Sabtu, 10 Maret 2012

Seorang tetua yang suka berbuat kebajikan dan beramal

Dulu ada seorang tetua yang bukan saja sangat kaya, juga berhati mulia; dia berpikir daripada hanya sendirian menikmati harta kekayaan yang melimpah, lebih baik dipergunakan untuk membantu orang lain, agar setiap orang cukup sandang dan pangan. Dia lalu membuka pintu kebajikan lebar-lebar, bersumbangsih hati cinta kasih untuk menolong semua orang miskin dan menderita sakit.

Semua orang yang pernah menerima pertolongannya sangat berterima kasih dan memuji sang tetua. Di kemudian hari namanya semakin tersebar luas, bukan saja warga di negerinya sangat hormat dan cinta padanya, bahkan warga negeri tetangga juga sangat memuji hati cinta kasihnya.

Ada seorang dewa yang setelah tahu tetua ini menerima cinta kasih dan penghormatan dari banyak orang, lalu berpikir dalam hati: “Dulu sewaktu saya masih hidup di dunia juga suka berbuat kebajikan dan beramal, baru dapat menciptakan keberkahan alam dewa dan setelah wafat terlahir di alam surga, akan tetapi perbuatan baik dari tetua ini melebihi saya, apakah mungkin buah keberkahannya kelak akan melebihi saya?” 

Dalam hati dewa ini lalu timbul rasa iri, dia kemudian berencana untuk menyurutkan batin menuju pencerahan dari sang tetua. Maka dia merubah diri menjadi seorang manusia awam dan datang ke hadapan sang tetua untuk berkata: “Anda menyumbangkan harta berharga anda, apakah tidak merasa menyesal? Harta yang diperoleh dengan susah payah sudah seharusnya diwariskan kepada anak-cucu, namun anda terus beramal, sehingga suatu hari nanti tentu harta anda akan ludes.”

Sang tetua menjawab dengan wajah tersenyum: “Segala sesuatu di dunia ini akan menghidupi makhluk hidup, jika harta saya hanya dinikmati oleh satu keluarga saja adalah sangat disayangkan, maka akan lebih baik jika dapat dinikmati oleh orang-orang di seluruh dunia.”

Bodhisattva hanya berharap semua makhluk terbebas dari penderitaan

Dewa berpura-pura mengatakan: “Setahu saya, jika terlalu giat beramal, kelak akan terjerumus ke alam neraka!” Sang tetua merasa sangat heran, sebab seharusnya orang yang berbuat jahat yang akan menerima balasan dengan terlahir di alam neraka, bagaimana mungkin orang yang beramal dan berbuat kebajikan akan terjerumus ke alam neraka? Melihat sang tetua tidak percaya, sang dewa lalu menciptakan ilusi pemandangan di alam neraka dan berkata padanya: “Lihat! Orang-orang yang menderita siksaan di alam neraka ini, dulunya adalah mereka yang suka beramal di dunia, jika anda tidak percaya boleh bertanya kepada mereka.”
 
Sang tetua maju ke depan dan bertanya pada salah seorang di antaranya: “Kenapa anda terjerumus ke alam neraka?” Orang ini demi memenuhi keinginan sang dewa, menjawab: “Seperti katanya, dulu saya sering beramal harta benda untuk membantu orang, itulah sebabnya setelah wafat terjerumus ke alam neraka.” Sang tetua kembali bertanya: “Lalu ke mana perginya orang-orang yang anda bantu?” “Mereka semua dilahirkan kembali ke alam surga.”
 
Sang tetua berkata dengan penuh suka cita: “Membuat semua orang bahagia adalah cita-cita saya. Jikalau semua orang yang dibantu dapat terlahir kembali di alam surga, sedangkan hanya saya sendiri yang terjerumus ke alam neraka, itu tidak terhitung apa-apa, saya tetap saja sangat gembira.”

Ekspresi sang tetua saat ini terlihat tulus dan mengharukan, sang dewa merasa sangat terguncang batinnya, hatinya merasa terharu dan malu, pemandangan alam neraka juga hilang.

Dia kembali ke rupa dewa dan berkata kepada sang tetua: “Kata-kata yang saya sampaikan sebelumnya, semuanya adalah kebohongan yang disebabkan oleh timbulnya kecemburuan dalam hati saya, saya hendak menggoyahkan niat pikiran anda untuk beramal dan menolong orang miskin, sehingga saya memutar balikkan kebenaran akan hukum karma. Sebetulnya, berbuat kebajikan akan mendapatkan keberkahan alam dewa, sedangkan dengan kondisi batin anda yang ‘berharap semoga semua makhluk terbebas dari penderitaan dengan tanpa mencari kedamaian dan kebahagiaan bagi diri sendiri’, maka pembinaan diri anda sudah melebihi taraf alam dewa, bahkan sudah menuju taraf Bodhisattva yang terang dan jernih tiada terhingga.”

***

Jalan Bodhisattva memang sangat panjang dan jauh, ketika kita melangkah di jalan ini, kadangkala akan menerima perasaan berterima kasih dan hormat dari orang, namun kadangkala juga akan menerima kecemburuan dan fitnah dari orang, semua ini harus dihadapi dengan kebijaksanaan yang jernih dan keuletan yang teguh, kalau tidak, maka batin kita akan berputar mengikuti perubahan kondisi luar dan mudah untuk timbul perasaan ingin mundur.

Pertahankan niat kebajikan yang timbul pada masa awal secara langgeng --- memiliki hati polos dan tulus, tanpa ternoda oleh masalah dalam hubungan antar sesama, merupakan hal yang paling penting dalam pembinaan diri. Berharap semua orang dapat tetap memelihara sifat hakiki yang jernih; ketika dipuji orang, jangan angkuh dan membesarkan diri, ketika difitnah orang, jangan timbul pikiran ingin mundur, ini baru merupakan pembinaan diri sesungguhnya.

※ Dikutip dari buku “Habis debu terbitlah terang” karangan Master Cheng Yen
 
樂善好施的長者
 
從前有位長者不但家財萬貫,而且心地很善良;他覺得與其只有自己享受龐大財產,不如幫助大家,使人人都衣食無缺,因為大開善門,對於遭逢苦難病痛的人,無不付出愛心去救濟。

那些被救助的人都對長者既感恩又讚歎,後來長者的名聲傳開來,不只全國人民敬愛他,連鄰國也讚歎他的愛心。

有位天人得知長者受到那麼多人的愛戴,心想:以前我在世間也是樂善好施,所以才能感如天福,命終後往生天堂,但是,這位長者所做的好事勝過我,將來他的福報是不是會超過我?

天人心生嫉妒,打算讓長者退失道心。於是,就幻化成一位凡人,來到長者面前說:「你將寶貴的財產佈施出去,不會心疼嗎?辛苦賺來的錢應該留給子孫,你卻不斷地佈施,有朝一日會把財產花光。」

長者面露笑容回答:「天地萬物滋養眾生,我的財產若只給一家人享用太可惜了,不如讓天下人一起來享用。」

菩薩境界 但願眾生得離苦

天人佯稱:「據我所知,如果勤於佈施,將來會墮入地獄!」長者覺得很奇怪——為非作歹才會感召地獄的苦報,佈施行善的人,怎麼會墮入地獄?天人見長者不信, 便幻化出地獄的景象,告訴他:「你看!這些在地獄中受苦的人,以前都是在世間佈施的人,你如果不相信,可以去問他們。」

長者向前問其中一位說:「你為什麼會墮入地獄?」這人為了迎合天人,便回答:「如他所說,我以前常常佈施財物幫助別人,因此死後墮入地獄。」長者又問:「接受你幫助的那些人呢?」「他們都往生天堂了。」

長者歡喜地說:「讓人人幸福是我的心願,既然受幫助的人都能往生天堂,只有我一個人墮入地獄,實在不算什麼,我還是很高興!」

此時長者的神態誠摯而感人,天人受到很大的震撼,內心既感動又慚愧,地獄的景象也消失了。

他恢復天人的身形,對長者說:「之前我告訴你的話,都是我一時起了嫉妒心,想要動搖你佈施救濟的心念而顛倒因果的謊言。事實上,行善能得天福,而你這分「但願眾生得離苦,不為自己求安樂」的心懷,修得的境界更勝過天福,是無限清淨光明的菩薩境界!」

***

菩薩道遙遠漫長,走在這條路上,有時受人感恩、尊重,有時難免受到嫉妒、譭謗,這一切都必須以清淨的智慧與堅強的毅力去面對,否則心隨境轉,極易退失道心。

恆常保持初發的善念——單純與虔誠的心,不受人事是非污染,是修行最重要的事。希望大家時時守住清淨的本性,受人讚歎時,不驕傲自大;受人譭謗時,也不退轉道心,這才是真修行。

本文摘自 證嚴上人著作《塵盡光生
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar