Sabtu, 04 Agustus 2012

Bagaimana kereta api yang telah kehilangan rel dapat tetap berjalan

Membahas alam mimpi dari Master Cheng Yen
 
Disusun oleh Jing-yuan/dikutip dari Tabloid Tzu Chi edisi 077

Sulit untuk bisa terlahir sebagai manusia, sulit untuk bisa mendengarkan ajaran Buddha, lebih sulit lagi untuk bisa menapak di jalan Bodhisattva. Walau pun sekarang telah memasuki zaman kemunduran Dharma, tetapi kita juga sedang kembali pada ajaran Buddha di zaman kuno. Dalam acara temu ramah anggota Komite Tzu Chi Taipei pada awal bulan Juli, Master yang jarang bermimpi mengutarakan sebuah alam mimpinya yang berisi fenomena dan peringatan.

“Itu adalah sebuah kereta api yang melaju dengan cepat, pada gerbong tempat saya duduk ada beberapa orang umat lelaki di dalamnya, di depan juga ada beberapa orang umat wanita, semuanya saya kenal dan saya tahu mereka adalah umat Buddha yang saleh, tentu saja di atas kereta api masih banyak orang lain. Kereta api terus berjalan ke arah depan, tampak ada sebanyak lima atau enam orang umat lelaki yang mengambil barang bawaan dari tempat koper di atas tempat duduk, lalu mengeluarkan jubah kebaktian berwarna hitam dan mengenakannya, tidak berapa lama sesudah mereka mengenakan jubah kebaktian, laju kereta api perlahan-lahan melambat dan sepertinya akan berhenti pada sebuah stasiun, saya dengan perasaan ingin tahu bertanya kepada mereka, mengapa mengenakan jubah kebaktian di atas kereta api? Mereka menunjuk suatu tempat di luar jendela dan mengatakan kalau mereka akan turun di sana untuk melakukan ziarah.”
 
“Walau pun di mulut tidak bersuara, namun di dalam hatiku bertanya: kenapa mereka tidak turun di stasiun tujuan, malah turun di tengah perjalanan untuk melakukan ziarah?”

“Sebelum kereta api sampai di stasiun, saya berdiri dan berjalan ke tempat umat wanita berada, saya menyaksikan sebuah pemandangan penuh keduniawian, ternyata para umat wanita sedang asyik menata rambut dan bersolek. Saya merasa orang-orang ini benar-benar patut dikasihani, mereka melapisi wajah dengan riasan tebal seakan tidak berani memperlihatkan wajah asli mereka pada orang, saya terpaksa kembali ke tempat duduk semula dengan rasa sesal. Pada ketika ini para umat lelaki sudah siap mengenakan jubah kebaktian dengan rapi, kereta api juga sudah berhenti, lalu mereka turun satu per satu.”
 
“Ketika kereta api kembali berjalan, mendadak dari depan datang seorang pria yang terlihat sangat biasa-biasa saja, bertubuh pendek kecil dan mengenakan baju kemeja biasa yang tidak seperti pakaian seragam, tampaknya dia bukan masinis kereta api, namun berdiri di jalan dan kereta api tidak bergerak. Saya berjalan ke depan untuk melihat apa yang telah terjadi, ternyata dia naik ke atas gerbong kereta api untuk mengatakan kereta api perlu didorong. Begitu saya melihat ke bawah, saya baru tahu kondisinya sangat berbahaya, ternyata  di bawah gerbong kereta api tidak ada jalur rel, bagaimana mungkin bisa didorong agar jalan? Tanpa tertahankan, saya berteriak: Bahaya! Orang itu terpaku di tempatnya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi.”
 
“Saya lalu mengambil dua batang tongkat bambu dan berdiri di papan besi pada bagian depan yang tiada gerbong, saya berusaha sekuat tenaga menekan pada tanah  di bawah untuk menggerakkan gerbong kereta api. Dalam hati saya berpikir, di bagian belakang duduk sedemikian banyak orang, tetapi di bawah gerbong kereta api tidak ada jalur rel, jadi setiap saat bisa saja terbalik. Oleh karenanya, saya terus mendorong dengan kedua batang tongkat bambu itu, dengan harapan dapat mengembalikan roda gerbong kereta api ke atas rel, orang tadi juga membantu di samping saya, pada saat sepasang tangan kami sudah kebas dan sakit, serta roda gerbong kereta api sudah hampir kembali ke rel, para umat lelaki yang tadi mengenakan jubah kebaktian di atas kereta api ternyata juga datang kembali untuk membantu saya mendorong gerbong kereta api, akhirnya roda gerbong kereta api kembali ke atas rel, saya menghela napas lega dan menaruhkan tongkat bambu, ketika saya membalikkan kepala, baru saya menemukan kalau ternyata kereta api selema ini berjalan mundur.”
 
“Saya lalu membalikkan badan dan berjalan ke arah depan, sesampainya di depan, baru saya tahu kalau ternyata tadinya saya duduk di bagian belakang rangkaian kereta api, sedangkan rangkaian kereta api yang tadi masih berada di atas rel barulah merupakan bagian lokomotif, selanjutnya saya terbangun dari tidur. Heran sekali ternyata perasaan sakit dan kebas pada tangan masih terasa, saya terus berpikir kenapa saya bermimpi alam demikian.”
 
“Ada orang sering mengatakan kalau saya sedang melakukan inovasi terhadap ajaran Buddha, padahal saya sedang kembali pada ajaran Buddha zaman dahulu. Alam mimpi tadi dengan jelas menggambarkan kondisi kita sekarang ini, kereta api dikemudikan oleh orang yang bukan masinis, seperti ajaran Buddha yang kadangkala menyimpang, itu disebabkan pembabar Dharmanya bukan seorang pembabar Dharma yang benar, begitu ajaran yang dibabarkan menyimpang, ajaran Buddha menjadi seperti kereta api yang keluar rel, tidak bisa berjalan lagi.”
 
“Lalu mengenai para umat lelaki yang turun untuk ziarah sebelum kereta api mencapai stasiun tujuan, ini melambangkan kalau umat Buddha sekarang kebanyakan lebih suka mencari kebaikan bagi diri sendiri atau mengutip sepotong-potong sehingga lari dari konteks. Namun ketika saya bersusah payah menahan gerbong kereta api dengan dua batang tongkat bambu, ternyata tindakan itu dapat menggugah hati mereka, sehingga batal melakukan ziarah dan kembali untuk membantu saya mendorong rangkaian kereta api ini.”
 
“Sedangkan para umat wanita yang suka bersolek dan tidak berani menampakkan wajah asli kepada orang itu, melambangkan tabiat buruk semua manusia awam yang sulit diperbaiki.”
 
“Kedua batang tongkat bambu tadi yang tadinya dipergunakan untuk mendorong kereta api, sebatang adalah keberkahan, sebatang lagi adalah kebijaksanaan; tidak peduli seberapa lelahnya, tetap harus baik-baik menggunakan kedua batang tongkat berkah dan kebijaksanaan ini, kalau tidak, apa yang harus dilakukan dengan kereta api yang berhenti pada posisi tanpa rel? Apa pula yang akan terjadi pada sedemikian banyak penumpang di atas kereta api?”

“Setelah terbangun dari mimpi tersebut, pada pagi hari itu saya terduduk menangis, saya menjadi tersadarkan kalau perjalanan seterusnya dari Tzu Chi bagaikan kereta api yang sedang melaju kencang, kalau sedikit lengah saja akan bisa terjerumus ke posisi tanpa rel, tanpa berkah dan tanpa kebijaksanaan, membuat Tzu Chi tidak bisa digerakkan lagi, jika saya tidak berani memikul tanggung jawab untuk menggugah hati orang-orang yang turun di tengah perjalanan agar mau kembali membantu, maka bagaimana caranya saya dapat membuat para penumpang di atas kereta api yang berasal dari segala macam orang untuk bisa menghapus tabiat buruk mereka?”
 
“Mendorong barisan panjang dari Tzu Chi bukanlah hal mudah. Walau setiap orang tahu akan sifat hakiki masing-masing, namun tetap saja bersolek di depan cermin untuk menunjukkan segala macam tabiat buruk kepada orang, hal ini buakn saja merupakan kerugian sangat besar bagi diri sendiri, sedangkan bagi saya (Master) merupakan tekanan dan beban berat. Mengapa tidak dapat menurunkan kain penutup cermin dan membersihkan semua riasan di wajah, jangan lagi sembarangan bersolek, ikutilah sifat hakiki yang jernih untuk melangkah di rel ajaran Buddha.”
 
“Asal diri sendiri mau menjaga diri sedikit, maka masalah kecil dan tabiat buruk kecil tidak akan terhimpun menjadi beban berat, juga tidak akan melukai hati orang, kita harus tahu jikalau Tzu Chi dapat berbuat dengan baik, bukan saja akan berpengaruh pada masyarakat, juga berpengaruh pada batin seluruh umat manusia.”
 
Ketika Master menjelaskan tentang alam mimpinya, beliau beberapa kali sesunggukan dan tidak bisa melanjutkan pembicaraan, nada berharapnya tidak perlu ditunjukkan lagi, para Komite Tzu Chi yang hadir juga ikut menangis semuanya, kalau dipikirkan maka beban di pundak Master sungguh berat sekali, lalu apa yang dapat kita lakukan untuk meringankan beban beliau? Bagaimana kita tega membiarkan tabiat buruk kita mengakibatkan Master merasa sedih, risau dan khawatir.


慈濟道侶第077  
 
失去軌道的火車怎麼走 上人的夢與境/靜原整理

人身難得,佛法難聞,菩薩道更難行。現今雖說是末法時代,卻是在復古的佛法中。一向很少作夢的上人,七月初在台北委員聯誼會中,向所有委員披示了一個親身所作具有徵驗與警惕的夢境。

「那 是 一列急馳的火車,在我所坐的車廂內有幾位男眾居士,再前面也有一些女眾居士,這些男女眾居士我都認識,知道是虔誠的佛教徒,當然火車上還有許多人。火車往 前直走,有五、六位男眾從行李架上拿下包袱,取出黑的海青換上,就在他們換穿得差不多時,火車的速度漸次緩慢,好像要在中途靠站,我很好奇的問他們:為 何在車上換海青?他們指著車窗外某處答稱:要在那兒下車朝山。

「我口裡沒說話,卻在心底疑惑:真正火車的終點目的地不去,竟在半路下車去朝山?」

「車尚未靠站,我站起來走到女眾那邊,看到一幅紅塵滾滾的景象,女眾們正忙著梳妝打扮。我覺得這些人真可憐,在臉上抹黑塗白地,不能以真面目見人,只好又悻悻然的走回原位坐下。這時男眾們的海青皆已穿戴整齊,火車也停了下來,他們魚貫而下。」

「當火車要再度開動時,突然前面來了一位很不起眼 的人,身材矮小,穿一件不像制服的普通襯衫,看得出來不是司機,但是他在那兒擋住,火車就不走了。我走到前面去看發生了什麼事,他上車來說要推車。我往下 一看才發現事態嚴重-火車下根本沒有軌道,怎麼推得動呢?我忍不住喊道:危險哪!危險。那個人竟楞在原地,不 知所措。」

「於是我拿了兩根竹杖,就在最前面沒有車廂的車板 上,借地使力,拼命地想將火車撐動。我心裡想:火車後面還坐了那麼多人,而車下竟沒有軌道,隨時都有翻覆的危險。因此靠兩根竹杖不斷用力,希望能使車輪儘 快重回軌道,那個人也跟在旁邊幫忙一進一退來回地使力,就在我兩手酸麻,火車輪快上軌道的時候,那些中途下車 穿海青的男眾居然也回過頭來幫我推車,火車輪終究上了軌道,我鬆喘了一口氣,放下竹杖,才回頭看時,卻發現車子竟然倒退著走。」

「我回過頭向前直走,走到前面才知道:原來我剛才坐的是火車的後面,而現在上軌道的這邊才是前面,就這樣我醒過來了。很奇怪手臂酸麻的感覺猶存,我一直在想為何會有這個夢境。」

「有人常說我在革新佛法,其實我是在復古,為佛教復古。而那個夢境即清晰地顯示了我們目前的處境:火車是被那個看起來不像司機的人駛離軌道,就像佛法有時候會偏差,是因為說法者不是正確的說法者,而說法一偏差,佛法也就像脫離軌道的火車一樣,不能動彈。」

「再說那些火車未到目的地,便要下車朝山的男眾們,正顯示現今佛教徒多數會偏向獨善其身或斷義取章。但當我用兩根竹杖在那兒撐得很辛苦的時候,又感動了他們,乃放棄朝山,回過頭來幫助我推這一列火車。」

「而那些煙塵滾滾地在臉上抹粉、點胭脂、不肯以真面目見人的女眾們,即代表了一切凡夫難改的習氣。」

「至於那兩根用來努力撐進的竹杖,一根是福;一根是慧;不管多累,一定要好好地用此福慧兩杖,不然此列停在沒軌道地方的火車要怎麼辦?而車上那麼多的人又該怎麼辦?」

「作完了這個夢,那天清晨我坐著哭了,我覺悟到慈 濟繼續的路,就像這列急馳的火車,稍一不慎,即可能走入沒軌道的地方,欠福欠慧,慈濟就拖不走,我若不能勇敢地去承擔起來,去感動那些半路下車的人回過頭 來助我,那麼坐在火車上這許多人,著滿紅、黑、青、白各類色彩的人,我究竟能用什麼方法,來使他徹底清淨的去掉這些小習氣、小毛病呢?」

「要拖動慈濟這浩蕩的隊伍並不容易。每個人明知道 自己的本性,卻仍對著鏡子,不分黑白青紅地任意塗抹下去,這各式各樣的習氣,一點一滴地顯形出來給人看,對個人而言是很大的損失,對師父來說,則是很大的 壓力與負擔。為什麼不能將鏡子的蓋布滑下來,把臉上的紅花水粉完全洗淨去掉,不再任意塗抹,跟隨清淨的本性, 步上佛法的軌道。」

「小毛病、小習氣只要自己檢點一些,就不會累積成很重的擔頭,就不會撞傷別人的心眼,要知道慈濟作好,不只可以影響社會,也會影響到全世界的人心。」

師父在解釋夢境的過程中,幾度哽咽不能成語,殷切期許之情不待言表,會中許多委員師姊也跟著泣不成聲,想想師父肩頭上的擔子有多重,而我們又能分擔幾兩?幾分?怎麼忍心再以自己小小的壞習氣,來令師父痛苦、煩惱與擔心。

Tidak ada komentar:

Posting Komentar