Jumat, 01 Juni 2012

Jika dipuji dan ditegur secara demikian, anak akan tahu kalau anda mencintainya

Penulis: Daiji Akehashi, dokter psikosomatis.

1. “Terima kasih” adalah kata pujian terbaik. Kata pujian yang paling sederhana dan paling efektif adalah “Terima kasih”. Kata “Terima kasih” selain merupakan ungkapan perasaan berterima kasih, pada saat bersamaan juga merupakan pujian terbaik terhadap orang. Ketika orang mengatakan “Terima kasih” kepada kita, mengapa hati kita merasa sangat senang? Ini bukan hanya disebabkan karena kita mendapatkan ungkapan terima kasih dari orang, tetapi juga karena kita merasakan apa yang telah kita perbuat, ternyata dapat membantu orang, sehingga terasa keberadaan kita sangat berarti, itu sebabnya hati kita merasa sangat senang.

2. Kita jangan menegur kepribadian anak, namun kita menegur kelakuannya.

3. Daripada mengatakan “Tidak boleh ....”, lebih baik mengatakan “Hendaknya berbuat demikian ....”. Kita sering mengatakan “Tidak boleh” pada anak, namun kita tidak mengatakan “Hendaknya berbuat demikian” kepada anak. Bila demikian, maka di kemudian hari anak tidak tahu lagi bagaimana harus berbuat. Kadangkala daripada mengatakan “Tidak boleh ....”, lebih baik menyampaikan apa kita inginkan anak perbuat, ini lebih efektif.

4. “Sebelum belajar cara menyalahkan anak, kita harus belajar cara memuji anak”. Pada kenyataannya, asal kita dapat mempergunakan cara memuji yang baik, dengan sendirinya kita akan semakin jarang menegur anak.

5. “Memuji” bukan sedang memberi penilaian anak, melainkan sedang menyampaikan perasaan suka cita kita melihat kerja keras dan pertumbuhan anak. “Menegur” bukan sedang memarahi anak, melainkan sedikit demi sedikit mengajarkan anak agar tahu menghargai diri sendiri dan orang lain.
 
6. Memuji adalah sedang menyampaikan perasaan suka cita. Menegur adalah sedang menghantarkan pemberkatan.

7. Pujian dan teguran yang baik adalah memberikan hadiah paling berharga dalam kehidupan bagi anak.

8. Anak memiliki banyak kelebihan untuk diberi pujian, kita hanya perlu menemukannya. Temukanlah kelebihan yang sudah dimiliki anak, temukanlah kerja keras yang sedang diperbuat oleh anak.

9. Jangan dikarenakan “setelah anak berbuat baik baru dipuji” atau “setelah anak bekerja keras baru dipuji”, tetapi temukanlah kelebihan yang sudah dimiliki anak dan kerja keras yang sedang diperbuatnya.

10. Teguran yang berlebihan akan membuat anak mencoba untuk menyembunyikan kegagalan dan belajar berbohong.

11. Ketika perasaan takut ditegur pada diri anak telah pun hilang, anak akan berubah menjadi tidak mau tahu aturan lagi.

12. Jika ingin memupuk anak yang baik, ayah ibu harus memberikan keteladanan yang baik terlebih dahulu.

13. Ketika ingin menegur anak, biarkan anak menenangkan hati terlebih dahulu, lihat pada matanya dan sampaikan dengan kata singkat dan sederhana tentang alasan memberi teguran kepadanya.

14. Jika memberi pujian pada sepersepuluh dari hasil usaha anak, maka anak akan semakin bersemangat untuk lebih berhasil lagi.

15. Ketika anak hanya mencapai nilai 1 dari nilai penuh 10, kita umumnya akan berkata: “Mengapa hanya dapat nilai 1?” “Mengapa tidak bisa dapat nilai 10?”, artinya dalam perkataan kita sama sekali tidak ada kata pujian untuk nilai 1 yang dicapainya.

16. Pikirkan dengan baik, dari nilai penuh 10, anak kita bukan mendapat nilai nol, tetapi mendapat nilai 1. Walau pun anak mendapat nilai 2, kita juga akan mengatakan: “Mengapa tidak bisa dapat nilai 10?”, sekali pun mendapat nilai 3, kita tetap akan mengatakan: “Mengapa tidak bisa dapat nilai 10?”.

17. Tidak tahu kenapa, kita selalu saja terbiasa mempergunakan kata-kata negatif. Itu sebabnya banyak anak sekarang bukannya tidak mampu berbuat, melainkan merasakan “Pokoknya aku ini kan bukan orang yang berguna”, inilah salah satu alasan anak tidak mau berusaha keras. Sebagai contoh, ketika anak mendapat nilai ujian 60, ayah ibu akan terlebih dahulu memperhatikan bagian-bagian yang salah, bagian-bagian yang diberi tanda silang.

18. Anak telah mendapatkan nilai 60, walau pun kita ingin menegur sisa nilai 40 yang hilang, namun kita seharusnya memberikan pujian kepada nilai 60 yang diperolehnya, dengan demikian barulah merupakan penilaian yang adil terhadap anak.

19.Jika ingin membandingkan, bandingkanlah kondisi anak sekarang dengan kondisinya di masa lampau.

20. Bagi sebagian anak, kadangkala kita harus memberi pujian pada kegagalannya, agar anggapan yang terus ada dalam batin anak “Jika tidak bisa menjadi anak yang baik, ayah dan ibu akan mengusirku”, perlahan-lahan berubah menjadi “Biar pun aku bukan anak yang baik, namun aku tetap bisa tinggal di rumah ini.”

21. Ketika memberi teguran pada anak, terlebih dahulu harus membiarkan anak tahu dengan jelas apa kesalahannya. Jadi harus meminta anak menghentikan aktifitasnya dulu, kemudian dengan pandangan mata yang sama tinggi dengan anak, lihat pada matanya, baru kemudian sampaikan kata-kata teguran yang singkat dan sederhana dengan nada suara yang tenang.

22. Ketika menegur anak, jangan hanya berhenti pada kata-kata teguran saja, tetapi harus dilanjutkan dengan sepatah kata penuh pengertian pada anak.

23. Pergunakan “Ibu” atau “Ayah” sebagai kata utama, jangan pergunakan “Kau”.

24. Ketika mengatakan kepada anak harus berbuat begini dan jangan berbuat begitu, jangan pergunakan “Kau ....”, melainkan “Ibu ....” atau “Ayah ....”, kita sampaikan perasaan hati kita, sehingga akan lebih menyentuh perasaan anak.

25. Ketika anak berbuat hal yang benar, katakan padanya: “Ibu sangat senang! Engkau telah sangat membantu ibu! Sekarang ibu merasa lebih tenang hati! Terima kasih!” Ketika anak berkelakuan tidak baik, katakan padanya: “Ibu sangat sedih! Ibu merasa sangat terganggung! Ibu sangat khawatir! Ibu sangat menyesal!”

26. Ada sebagian anak akan merasa sangat marah ketika mendengar ayah ibu menegur “Engkau sungguh tidak berguna!”, dia sama sekali tidak mau melakukan introspeksi diri, namun jika mendengar ibunya berkata: “Ibu merasa sangat sedih!”, dia akan perlahan-lahan mulai melihat kembali pada kelakukannya yang salah dan berupaya keras untuk menjadi lebih baik.

27. Biar pun anak ditegur berapa kali, dia tetap akan mengulangi kesalahan yang sama. Jadi kita terpaksa berulang kali mengucapkan kata-kata yang sama. Jika ada hal yang sungguh membahayakan, biar pun anak menerima sedikit ketakutan, asal dia dapat terhindar dari bahaya, resikonya adalah pantas diambil.

這樣讚美與責備,孩子知道你愛他

作者:明橋大二

1. 「謝謝!」是最好的讚美。讚美的時候,最簡單、最有效的語言是「謝謝!」「謝謝」這個詞,既是表示感謝的詞語,同時也是對別人最好的稱讚。當別人對我們說 「謝謝!」時,我們為什麼這麼高興呢?這不僅是因為我們得到別人的感謝,還是因為它讓我們感到自己做的事對別人有幫助,自己的存在是有價值的,所以才會這 麼高興。

2. 不是責備孩子的人格,而是責備孩子的行為。

3. 與其說「不能做……」不如說「要這樣做……」。我們常常會對孩子說「不行」,但是卻沒有告訴孩子「應該怎麼做」。這樣的話,孩子就不知道今後應該怎麼做。有時候與其告訴孩子「不能做」,不如告訴孩子「希望他做什麼」,這樣會更有效。

4. 「在學習責備孩子的方法之前,必須要先學習讚美的方法」。事實上,只要我們掌握了好的讚美方法,責備孩子的次數也就會減少。

5. 「讚美」不是在評價孩子,而是傳達看到孩子的努力和成長而感受到的喜悅。「責備」不是對孩子生氣,而是一點一點地教孩子懂得珍惜自己以及他人。

6. 讚美是在表達喜悅,責備是在傳遞祝福!

7. 好的讚美與責備,就是給孩子人生最珍貴的禮物!

8. 孩子有很多優點值得讚揚,只待你尋找。去發現孩子已經擁有的優點,去發現孩子正在付出的努力。

9. 不要因為「做了好事才讚美」「等他努力後才讚美」,而是去發現孩子已經擁有的優點和他正在付出的努力。

10. 過多的責備會讓孩子隱藏失敗,學會撒謊。

11. 當害怕被責備的恐懼心理消失後,孩子就變得不守規矩了。

12. 要想培養出一個好孩子,父母首先要以身作則。

13. 責備孩子的時候,要讓孩子安靜下來,看著他的眼睛,用簡短的語言對他好好說明責備他的理由。

14. 讚美孩子做到的十分之一,孩子就會越來越充滿活力。

15. 當滿分為十分,孩子只做到一分的時候,我們一般會說:「為什麼只做到一分?」「為什麼不能做好剩下的九分呢?」也就是說,在我們的話裡面,沒有讚美那個一分的部分。

16. 但是,好好想一想,十分裡面,孩子不是只得到零分,而是做到了一分啊。即使孩子做到了兩分,我們也會說「為什麼不能做到剩下的八分?」而做到三分,我們還是會說「為什麼剩下的七分做不到?」

17. 不知道為什麼,我們總是習慣用否定的語言。這就是為什麼有那麼多的孩子並不是什麼也沒做到,卻覺得「自己反正都是沒用的人」,而不願去努力的原因之一。比如,孩子考試得了六十分,父母首先注意到的是錯的地方,畫叉的地方。

18. 孩子已經拿到六十分了,既然我們要責備不會做的百分之四十,那也應該讚美做得好的百分之六十,這樣才可以說是公正的評價。

19. 如果要比較的話,應該把孩子的現在和過去相比。

20. 對於一些好孩子,有時候要讚美他的失敗。讓孩子一直認為「如果不做好孩子,爸媽就會不要我」的心理,逐漸變成「就算不是好孩子,我也可以待在這個家裡」。

21. 責備孩子的時候,首先需要讓孩子清楚地知道你在責備他做的什麼事。所以,要讓孩子停下正在做的事,用和孩子的視線一樣的高度,凝視著孩子的眼睛,冷靜地用簡短的語言來責備孩子。

22. 在責備孩子的時候,不要僅僅停留在責備的語言上,一定要加上一句對孩子表示理解的話。

23. 用「我」做主語,而不是用「你」。

24. 在告訴對方要這樣做而不要那樣做的時候,不是用「你……」,而是說「我……」,這樣表達自己的心情,更能觸動對方的心靈。

25. 當對方做的是好事的時候,告訴對方:我很高興!真幫了我的大忙!這下我就放心了!謝謝!而對於對方的不好行為,則告訴他:我很傷心!很困擾!好擔心!好遺憾!

26. 有的孩子被父母責備說「你真是沒用!」就會感到非常生氣,完全沒有反省,但如果聽到媽媽說「媽媽好傷心!」他就會一點點開始重新審視自己的行為,從而去努力改正。

27. 孩子不管被說多少次,也還是會犯相同錯誤的。所以,我們只有反反覆覆地講同樣的話。對於真正危險的事情,那怕讓孩子受到一些驚嚇,只要能夠讓他遠離危險,那也是值得的。

Tidak ada komentar:

Posting Komentar