Selasa, 20 Maret 2012

Pusaka Keluarga dari Seorang Pelajar Miskin

Sebagaimana benih yang ditanam, itulah buah yang akan dituai; jika tidak menanam benih yang baik, bagaimana pula akan mendapatkan buah yang baik? Bersumbangsih hati cinta kasih adalah kewajiban seorang manusia, asal bersumbangsih dengan tanpa pamrih, batin pasti akan merasa tenang dan gembira.
 
Dalam Sutra Buddha ada sebuah cerita: ada seorang pelajar yang mencari nafkah sebagai tenaga pengajar, namun karena kondisi di desanya sangat miskin dan uang hasil mengajarnya sangat sedikit, dia terpaksa merantau jauh ke kota untuk mengajar. Setelah 20 tahun kemudian, dia dengan susah payah berhasil mengumpulkan sedikit uang, dia kemudian bersama dengan seorang teman sekampung pulang ke desanya dengan membawa uang ini, dia bermaksud menggunakan uang ini untuk memberikan kehidupan lebih baik kepada isteri dan anak-anaknya.

Walau  tiada benda berlebih di badan, namun tetap tidak kikir untuk beramal pada orang

Perjalanan sangat jauh dan harus menghabiskan waktu beberapa hari. Suatu hari, mereka melihat ada sebuah gubuk di daerah pinggiran kota, karena merasa sangat haus, dia berkata kepada temannya: “Di depan ada sebuah rumah, mari kita cari air minum di sana.”

Ketika mereka berdua tiba di depan gubuk, terdengar suara tangisan dari dalam, terdorong oleh perasaan ingin tahu, mereka masuk ke rumah untuk melihat-lihat, ternyata ada seorang ibu sedang menangis sedih di sisi ranjang dan di atas ranjang terbaring seseorang. Mereka bertanya: “Kakak, mengapa anda menangis sedemikian sedihnya? Apa hubungan anda dengan orang yang terbaring di atas ranjang ini?” Ibu ini menjawab: “Dia adalah suamiku, dia sedang sakit keras, namun saya tidak ada uang untuk mendatangkan tabib untuknya, tampaknya saya harus menjual diri untuk mendapatkan uang pengobatannya.”   

Mendengarnya pelajar ini merasa tidak tega dan berkata pada temannya: “Bagaimana pendapatmu kalau kita masing-masing memberikan sedikit uang untuk membantunya?” Temannya menjawab: “Mana boleh! Kita berdua hidup dengan hemat selama dua puluh tahun, baru dengan susah payah berhasil mengumpulkan sedikit uang ini dan dapat di bawa pulang kampung untuk memberikan kehidupan lebih baik kepada keluarga. Jika kita memberikan uang kepadanya, bagaimana nanti menjelaskannya kepada keluarga di rumah? Saya tidak sanggup melakukannya.”

Mendengar perkataannya ini, pelajar merasa ada benarnya: jika sedikit uang yang telah dikumpulkan selama dua puluh tahun, sekarang diberikan kepada ibu ini, bukankah dirinya tidak memiliki apa-apa lagi sebagaimana dua puluh tahun lalu, lalu apa yang nantinya akan dibawa pulang untuk keluarga di rumah? Dia berulang-ulang memikirkannya tanpa bisa mengambil keputusan. Ibu ini kembali menangis lagi, dia benar-benar merasa tidak tega dan terpaksa mengeluarkan semua uang di badannya dan berkata: “Kakak, saya hanya punya sedikit uang ini, lekaslah anda mendatangkan tabib untuk suamimu, dengan demikian anda tidak perlu menjual diri lagi.” Ibu ini sangat gembira dan langsung berlutut untuk berterima kasih atas budi pertolongannya.

Memberikan keteladanan moral kepada anak adalah harta warisan terbaik

Pelajar dan temannya cepat-cepat pulang ke rumah. Saat itu sudah hampir tahun baru, semua orang sibuk membeli barang kebutuhan tahun baru. Pelajar pulang ke rumah dengan tangan kosong, juga dalam keadaan lapar dan lelah. Ketika isterinya melihatnya pulang, tentu saja berharap kalau tahun ini akan dapat melewati tahun baru dengan berkecukupan, anak-anak akan mendapatkan baju baru, juga akan ada makanan malam tahun baru yang berlimpah.

Namun pelajar berkata dengan tanpa semangat kepada isterinya: “Apakah ada sesuatu yang dapat dimakan? Saya sangat lapar.” Isterinya menjawab: “Saya sedang menunggumu pulang dengan membawa beras, sekarang di rumah tidak ada apa pun untuk dimakan.” “Tak peduli apa pun, asal bisa diminum dan dimakan saja sudah cukup.” Melihat suaminya begitu lapar, si isteri segera mengutip sedikit dedaunan sayur di luar rumah untuk dimasak dan dimakan suaminya.

Si isteri lalu bertanya kepada suaminya, apakah telah terjadi sesuatu di dalam perjalanan? Si suami lalu menceritakan kejadiannya dari awal sampai akhir. Setelah mendengarnya, si isteri bukan saja tidak menyalahkannya, malah memuji suaminya; “Saya sungguh pandai memilih sehingga mendapatkan suami sedemikian baik sepertimu. Saya rela bersusah payah, asalkan masih bernyawa, tak peduli seberapa miskin pun dirimu,  saya akan mengikutimu.”

Si suami sangat terharu mendengarnya, sepasang suami isteri lalu saling membungkukkan badan dan saling memuji. Melihat moralitas kedua orangtuanya yang sedemikian tinggi, ketiga anak mereka juga sangat terharu dan berkata kepada kedua orangtua mereka: “Ayah, ibu, jangan khawatir, kami tidak akan mengeluhkan keluarga kita miskin, kami pasti akan baik-baik bersekolah dan tidak akan pernah mengecewakan kalian.” Ketiga anak ini di kemudian hari sangat giat sekali, sesudah dewasa juga berhasil dalam usaha dan menjadi umat Buddha yang saleh, mereka senantiasa beramal dan berbuat kebajikan.

Mampu bersumbangsih demi orang lain adalah keberkahan, sumbangsih ini adalah sebuah pendidikan bagi anak-anak, membuat anak-anak tahu bekerja keras untuk mencari kemajuan dan suka membantu orang, ini baru merupakan harta warisan yang paling nyata dan paling baik bagi anak-anak.
 
Sebagaimana benih yang ditanam, itulah buah yang akan dituai; jika tidak menanam benih yang baik, bagaimana pula akan mendapatkan buah yang baik? Bersumbangsih hati cinta kasih adalah kewajiban seorang manusia, asal bersumbangsih dengan tanpa pamrih, batin pasti akan merasa tenang dan gembira.

Dikutip dari Majalah Bulanan Tzu Chi edisi 366
 
窮書生的傳家寶
 
如是因、如是果;不種好因,哪能得好果?付出愛心是做人的本分,只要無所求地付出,心靈必定輕安、愉悅
 
佛經裡有一段故事:有位書生以教書維生,但是家鄉環境貧困,教書所得很微薄,他只好遠離家鄉到遙遠的都市教書。二十年後,好不容易積存了一些錢,他帶著這些錢,和一位同鄉結伴啟程回鄉,想用這些錢讓妻子、小孩過好日子。

身無長物 仍不吝布施予人

路途很遠,要花費很多天的時間。有一天,他們在郊外看到遠處有一間茅屋,他覺得非常口渴,就對同伴說:「前面有一間房子,我們去要一些水來喝。」

兩人走到茅屋前,聽到裡面有人在哭,他們好奇地進屋探看,原來有位婦人在床邊傷心啼哭,床上躺著一個人。他們問:「這位大嫂,為什麼哭得這麼淒涼呢?躺在床 上的這位,是你的什麼人?」婦人回答:「他是我的先生,病得很重,可是我沒錢為他請大夫,看來只好賣身換些錢來醫治他的病。」

書生聽了很不忍心,就對同伴說:「我們每人出一些錢來幫助她,好不好?」同伴說:「怎麼可以!你和我二十年來省吃儉用,好不容易存了一點錢,可以帶回家鄉讓家人過好日子。我們若把錢給她,回去怎麼向家人交代?這我做不到。」

書生聽了,也覺得有道理:花了二十年的長久歲月,才存了這些錢,若給了她,就和二十年前一樣空無一物,要拿什麼回去給家人呢?他反覆思量,猶豫不決。婦人又 開始哭了,他實在很不忍心,只好把身上所有的錢都拿出來,對婦人說:「這位大嫂,我只有這些錢,你趕快拿去請大夫,這樣就不用賣身了。」婦人驚喜萬分,伏 地叩謝救命之恩。


德行身教 給子女最好的財富

書生和朋友趕回家鄉時,年關將近,人人正忙著採購年貨。書生兩手空空,又餓又累地回到家。太太看到先生終於回來了,滿懷希望,以為今年能過一個豐裕的年,孩子有新衣服穿,也有豐富的年夜飯可吃。

但是書生垂頭嘆氣地對太太說:「有什麼東西可吃嗎?我很餓。」太太說:「我正等著你買米回來,現在家裡沒有半樣東西可吃。」「不管什麼東西,只要能喝、能吃就好。」太太看到先生餓成這樣,趕快到屋外摘一些菜葉煮給先生吃。

太太問先生,是不是在路上發生了什麼事?先生就把經過一五一十地告訴太太。她聽了之後,不但沒有埋怨,反而很讚歎先生:「我真有眼光,嫁到這麼善良的先生。我就是再吃多少苦都願意,只要我命還在,不管你多窮,我都要跟著你!」

先生聽了實在很感動,於是夫妻倆相互鞠躬、讚歎。三個孩子看到父母品格這麼清高,也非常感動,於是對父母說:「爹娘請放心,我們不嫌家窮,一定會用功讀書,不辜負您們。」三個孩子發憤用功,長大後事業有成,並成為很虔誠的佛教徒,經常布施行善。

能為人付出就是福,這分付出,就是對子女的一番教育,能讓子女懂得奮發上進、樂於助人,這才是給他們最真、最好的財產。

如是因、如是果;不種好因,哪能得好果?付出愛心是做人的本分,只要無所求地付出,心靈必定輕安、愉悅。

本文摘自:《慈濟月刊》366

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar