Senin, 26 Maret 2012

Pandangan Mata Seorang Ibu

Setelah menjadi seorang ibu, saya sangat suka melihat anakku tidur. Punggungnya halus mengkilap bagaikan ikan belut, lengannya legam dan sehat, kakinya penuh dan tegap, dahinya sangat menarik tak terlukiskan. Ketika memandangnya, saya sering merasakan kalau dengan memandang demikian saja, setiap wanita seharusnya tidak boleh kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang ibu.
 
Tiba-tiba saya teringat, pada saat usiaku masih kecil, diriku pasti juga tertidur lelap di bawah pandangan mata ibu. Namun dalam masa kecil penuh kebahagiaan itu, saya masih belum tahu apa-apa dan tidak pernah terbangun sekali pun di bawah pandangan mata ibu, jadi saya tidak ingat sama sekali. Saya mulai merasakan pandangan mata seperti ini ketika mulai tumbuh dewasa, tahun itu usiaku sekitar 13 atau 14 tahun, masa-masanya seorang anak perempuan mulai memiliki beban pikiran.
 
Suatu hari ketika saya sedang tidur siang dan belum lelap benar, saya mendengar suara ibu masuk ke dalam kamar, ibu meraba-raba sepertinya sedang mencari sesuatu, tidak seberapa lama kemudian, mendadak tidak terdengar ada suara lagi. Jelas-jelas ibu belum ke luar dari kamar. Suara napas kami saling bersahutan, bagaikan suara dedaunan berderu lembut, tanpa tertahankan saya mulai merasa gelisah dan tidak nyaman. Sejenak kemudian karena belum mendengar mendengar suara ibu, saya lalu membuka mata. Saya melihat ibu sedang berdiri di tempat berjarak satu langkah dari ranjangku sambil diam-diam memandang pada diriku.
 
“Ibu, ada apa?” Saya bertanya dengan sangat heran.
 
“Tidak apa-apa.” Ibu menjawab. Sepertinya sedikit tersentak dan segera berlalu.
 
Di kemudian hari, hal demikian sekali lagi terulang kembali. Saya lalu tidak sabaran dan bertanya: “Ibu, mengapa ibu selalu memandang padaku?” Ibu bagaikan telah berbuat salah dan tidak berkata sepatah kata pun.
 
Namun sesudah hari itu, dia tidak pernah lagi memandangku seperti itu, atau bisa dikatakan bahwa ibu tidak pernah membiarkan diriku mengetahui kalau dirinya ada datang memandangku seperti itu lagi. Sampai ketika saya memahami apa arti pandangannya itu, ibu telah pun telah pun meninggal dunia akibat sakit.
 
Tiada orang yang memandangku seperti itu lagi. Setahuku, ini adalah pandangan langit terhadap awan putih, ini adalah pandangan batu karang terhadap ombak lautan, ini adalah pandangan tepian sungai terhadap ikan-ikan kecil. Pandangan seperti ini hanya dimiliki oleh seorang ibu.
 
Di bawah pandangan mataku, anakku terlihat tertawa. Apakah pandangan mataku membawakan mimpi indah kepadanya? Saya tiba-tiba berpikir, jika saya kembali mendapatkan pandangan mata dari ibuku yang seperti ini, apa yang harus saya lakukan? Apakah saya akan tertawa manis untuk menghibur rasa lelahnya? Apakah menggunakan butiran air mata untuk menampakkan perasaan berterima kasihku? Atau tetap menjaga sikap tidurku yang polos demi memuaskan perasaannya yang ingin menikmati kondisi tidur anaknya?
 
Ada beberapa kesalahan yang tidak mungkin ada kesempatan untuk diperbaiki lagi dalam kehidupan ini. Saya tahu, perumpamaan di atas bagi diriku hanya merupakan impian saja. Akan tetapi, saya pikir masih banyak orang yang perlu diingatkan dengan mempergunakan perumpamaan ini. Jika anda beruntung masih memiliki ibu, jika ketika anda masih belum lelap dan mendadak ada pandangan penuh kehangatan dari ibu, maka jangan demikian berlaku bodoh seperti diriku dulu, pura-puralah tetap tidur dan jangan mengganggu ibu anda.
 
Anda akan tahu, kalau tindakan kecil ini bagi ibu anda akan merupakan sebuah kebahagiaan tiada terhingga.
 
母親的目光
 
做了母親之後,十分喜歡看著兒子睡覺。他泥鰍一樣光滑的背,黝黑健康的胳膊,飽滿茁壯的腿,眉宇間不可言說的可愛……看著看著,我常常覺得,單是為了這麼一看,女人就不能錯過做母親的機會。
 
忽然又想,自己這麼小的時候,一定也是這麼在母親的目光裡熟睡的吧?然而快樂的童年是懵懂的,在這種目光裡我一次也沒有醒過,所以也不曾記得。對這種目光開始有感受,是在漸漸長大之後,那一年我大約十三四歲,正是女孩子剛剛有心事的時節。
 
一 天,我正在裡間午睡,還沒睡穩,聽到母親走進來,摸摸索索的,似乎在找什麼東西,過了一會兒,忽然靜了。可她分明又沒有出去。我們兩個的呼吸聲交替著,如 樹葉的微嘆,我莫名地覺得緊張起來,十分不自在。等了一會兒,還沒有聽到她的聲響,便睜開眼。我看見,母親站在離床一步遠的地方,正默默地看著我。
 
「媽,怎麼了?」我很納悶。
 
「不怎麼。」她說。似乎有些慌亂地怔了怔,走開了。
 
後來,這種情形又重複了一次。我就有些不耐煩地說:「媽,你老是這麼看我幹嗎?」母親仿佛犯了錯似的,一句話也沒有說。
 
以後,她再也沒有這麼看過我,或者說,是她再也沒有讓我發現她這麼看著我了。而到我終於懂得她這種目光的時候,她已經病逝了。
 
再也不會有人這麼看著我了。我知道,這是天空對白雲的目光,這是礁石對海浪的目光,這是河床對小魚的目光。這種目光,只屬於母親。
 
孩子在我的目光裡,笑出聲來。我的目光給他帶來美夢了嗎?我忽然想,如果能夠再次擁有母親的這種目光,我該怎麼做?是用笑的甜美來撫慰她的疲憊和勞累?是用淚的晶瑩來詮釋自己的呼應和感懷?還是始終維持著單純的睡顏,去成全她欣賞孩子和享受孩子的心情?
 
有些錯誤,生活從來都不再賜予改過的機會。我知道,這種假設對我而言,只是想象的盛宴而已。但是,我想,是不是還有一些人也許需要這種假設的提醒呢?如果, 你有幸擁有母親;如果,你淺眠時的雙瞼,偶然被母親溫暖的目光所包裹,那麼,千萬不要像我當年一樣無知和愚蠢。請你安然假寐,一定不要打擾母親。
 
你會知道,這種小小的成全,對你和母親而言,是一種深深的幸福。

Tidak ada komentar:

Posting Komentar