬弄是非、顛倒道理,就會引發諸多的錯誤行為。

另一種是「疑師」,所謂「一日為師,終身為父」,尊師才能重道;既然用智慧選擇明師,就要尊重、敬愛。 若是對師承的道理,或是為師的人格、教法,有所懷疑,如何習得真理,成就自我的慧命?

所以,要自我警惕,不要自疑也不要疑他,有了這念疑心,無法學習真正的內涵。古云:「三人行必有我師焉。」無論遇到善知識或惡知識,都是現相教育,不要將人事當作是非;一旦是非生起,要當作磨練自我的教育。

智慧能分辨是非,肯定自己,如此的自信,自然能夠累積豐富的收穫。我們就是要學得以單純、清明的心看待萬象,親近善知識,展現光明、 自在的人生。

上人開示於200636

Tidak ada komentar:

Posting Komentar