Tampilkan postingan dengan label Berbakti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berbakti. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juni 2012

Sulit ditemukan lagi adanya anak yang penuh perhatian pada ayah ibu

Dalam masyarakat sekarang memang sangat dibutuhkan hati penuh cinta kasih yang bersifat universal, jika setiap orang memiliki hati cinta kasih, maka masyarakat tentu akan dapat disucikan, tentu akan memiliki sebuah atmosfir yang damai dan sejahtera. Banyak dari permasalahan di dalam masyarakat adalah bersumber dari sebuah niat pikiran. Kita harus meningkatkan konsep moral dalam khalayak masyarakat, barulah dunia akan terbebaskan dari bencana.

Coba lihat pada keluarga jaman sekarang, sebagian besar orangtua bersumbangsih dengan segala cara demi anak-anak mereka, seperti kalau saya memandang ke depan, akan terlihat banyak dari pasangan orangtua yang sedang menggandeng anak-anak mereka, ketika saling bergandengan tangan dengan anak-anak mereka, hati mereka juga saling melekat dengan hati anak-anak mereka, perasaan sayang tersebut sulit disampaikan dengan kata-kata lagi, kasih orangtua dalam melindungi anak ini benar-benar sangat menggugah hati orang.

Anak penuh perhatian pada orangtua, bersama-sama menikmati kebahagiaan keluarga

Betapa susah payahnya orangtua dalam membesarkan anak, sekarang sering terdengar orangtua yang sudah berusia setengah baya masih saja mengkhawatirkan anak-anak mereka yang sudah besar. Contohnya jika anak ada sedikit kurus, orangtua akan berkata: “Anakku sungguh kurus, mungkin kurang gizi.” Kemudian berusaha dengan segala cara untuk menambah gizi anak agar anak lebih gemuk. Jika anak terlalu gemuk, ibu akan berkata: “Bagaimana agar anak gemuk ini dapat menjadi kurus? Bagaimana agar dia lebih sehat dan lebih lincah?” Banyak dari orangtua bersumbangsih cinta kasih dan perhatian dengan segala cara terhadap anak-anak mereka.
 
Apalagi kalau musim ujian masuk perguruan tinggi sudah tiba, banyak dari para orangtua menyampaikan kepada saya: “Master, saya sangat risau, tahun ini kedua anak saya mau ikut ujian masuk perguruan tinggi, saya sangat gelisah.” Anak hendak ikut ujian masuk perguruan tinggi, orangtua ikut merasa sangat gelisah. Kondisi seperti ini sangatlah banyak! Orangtua dan anak yang saling bertautan hati seperti ini sungguh penuh perhatian sekali. Namun sebaliknya, apakah anak ada sedemikian penuh perhatian terhadap orangtua? Sedikit sekali! Sekarang jika ingin melihat anak menggandeng tangan, memeluk tubuh atau membantu orangtua berjalan adalah sudah jarang sekali terlihat.

Jika dipandang dari sini, terlihat ada beberapa orang anak yang sedang membantu orangtua mereka untuk berdiri di depan saya, namun pemandangan menyenangkan ini sudah jarang terlihat dalam masyarakat, ini sungguh merupakan sebuah kebahagiaan keluarga! Sungguh merupakan pemandangan paling indah! Kita harus menggerakkan anak-anak agar memberikan perhatian penuh pada orangtua mereka, sebab manusia sudah seharusnya tahu berterima kasih, harus lebih banyak memiliki hati berterima kasih.

Lahirnya burung penguin cilik menampilkan etika berkeluarga

Bukan hanya manusia yang membesarkan anak-anak mereka dengan sangat bersusah payah, sebetulnya hewan juga demikian. Jika penguin ingin membesarkan anak juga sangat bersusah payah. Ketika induk penguin bertelur, penguin jantan yang memikul tanggung jawab untuk mengeram telur-telurnya, dia akan memanasi telur-telur ini dengan bagian perutnya yang paling berlemak. Penguin jantan akan berlaku bagaikan biksu tua yang sedang bersamadhi, begitu duduk akan bertahan selama 60 hari, tanpa pernah tidur, tanpa pernah istirahat dan tanpa pernah makan, dengan penuh kehati-hatian menjaga telur-telur ini agar tidak rusak karena suhu dingin.
 
Sedangkan penguin betina akan mencari makanan di daerah yang lebih hangat dan tidak mengalami pembekuan, dia akan menelan semua makanan, dia akan pulang ke sarang setelah perutnya penuh dan kemudian memuntahkan isi perutnya untuk memberi makan pada penguin-penguin cilik yang baru menetas; pada saat ini, penguin betina yang memikul tanggung jawab untuk memberi makan pada penguin-penguin cilik. Selanjutnya ganti penguin jantan yang ke luar untuk mencari makanan bagi keluarga. Inilah etika berkeluarga bagi hewan. Coba pikirkan, bukankah manusia juga demikian?

Dengan menunaikan kewajiban, keluarga akan bahagia

Sebagian orang merasa sangat khawatir akan segala gejala dalam masyarakat sekarang, sebetulnya jika setiap keluarga cukup sehat, masyarakat kita tentu akan damai sejahtera. Jika ingin keluarga berada dalam kondisi sehat, maka setiap orang harus menunaikan kewajiban masing-masing dengan baik, kewajiban sebagai anak adalah berbakti pada orangtua, sedangkan tanggung jawab sebagai orangtua adalah merawat putera-puteri mereka. Jika setiap orang dapat menunaikan kewajiban masing-masing dengan baik, keluarga tentu akan berbahagia. Keluarga bahagia adalah modal bagi terciptanya masyarakat yang aman sejahtera. Dari itu, etika berkeluarga dan konsep moral harus dimulai dari setiap orang yang dapat menunaikan kewajiban diri dengan baik.

Saya senantiasa berharap insan Tzu Chi di Taiwan dapat menggalakkan cita-cita saya untuk mensucikan batin manusia dan menciptakan masyarakat yang aman sejahtera. Tentu saja ini tidak mungkin dilakukan oleh satu orang, harus semua orang bersama-sama melakukannya. Jika semua orang mau bersama-sama melakukannya, di mana mensucikan batin manusia dimulai dari satu orang, kemudian baru mempengaruhi orang lainnya, dengan demikian tentu tidak akan sulit lagi untuk mensucikan batin manusia. Jika batin manusia dapat disucikan, seluruh masyarakat tentu dapat disucikan, inilah yang disebutkan oleh Sang Buddha sebagai “Jika batin dapat disucikan, alam juga menjadi suci”. Di sini saya hendak saling memberi dorongan semangat dengan kalian semua: terlebih dahulu kita harus mensucikan batin sendiri dengan menitik beratkan etika berkeluarga, serta menaruh perhatian pada moralitas dalam masyarakat, bersumbangsih terhadap keluarga, juga bersumbangsih terhadap masyarakat, sehingga akhirnya akan berhasil dalam memupuk berkah dan kebijaksanaan.

Dikutip dari Tabloid Tzu Chi edisi 285
 
孩子體貼父母 難得一見
 
現在的社會,需要充分的大愛之心,如果人人有愛心,社會就能淨化,就能有一股穩定安詳的氣象。很多社會問題都是出於一念心。要提升社會大眾的道德觀念,天下才能無災難。

看看現在的家庭,大部分父母對孩子都是無微不至的付出,就像現在我眼睛向前看,看到很多父母牽著自己的小孩,手牽著孩子的手,心和孩子的心是貼在一起的,那種貼心疼惜,非語言所能表達;這分保護孩子的親情,實在是很令人感動。

孩子體貼父母 共享天倫之樂

父母育兒多麼辛苦,現在常常聽到中年的父母,為子女而操心的心聲。比如:孩子若瘦了一點,父母就會說:「我的兒子這麼瘦,可能是營養不良。」然後想盡辦法為 他補充營養,要讓孩子變胖。如果孩子太胖了,媽媽又會說:「這個小胖子,要怎麼讓他瘦下來?讓他身體健康、有活力?」很多父母對孩子都是這麼無微不至地付 出愛和關懷。

尤其一到聯考季節,很多父母都告訴我說:「師父,我很煩惱,今年兩個孩子要參加聯考,我很緊張。」孩子要考試,父母也很緊 張。類似這樣的情形很多啊!那種親子連心,真的很貼心。但是,話說回來,孩子對父母有否如此貼心?很少啊!現在要看孩子牽著或摟著、扶著父母走路的形態, 已經很難得一見了。

由這裡看出去,有幾位兒子手扶著爸爸,站在我的面前,但是這種溫馨的畫面社會上多麼少見,這真是一種人倫之樂!是最美的畫面。讓孩子能體貼父母,這是需要提倡的,人應該懂得感恩,要多一些感恩心。

小企鵝誕生 呈現家庭倫理

不只是人類撫養兒女很辛苦;其實,其他的動物也是如此。企鵝要養小企鵝,也很辛苦。企鵝媽媽下蛋後,由企鵝爸爸負責孵蛋,用肚子最有脂肪之處開始把體溫傳給小企鵝。企鵝爸爸如老僧入定般,一坐就要六十天,不眠、不休、不吃,小心保護這些蛋以免被凍壞了。

企鵝媽媽則去比較溫暖沒有結凍的地方,找食物並且裝進肚子裡,裝滿了就回來,將肚子裡的食物吐出來,給脫殼而出的小企鵝吃;這個時候餵養小企鵝就是企鵝媽媽 的責任。然後再換企鵝爸爸出去找食物回來養家。這就是動物的家庭倫理。動物也有分工合作的觀念。想想,人類是不是也像這樣呢?

守好本分 家庭幸福

有人很擔心目前社會的種種現象。其實,每個家庭若健全的話,我們的社會就會祥和。而家庭要健全,每個人就要守好個人的本分,為人子的本分是孝順,而身為父母 的責任是照顧兒女。如果每個人的本分都守好的話,家庭就會幸福;家家幸福就是社會祥和的根本。所以,家庭倫理和社會道德都是要從每一個人守好本分做起。

一直期待慈濟在臺灣能推動淨化人心、祥和社會的願望。當然這不是一個人做得到的,必須人人一起來做。如果大家一起做,淨化人心從每一個人開始,再去影響別 人,如此社會要淨化就沒有困難。心能淨化,社會就能淨化,這是佛陀所說的「心淨則土淨」。在此和大家互相勉勵:先自我淨化,重視家庭的倫理,並且重視社會 的道德觀,對家庭付出、對社會付出,終能福慧雙修!

本文摘自《慈濟道侶 285

Berbakti adalah akar kebajikan


Berbakti pada orangtua
adalah akar dari segala kebajikan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -
孝是為善之本。
~摘錄自證嚴上人靜思語~
Of all acts of goodness
first and foremost is filial piety.
- Jing Si Aphorism by Master Cheng Yen -


Kamis, 24 Mei 2012

Orangtua adalah cetakan bagi anak


Dalam agama Buddha disebutkan bahwa hubungan ayah ibu dengan anak adalah sebuah ikatan karma; Pendidikan paling awal bagi ayah ibu dan anak dimulai dari pendidikan pralahir, setelah anak lahir, pendidikan keluarga yang terpenting adalah keteladanan ayah ibu, jadi ayah ibu adalah cetakan bagi anak, jika ingin berperan sebagai ayah ibu jaman kini yang baik, keteladanan merupakan satu-satunya jalan.

Anak sebetulnya sangat polos tanpa noda, mereka bagaikan selembar kertas putih, sedangkan orangtua bagaikan pensil, jika pensil ini dipergunakan dengan baik, pasti akan menghasilkan selembar gambar yang indah atau sebuah artikel yang menggugah hati.

Sejak jaman dulu, orang Tionghoa sangat mementingkan pendidikan keluarga. Demi menjaga agar anak-anak tidak jahat, orang tua dari generasi dulu senantiasa mendidik anak dengan sikap tegas, jika anak sedikit tidak menurut, selalu saja mengancam dan menakut-nakuti mereka, berharap anak menjadi seorang penurut. Tanpa disadari, kata-kata ancaman akan terukir di dalam lubuk hati anak, membuat anak menjadi takut kepada ayah ibu. Ini bukan saja akan menimbulkan perasaan antipati pada diri anak terhadap orang tua, bahkan membentuk sekat pemisah di antara mereka. Bagaikan lingkaran setan, setelah anak dewasa dan punya anak sendiri, mereka juga akan mendidik anak dengan cara mengancam dan menakut-nakuti.

Dalam masyarakat sekarang lain lagi, karena kedua orangtua terlalu sibuk, hubungan ayah ibu dengan anak menjadi renggang, selain itu juga muncul tiga jenis orangtua pengganti, yaitu baby sitter, kelas les dan komputer, mereka telah menggantikan waktu dan peranan ayah ibu dalam mendampingi anak.
Bodhisattva datang ke dunia Saha ini dengan hati penuh welas asih untuk menyelamatkan semua makhluk dalam penderitaan. Setiap makhluk dikarenakan akumulasi karma dari masa kehidupan lampaunya, maka masing-masing memiliki tabiat buruk. Bodhisattva membimbing mereka sesuai dengan tabiat buruk mereka, maka jika orangtua dapat mendidik anak dengan tutur bahasa lembut dan penuh kasih, dengan sendirinya anak akan tumbuh besar dalam lingkungan tanpa tekanan batin dan bebas dari rasa takut, masa kecil mereka akan dipenuhi dengan kebahagiaan. 

Apa yang dimaksud dengan “Mempergunakan kebijaksanaan Bodhisattva untuk mendidik anak”? Yaitu “Jangan bebankan kondisi batin mendapatkan atau kehilangan kita pada diri anak”. Jika ayah ibu memberikan cinta kasih berlebihan bagi anak, ini berbalik menjadi rintangan dalam hubungan ayah ibu dan anak, sebab anak akan merasa tertekan batin dan tidak mampu menerima bimbingan dengan hati tenang, malah merasa kalau ayah ibu sangat cerewet. Ketika ayah ibu mendidik anak, jangan memaksakan harapan dan tuntutan sendiri pada anak, seharusnya membimbing anak dengan “tanpa mengharapkan sesuatu”, tanpa mengharapkan sesuatu sebagai balasan adalah hati Bodhisattva, anak akan bersuka cita mendengarnya dan tanpa disadari dirinya telah pun terbimbing. Jadi kita harus membimbing anak dengan hati Bodhisattva, itu baru merupakan cinta kasih sesungguhnya yang penuh kebijaksanaan.

Rabu, 02 Mei 2012

Bakti Terluhur Sesungguhnya Terhadap Orangtua

Kasih anak kepada ayah bunda selalu saja setipis lembaran kertas, ketika membutuhkan sesuatu, mereka selalu saja beranggapan kalau pemberian ayah bunda kepada mereka memang sudah seharusnya; selanjutnya mereka menganggap pemberian kepada anak sendiri juga sudah seharusnya, namun saat memberikan sedikit saja kepada ayah bunda, langsung merasa sudah memberikan terlalu banyak, bahkan menghitung-hitung kalau saudara sekandung lainnya juga seharusnya ikut memikul tanggung jawab sedikit, ini sudah merupakan gejala umum di dalam masyarakat sekarang ini.

Pernah sekali ketika saya berkunjung ke rumah sakit, di dalam kamar pasien terlihat ada seorang nenek sedang duduk di kursi dengan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, saya menepuk pundaknya dan bertanya: “Nenek, apa yang terjadi padamu?” Dia menjawab: “Saya sangat sedih.” Di ranjang sebelah kebetulan tinggal seorang nenek lainnya, di mana menantunya sedang duduk di sampingnya untuk membantunya membersihkan wajah, hubungan antara mertua dan menantu itu terlihat sangat akrab bagaikan ibu dan anak saja. Menantu dari nenek di ranjang sebelah mengatakan kepada saya: “Nenek itu sangat kasihan sekali, dokter mengatakan kalau dirinya tidak ada penyakit, namun dia mengerang sakit dari pagi sampai tengah malam, lalu dari malam mengerang sakit sampai pagi.”

Saya memalingkan kepala dan bertanya kepada nenek itu: “Apa yang terjadi padamu? Di mana anak dan menantumu?” Dia menjawab: “Anakku sedang kerja dan menantuku tidak datang menjengukku.” Saya mengatakan: “Keluarga sekarang kebanyakan merupakan keluarga kecil, menantumu juga ada hal yang perlu disibukkan, makanya tidak sempat menjengukmu.” Mendengar perkataan saya ini, dia membalas dengan raut wajah penuh kebencian: “Anaknya dijaga oleh orang lain, mana ada yang perlu disibukkannya.”

Adanya jurang pemisah antara mertua dan menantu seperti ini sungguh sangat disesalkan, apakah menantu tidak pernah berpikir kalau sekarang dirinya dapat mengupah orang untuk membantu jaga anaknya dan menjalani hari-hari kehidupan dengan baik, itu disebabkan karena ada suaminya yang memberi teduhan, sedangkan suaminya dilahirkan dan dibesarkan oleh mertuanya, ketika sekarang orang tua ini jatuh sakit, dia beranggapan dengan memasukkan mertuanya ke rumah sakit berarti mereka sudah menunaikan kewajiban sebagai anak dan menantu, ini menunjukkan kalau kasih anak dan menantu terhadap orangtua dan mertua sungguh sangat tipis. Jika perasaan berterima kasih dan bakti kepada orangtua mereka sedemikian tipis, tentu saja tiada budi luhur orangtua yang dapat dibicarakan lagi.

Sang Buddha memandang semua makhluk sebagai anak sendiri

Sang Buddha memandang semua makhluk bagaikan Rahula, di mana Rahula adalah putera satu-satunya dari Sang Buddha yang ikut disadarkan oleh Sang Buddha dari dalam istana dan menjadi seorang Bhikku. Sang Buddha beranggapan bahwa manusia terus menciptakan karma buruk dalam masyarakat, di antara sesama tidak pernah berhenti saling ganyang, di antara negara terus berperang, demi menciptakan seorang raja dalam sebuah negara, tidak tahu ada berapa nyawa yang harus dikorbankan.
 
Pada saat itu, Sang Buddha meninggalkan keduniawian juga dikarenakan melihat dengan jelas kondisi dalam masyarakat di mana yang lemah adalah mangsa yang kuat, maka Beliau melepaskan kekuasaan, kedudukan tinggi dan kekayaan melimpah, Beliau meninggalkan kehidupan duniawi untuk pergi membina diri. Setelah memahami kebenaran sejati akan sifat manusia secara jelas, Beliau kembali untuk menyadarkan ayah, anak, isteri dan bibiNya, agar mereka juga dapat melepaskan diri dari keserakahan dan kerisauan duniawi, Sang Buddha berharap semua orang dapat memiliki luas pikiran untuk berbelas kasihan tanpa syarat dan mengasihani insan lain bagai diri sendiri, berpegang pada pandangan “semua makhluk di dunia merupakan anak sendiri dan keluarga sendiri.”

Cinta kasih tanpa noda baru merupakan cinta kasih kasih universal yang tuntas

Dalam keduniawian, orang-orang tidak akan mampu memutuskan tali kasih perorangan untuk selama-lamanya, bahkan seorang ibu yang sangat berhasil atau ayah yang sangat baik, juga tetap saja tidak dapat memutuskan tali kasih perorangan, pikirannya selalu saja mengikuti anak sendiri. Semua ini adalah cinta kasih yang penuh corak warna dan tercemar, jika seseorang memiliki cinta kasih yang penuh corak warna dan tercemar, bagaimana mungkin dirinya dapat berbuat sampai berbelas kasihan tanpa syarat dan mengasihani insan lain bagai diri sendiri? Sang Buddha mengharapkan anakNya Rahula dapat mencintai semua makhluk di dunia ini, bukannya hanya membatasi cinta kasihnya dalam sebuah negara saja, maka Beliau menyadarkan puteraNya untuk menjadi seorang Bhikkhu, ini adalah sebuah wujud cinta kasih universal yang terdalam.

Biasanya ayah bunda mencintai anak hanya dalam masa kehidupan sekarang saja, sedangkan Sang Buddha mencintai semua makhluk di dunia dari satu masa kehidupan sampai ke masa-masa kehidupan selanjutnya, cinta kasih ini adalah cinta kasih universal yang berlangsung selama-lamanya.

Kita semua adalah pengikut ajaran Buddha, juga merupakan murid Buddha, dikarenakan kita ingin belajar pada keteladanan Sang Buddha, maka kita harus memberi perhatian pada semua makhluk di dunia dengan berpegang pada “hati ayah bunda”. Semua orang tua di dunia ini adalah ayah bunda kita dari satu masa kehidupan sampai ke masa-masa kehidupan selanjutnya, sama seperti ketika Sang Buddha melihat ada setumpukan tulang putih, Beliau lalu bersujud dengan hormat di depan tumpukan tulang itu, Beliau menjelaskan bahwa tumpukan tulang itu merupakan tulang belulang dari ayah bundaNya selama beberapa masa kehidupan. Sang Buddha berulang kali terlahir di enam alam kehidupan dengan membawa jiwa kebijaksanaannya, jika ingin melayarkan perahu welas asihnya di dunia Saha ini, maka Beliau harus menumpang pada tubuh yang dilahirkan oleh ayah bunda, baru dapat datang ke dunia ini. Maka Sang Buddha bukan saja berterima kasih kepada ayah bunda pada masa-masa kehidupan lampau, juga berterima kasih kepada ayah bunda pada masa-masa kehidupan mendatang.
 
Dikarenakan ibunda Sang Buddha, Ratu Maya melahirkan seorang anak penuh berkah, maka dirinya kemudian terlahir kembali di alam surga Tavatimsa, ketika Sang Buddha akan mencapai parinirvana, Beliau selalu teringat kalau budi luhur ibuNya belum terbalas, maka Sang Buddha pergi ke alam surga Tavatimsa untuk membabarkan Sutra Ksitigarbha, membuat diri ibuNya berkesempatan untuk mendengarkan Dharma dan tersadarkan. Sedangkan ayah Sang Buddha juga mendapatkan pencerahan pertama setelah mendengarkan pembabaran Dharma dari Sang Buddha, Beliau membalas kehidupan yang diberikan ayah bunda dengan memberikan jiwa kebijaksanaan kepada ayah bunda. Seorang murid Buddha yang sesungguhnya harus dapat membangkitkan jiwa kebijaksanaan ayah bunda dengan mempergunakan kebijaksanaannya, terlebih lagi harus memandang semua makhluk sebagaimana anak sendiri, senantiasa memandang semua makhluk dengan hati ayah bunda, serta dengan rasa bakti pada ayah bunda menghormati semua makhluk, ini baru merupakan bakti terluhur sesungguhnya dalam membalas budi luhur orangtua.

Dikutip dari Majalah Bulanan Tzu Chi edisi 320
 
真正的大孝
 
子女對父母的情,經常是薄如紙張,他們有需要時,認為父母給他們是理所當然的,而他們付給自己的子女也認為是應該的;可是稍微回報父母一點點,就覺得已經付出太多了,甚至還計較兄弟姊妹應該分擔一些,這是目前社會上普遍存在的現象。

有 一次我到醫院去,病房中有一位老太太坐在椅子上,把頭趴在椅背上,我拍拍她的肩膀問她說:「阿婆,妳怎麼了?」她說:「我很難過。」隔床正好也住了一位老 太太,她的媳婦坐在她身旁正在替她擦臉,婆媳之間就像母女那麼親密。隔床的媳婦向我說:「那位阿婆好可憐,醫師說她沒什麼病,可是她卻 從白天哼到半夜,又從夜晚哼到天亮。」

我回頭問這位老太太說:「妳怎麼了?兒子媳婦呢?」她說:「兒子在上班,媳婦也沒來看我。」我說:「現在都是小家庭,媳婦也有她的事要忙,所以無法來看妳。」她聽了,臉上充滿恨意的回答:「她孩子請人帶,那有什麼好忙的!」

婆 媳之間有這分代溝存在實在令人慨嘆,做媳婦的沒想到今天能夠請人帶孩子,日子過得這麼好,是因為先生的庇蔭啊!而能有這麼好的先生,則是婆婆生養給她的 啊!如今老人家病了,她認為把她送進醫院,就算盡了子媳的責任,可見子媳對父母公婆的這分情感實在太淡薄了。既然孝思情感這麼淡薄,當然就沒有親恩好談的 了。

佛陀視眾生如己子

佛陀視所有眾生如羅侯羅──羅侯羅是佛陀的獨子,他也被佛陀從皇宮度化出家。佛認為人在社會人群中,不斷地造業:人與人之間鬥爭不息,國與國之間也不斷地在戰爭,而一個國家為了成就一個國王,不知要損傷多少人命。

佛陀當初會出家,也是看透了社會眾生的弱肉強食。所以他放棄了權力、地位以及榮華富貴而出家修行了。他透徹了人性的真理,再來度化他的父親、兒子、太太、姨 母,讓他們脫離世俗的貪欲煩惱,他希望大家都能抱持「普天之下眾生都如同自己孩子、親人」的這分無緣大慈、同體大悲的心胸。

無染的愛才是透澈大愛

在世俗中,人們永遠無法割斷私我的感情,即使是一位成功的母親、很好的父親,他們還是私情不斷──心心念念都在自己的孩子身上。這些都是有色彩、有污染的愛,人一旦有這分無明、有彩的愛,又怎能做到無緣大慈、同體大悲呢?佛陀就是希望他的兒子羅侯羅能夠去愛普天下的眾生,而不是只把他的愛侷限於一個國家中,所以度子出家了,這就是最深刻的大愛。

一般做父母的愛子女只是這一生一世,但佛陀卻是愛天下的眾生於累生累世……,這種愛是大愛,這種情是長情。

我們都是佛教徒,也是佛的弟子,我們既然要學佛,就必須抱持「父母心」來關愛普天下的眾生。普天下的老者都是我們累生累世的父母──像佛陀看到了一堆白骨, 就很恭敬地跪拜,他明白開示:這些白骨是他生生世世父母的骨骸。佛陀以無數生無數世的慧命,不斷地來回到六道中,而要在娑婆世界中倒駕慈航,就必須託父母 所生之身才能來人間。所以佛陀不只感恩過去生的父母,也感恩未來世的父母。

佛陀的母親摩耶夫人因為生了福子,而生在忉利天,佛將入滅時, 思母恩未報,因此到忉利天為母親說法講地藏經,使她能聞法得度。而佛的父親也因聽聞佛陀的說法而得初果,這就是以父母生他的生命來回饋長養父母的慧命。一 個真正的佛弟子,應該以智慧來啟發父母的慧命,更應該視一切眾生如己子,時時抱著為人父母的心懷去看待眾生,和為人子女的孝思去禮敬眾生,這才是真正的以大孝回報父母恩啊!

本文摘自:第 320 期慈濟月

Bagaimana caranya memperlakukan orangtua berusia lanjut yang sulit dihadapi?

Ada orang bertanya kepada Master Cheng Yen:
Bagaimana seharusnya kita memperlakukan orangtua berusia lanjut? Ada sebagian orangtua berusia lanjut suka menaruh syak hati yang tidak perlu, ketika mendengar sepatah kata saja, langsung berpikir yang bukan-bukan, hal yang membuat sulit untuk melakukan komunikasi dan bergaul dengannya.

Master menjawab:
Kondisi batin orangtua berusia lanjut seringkali sudah seperti anak kecil; jika kita mengasihi anak kita dengan hati yang lembut, maka kita juga harus mengasihi orangtua dengan hati yang sama. Sering ada orang mengusulkan agar Tzu Chi membangun panti jompo, namun saya lebih mengharapkan dapat mendorong kebiasaan menitipkan orangtua berusia lanjut di “senior home” (hunian orang tua), contohnya “Hunian Rileks” di RS Tzu Chi yang memberikan pelayanan perawatan orangtua jompo di siang hari, membantu pasangan suami isteri dari keluarga kecil yang sibuk bekerja di siang hari dan tidak mampu mengurus orangtua mereka yang sudah jompo, namun ketika malam hari orangtua dijemput pulang sehingga sekeluarga tetap dapat berkumpul bersama. Saya benar-benar berharap setiap orang dapat menunaikan kewajiban sebagai anak untuk berbakti kepada orangtua, sehingga orangtua tetap dapat menikmati kebahagiaan keluarga, ini juga semacam pendidikan kepada anak-anak sendiri, jika sebuah pasangan suami isteri dapat memberikan keteladanan kepada anak-anaknya, barulah anak-anaknya tahu berbakti di kemudian hari.

Memperlakukan dengan sikap berterima kasih dan menghormati

Kembali ditanyakan:
Kadangkala pemikiran dan tindakan orangtua berusia lanjut sangat berbeda jauh dengan kondisi jaman sekarang, apakah kita tetap harus bersabar pada mereka sebagaimana menghadapi anak kecil?
 
Master menjawab:
Memang jaman berubah terlalu cepat, sedangkan orangtua kadangkala masih berhenti pada kondisi masa lampau, tetap berpegang pada konsep pemikiran pada jaman mereka dulu, namun tiada orangtua yang salah di dunia ini, jadi kita harus menganggap semua perkataan orangtua adalah benar. Jika menemukan kondisi demikian, anda tidak boleh membantah, walau pun merasa tidak rela, namun anda tetap harus menerima dan berusaha menjelaskan secara bijaksana. Coba lihat pada generasi saya dulu, selalu saja menghormati orang lebih tua, tidak seperti pada jaman sekarang, orang lebih tua selalu mengikuti kemauan orang lebih muda, benar-benar sangat menderita sekali. Kita seharusnya memendam perasaan berterima kasih kepada kaum tua, jika tidak ada kaum tua yang telah mempersembahkan seluruh hati dan tenaga dalam kehidupan mereka, mana mungkin ada kondisi masyarakat yang makmur seperti sekarang ini. Maka kita harus menghormati dan berterima kasih kepada kaum tua.

“Tua” sama sekali tidak menakutkan

Kembali ditanyakan:
Usia tua membuat gerakan menjadi lamban dan selalu jatuh sakit tanpa henti, banyak hal yang hendak dilakukan namun tidak mampu dilakukan lagi. Menjadi “tua” sepertinya sangat menakutkan?

Master menjawab:
Jangan takut, namun harus mawas diri. Suatu hari nanti kita juga akan menjadi tua, jika pada saat sekarang ini tidak memperlakukan ayah dan ibu dengan baik, di kemudian hari anak cucu kita juga akan berlaku sama terhadap diri kita. Etika dan moralitas berupa sikap berbakti pada orangtua dan menghormati orang lebih tua sebetulnya harus dipupuk di dalam keluarga, kemudian diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya.

※ Dikutip dari buku “Hidup dan mati dengan nyaman” karangan Master Cheng Yen
 
難纏的老人家 如何對待?
 
有人問:我們應該如何對待老人家?有些老人比較多心,聽了一句話就想成另一個意思,溝通上有點困難,相處起來也不容易。

上人開示:
老 人家的心態往往像幼兒一樣;我們用溫柔的心去愛孩子,也要用同樣的心去愛老人。常有人建議慈濟興建養老院,但我比較希望推動「日間照護」的風氣,例如慈濟 醫院的「輕安居」,就提供日間的老人照護服務,白天分擔小家庭夫妻因上班而無法照顧年老父母的辛勞,而晚上把父母接回家後,一家人還是能團聚在一起。我真 心期待每個人都能克盡孝道,老人家也都能享受天倫之樂,這也是一種教育──夫妻做好榜樣給兒女看,兒女才會懂得孝順。

用感恩尊重對待

又問:老人家有時候想法、做法和時代有很大差距,也要像對待小孩一樣容忍他們嗎?

上人回答:時代變得太快了,有時老人會停滯在過去,守著他們那一代的觀念──天下無不是的父母,認為父母親說的就是對的。遇到這樣的情形,你不能頂撞,儘管 如何不願意,還是要逆來順受,委婉的說明。看看我這一代的人,還是這樣講求長幼有序,哪像現代老人事事都要聽從晚輩,真的很辛苦。我們對老人必須抱持感恩心,如果沒有老人們奉獻一生心力,哪有今天富裕的社會!所以對老人家一定要尊敬,要有感恩心。

「老」一點也不可怕

又問:動作遲緩、病痛不斷,很多事情想做都不能做……「老」似乎是一件很可怕的事。

上人答:不要害怕,要警惕──有朝一日我也會老,今天若沒有好好對待父母,將來我的孩子也會這樣對我。孝順父母、尊敬長輩的倫理美德,其實就是這樣在家庭中培養出來,再一代代傳承下去。

本文摘自:證嚴上人著作《生死皆自在

Senin, 26 Maret 2012

Pandangan Mata Seorang Ibu

Setelah menjadi seorang ibu, saya sangat suka melihat anakku tidur. Punggungnya halus mengkilap bagaikan ikan belut, lengannya legam dan sehat, kakinya penuh dan tegap, dahinya sangat menarik tak terlukiskan. Ketika memandangnya, saya sering merasakan kalau dengan memandang demikian saja, setiap wanita seharusnya tidak boleh kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang ibu.
 
Tiba-tiba saya teringat, pada saat usiaku masih kecil, diriku pasti juga tertidur lelap di bawah pandangan mata ibu. Namun dalam masa kecil penuh kebahagiaan itu, saya masih belum tahu apa-apa dan tidak pernah terbangun sekali pun di bawah pandangan mata ibu, jadi saya tidak ingat sama sekali. Saya mulai merasakan pandangan mata seperti ini ketika mulai tumbuh dewasa, tahun itu usiaku sekitar 13 atau 14 tahun, masa-masanya seorang anak perempuan mulai memiliki beban pikiran.
 
Suatu hari ketika saya sedang tidur siang dan belum lelap benar, saya mendengar suara ibu masuk ke dalam kamar, ibu meraba-raba sepertinya sedang mencari sesuatu, tidak seberapa lama kemudian, mendadak tidak terdengar ada suara lagi. Jelas-jelas ibu belum ke luar dari kamar. Suara napas kami saling bersahutan, bagaikan suara dedaunan berderu lembut, tanpa tertahankan saya mulai merasa gelisah dan tidak nyaman. Sejenak kemudian karena belum mendengar mendengar suara ibu, saya lalu membuka mata. Saya melihat ibu sedang berdiri di tempat berjarak satu langkah dari ranjangku sambil diam-diam memandang pada diriku.
 
“Ibu, ada apa?” Saya bertanya dengan sangat heran.
 
“Tidak apa-apa.” Ibu menjawab. Sepertinya sedikit tersentak dan segera berlalu.
 
Di kemudian hari, hal demikian sekali lagi terulang kembali. Saya lalu tidak sabaran dan bertanya: “Ibu, mengapa ibu selalu memandang padaku?” Ibu bagaikan telah berbuat salah dan tidak berkata sepatah kata pun.
 
Namun sesudah hari itu, dia tidak pernah lagi memandangku seperti itu, atau bisa dikatakan bahwa ibu tidak pernah membiarkan diriku mengetahui kalau dirinya ada datang memandangku seperti itu lagi. Sampai ketika saya memahami apa arti pandangannya itu, ibu telah pun telah pun meninggal dunia akibat sakit.
 
Tiada orang yang memandangku seperti itu lagi. Setahuku, ini adalah pandangan langit terhadap awan putih, ini adalah pandangan batu karang terhadap ombak lautan, ini adalah pandangan tepian sungai terhadap ikan-ikan kecil. Pandangan seperti ini hanya dimiliki oleh seorang ibu.
 
Di bawah pandangan mataku, anakku terlihat tertawa. Apakah pandangan mataku membawakan mimpi indah kepadanya? Saya tiba-tiba berpikir, jika saya kembali mendapatkan pandangan mata dari ibuku yang seperti ini, apa yang harus saya lakukan? Apakah saya akan tertawa manis untuk menghibur rasa lelahnya? Apakah menggunakan butiran air mata untuk menampakkan perasaan berterima kasihku? Atau tetap menjaga sikap tidurku yang polos demi memuaskan perasaannya yang ingin menikmati kondisi tidur anaknya?
 
Ada beberapa kesalahan yang tidak mungkin ada kesempatan untuk diperbaiki lagi dalam kehidupan ini. Saya tahu, perumpamaan di atas bagi diriku hanya merupakan impian saja. Akan tetapi, saya pikir masih banyak orang yang perlu diingatkan dengan mempergunakan perumpamaan ini. Jika anda beruntung masih memiliki ibu, jika ketika anda masih belum lelap dan mendadak ada pandangan penuh kehangatan dari ibu, maka jangan demikian berlaku bodoh seperti diriku dulu, pura-puralah tetap tidur dan jangan mengganggu ibu anda.
 
Anda akan tahu, kalau tindakan kecil ini bagi ibu anda akan merupakan sebuah kebahagiaan tiada terhingga.
 
母親的目光
 
做了母親之後,十分喜歡看著兒子睡覺。他泥鰍一樣光滑的背,黝黑健康的胳膊,飽滿茁壯的腿,眉宇間不可言說的可愛……看著看著,我常常覺得,單是為了這麼一看,女人就不能錯過做母親的機會。
 
忽然又想,自己這麼小的時候,一定也是這麼在母親的目光裡熟睡的吧?然而快樂的童年是懵懂的,在這種目光裡我一次也沒有醒過,所以也不曾記得。對這種目光開始有感受,是在漸漸長大之後,那一年我大約十三四歲,正是女孩子剛剛有心事的時節。
 
一 天,我正在裡間午睡,還沒睡穩,聽到母親走進來,摸摸索索的,似乎在找什麼東西,過了一會兒,忽然靜了。可她分明又沒有出去。我們兩個的呼吸聲交替著,如 樹葉的微嘆,我莫名地覺得緊張起來,十分不自在。等了一會兒,還沒有聽到她的聲響,便睜開眼。我看見,母親站在離床一步遠的地方,正默默地看著我。
 
「媽,怎麼了?」我很納悶。
 
「不怎麼。」她說。似乎有些慌亂地怔了怔,走開了。
 
後來,這種情形又重複了一次。我就有些不耐煩地說:「媽,你老是這麼看我幹嗎?」母親仿佛犯了錯似的,一句話也沒有說。
 
以後,她再也沒有這麼看過我,或者說,是她再也沒有讓我發現她這麼看著我了。而到我終於懂得她這種目光的時候,她已經病逝了。
 
再也不會有人這麼看著我了。我知道,這是天空對白雲的目光,這是礁石對海浪的目光,這是河床對小魚的目光。這種目光,只屬於母親。
 
孩子在我的目光裡,笑出聲來。我的目光給他帶來美夢了嗎?我忽然想,如果能夠再次擁有母親的這種目光,我該怎麼做?是用笑的甜美來撫慰她的疲憊和勞累?是用淚的晶瑩來詮釋自己的呼應和感懷?還是始終維持著單純的睡顏,去成全她欣賞孩子和享受孩子的心情?
 
有些錯誤,生活從來都不再賜予改過的機會。我知道,這種假設對我而言,只是想象的盛宴而已。但是,我想,是不是還有一些人也許需要這種假設的提醒呢?如果, 你有幸擁有母親;如果,你淺眠時的雙瞼,偶然被母親溫暖的目光所包裹,那麼,千萬不要像我當年一樣無知和愚蠢。請你安然假寐,一定不要打擾母親。
 
你會知道,這種小小的成全,對你和母親而言,是一種深深的幸福。

Mengingat asal diri di hari Cengbeng, berbakti pada orangtua adalah kewajiban manusia

“Hari ini adalah hari Cengbeng (hari ziarah makam bagi etnis Tionghoa), sebagaimana sebutannya ‘cengbeng’, kita semestinya paham akan makna ‘cengbeng’, ‘ceng’ artinya tidak tercemar, ‘beng’ artinya sangat jelas. Setiap orang harus mengerti kalau kepatutan dan moral manusia bersumber dari batin, setiap orang harus menjaga moral mendasar, yaitu berterima kasih pada kedua orangtua dengan hati bersyukur, darimana datangnya tubuh kita ini? Kita harus mengingat pada budi luhur orangtua. Maka orang dulu mengatakan, berbakti pada orangtua adalah urutan pertama dari segala kebajikan, ini menjelaskan pentingnya berbakti pada orangtua, terutama di kala kedua orangtua masih hidup, kita harus baik-baik berbakti pada orangtua.” Dalam pertemuan pagi ini dengan relawan, Master Cheng Yen berceramah akan makna berbakti pada orangtua dengan menjelaskan tentang arti daripada hari Cengbeng.

Memberi perhatian pada makam orangtua harusnya timbul dari dalam lubuk hati, berbakti dan membalas budi orangtua harus dilakukan dengan segera

Bagaimana caranya kita berbakti pada orangtua? Master mengatakan kalau itu dapat dilakukan dengan bersikap patuh pada orangtua, tidak boleh ada pikiran untuk membantah terhadap orangtua. Master mengatakan, “Murid Konghucu bertanya padanya tentang bakti pada orangtua, Konghucu menjawab ‘air muka sulit dikendalikan’, sulit sekali untuk menyelaraskan air muka terhadap orangtua. Orang sekarang bukan saja tidak memperlihatkan air muka yang baik kepada orangtua, sikap juga kurang hormat pada orangtua, orangtua berdiri dan berkata dengan serius pada anak, anak malah duduk menyilangkan kaki. Sekarang jarang mendengar ada anak yang berkata: Saya tidak berani mengatakannya, takut orangtuaku nanti marah! Jarang sekali ada anak yang bisa mempertimbangkan perasaan orangtua, moral mendasar berupa kepatutan moral itu sudah tidak ada lagi.”
 
Master mengungkit bahwa kadangkala ada mendengar para arsitek berbagi cerita, keluarga sekarang kalau hendak membangun rumah baru, selalu terlebih dahulu memikirkan di mana kamar tidur anak dan tempat belajar anak, barulah memikirkan kamar tidur diri sendiri, terakhir menyisakan lokasi yang tidak begitu strategis untuk kamar tidur orangtua, semua ini membuat orang sedih mendengarnya; ketika orangtua meninggal dunia, barulah berpikir untuk mengadakan upacara pemakaman meriah dan membangunkan makam megah untuk mengenang orangtua, akan tetapi makam itu berada di daerah luar kota yang sepi dan dipenuhi semak belukar, sungguh kesepian sekali! Ini benar-benar menjungkir-balikkan mana yang utama dan mana yang sekunder. Ada pepatah Taiwan mengatakan, “Ketika orangtua masih hidup, memberikan oleh-oleh berupa sebutir kacang pada orangtua, ketika orangtua sudah meninggal, barulah bersembahyang dengan kepala babi.”  Artinya berbakti pada orangtua seharusnya dilakukan ketika orangtua masih hidup, bukan sesudah orangtua meninggal dunia.

Pembakaran kertas sembahyang hanya memperburuk gejala pemanasan global, jangan membunuh demi bersembahyang pada leluhur

Niat dan sikap berbakti pada orangtua bukan hanya untuk satu hari atau sesaat saja, Master mengambil contoh relawan Li Zongji. Pada masa kecilnya, Li Zongji hidup dalam keluarga miskin, ayahnya telah meninggal dunia dini sekali dan dia dibesarkan oleh ibunya, dia sangat berbakti pada ibunya, di kemudian hari ketika dia sangat berhasil dalam usaha transportasi laut, dalam upacara pelayaran pertama kapal perusahaannya, pengguntingan pita tidak pernah dilakukan oleh pejabat atau tamu terhormat, selalu dipimpin oleh ibunya. Ketika ibunya meninggal dunia, dimakamkan pada tanah pemakaman terdekat, dia setiap hari pergi ke makam ibunya untuk membersihkan makam dan berbicara dengan ibunya, tidak pernah terhambat sekali pun oleh hujan dan angin. Master memberi pujian, “Li Zongji baru merupakan Cengbeng sesungguhnya, setiap hari merupakan hari Cengbeng baginya, dia memimpin orang dengan akhlak baik, juga mendidik anak dengan akhlak baik, sekeluarganya merupakan insan Tzu Chi, ini barulah cengbeng sesungguhnya, memberi perhatian pada makam orangtua adalah bentuk berterima kasih pada budi luhur orangtua.”

Master berceramah, “Hari Cengbeng adalah saat memberi perhatian pada makam orangtua, membersihkan makam para pendahulu dan mengenang budi leluhur, kita harus memberitahu anak-anak akan akhlak leluhurnya, dapat mengenang akhlak leluhur baru merupakan bentuk memberi perhatian pada makam orangtua sesungguhnya. Tetapi jangan membakar kertas sembahyang dan mempersembahkan daging hewan, membakar uang kertas akan memercikkan api yang dapat membakar ladang rumput nan luas; mempersembahkan daging hewan adalah bersembahyang dengan mayat, semestinya mengenang akhlak dengan hati tulus, ini barulah makna dari memberi perhatian pada makam orangtua di hari Cengbeng.”

Bumi merekah dan kering sebagai sinyal peringatan, hanya batin manusia yang dapat meredakannya

Di dunia ini bencana alam semakin sering terjadi, empat unsur utama alam sudah tidak selaras lagi, Master berpesan dengan meminjam hari Cengbeng ini, “Setiap orang harus kembali pada sifat hakiki dan akar moralitas, barulah bisa membuat dunia terbebas dari bencana. Begitu banyak bencana alam melanda dunia, bencana kekeringan sudah merata di seluruh dunia, selain itu empat unsur utama alam sudah tidak selaras lagi, bagaimana memperlambatnya? Hanya dengan merubah kondisi batin manusia.”

Master berceramah, “Hari ini adalah hari Cengbeng, kita harus membuat alam tetap hijau dan melindungi udara dari pencemaran, yang perlu kita lakukan adalah memberi perhatian pada makam orangtua dengan cara sesungguhnya, jangan lagi merusak tanaman alam, jangan lagi melakukan eksploitasi dan perusakan, hanya dengan mengurangi gejala ketidak selarasan empat unsur utama alam, barulah bumi bisa terselamatkan dan dunia terbebas dari bencana. Saya berharap semua orang paham akan makna hari Cengbeng, arah batin harus benar, jangan percaya takhayul, semua ini yang mesti kita miliki.”
 
  Ceramah Master Cheng Yen pada tanggal 5 April 2010

清明思源 孝道為人本
 
「今天是清明節,顧名思義既然是『清明』,我們就應該了解『清明』的意義;『清』就是不污染,『明』就是要很清 楚。人人要知道,人的倫理道德本源於心,人人要顧好德之本,就是要用感恩心感恩父母親,身體從何來?要感念父母恩。所以古人說,百善孝為先,就是說明了孝 道的重要,特別是在父母在世時,就要好好的盡孝道。」今日證嚴上人志工早會上,以清明之意開示孝道的意涵。

慎終追遠應發心  行孝報恩當及時

要用什麼方式盡孝道?上人說,就是要順從父母,對父母不可有忤逆之心。上人說,「孔夫子的弟子問孝,孔子跟他說『色難』,對父母要調和臉色很難。現代人不只是臉色,態度上也不恭敬父母,父母親是站著、很謹慎地對 孩子說話,孩子卻坐著、翹起腳來。現在很少聽到孩子說:我不敢講,擔心我父母會生氣!很少考慮到父母的心,少了那一分德本、原本的道德倫理。」

人提到,有時聽聞建築師分享,現在的家庭若要興建新的房子,往往都先設想孩子的臥房、讀書環境,再來是自己的主臥房,最後不甚理想的空間才是父母親的房 間,在在聽來令人心中戚戚;一旦父母往生了,卻又才想到要以風光的儀式、偌大的墓地去追思,但是荒郊野外、雜草叢生,甚為孤單!如此實為本末倒置。有句台 灣俗諺說,「在生一粒豆,卡嬴死了拜豬頭。」即是意指盡孝道應在父母在世時,而非往生後。

紙錢焚煙添暖化  莫以殺生祭先人

孝心與孝行不應只是一日一時,上人以李宗吉師兄為例。李宗吉幼時家貧、父親早逝,由母親帶大的他,事親至孝,之後經營海運事業有成,企業船運首航沒有達官顯 貴剪綵而是由母親主持。母親逝後,葬於鄰家墓地,他更是天天至母親墳前,清掃打理,和母親說話,日日風雨無阻。上人讚嘆,「李居士才是清明啊!天天都是清 明節,他以德服人、以德教育,一家人都是慈濟人,這才是真的清明, 慎終追遠就是要感恩父母。」

上人開示,「清明節是慎終追遠,清理先人的墓地、緬懷祖先的恩情,要告訴子女祖父母的德,顯德緬懷才是慎終追遠。但是不要焚燒紙錢、拜三牲五禮,燒紙錢,星星之火可以燎原;拜三牲,是拿屍體去祭拜,應該要用虔誠的心感懷恩德,才是清明慎終追遠的意義。」

地裂枯旱示警訊  唯有人心能紓緩

普天之下災難偏多、四大不調,藉此清明節上人叮嚀,「人人要回歸本性、道德的根源,才能讓天下無災無難。普天之下多少災難,乾旱已經普遍在全球,除此之外,四大不調已經造成,如何緩和?唯有人心。」

人開示,「今天是清明節,要讓大地一片綠意盎然,保護空氣不受污染,我們需要的是真正的慎終追遠,不要再破壞大自然的草木、不要再開發、再毀壞,唯有緩和 四大不調的景象,才能真的地救地球、弭災難。希望大家要了解清明節的意義,心的方向要正、不要迷信,這都是我們應該要有的。
 
證嚴上人開示於201045日志工早會

Sabtu, 24 Maret 2012

Kasih Seorang Ibu

Ada sebuah peristiwa yang terjadi pada sebuah desa kecil, suatu ketika ada seorang ibu yang penuh kasih pergi ke kota besar, setelah kembali ke rumah dirinya berubah total dari sebelumnya. Semula ibu ini sangat mengasihi puterinya, tak peduli seberapa larut pun anaknya pulang rumah, dia akan menunggu untuk membuatkan makanan enak dan diantarkan ke hadapan anaknya. Akan tetapi sejak pulang dari kota besar, sang ibu berubah dan tidak mau lagi mengurus anaknya, biar pun anaknya pulang sangat larut malam, sang ibu tidak pernah mengindahkannya, bahkan tidak memasak lagi di rumah. Ketika sang anak merasa lapar dan memberitahukan pada sang ibu, dia hanya menjawab dengan nada dingin: “Kamu sudah besar, apakah masih belum bisa masak sendiri?”
 
Dari itu, sang anak berpikir bahwa sang ibu tidak sayang padanya lagi, lalu timbul perasaan tidak senang dan benci pada sang ibu, dia mulai mencuci pakaian sendiri, menata kamar sendiri, saat lapar memasak sendiri, semua urusan harus dikerjakan sendiri, sebab biar pun dirinya merasa lelah, haus, lapar atau mengantuk, sang ibu tidak pernah memperdulikannya. Dalam hati dia beranggapan kalau sang ibu sudah tiada.
 
Tak seberapa lama kemudian, sang ibu pun meninggal dunia, selama selang waktu ini, sang anak sudah jauh hubungannya dengan sang ibu, bahkan bersikap dingin dan seakan bermusuhan, sehingga kematian ibunya tidak membawa dampak kesedihan sama sekali pada dirinya.
 
Selanjutnya ayahnya kawin kembali, setelah ibu tirinya tinggal di rumah mereka, dia merasa ibu tirinya sangat baik padanya, paling tidak masih menyisakan sedikit lauk dan nasi baginya, setelah lelah seharian tidak perlu memasak sendiri, jadi hubungan dengan ibu tirinya masih terhitung cukup harmonis.
 
Sang anak belajar dengan keras dan akhirnya berhasil dalam ujian masuk perguruan tinggi. Akan tetapi dikarenakan kondisi ekonomi keluarga tidak baik, maka dia tidak ada dana untuk membayar uang kuliah, ketika sedang diliputi kecemasan, ayahnya menyerahkan sebuah kotak kecil kepadanya dan memberitahukan kalau sebelum ibunya meninggal dunia ada berpesan agar pada saat menemui kondisi paling sulit, baru boleh menyerahkan kotak ini kepadanya.
 
Sang anak menerima kotak ini dari ayahnya, ketika dibuka ternyata di dalamnya ada setumpuk uang dengan selembar surat di sampingnya.
 
Dalam surat tersebut tertulis pesan ibunya:
 
Anakku, kali itu ketika ibu pergi ke kota, sebetulnya ibu pergi memeriksakan kesehatan tubuh, setelah dilakukan pemeriksaan, barulah ibu tahu kalau ibu terkena kanker dan sudah stadium akhir, saat itu ibu hampir-hampir tidak bisa berdiri lagi. Ibu bukan khawatir akan diri ibu, akan tetapi ibu khawatir akan dirimu. Ibu berpikir jika ibu sudah tiada, bagaimana dengan dirimu nanti? Kamu masih kecil, bagaimana kamu bisa melanjutkan hidup? Bagaimana menghadapi masa depanmu?
 
Dari itu, sepulangnya ibu ke rumah, ibu bersikap dingin kepadamu dan ingin kamu mengerjakan sendiri semuanya, juga tidak peduli lagi padamu agar kamu membenci ibu, dengan demikian sesudah ibu sudah tidak ada di dunia ini lagi nanti, kamu tidak akan diliputi dengan kesedihan.
 
Anakku, walau ibu tidak pernah bertanya padamu, namun di dalam hati ibu sebetulnya tetap mengkhawatirkan dirimu, setiap kali kamu pulang larut malam, walau ibu tidak membuka pintu untuk melihat dirimu, namun ibu tetap menunggumu pulang. Ketika kamu pulang dengan tubuh lelah dan perut lapar, ibu membiarkanmu masak sendiri, sebab ibu berharap sesudah ibu tiada nanti, kamu bisa menjaga diri. Dulu ibu mengerjakan semuanya untukmu, namun sesudah ibu tiada nanti, siapa lagi yang akan menjagamu? Segala sesuatu di kemudian hari harus bergantung pada dirimu sendiri.
 
Ibu berlaku buruk padamu, bahkan tidak memasakkan nasi untukmu dan semua pekerjaan harus kamu lakukan sendiri, maka dengan demikian ketika nanti ayahmu kawin kembali, kamu akan berpikir bahwa ibu baru akan lebih baik dari ibu, sehingga kalian akan dapat berhubungan dengan baik dan hari-harimu akan lebih mudah dilalui.
 
Dalam kotak ini ada uang 5000 dolar yang diberikan nenek kepada ibu, sebetulnya ini adalah uang berobat ibu, namun ibu tidak rela menggunakannya, ibu tinggalkan untukmu dengan harapan ketika nanti kamu masuk perguruan tinggi dan membutuhkan uang, kamu dapat menggunakannya. Sekarang, ibu meminta bantuan ayah untuk menyampaikannya kepadamu.
 
Air mata segera mengaburkan mata sang anak, juga mengaburkan sepasang mata kita yang membaca kisah ini, kasih ibu terhadap anak sungguh tanpa pamrih dan penuh akal budi, mana mungkin ada ibu yang tidak mengasihi anaknya? Ketika dia harus menahan perhatian dan kasih dalam hatinya kepada anak, harus berusaha keras untuk memperlihatkan wajah dingin kepada anaknya, saya sungguh sulit membayangkan, betapa menderitanya perasaan ibu ketika itu, namun demi perkembangan anak yang lebih baik dan kehidupan anak yang lebih berbahagia di masa mendatang, ibu rela menerima segala kesedihan, bahkan tidak menyesal untuk membiarkan sang anak salah paham terhadapnya.
 
Namun apakah sebagai anak, kita mau memahami isi hati ibu?
 
Teringat pernah sekali, di dalam sebuah lift bertemu dengan seorang anak, ketika ibunya dengan sabar membimbingnya, anak ini terlihat tidak sabaran dan mengeluhkan kalau ibunya cerewet, bahkan marah-marah dan meminta ibunya agar tutup mulut. Ibunya juga marah, namun tetap menahan diri dengan terus meminum air mineral di tangannya, pada saat ini sang anak sama sekali tidak sadar akan betapa sedihnya hati ibunya.
 
Cinta kasih harus dirasakan dengan kesungguhan hati, ketika kita membantah ayah dan ibu kita, mengapa kita tidak menyadari kalau sepatah perkataan penuh emosi kita telah pun menyebabkan luka mendalam di dalam hati ayah dan ibu. Ketika ayah dan ibu sedang memberi bimbingan kepada kita, apakah kita dapat menyadari betapa besarnya hati kasih orangtua kepada anak? Atau kita menganggap ayah dan ibu tidak senang melihat kita dan selalu mencari masalah pada diri kita.
 
Ketika ibu memukul dan memarahi kita, apakah itu benar-benar disebabkan karena ibu tidak menyukai kita?
 
Pernah mendengar seorang ibu berkata demikian: Anak-anak tersayang, tidak semua ibu dapat berbuat seperti yang kalian harapkan, kalian semestinya mau mengerti akan tindakan ibu kalian dan jangan pernah menyalahkannya. Saya percaya, ibu kalian dan termasuk ayah kalian akan mencintai kalian selama-lamanya, tak peduli metode apa yang dipergunakan, mereka akan tetap berdiri di sisi kalian untuk selama-lamanya, tetap berharap kalian agar kalian cepat tumbuh dewasa dan nantinya dapat berbuat lebih banyak bagi negara dan masyarakat.
 
Benar sekali, ibu selalu mengasihi kita, mengapa kita masih saja meragukannya?
 
Apakah kita tahu kalau di mata ibu, kita selama-lamanya adalah anak-anak, biar pun kita telah berusia 80 tahun dan punya banyak anak cucu, ibu kita tetap mengkhawatirkan diri kita: apakah pakaian yang dikenakan sudah cukup hangat, apakah di malam hari tubuh ada ditutup selimut dengan baik, apakah ada makan kenyang, dan seterusnya.
 
Kasih ibu adalah sedemikian besar dan tanpa pamrih, bagaikan sumber air yang terus mengalir deras tanpa pernah berhenti. Akan tetapi, bilakah kita sebagai anak dapat benar-benar memahami akan isi hati ibu?
 
Pernah ada orang yang mengumpamakan kasih ibu bagaikan tanaman bunga di tepi jalan, tiada orang yang peduli, tiada orang yang merawat, tiada orang yang memberi perhatian, namun tak peduli dalam cuaca bertopan, hujan deras atau hawa dingin membeku, asalkan ada sedikit sinar mentari dan embun hujan, dia akan tetap tumbuh dan berbunga lebat.
 
Jangan lagi mengenyampingkan tali kasih ini, kasih ibu tiada pamrih dan kita perlu secepatnya memahaminya dengan sepenuh hati, merasakannya dengan sepenuh hati dan membalas budi luhurnya dengan sepenuh hati.
 
“Pohon ingin tetap tenang, namun angin terus berhembus; anak ingin berbakti, namun orangtua sudah tiada”, pastikan penyesalan seperti ini jangan sampai terjadi dalam kehidupan kita ini. Kita harus tahu bahwa ketika kita membuka pintu rumah dan memanggil “Ibu”, masih ada orang orang yang menyahut adalah suatu hal yang sangat membahagiakan. Dari itu, marilah kita menghargai kasih sayang termurni dan paling sulit diperoleh di dunia ini, kita juga harus membalas budi luhur ibu dengan cinta kasih kita yang paling tulus.
 
母親的愛
 
在一個小鄉村裡,發生了這樣的一件事:一位慈愛的母親,有一次到一個大城市里去,回來之後,就變了模樣。原本,母親非常疼愛自己的孩子,不管孩子多晚回來, 總是會等著,給孩子做好吃的,端到孩子面前。可是,當母親變了之後,就不再管孩子了,再晚回來,媽媽也不會搭理孩子一下,甚至不做飯。女兒肚子餓了,告訴 媽媽,媽媽只會冷冰冰地說:「你都這麼大了,難道不會自己煮嗎?」
 
於是,孩子認為媽媽不再愛自己了,對母親充滿了不滿與怨恨,她開始自己洗衣服,自己整理房間,餓了自己煮飯吃,什麼活都自己動手乾,因為就算自己累了渴了餓了困了,媽媽都不會理會。她內心想,就當沒有這個媽媽吧。
 
不久之後,母親去世了,這些日子來,女兒與母親不和,甚至是冷漠與敵對,因此,母親的去世,對於她並沒有帶來什麼打擊。
 
再不久,父親再娶,後媽進了門以後,她感覺這位後媽還挺好,起碼還會留一些剩菜剩飯給她吃,不用自己拖著疲憊的身體再做飯,因此,與後媽之間相處還挺融洽。
 
孩子很發奮地努力讀書,終於,考上了大學。可是,家裡經濟狀況不好,沒有錢可以交學費,正在愁苦萬端之際,父親拿出了一個小盒子遞給她,並告訴她,這是你媽媽臨終前,讓我交給你的,她還叮囑我,只有在最困難的時候,纔可以給你。
 
女兒接過父親遞來的盒子,打開來,發現裡面有一疊錢,旁邊還放著一封信。
 
展開信來,母親在信中告訴孩子:
 
孩子,那次媽媽到城裡去,其實是去檢查身體,當檢查之後,媽媽纔知道,自己得了癌癥,並且到了晚期,媽媽當時幾乎快站不住了。媽媽並不是擔心自己,而是擔心你啊!媽媽想,我走了之後,你怎麼辦呢?你還這麼小,你怎麼生活?怎麼去面對你的未來?
 
於是,媽媽回來後,對你很冷漠,什麼事都讓你自己乾,不管你,讓你恨媽媽,這樣,當媽媽離開這個世界的時候,你就不會太難過。
 
孩子,雖然媽媽沒有問你,其實媽媽心裡很掛念你,每當你很晚回來的時候,媽媽雖然沒有開門出來看,但一直都在等你回來。當你回來之後,肚子餓了、人累了,媽 媽還讓你自己煮東西吃,是希望在媽媽不在的日子裡,你能懂得照顧好自己。以前,媽媽總是什麼事都替你做,可是,媽媽走了之後,誰來照顧你?以後的一切,都 還要靠你自己。
 
媽媽對你很不好,甚至不給你做飯吃,什麼活都讓你乾,這樣,當爸爸再娶了新媽媽之後,你會想,新媽媽比媽媽好,你們也會相處得很好,以後,你的日子也能好過些。
 
這盒子裡,是你外婆給媽媽的五千塊錢,是給媽媽治病用的,可是媽媽捨不得用,媽媽留著給你,是希望你將來考上大學之後,如果有需要,就可以急用。現在,托爸爸轉給你……
 
淚水模糊了孩子的雙眼,也模糊了我們的雙眼,母親對孩子的愛是這樣的無私與理智,哪有媽媽不愛自己的孩子的?當她忍著內心那份對孩子的關愛,強作起一副冷漠 的臉孔時,我們無法想像,此時的媽媽,內心有多麼的痛苦,但為了孩子將來更好的成長,更快樂的生活,媽媽願意承受所有的悲痛,甚至不惜讓心愛的孩子誤會。
 
可孩子能明白媽媽的心嗎?
 
記得有一次,在電梯裡,就遇到這樣一個孩子,當母親苦口婆心教導他的時候,孩子顯得非常不耐煩,嫌母親嘮叨,對母親發脾氣,希望母親閉嘴。母親很生氣,但仍強忍著,不停地喝著手裡的礦泉水,此時,孩子根本察覺不到母親的心有多麼難過。
 
愛,是需要用心去感受的,當我們與父母頂嘴的時候,為什麼就不會發現,自己一句意氣用事的話,對父母的傷害會有多大?而當父母在教育我們的時候,我們是否能體恤到父母那顆關愛子女的心?還是以為父母看我們不順眼,總是挑我們的毛病?
 
而當母親打我們、罵我們的時候,難道真是因為討厭我們嗎?
 
曾聽到一位母親這樣說過:親愛的孩子,不是所有的媽媽都能做到你們所期盼的那樣,你們應該體諒媽媽,不要責怪她們。我相信,你們的媽媽,包括爸爸,永遠永遠愛你們,不管用的是什麼樣的形式,他們都會永遠站在你們的身後,永遠期盼你們快一點長大,為國家、社會多做些貢獻。
 
是啊,母親是愛我們的,我們為何還要懷疑呢?
 
我們是否知道,在母親的眼裡,我們永遠都是孩子,縱然我們活到八十歲,兒孫滿堂,可在百歲母親的心裡,她還是會時常惦念著我們:衣服是不是穿暖和,晚上被子有沒有蓋好,飯有沒有吃飽……
 
母親的愛,就是這樣的博大與無私,像泉水一樣,汩汩而流,永不停止。可我們做子女的,何時纔能真正體會到做母親的一顆心啊?
 
曾經有人比喻過母愛,像路邊的花兒一樣,沒人理睬,沒人照顧,沒人關注,但不論颳風下雨還是嚴寒酷暑,只要有一點陽光雨露,它依然生長、盛開。
 
請別再漠視這份親情了,母愛的無私,需要我們當下就用心去體會,用心去感受,用心去回報。
 
「樹欲靜而風不止,子欲養而親不待」,千萬不要讓這樣的遺憾在我們的人生中上演。要知道,當我們打開家門,喊一聲「媽媽」,能有人答應,是多麼幸福的事。那麼,就請我們好好珍惜這份世間最難得的真情真愛,也用我們的真誠愛心去回報我們的母親吧!

Selasa, 13 Maret 2012

Selembar Uang Kertas Pecahan Seratus Dolar

Dia adalah seorang anak susah yang terlahir dalam keluarga miskin, ayahnya wafat pada saat usianya tiga tahun, ibunya mencari nafkah dengan mencuci pakaian orang. Maka dia sadar kalau dirinya harus bekerja keras.
 
Pada usia 18 tahun, dia berhasil masuk perguruan tinggi dengan nilai yang tinggi. Demi mencukupi biaya sekolahnya, ibunya pernah menjual darah, namun dia berpura-pura tidak tahu, sebab takut melukai hati ibunya.
 
Dia sendiri pernah menjual darah secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui ibunya, mengangkut batu sampai tangannya berdarah, juga menjual koran, demi sedikit meringankan beban ibunya.
 
Pada masa liburan musim dingin tahun kedua, dia pulang ke rumah dan melihat ibunya sedang mencuci pakaian orang dalam cuaca sangat dingin, kedua tangan ibunya sampai pecah-pecah karena kedinginan. Ibunya berkata: “Pekerjaan lain sulit ditemukan, jadi hanya bisa mencuci pakaian, sehelai pakaian upahnya satu dolar, semua ini adalah pakaian orang kaya, mereka takut pakaiannya rusak kalau mempergunakan mesin cuci.”
 
Hari itu, ibunya menerima upah kerjanya dan berkata dengan gembira: “Anakku, ibu mendapatkan upah 200 dolar.”
 
Sambil berkata ibunya merogoh kocek, siapa tahu di dalam koceknya hanya tersisa selembar uang kertas pecahan 100 dolar saja.
 
Seketika ibunya menjadi panik: “Ibu kehilangan 100 dolar.”
 
Tanpa berkata banyak, ibunya dengan tergesa-gesa ke luar rumah. Di luar rumah sungguh gelap, angin juga kencang dan turun salju, ibu menelusuri jalan pulang tadi untuk mencari uangnya. Dapat dilihat kalau 100 dolar itu adalah sangat penting baginya.
  
Itu adalah biaya hidup ibunya selama sebulan, itu adalah uang makannya selama sebulan.
 
Ibunya sudah ke luar rumah, dia juga mengikuti ibunya ke luar rumah. Di luar sangat gelap, ibunya mempergunakan lampu senter untuk mencari uangnya. Tanpa terasa air matanya mengalir turun.
 
Benar! Itu adalah upah ibunya mencuci 100 helai pakaian. Dia mencari di halaman rumah, juga mencari di jalan, tetapi tetap saja tidak ditemukan. Jika pun ada, mungkin sudah pun dari tadi dipungut orang lain.
 
Ibunya bolak balik tiga kali untuk mencari uangnya. Dia berkata kepada ibunya dengan hati pilu: “Ibu, tidak usah cari lagi, nanti sesudah hari terang baru kita cari lagi.
 
Namun ibunya tetap bersikeras ingin mencari, cahaya dari lampu senter di kegelapan malam seakan menikam lubuk hatinya dan membuat rasa sakit tiada terhingga.
 
Dia lalu mengambil 100 dolar dari uang biaya hidup yang diberikan ibunya dan meletakkannya di halaman rumah. Dia beranggapan kalau ini adalah jalan terbaik untuk membebaskan ibunya dari kegalauan.
 
Ternyata dia mendengar ibunya berkata dengan senang: “Anakku, uang sudah ditemukan.”
 
Dia berlari ke luar dan ikut bergembira bersama ibunya. Dengan gembira ibu dan anak kembali ke dalam rumah. Ibunya berkata: “Anggap saja tidak ditemukan. Mari, ini untukmu! Kamu harus makan yang lebih baik, lihat! Kamu terlalu kurus.”
 
Beberapa tahun kemudian, dia tamat kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Dia lalu menjemput ibunya untuk tinggal bersama di kota, sejak itu ibunya tidak perlu lagi mencuci pakaian orang.
 
Uang kertas pecahan seratus dolar itu, dia tidak pernah merasa rela untuk mempergunakan dan terus disimpannya. Itu adalah uang kertas pecahan seratus dolar yang dicari ibunya semalaman, melambangkan kehangatan dan perasaan penuh kemantapan.
 
Setelah beberapa tahun kemudian, dia mengungkit hal ini dalam suatu kesempatan, sambil tersenyum berkata kepada ibunya: “Ibu, saya yang menaruh uang kertas pecahan seratus dolar itu di sana.” Namun yang mengejutkannya adalah jawaban ibunya: “Ibu tahu”.
 
Dengan heran dia bertanya: “Bagaimana ibu bisa tahu?” Ibunya menjawab: “Uang yang ibu dapatkan selalu diberi tanda, ada tulisan 1, 2, 3 di atasnya, sedangkan uang kertas itu tidak ada tanda, apalagi ditemukan di halaman rumah. Ibu tahu kalau itu adalah uang yang kamu taruh karena takut ibu galau. Dalam hati ibu berpikir, karena anak ibu demikian sayang pada ibu, maka ibu tidak boleh mencari lagi, jikalau sudah hilang dan tidak akan ditemukan lagi, kenapa tidak membuat anak ibu tenang hati saja?”
 
Dia lalu maju memeluk ibunya dengan mata berkaca-kaca.
 
Sungguh ibu dan anak yang bertautan hati, mereka selalu meninggalkan cinta kasih terhangat kepada pihak lain. Benar sekali, walau pun miskin, namun dengan adanya cinta kasih, maka mereka merupakan orang paling kaya di dunia ini.
 
Pencarian sehelai uang kertas pecahan seratus dolar ini melambangkan dalamnya kasih sayang antara ibu dan anak.
 
 
一張百元紙幣
 
他是苦孩子,出身窮苦,三歲死了爹,娘給人家洗衣服賺錢。所以,他知道自己應該分外努力。
 
18歲那年,他以優異成績考上大學。母親為了給他湊足學費曾去賣過血,他裝作不知道,怕刺傷母親的心。
 
他也瞞著母親去賣過血,搬過石頭磨破了手,賣過報紙,為的是減輕母親一些負擔。
 
大二的寒假,他回家,看到母親正在寒冷的冬天裏給人家洗衣服,手都凍裂了。母親說:「別的工作不好找,只有洗衣服,一件一塊錢:那些都是富人家的衣服,怕洗衣機洗壞了……
 
那天,母親領到錢,高興地說:「兒子,媽媽賺了200塊錢。」
 
說著就掏口袋,誰知口袋裏只剩下一張百元紙幣!
 
母親一下子慌了:「我丟了100塊錢。」
 
再也沒有說二話,就慌慌張張地跑了出去。外面夜黑風大下著雪,母親沿著來的路線去找錢。看得出來,那100塊錢對她而言,簡直是太重要了!
 
那是母親一個月的生活費,那是他一個月的菜金啊!
 
母親出去了,他也隨著母親走。外面很黑,母親打著手電筒邊走邊找。他的眼淚就下來了。
 
是啊,那是母親洗了100件衣服的報酬啊!他在院子裏、去外面的路上找,還是沒有。就是有,也早讓人撿去了吧?
 
母親在寒風中來來回回地走了三趟。他心疼地說:「媽,別找了,天亮了再找吧。」
 
母親卻執著地找下去,手電筒的光柱晃在黑夜裏,刺得他心疼。
 
他從母親給的生活費中抽出100元,放在院子裏。他認為,這是讓母親解脫的好辦法。
 
果然,他聽到母親驚喜的聲音:「孩子,錢找到了!」
 
他奔出去,配合著母親的驚喜。母子倆興高采烈地回到屋子裏。母親說:「就當沒找到。來,給你,自己多吃點好的,看你瘦的。」
 
幾年後他大學畢業,有一份好工作。他把母親接到城裏,母親再也不用洗衣服了。
 
那張百元大鈔,他沒捨得花,還一直留著。 那是他和母親找了半夜的一張百元紙幣,是溫暖,是踏實。
 
過了幾年,他偶爾提起這事,笑著對母親說:「媽,那100元是我放在那裏的。」讓他驚奇的是,母親說:「我知道」。
 
倒是他吃了一驚:「你怎麼知道?」母親說:「我領回的錢都有記號,上面寫著123,而那張百元紙幣上面沒有記號,況且是在院子裏撿到的。我知道那是你怕我著急放的。我想,兒子這樣心疼我,我不能再找了,既然丟了找不回來,為什麼不讓兒子放心呢?」
 
他上前抱住母親,眼睛潮濕了。
 
母子連心啊,他們都想把最溫暖的愛留給對方。是啊,雖然貧窮,可是有了愛,他們就是世界上最富有的人。
 
那一張百元紙幣的尋找,就是母子情深啊!