Sabtu, 10 Maret 2012

Ayahku

Sumber artikel: Beranda Teh Jing Si pada laman Tzu Ching Afrika Selatan
 
Ayahku adalah seorang yang membanggakan bagi setiap orang.
 
Ayahku adalah seorang pengacara ahli hukum internasional, semua pelanggannya adalah perusahaan-perusahaan besar, sehingga pendapatannya sangat baik. Akan tetapi ayahku malah sering-sering membela kelompok masyarakat lemah dengan memberikan pelayanan gratis kepada mereka. Sehari dalam seminggu ayahku juga akan pergi ke kelas bimbingan belajar Li De untuk memberikan les belajar kepada para penghuni penjara usia remaja; setiap kali ada pengumuman kelulusan sekolah menengah atas, ayahku akan sibuk memperhatikan apakah para terhukum tersebut ada lulus atau tidak.
 
Saya adalah anak tunggal dalam keluarga, tentu saja semua kasih sayang tertuang pada satu orang, ayah memang tidak memanjakanku, tetapi apa yang diberikan olehnya kepadaku sudah terlalu banyak. Rumah kami sangat luas dan didekorasi dengan anggun.
 
Semua perabotan dalam kamar bacanya ayah berwarna gelap, rak buku warna gelap, kertas dinding warna gelap, meja baca ukuran besar warna gelap, di atas meja ada lampu meja model antik, ayah setiap malam mengerjakan pekerjaannya di dalam ruang baca ini.
 
Waktu kecil saya sering mencari kesempatan untuk bermain-main ke dalamnya, ayah kadangkala juga menjelaskan kepadaku akan logika yang dipergunakannya dalam menangani kasus-kasus tertentu. Cara berpikirnya selamanya sesuai dengan logika, membuat sejak kecil saya sudah belajar cara berpikirnya, itu sebabnya setiap kali saya berbicara di depan kelas selalu saja dengan jalan pikiran yang jelas, para guru tentu sangat suka padaku.
 
Ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, pernah suatu hari saya jatuh di lapangan olahraga dengan kepala berdarah.
 
Guru menelpon ayahku untuk memberitahukan dan ayahku pun datang, mobil sedan besarnya langsung dikemudikan masuk ke lapangan olahraga, ayah dan sopirnya turun dari mobil untuk membopong tubuhku, saya baru memperhatikan kalau sopir ayah juga mengenakan baju jas hitam, saya sungguh bangga dibuatnya, saya sungguh sangat bahagia memiliki seorang ayah seperti ini.
 
Sekarang saya sudah duduk di perguruan tinggi, sudah tentu saya hanya bisa sekali dalam sebulan menghabiskan akhir minggu bersama dengan ayah dan ibu. Berapa hari lalu tiba liburan musim semi, ayah menyuruhku pergi ke Kenting, di sana keluarga kami memiliki satu unit villa.
 
Ayah mengajakku untuk jalan-jalan di tepi pantai, ketika matahari terlihat akan segera tenggelam, ayah duduk beristirahat di tepi sebuah tepi jurang curam. Dia mendadak berbicara tentang Liu Huan-rong yang baru-baru ini dihukum tembak mati, ayah mengatakan kalau dirinya sangat menentang hukuman mati, walau pun seorang terpidana mati dulunya pernah berbuat kesalahan berat, namun akhirnya dia juga telah menjadi seorang yang tidak bersenjata, lagipula ada sebagian terpidana mati kemudian telah bertobat, sehingga orang yang ditembak mati sebetulnya adalah orang baik.
 
Saya mengungkit tentang rasa keadilan masyarakat, ayah tidak mau membantahnya, hanya mengatakan kalau masyarakat memang seharusnya membicarakan tentang rasa keadilan, namun terlebih lagi harus membicarakan tentang pengampunan. Ayah berkata: “Kita semua berharap agar orang lain dapat mengampuni kita.”
 
Saya teringat kalau dulu ayah pernah menjadi seorang hakim, saya lalu bertanya sambil lalu apakah ayah dulu pernah menghukum mati orang.
 
Ayah menjawab: Saya pernah sekali menghukum mati orang, terpidananya adalah seorang pemuda pribumi yang tidak terpelajar. Ketika dia bekerja di Taipei, kartu identitasnya ditahan oleh majikan perempuannya, sebetulnya ini adalah tindakan yang bertentangan dengan hukum, tidak ada seorang pun yang boleh menahan kartu identitas orang lain. Dia diperlakukan bagaikan budak oleh majikan perempuannya, membuat dia dalam emosinya membunuh majikan perempuannya. Saya adalah hakim ketua yang mengadilinya, kami lalu memutuskan hukuman mati untuknya. Di kemudian hari, terpidana ini menganut suatu agama di dalam penjara, dari segala sudut pun dipandang, dia sudah boleh dikategorikan sebagai orang baik, maka saya ke mana-mana untuk memohon pengampunan baginya, dengan harapan dia mendapatkan amnesti dan terhindar dari hukuman mati, tetapi saya menemui kegagalan. Setelah dia masuk penjara, isterinya kemudian melahirkan seorang bayi lelaki yang lucu dan menarik, ketika saya menjenguknya di penjara, saya diperlihatkan foto bayinya yang baru lahir, saya sangat sedih memikirkan kalau bayi ini kelak akan menjadi seorang anak yatim. Dikarenakan sekarang dia sudah berubah menjadi orang baik, maka saya sangat menyesali putusan hukuman mati yang kami jatuhkan dulu. Sebelum pelaksanaan hukuman mati, saya menerima sepucuk surat darinya.”
   
Ayah mengeluarkan sepucuk kertas surat yang sudah kusam dari kantungnya, tanpa bersuara memberikan surat itu kepadaku. Isi suratnya adalah sebagai berikut:
 
Bapak Hakim yang terhormat:
 
Terima kasih atas segala usaha anda untukku selama ini, kelihatannya saya sudah akan segera meninggalkan dunia ini, namun saya tetap berterima kasih kepada anda selama-lamanya. Saya memiliki satu permintaan, harap anda dapat merawat puteraku, sehingga dia dapat terlepas dari kebodohan dan kemiskinan, saya berharap sejak kecil dirinya mendapatkan pendidikan yang baik, saya mohon kepada anda agar menjadikannya sebagai seorang yang berpendidikan tinggi, jangan biarkan dia menjadi seperti diriku yang hanya menyia-nyiakan satu masa kehidupan dalam kebodohan.
 
                                                          Hormat saya: XXX
 
Saya sangat ingin tahu akan anak ini dan bertanya: “Ayah, bagaimana anda merawat anak ini?”
 
Ayah menjawab: “Saya mengadopsinya.”
 
Seketika dunia seakan berubah total. Dia bukanlah ayahku, dia adalah pembunuh ayah kandungku, sebagai anak sudah seharusnya membalaskan dendam ayah. Saya tersentak bangun, jika saya dorong pelan-pelan saja, ayahku ini akan jatuh ke dalam jurang dengan badan hancur binasa.
 
Akan tetapi bukankah ayah kandungku sudah mengampuni orang yang menghukum mati dirinya. Orang yang duduk di sini adalah orang baik, dia juga terus menyesali hukuman mati yang pernah dijatuhkannya, setelah ayah kandungku bertobat, tetapi tetap saja dihukum mati, itu adalah kesalahan masyarakat, saya tidak ada hak untuk mengulangi kesalahan yang sama.
 
Jika ayahku ada di sini, apakah yang diharapkannya untuk saya lakukan?
 
Saya berjongkok dan berkata perlahan pada ayah: “Ayah, hari sudah gelap, mari kita pulang! Ibu sedang menanti kita.”
 
Ayahku berdiri dan saya melihat ada air mata di kelopak matanya, “Anakku, terima kasih, ayah tidak menyangka kamu begitu cepat memaafkan ayah.”
 
Saya menemukan kalau mataku juga agak kabur karena berlinang air mata, namun suaraku sangat jelas: “Ayah, saya adalah anak ayah, terima kasih karena ayah telah membesarkanku hingga dewasa.”
 
Pada saat ini di pantai kebetulan sedang berhembus angin gunung kencang yang sering melanda daerah Kenting, ayah mendadak terlihat agak lemah, saya lalu memapahnya di bawah siraman cahaya mentari senja dan melangkah menembus hembusan angin kencang menuju cahaya lampu di jejauhan sana, di lahan kosong hanya ada kami berdua ayah dan anak.
 
Saya bangga terhadap ayah kandungku yang sudah meninggal dunia, sebab dadanya sungguh lapang sampai dapat memaafkan orang yang menghukum mati dirinya.
 
Saya bangga terhadap ayahku sekarang, sebab batinnya terus tidak merasa tenang atas putusan hukuman matinya, namun dia telah berusaha keras menunaikan tanggung jawabnya, membesarkan diriku sampai dewasa, bahkan bersiap sedia menghadapi kemungkinan kalau diriku akan menghabisi nyawanya.
 
Lalu bagaimana dengan diriku? Saya sendiri merasa kalau badanku sangat tegap dan kuat, saya telah dewasa. Hanya orang yang telah matang pikirannya baru bisa mengampuni orang, baru bisa merasakan kedamaian hati setelah mengampuni orang, anak kecil tidak akan paham akan hal ini.
 
Catatan akhir
 
Apakah anda masih ingat sebuah peristiwa yang menggemparkan masyarakat Taiwan pada masa kecil anda, di mana ada seorang pemuda pribumi membunuh majikannya?
 
Jika saya tidak salah ingat, pemuda pribumi itu bernama Tang Ying-shen, seorang pemuda gunung yang lugu datang bekerja ke kota Taipei yang ramai dan bertemu seorang majikan yang kejam, bukan saja menguras habis tenaganya, bahkan mencabut kebebasannya, setelah mendapatkan berbagai perlakuan tidak adil, akhirnya dia melakukan protes dengan tindakan paling ekstrim.
 
Walau tindakannya tidak benar, namun alasannya dapat dimaklumi, hukuman mati mungkin bisa memberikan shock teraphy untuk mencegah perbuatan jahat, akan tetapi bagi seseorang yang sudah putus asa dan telah pun bertobat, mungkin hukuman ini terlalu berat, walau banyak pihak dalam masyarakat meminta pengampunan baginya, namun akhirnya tetap saja terjadi.
 
Walau akhir cerita sangat mengecewakan, namun sesudah 20 tahun berlalu ternyata ada perkembangan yang menggembirakan seperti ini.
 
Kisah yang sebelumnya tidak diketahui orang ternyata mengandung berapa banyak toleransi, bantuan dan pertobatan, menurutku inilah yang disebut sebagai “cinta kasih universal”.
 
Disusun oleh Ming Dian
18/3/2011
 
我的爸爸
 
來源:南非慈青網頁~靜思茶軒
 
我的爸爸是任何人都會引以為榮的人。
 
他是位名律師,精通國際法,客戶全是大公司,因此收入相當好。可是他卻常替弱勢團體服務,替他們提供免費的服務。他每週都有一天會去勵德補習班去替那些青少年受刑人補習功課;每次高中放榜的時候,他都會很緊張地注意有些受刑人是否有名。
 
我是獨子,當然是三千寵愛在一身,爸爸沒有慣壞我,可是他給我的實在太多了。我們家很寬敞,也佈置得極為優雅。
 
爸爸的書房是清一色的深色家具、深色的書架、深色的橡木牆壁、大型的深色書桌,書桌上造型古雅的檯燈,爸爸每天晚上都要在他書桌上處裡一些公事。
 
我小時常乘機進去玩,爸爸有時也會解釋給我聽他處理某些案件的邏輯。他的思路永遠如此合乎邏輯,以至我從小就學會了他的那一套思維方式,也難怪每次我發言時常常會思路很清晰,老師們當然一直都喜歡我。
 
我在唸小學的時候,有一天在操場上摔得頭破血流。
 
老師打電話告訴了我爸爸。爸爸來了,他的黑色大轎車直接開進了操場,爸爸和他的司機走下來抱我,我這才注意到司機也穿黑色的西裝,我得意得不得了,有這麼一位爸爸,真是幸福的事。
 
我現在是大學生了,當然一個月才會和爸媽度一個週末。前幾天放春假,爸爸叫我去墾丁,在那裡我家有一個別墅。
 
爸爸邀我去沿著海邊散步,太陽快下山了,爸爸在一個懸崕旁邊坐下休息。他忽然提到最近被槍決的劉煥榮,爸爸說他非常反對死刑,死刑犯雖然從前曾做過壞事,可是他後來已是手無寸鐵之人,而且有些死刑犯後來完全改過遷善,被槍決的人,往往是個好人。
 
我提起社會公義的問題,爸爸沒有和我辯論,只說社會該講公義,更該講寬恕。他說:「我們都有希望別人寬恕我們的可能。」
  
我想起爸爸也曾做過法官,就順口問他有沒有判過任何人死刑。
 
爸爸說:「我判過一次死刑,犯人是一位年青的原著民,沒有什麼常識,他在台北打工的時候,身份證被老闆娘扣住了;其實這是不合法的,任何人不得扣留其他人的身份證。
 
他簡直變成了老闆娘的奴工,在盛怒之下,打死了老闆娘。我是主審法官,將他判了死刑。
 
事後,這位犯人在監獄裡信了教,從各種跡象來看,他已經是個好人,因此我四處去替他求情,希望他能得到特赦,免於死刑,可是沒有成功。
 
他被判刑以後,太太替他生了個活潑可愛的兒子,我在監獄探訪他的時候,看到了這個初生嬰兒的照片,想到他將成為孤兒,也使我傷感不已,由於他已成另一好人,我對我判的死刑痛悔不已。
   
他臨刑之前,我收到一封信。」
   
爸爸從口袋中,拿出一張已經變黃的信紙,一言不發地遞給了我。信是這樣寫的:
 
法官大人:
 
謝謝你替我做的種種努力,看來我快走了,可是我會永遠感謝你的。我有一個不情之請,請你照顧我的兒子,使他脫離無知和貧窮的環境,讓他從小就接受良好的教育,求求你幫助他成為一個有教養的人,再也不能讓他像我這樣,糊里糊塗地浪費了一生。
 
                                                          ⅩⅩⅩ敬上
 
我對這個孩子大為好奇,爸爸你怎麼樣照顧他的?
 
爸爸說:「我收養了他」。
 
一瞬間,世界全變了。這不是我的爸爸,他是殺我爸爸的兇手,子報父仇,殺人者死。我跳了起來,只要我輕輕一推,爸爸就會粉身碎骨地跌到懸崕下面去。
  
可是我的親生父親已經寬恕了判他死刑的人,坐在這裡的是個好人,他對他自己判人死刑的事情始終耿耿於懷,我的親身父親悔改以後,仍被處決,是社會的錯我沒有權利再犯這種錯誤。
 
如果我的親生父親在場,他會希望我怎麼辦呢?
 
我蹲了下來,輕輕地對爸爸說:「爸爸,天快黑了,我們回去吧媽媽在等我們了。」
 
爸爸站了起來,我看到他眼旁的淚水,「兒子,謝謝你,沒有想到你這麼快就原諒了我。」
 
我發現我的眼光也因淚水而有點模糊,可是我的話卻非常清晰:「爸爸,我是你的兒子,謝謝你將我養大成人。」
 
海邊這時正好颳起了墾丁常有的落山風,爸爸忽然顯得有些虛弱,我扶著他在落日的餘暉下,向遠處的燈光頂著大風走回去,荒野裡只有我們父子二人。
 
我以我死去的生父為榮,他心胸寬大到可以寬恕判他死刑的人。
 
我以我的爸爸為榮,他對判人死刑,一直感到良心不安,他已盡了他的責任,把我養大成人,甚至對我可能結束他的生命,都有了準備。
 
而我呢?我自己覺得我又高大、又強壯,我已長大了。只有成熟的人才會寬恕別人,才能享受到寬恕以後而來的平安,小孩子是不會懂這些的。
 
後記
 
還記得小時候一件轟動社會的山地青年殺死雇主的案子嗎?
 
如果我沒記錯那位山地青年應該叫做湯英申,純樸的山地青年來到繁華的台北打工碰上了惡劣的雇主,不僅壓榨勞力還剝奪自由,在受盡各種不平等的待遇後,選擇了採取最激烈的行動以示抗議。
 
雖然手段並不正確,但卻情有可原,死刑或能赫阻犯罪,但對於一個走投無路且深具悔意的人來說,或許太沈重了,雖然社會各界呼籲請求,希望獲得特赦,但仍避免不了這樣的結局。
 
故事的結局雖然令人遺憾,但事隔近二十年後卻有如此令人驚喜的發展。
 
這不為人知的一幕包含了多少的寬容與救贖,我想這就是所謂的大愛
 
2011.03.18  明典整理
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar