Minggu, 7 Desember 2014 pukul 08.30 – 11.30 WIB, diadakan kegiatan
bedah buku di Kantor Perwakilan Tzu Chi Medan tepatnya di Jl. Cemara
Boulevard Blok G/1 No. 1-3, Cemara Asri yang bertemakan “Enam Paramita”.
Kegiatan bedah buku ini dibawakan oleh Januar Shixiong dan Jusni Shijie
dan di ikuti oleh 16 orang relawan.
[靜思] merupakan produk Jingsi untuk membekali batin kita yang terdiri
dari CD, buku dan [淨斯] merupakan produk Jingsi untuk membekali materi
yang terdiri dari makanan, sabun. Enam Paramita yang terdiri dari
berdana, mematuhi sila, bersabar, semangat, samadhi dan bijaksana.
Berdana akan mendapatkan kekayaan batin dan materi,
Mematuhi sila akan terlahir di alam bahagia,
Bersabar akan terhindar dari rasa dendam dan kebencian,
Semangat akan memupuk segala jasa pahala kebajikan,
Samadhi akan meredakan segala kerisauan batin,
Kebijaksanaan akan terlepas dari segala kerisauan.
Pembahasan pertama dari enam paramita adalah tentang berdana.
“Berdana” bisa diartikan dengan bersumbangsih. Orang yang bisa
bersumbangsih adalah sebuah keberkahan. Orang yang benar-benar tahu
bersumbangsih, dengan menganggap bersumbangsih merupakan sebuah
kewajiban itu merupakan sebuah pelatihan diri.
Ada 5 point dalam berdana, diantaranya :
1. “Bersumbangsih seperti menimba air, hanya dengan terus bersumbangsih
baru bisa terus menciptakan berkah, menambah berkah” dikutip dari kata
perenungan Master Cheng Yen.
2. “Berbuat kebajikan bukanlah hak orang kaya, tetapi adalah hak bagi
orang yang ingin bersumbangsih” dikutip dari kata perenungan Master
Cheng Yen.
3. Berdana harus bersumbangsih tanpa pamrih, pada saat yang bersamaan juga harus bersyukur.
4. Kehidupan di Jingsi penuh dengan kemandirian, bukan hanya bekerja
untuk bertahan hidup tetapi juga bekerja untuk menyongkong insan Tzu Chi
yang kembali ke Jingsi.
Ada yang berkata :”Jangan pulang dan makan-makanan yang disediakan
Master”. Tetapi Master mengatakan :”Kebijaksanaan Guru adalah bagaimana
menjalin jodoh baik dengan makhluk hidup, kalau bukan karena jalinan
jodoh masa lalu, mana mungkin ketika kita mendengar Master mengatakan
demikian kita merasa sangat masuk akal dan mau mengikuti langkah Master,
ini semua adalah jodoh, jika bukan karena jodoh mana mungkin ini semua
bisa terjadi, inilah yang dinamakan jalinan jodoh”.
Ada sebuah cerita “tiada benih maka tiada hasil yang dipetik”, ada
seorang abang yang mempunyai sebidang lahan yang luas dan ditanami cocok
tanam, tetapi dia berpikir “bercocok tanam sangatlah menderita, lebih
baik memohon Tuhan untuk memberikan saya berkah, supaya saya mempunyai
berkah yang besar”. Kemudian dia menyerahkan semua lahan dan produk
kepada adiknya dan meminta adiknya untuk menjaga dan bercocok tanam
dengan baik.
Kemudian abang ini pergi ke kelenteng dan menyiapkan sesajian yang
berlimpah. Setiap hari berdoa dengan tulus dan mogok makan. Suatu hari,
Tuhan yang dia sembahi tersentuh karena ketulusannya dan Tuhan kemudian
mengecek buku berkah tetapi abang ini pada masa lalu tidak pernah
menciptakan berkah, tidak pernah bersumbangsih, dan mempunyai akar
kebajikan. bagaimana saya memberikan dia berkah? Jadi Tuhan merasa
sangat gelisah, dia begitu tulus datang memohon jika tidak diwujudkan
pasti hatinya akan timbul rasa tamak, benci, dendam.
Terakhir Tuhan menjelma menjadi adiknya dan muncul di depan abang. Si
abang begitu melihat adiknya dan berkata :”Kamu tidak pergi bercocok
tanam, untuk apa datang kesini ?” Si adik berkata :”abang, saya juga
ingin memohon berkah, bercocok tanam sangat menderita, jadi saya ingin
memohon supaya saya diberikan keberkahan sehingga tidak perlu lagi
bercocok tanam”. Si abang kemudian menjawab :”Kamu ini adik yang bodoh,
jika tidak bercocok tanam maka tidak akan panen”. Mana ada prinsip jika
kita tidak menebarkan benih malah ada hasil yang kita petik, cepat
pulang untuk bercocok tanam.
Pada saat itu, Tuhan yang menjelma menjadi adiknya menghilang dan
kembali muncul di hadapan si abang dan berkata :”Betul yang kamu
katakan, dalam dunia ini jika kita tidak menebarkan benih, tiada benih
maka tiada hasil. Pada masa lalu kamu tidak menciptakan berkah dan tidak
ada niat baik hanya ingin memohon berkah, setiap hari terus memohon
kepada saya dan menyiapkan persembahan untuk saya, apakah kamu tahu ini
membuat saya merasa risau! Lebih baik kamu pulang dan ciptakan berkah,
setelah menciptakan berkah maka akan mendapatkan berkah, inilah hukum
sebab akibat. Akhirnya si abang sadar bahwa tiada benih maka tiada
hasil. Untuk itu dalam melatih diri kita harus memahami hukum sebab
akibat.
“Mematuhi sila” adalah peraturan Jingsi, dari dalam melatih ketulusan,
ketepatan, kepercayaan dan kebenaran. Ke luar melatih cinta kasih, welas
asih, kebahagian, dan keseimbangan batin. Mengontrol diri sendiri untuk
memperbaiki kebiasaan buruk, berhemat untuk berbuat kebajikan, asalkan
taat pada peraturan dan mengembangkan cinta kasih itulah mematuhi sila.
Point dalam mematuhi sila, diantaranya :
1. Melakukan kewajiban yang seharusnya dilakukan adalah mematuhi sila.
2. Dengan menjaga hati dengan baik, senantiasa bersabar itulah mematuhi sila.
3. “Sehari tidak bekerja, sehari tidak makan”. Master mengatakan :”Saya
bukan merasa diri sendiri suci tetapi hanya berharap bisa menerapkan
Ajaran Dharma dalam Kehidupan.
4. Hidup mandiri, kehidupan para Bhiksuni di Jingsi semua didapatkan
dari hasil kerja sendiri. Pernah ada orang yang bersikeras untuk
menyumbangkan materi buat Master. Master berkata :”Jika benar-benar
mencintai Master maka kita harus menjadi pelindung Master dan mewujudkan
jalinan jodoh jiwa kebijaksanaan Master”.
5. Belajar semangat Jingsi adalah menjalani Dharma dengan menjaga
moralitas seperti bambu, ada sopan santun dan tata krama. Sikap tenang
untuk membina batin dan hemat untuk membina moralitas.
“Bersabar” menghilangkan kebencian dan merasa nyaman. Semangat
melindungi bumi dan menyanyangi nyawa benda merupakan cara untuk membina
diri. Dalam bersumbangsih membutuhkan kesabaran.
Ada beberapa point dalam bersabar, diantaranya :
1. Bisa bersabar, menahan derita merupakan sikap sabar.
2. Kekuatan bersabar bisa membuat kita bertahan pada kewajiban yang harus dilakukan.
3. Orang yang sabar pasti bisa mematuhi sila, ketika dimarahi tidak akan
timbul rasa benci, ketika melihat materi tidak timbul rasa tamak,
segala sesuatu yang terjadi bisa diatasi dengan akal sehat.
4. Mematuhi sila harus punya kesabaran, jika tidak mempunyai kesabaran maka akan mudah terpengaruh.
5. Bersabar sampai tahap dimana kita tidak merasa bersabar, “bersabar”
bukan hanya ditahan untuk tidak dikatakan, itu akan sangat menderita.
Hanya bersabar saja tidak cukup tetapi juga harus ditelan, bukan hanya
ditelan tetapi juga harus dicerna.
6. Orang yang bisa bersabar adalah seseorang yang tegar. Asalkan
berlapang dada, segala sesuatu akan bisa bersabar maka secara tidak
langsung akan mengubah masalah menjadi tidak masalah. Bersabar adalah
panutan yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan.
7. Untuk menjadi seseorang yang bisa diterima dan dicintai orang lain
maka kita terlebih dahulu harus menjaga sikap dan kelakuan kita, segala
tindak tanduk merupakan cara pembinaan diri.
“Semangat”, bukan hanya sekedar mengenal prinsip tetapi tidak dilakukan;
harus benar-benar dilakukan inilah yang dinamakan semangat.
Point dalam bagian semangat, diantaranya adalah :
1. Menggenggam setiap menit dan detik, setiap langkah dijalankan dengan
pasti, niat kebajikan tidak pernah putus, setiap hari melakukan
kebajikan, Dharma yang baik sering dipraktekan, Dharma sering di
sharing.
2. Jing ( 靜 ) tidak bercabang-cabang, jin( 進 ), setiap detik menguntungkan semua makhluk hidup.
3. Menggenggam setiap saat, itu adalah semangat.
4. Di Jingsi, setiap hari pukul 3.30 sudah bangun, tidak peduli musim
dingin, maupun musim panas, setiap hari mempertahankan kehidupan yang
begitu. Sehabis kebaktian pagi, meditasi kemudian mendengar ceramah dari
Master, walaupun capek juga tetap harus dipertahankan. Bagaimana
susahnya juga harus bersabar dan terus semangat tanpa mundur, semua ini
berasal dari sebuah niat.
“Samadhi”, dalam kehidupan sehari-hari tidak terhindar dari samadhi,
menghadapi segala sesuatu harus dengan sikap samadhi, senantiasa
mempertahankan niat ini maka hati yang tenang akan muncul samadhi.
Samadhi harus dimiliki oleh para Bodhisatva, samadhi bukan hanya duduk
begitu saja tetapi juga harus mempunyai pemikiran yang benar, pandangan
yang benar. Harus belajar tetap
tenang menghadapi kondisi luar yang terus berubah. Semangat Jingsi dalam
pelatihan diri yaitu dalam bekerja, hati dan pikiran tidak terlepas
dari Dharma, dalam melakukan kita harus “berbuat sambil belajar, belajar
dan kemudian paham, dari kepahaman timbul kesadaran.
“Kebijaksanaan”, setiap orang mempunyai sifat yang setara dengan Buddha.
Orang yang bijaksana akan terus belajar dengan hati yang polos, segala
sesuatu harus dipahami, mengerjakan sesuatu yang seharusnya dikerjakan
adalah bijaksana.
Kesimpulannya adalah berdana akan mendapatkan kekayaan, mematuhi sila
akan terlingat anggun, bersabar akan mendapatkan kekuatan, semangat akan
membuat kita berumur panjang, samadhi mendapatkan kebahagiaan,
menyampaikan sesuatu dengan bijaksana.
Gan en :D
Tulisan diatas diposted oleh Rina SJ di yahoogroup tzuchi medan.
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 Desember 2014
Jumat, 01 Juni 2012
Jika dipuji dan ditegur secara demikian, anak akan tahu kalau anda mencintainya
Penulis: Daiji Akehashi, dokter psikosomatis.
1. “Terima kasih” adalah kata pujian terbaik. Kata pujian yang paling sederhana dan paling efektif adalah “Terima kasih”. Kata “Terima kasih” selain merupakan ungkapan perasaan berterima kasih, pada saat bersamaan juga merupakan pujian terbaik terhadap orang. Ketika orang mengatakan “Terima kasih” kepada kita, mengapa hati kita merasa sangat senang? Ini bukan hanya disebabkan karena kita mendapatkan ungkapan terima kasih dari orang, tetapi juga karena kita merasakan apa yang telah kita perbuat, ternyata dapat membantu orang, sehingga terasa keberadaan kita sangat berarti, itu sebabnya hati kita merasa sangat senang.
2. Kita jangan menegur kepribadian anak, namun kita menegur kelakuannya.
3. Daripada mengatakan “Tidak boleh ....”, lebih baik mengatakan “Hendaknya berbuat demikian ....”. Kita sering mengatakan “Tidak boleh” pada anak, namun kita tidak mengatakan “Hendaknya berbuat demikian” kepada anak. Bila demikian, maka di kemudian hari anak tidak tahu lagi bagaimana harus berbuat. Kadangkala daripada mengatakan “Tidak boleh ....”, lebih baik menyampaikan apa kita inginkan anak perbuat, ini lebih efektif.
4. “Sebelum belajar cara menyalahkan anak, kita harus belajar cara memuji anak”. Pada kenyataannya, asal kita dapat mempergunakan cara memuji yang baik, dengan sendirinya kita akan semakin jarang menegur anak.
5. “Memuji” bukan sedang memberi penilaian anak, melainkan sedang menyampaikan perasaan suka cita kita melihat kerja keras dan pertumbuhan anak. “Menegur” bukan sedang memarahi anak, melainkan sedikit demi sedikit mengajarkan anak agar tahu menghargai diri sendiri dan orang lain.
6. Memuji adalah sedang menyampaikan perasaan suka cita. Menegur adalah sedang menghantarkan pemberkatan.
7. Pujian dan teguran yang baik adalah memberikan hadiah paling berharga dalam kehidupan bagi anak.
8. Anak memiliki banyak kelebihan untuk diberi pujian, kita hanya perlu menemukannya. Temukanlah kelebihan yang sudah dimiliki anak, temukanlah kerja keras yang sedang diperbuat oleh anak.
9. Jangan dikarenakan “setelah anak berbuat baik baru dipuji” atau “setelah anak bekerja keras baru dipuji”, tetapi temukanlah kelebihan yang sudah dimiliki anak dan kerja keras yang sedang diperbuatnya.
10. Teguran yang berlebihan akan membuat anak mencoba untuk menyembunyikan kegagalan dan belajar berbohong.
11. Ketika perasaan takut ditegur pada diri anak telah pun hilang, anak akan berubah menjadi tidak mau tahu aturan lagi.
12. Jika ingin memupuk anak yang baik, ayah ibu harus memberikan keteladanan yang baik terlebih dahulu.
13. Ketika ingin menegur anak, biarkan anak menenangkan hati terlebih dahulu, lihat pada matanya dan sampaikan dengan kata singkat dan sederhana tentang alasan memberi teguran kepadanya.
14. Jika memberi pujian pada sepersepuluh dari hasil usaha anak, maka anak akan semakin bersemangat untuk lebih berhasil lagi.
15. Ketika anak hanya mencapai nilai 1 dari nilai penuh 10, kita umumnya akan berkata: “Mengapa hanya dapat nilai 1?” “Mengapa tidak bisa dapat nilai 10?”, artinya dalam perkataan kita sama sekali tidak ada kata pujian untuk nilai 1 yang dicapainya.
16. Pikirkan dengan baik, dari nilai penuh 10, anak kita bukan mendapat nilai nol, tetapi mendapat nilai 1. Walau pun anak mendapat nilai 2, kita juga akan mengatakan: “Mengapa tidak bisa dapat nilai 10?”, sekali pun mendapat nilai 3, kita tetap akan mengatakan: “Mengapa tidak bisa dapat nilai 10?”.
17. Tidak tahu kenapa, kita selalu saja terbiasa mempergunakan kata-kata negatif. Itu sebabnya banyak anak sekarang bukannya tidak mampu berbuat, melainkan merasakan “Pokoknya aku ini kan bukan orang yang berguna”, inilah salah satu alasan anak tidak mau berusaha keras. Sebagai contoh, ketika anak mendapat nilai ujian 60, ayah ibu akan terlebih dahulu memperhatikan bagian-bagian yang salah, bagian-bagian yang diberi tanda silang.
18. Anak telah mendapatkan nilai 60, walau pun kita ingin menegur sisa nilai 40 yang hilang, namun kita seharusnya memberikan pujian kepada nilai 60 yang diperolehnya, dengan demikian barulah merupakan penilaian yang adil terhadap anak.
19.Jika ingin membandingkan, bandingkanlah kondisi anak sekarang dengan kondisinya di masa lampau.
20. Bagi sebagian anak, kadangkala kita harus memberi pujian pada kegagalannya, agar anggapan yang terus ada dalam batin anak “Jika tidak bisa menjadi anak yang baik, ayah dan ibu akan mengusirku”, perlahan-lahan berubah menjadi “Biar pun aku bukan anak yang baik, namun aku tetap bisa tinggal di rumah ini.”
21. Ketika memberi teguran pada anak, terlebih dahulu harus membiarkan anak tahu dengan jelas apa kesalahannya. Jadi harus meminta anak menghentikan aktifitasnya dulu, kemudian dengan pandangan mata yang sama tinggi dengan anak, lihat pada matanya, baru kemudian sampaikan kata-kata teguran yang singkat dan sederhana dengan nada suara yang tenang.
22. Ketika menegur anak, jangan hanya berhenti pada kata-kata teguran saja, tetapi harus dilanjutkan dengan sepatah kata penuh pengertian pada anak.
23. Pergunakan “Ibu” atau “Ayah” sebagai kata utama, jangan pergunakan “Kau”.
24. Ketika mengatakan kepada anak harus berbuat begini dan jangan berbuat begitu, jangan pergunakan “Kau ....”, melainkan “Ibu ....” atau “Ayah ....”, kita sampaikan perasaan hati kita, sehingga akan lebih menyentuh perasaan anak.
25. Ketika anak berbuat hal yang benar, katakan padanya: “Ibu sangat senang! Engkau telah sangat membantu ibu! Sekarang ibu merasa lebih tenang hati! Terima kasih!” Ketika anak berkelakuan tidak baik, katakan padanya: “Ibu sangat sedih! Ibu merasa sangat terganggung! Ibu sangat khawatir! Ibu sangat menyesal!”
26. Ada sebagian anak akan merasa sangat marah ketika mendengar ayah ibu menegur “Engkau sungguh tidak berguna!”, dia sama sekali tidak mau melakukan introspeksi diri, namun jika mendengar ibunya berkata: “Ibu merasa sangat sedih!”, dia akan perlahan-lahan mulai melihat kembali pada kelakukannya yang salah dan berupaya keras untuk menjadi lebih baik.
27. Biar pun anak ditegur berapa kali, dia tetap akan mengulangi kesalahan yang sama. Jadi kita terpaksa berulang kali mengucapkan kata-kata yang sama. Jika ada hal yang sungguh membahayakan, biar pun anak menerima sedikit ketakutan, asal dia dapat terhindar dari bahaya, resikonya adalah pantas diambil.
這樣讚美與責備,孩子知道你愛他
作者:明橋大二
1. 「謝謝!」是最好的讚美。讚美的時候,最簡單、最有效的語言是「謝謝!」「謝謝」這個詞,既是表示感謝的詞語,同時也是對別人最好的稱讚。當別人對我們說 「謝謝!」時,我們為什麼這麼高興呢?這不僅是因為我們得到別人的感謝,還是因為它讓我們感到自己做的事對別人有幫助,自己的存在是有價值的,所以才會這 麼高興。
2. 不是責備孩子的人格,而是責備孩子的行為。
3. 與其說「不能做……」不如說「要這樣做……」。我們常常會對孩子說「不行」,但是卻沒有告訴孩子「應該怎麼做」。這樣的話,孩子就不知道今後應該怎麼做。有時候與其告訴孩子「不能做」,不如告訴孩子「希望他做什麼」,這樣會更有效。
4. 「在學習責備孩子的方法之前,必須要先學習讚美的方法」。事實上,只要我們掌握了好的讚美方法,責備孩子的次數也就會減少。
5. 「讚美」不是在評價孩子,而是傳達看到孩子的努力和成長而感受到的喜悅。「責備」不是對孩子生氣,而是一點一點地教孩子懂得珍惜自己以及他人。
6. 讚美是在表達喜悅,責備是在傳遞祝福!
7. 好的讚美與責備,就是給孩子人生最珍貴的禮物!
8. 孩子有很多優點值得讚揚,只待你尋找。去發現孩子已經擁有的優點,去發現孩子正在付出的努力。
9. 不要因為「做了好事才讚美」「等他努力後才讚美」,而是去發現孩子已經擁有的優點和他正在付出的努力。
10. 過多的責備會讓孩子隱藏失敗,學會撒謊。
11. 當害怕被責備的恐懼心理消失後,孩子就變得不守規矩了。
12. 要想培養出一個好孩子,父母首先要以身作則。
13. 責備孩子的時候,要讓孩子安靜下來,看著他的眼睛,用簡短的語言對他好好說明責備他的理由。
14. 讚美孩子做到的十分之一,孩子就會越來越充滿活力。
15. 當滿分為十分,孩子只做到一分的時候,我們一般會說:「為什麼只做到一分?」「為什麼不能做好剩下的九分呢?」也就是說,在我們的話裡面,沒有讚美那個一分的部分。
16. 但是,好好想一想,十分裡面,孩子不是只得到零分,而是做到了一分啊。即使孩子做到了兩分,我們也會說「為什麼不能做到剩下的八分?」而做到三分,我們還是會說「為什麼剩下的七分做不到?」
17. 不知道為什麼,我們總是習慣用否定的語言。這就是為什麼有那麼多的孩子並不是什麼也沒做到,卻覺得「自己反正都是沒用的人」,而不願去努力的原因之一。比如,孩子考試得了六十分,父母首先注意到的是錯的地方,畫叉的地方。
18. 孩子已經拿到六十分了,既然我們要責備不會做的百分之四十,那也應該讚美做得好的百分之六十,這樣才可以說是公正的評價。
19. 如果要比較的話,應該把孩子的現在和過去相比。
20. 對於一些好孩子,有時候要讚美他的失敗。讓孩子一直認為「如果不做好孩子,爸媽就會不要我」的心理,逐漸變成「就算不是好孩子,我也可以待在這個家裡」。
21. 責備孩子的時候,首先需要讓孩子清楚地知道你在責備他做的什麼事。所以,要讓孩子停下正在做的事,用和孩子的視線一樣的高度,凝視著孩子的眼睛,冷靜地用簡短的語言來責備孩子。
22. 在責備孩子的時候,不要僅僅停留在責備的語言上,一定要加上一句對孩子表示理解的話。
23. 用「我」做主語,而不是用「你」。
24. 在告訴對方要這樣做而不要那樣做的時候,不是用「你……」,而是說「我……」,這樣表達自己的心情,更能觸動對方的心靈。
25. 當對方做的是好事的時候,告訴對方:我很高興!真幫了我的大忙!這下我就放心了!謝謝!而對於對方的不好行為,則告訴他:我很傷心!很困擾!好擔心!好遺憾!
26. 有的孩子被父母責備說「你真是沒用!」就會感到非常生氣,完全沒有反省,但如果聽到媽媽說「媽媽好傷心!」他就會一點點開始重新審視自己的行為,從而去努力改正。
27. 孩子不管被說多少次,也還是會犯相同錯誤的。所以,我們只有反反覆覆地講同樣的話。對於真正危險的事情,那怕讓孩子受到一些驚嚇,只要能夠讓他遠離危險,那也是值得的。
1. “Terima kasih” adalah kata pujian terbaik. Kata pujian yang paling sederhana dan paling efektif adalah “Terima kasih”. Kata “Terima kasih” selain merupakan ungkapan perasaan berterima kasih, pada saat bersamaan juga merupakan pujian terbaik terhadap orang. Ketika orang mengatakan “Terima kasih” kepada kita, mengapa hati kita merasa sangat senang? Ini bukan hanya disebabkan karena kita mendapatkan ungkapan terima kasih dari orang, tetapi juga karena kita merasakan apa yang telah kita perbuat, ternyata dapat membantu orang, sehingga terasa keberadaan kita sangat berarti, itu sebabnya hati kita merasa sangat senang.
2. Kita jangan menegur kepribadian anak, namun kita menegur kelakuannya.
3. Daripada mengatakan “Tidak boleh ....”, lebih baik mengatakan “Hendaknya berbuat demikian ....”. Kita sering mengatakan “Tidak boleh” pada anak, namun kita tidak mengatakan “Hendaknya berbuat demikian” kepada anak. Bila demikian, maka di kemudian hari anak tidak tahu lagi bagaimana harus berbuat. Kadangkala daripada mengatakan “Tidak boleh ....”, lebih baik menyampaikan apa kita inginkan anak perbuat, ini lebih efektif.
4. “Sebelum belajar cara menyalahkan anak, kita harus belajar cara memuji anak”. Pada kenyataannya, asal kita dapat mempergunakan cara memuji yang baik, dengan sendirinya kita akan semakin jarang menegur anak.
5. “Memuji” bukan sedang memberi penilaian anak, melainkan sedang menyampaikan perasaan suka cita kita melihat kerja keras dan pertumbuhan anak. “Menegur” bukan sedang memarahi anak, melainkan sedikit demi sedikit mengajarkan anak agar tahu menghargai diri sendiri dan orang lain.
6. Memuji adalah sedang menyampaikan perasaan suka cita. Menegur adalah sedang menghantarkan pemberkatan.
7. Pujian dan teguran yang baik adalah memberikan hadiah paling berharga dalam kehidupan bagi anak.
8. Anak memiliki banyak kelebihan untuk diberi pujian, kita hanya perlu menemukannya. Temukanlah kelebihan yang sudah dimiliki anak, temukanlah kerja keras yang sedang diperbuat oleh anak.
9. Jangan dikarenakan “setelah anak berbuat baik baru dipuji” atau “setelah anak bekerja keras baru dipuji”, tetapi temukanlah kelebihan yang sudah dimiliki anak dan kerja keras yang sedang diperbuatnya.
10. Teguran yang berlebihan akan membuat anak mencoba untuk menyembunyikan kegagalan dan belajar berbohong.
11. Ketika perasaan takut ditegur pada diri anak telah pun hilang, anak akan berubah menjadi tidak mau tahu aturan lagi.
12. Jika ingin memupuk anak yang baik, ayah ibu harus memberikan keteladanan yang baik terlebih dahulu.
13. Ketika ingin menegur anak, biarkan anak menenangkan hati terlebih dahulu, lihat pada matanya dan sampaikan dengan kata singkat dan sederhana tentang alasan memberi teguran kepadanya.
14. Jika memberi pujian pada sepersepuluh dari hasil usaha anak, maka anak akan semakin bersemangat untuk lebih berhasil lagi.
15. Ketika anak hanya mencapai nilai 1 dari nilai penuh 10, kita umumnya akan berkata: “Mengapa hanya dapat nilai 1?” “Mengapa tidak bisa dapat nilai 10?”, artinya dalam perkataan kita sama sekali tidak ada kata pujian untuk nilai 1 yang dicapainya.
16. Pikirkan dengan baik, dari nilai penuh 10, anak kita bukan mendapat nilai nol, tetapi mendapat nilai 1. Walau pun anak mendapat nilai 2, kita juga akan mengatakan: “Mengapa tidak bisa dapat nilai 10?”, sekali pun mendapat nilai 3, kita tetap akan mengatakan: “Mengapa tidak bisa dapat nilai 10?”.
17. Tidak tahu kenapa, kita selalu saja terbiasa mempergunakan kata-kata negatif. Itu sebabnya banyak anak sekarang bukannya tidak mampu berbuat, melainkan merasakan “Pokoknya aku ini kan bukan orang yang berguna”, inilah salah satu alasan anak tidak mau berusaha keras. Sebagai contoh, ketika anak mendapat nilai ujian 60, ayah ibu akan terlebih dahulu memperhatikan bagian-bagian yang salah, bagian-bagian yang diberi tanda silang.
18. Anak telah mendapatkan nilai 60, walau pun kita ingin menegur sisa nilai 40 yang hilang, namun kita seharusnya memberikan pujian kepada nilai 60 yang diperolehnya, dengan demikian barulah merupakan penilaian yang adil terhadap anak.
19.Jika ingin membandingkan, bandingkanlah kondisi anak sekarang dengan kondisinya di masa lampau.
20. Bagi sebagian anak, kadangkala kita harus memberi pujian pada kegagalannya, agar anggapan yang terus ada dalam batin anak “Jika tidak bisa menjadi anak yang baik, ayah dan ibu akan mengusirku”, perlahan-lahan berubah menjadi “Biar pun aku bukan anak yang baik, namun aku tetap bisa tinggal di rumah ini.”
21. Ketika memberi teguran pada anak, terlebih dahulu harus membiarkan anak tahu dengan jelas apa kesalahannya. Jadi harus meminta anak menghentikan aktifitasnya dulu, kemudian dengan pandangan mata yang sama tinggi dengan anak, lihat pada matanya, baru kemudian sampaikan kata-kata teguran yang singkat dan sederhana dengan nada suara yang tenang.
22. Ketika menegur anak, jangan hanya berhenti pada kata-kata teguran saja, tetapi harus dilanjutkan dengan sepatah kata penuh pengertian pada anak.
23. Pergunakan “Ibu” atau “Ayah” sebagai kata utama, jangan pergunakan “Kau”.
24. Ketika mengatakan kepada anak harus berbuat begini dan jangan berbuat begitu, jangan pergunakan “Kau ....”, melainkan “Ibu ....” atau “Ayah ....”, kita sampaikan perasaan hati kita, sehingga akan lebih menyentuh perasaan anak.
25. Ketika anak berbuat hal yang benar, katakan padanya: “Ibu sangat senang! Engkau telah sangat membantu ibu! Sekarang ibu merasa lebih tenang hati! Terima kasih!” Ketika anak berkelakuan tidak baik, katakan padanya: “Ibu sangat sedih! Ibu merasa sangat terganggung! Ibu sangat khawatir! Ibu sangat menyesal!”
26. Ada sebagian anak akan merasa sangat marah ketika mendengar ayah ibu menegur “Engkau sungguh tidak berguna!”, dia sama sekali tidak mau melakukan introspeksi diri, namun jika mendengar ibunya berkata: “Ibu merasa sangat sedih!”, dia akan perlahan-lahan mulai melihat kembali pada kelakukannya yang salah dan berupaya keras untuk menjadi lebih baik.
27. Biar pun anak ditegur berapa kali, dia tetap akan mengulangi kesalahan yang sama. Jadi kita terpaksa berulang kali mengucapkan kata-kata yang sama. Jika ada hal yang sungguh membahayakan, biar pun anak menerima sedikit ketakutan, asal dia dapat terhindar dari bahaya, resikonya adalah pantas diambil.
這樣讚美與責備,孩子知道你愛他
作者:明橋大二
1. 「謝謝!」是最好的讚美。讚美的時候,最簡單、最有效的語言是「謝謝!」「謝謝」這個詞,既是表示感謝的詞語,同時也是對別人最好的稱讚。當別人對我們說 「謝謝!」時,我們為什麼這麼高興呢?這不僅是因為我們得到別人的感謝,還是因為它讓我們感到自己做的事對別人有幫助,自己的存在是有價值的,所以才會這 麼高興。
2. 不是責備孩子的人格,而是責備孩子的行為。
3. 與其說「不能做……」不如說「要這樣做……」。我們常常會對孩子說「不行」,但是卻沒有告訴孩子「應該怎麼做」。這樣的話,孩子就不知道今後應該怎麼做。有時候與其告訴孩子「不能做」,不如告訴孩子「希望他做什麼」,這樣會更有效。
4. 「在學習責備孩子的方法之前,必須要先學習讚美的方法」。事實上,只要我們掌握了好的讚美方法,責備孩子的次數也就會減少。
5. 「讚美」不是在評價孩子,而是傳達看到孩子的努力和成長而感受到的喜悅。「責備」不是對孩子生氣,而是一點一點地教孩子懂得珍惜自己以及他人。
6. 讚美是在表達喜悅,責備是在傳遞祝福!
7. 好的讚美與責備,就是給孩子人生最珍貴的禮物!
8. 孩子有很多優點值得讚揚,只待你尋找。去發現孩子已經擁有的優點,去發現孩子正在付出的努力。
9. 不要因為「做了好事才讚美」「等他努力後才讚美」,而是去發現孩子已經擁有的優點和他正在付出的努力。
10. 過多的責備會讓孩子隱藏失敗,學會撒謊。
11. 當害怕被責備的恐懼心理消失後,孩子就變得不守規矩了。
12. 要想培養出一個好孩子,父母首先要以身作則。
13. 責備孩子的時候,要讓孩子安靜下來,看著他的眼睛,用簡短的語言對他好好說明責備他的理由。
14. 讚美孩子做到的十分之一,孩子就會越來越充滿活力。
15. 當滿分為十分,孩子只做到一分的時候,我們一般會說:「為什麼只做到一分?」「為什麼不能做好剩下的九分呢?」也就是說,在我們的話裡面,沒有讚美那個一分的部分。
16. 但是,好好想一想,十分裡面,孩子不是只得到零分,而是做到了一分啊。即使孩子做到了兩分,我們也會說「為什麼不能做到剩下的八分?」而做到三分,我們還是會說「為什麼剩下的七分做不到?」
17. 不知道為什麼,我們總是習慣用否定的語言。這就是為什麼有那麼多的孩子並不是什麼也沒做到,卻覺得「自己反正都是沒用的人」,而不願去努力的原因之一。比如,孩子考試得了六十分,父母首先注意到的是錯的地方,畫叉的地方。
18. 孩子已經拿到六十分了,既然我們要責備不會做的百分之四十,那也應該讚美做得好的百分之六十,這樣才可以說是公正的評價。
19. 如果要比較的話,應該把孩子的現在和過去相比。
20. 對於一些好孩子,有時候要讚美他的失敗。讓孩子一直認為「如果不做好孩子,爸媽就會不要我」的心理,逐漸變成「就算不是好孩子,我也可以待在這個家裡」。
21. 責備孩子的時候,首先需要讓孩子清楚地知道你在責備他做的什麼事。所以,要讓孩子停下正在做的事,用和孩子的視線一樣的高度,凝視著孩子的眼睛,冷靜地用簡短的語言來責備孩子。
22. 在責備孩子的時候,不要僅僅停留在責備的語言上,一定要加上一句對孩子表示理解的話。
23. 用「我」做主語,而不是用「你」。
24. 在告訴對方要這樣做而不要那樣做的時候,不是用「你……」,而是說「我……」,這樣表達自己的心情,更能觸動對方的心靈。
25. 當對方做的是好事的時候,告訴對方:我很高興!真幫了我的大忙!這下我就放心了!謝謝!而對於對方的不好行為,則告訴他:我很傷心!很困擾!好擔心!好遺憾!
26. 有的孩子被父母責備說「你真是沒用!」就會感到非常生氣,完全沒有反省,但如果聽到媽媽說「媽媽好傷心!」他就會一點點開始重新審視自己的行為,從而去努力改正。
27. 孩子不管被說多少次,也還是會犯相同錯誤的。所以,我們只有反反覆覆地講同樣的話。對於真正危險的事情,那怕讓孩子受到一些驚嚇,只要能夠讓他遠離危險,那也是值得的。
Selasa, 13 Maret 2012
Selembar Uang Kertas Pecahan Seratus Dolar
Dia adalah seorang anak susah yang terlahir dalam keluarga miskin, ayahnya wafat pada saat usianya tiga tahun, ibunya mencari nafkah dengan mencuci pakaian orang. Maka dia sadar kalau dirinya harus bekerja keras.
Pada usia 18 tahun, dia berhasil masuk perguruan tinggi dengan nilai yang tinggi. Demi mencukupi biaya sekolahnya, ibunya pernah menjual darah, namun dia berpura-pura tidak tahu, sebab takut melukai hati ibunya.
Dia sendiri pernah menjual darah secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui ibunya, mengangkut batu sampai tangannya berdarah, juga menjual koran, demi sedikit meringankan beban ibunya.
Pada masa liburan musim dingin tahun kedua, dia pulang ke rumah dan melihat ibunya sedang mencuci pakaian orang dalam cuaca sangat dingin, kedua tangan ibunya sampai pecah-pecah karena kedinginan. Ibunya berkata: “Pekerjaan lain sulit ditemukan, jadi hanya bisa mencuci pakaian, sehelai pakaian upahnya satu dolar, semua ini adalah pakaian orang kaya, mereka takut pakaiannya rusak kalau mempergunakan mesin cuci.”
Hari itu, ibunya menerima upah kerjanya dan berkata dengan gembira: “Anakku, ibu mendapatkan upah 200 dolar.”
Sambil berkata ibunya merogoh kocek, siapa tahu di dalam koceknya hanya tersisa selembar uang kertas pecahan 100 dolar saja.
Seketika ibunya menjadi panik: “Ibu kehilangan 100 dolar.”
Tanpa berkata banyak, ibunya dengan tergesa-gesa ke luar rumah. Di luar rumah sungguh gelap, angin juga kencang dan turun salju, ibu menelusuri jalan pulang tadi untuk mencari uangnya. Dapat dilihat kalau 100 dolar itu adalah sangat penting baginya.
Itu adalah biaya hidup ibunya selama sebulan, itu adalah uang makannya selama sebulan.
Ibunya sudah ke luar rumah, dia juga mengikuti ibunya ke luar rumah. Di luar sangat gelap, ibunya mempergunakan lampu senter untuk mencari uangnya. Tanpa terasa air matanya mengalir turun.
Benar! Itu adalah upah ibunya mencuci 100 helai pakaian. Dia mencari di halaman rumah, juga mencari di jalan, tetapi tetap saja tidak ditemukan. Jika pun ada, mungkin sudah pun dari tadi dipungut orang lain.
Ibunya bolak balik tiga kali untuk mencari uangnya. Dia berkata kepada ibunya dengan hati pilu: “Ibu, tidak usah cari lagi, nanti sesudah hari terang baru kita cari lagi.”
Namun ibunya tetap bersikeras ingin mencari, cahaya dari lampu senter di kegelapan malam seakan menikam lubuk hatinya dan membuat rasa sakit tiada terhingga.
Dia lalu mengambil 100 dolar dari uang biaya hidup yang diberikan ibunya dan meletakkannya di halaman rumah. Dia beranggapan kalau ini adalah jalan terbaik untuk membebaskan ibunya dari kegalauan.
Ternyata dia mendengar ibunya berkata dengan senang: “Anakku, uang sudah ditemukan.”
Dia berlari ke luar dan ikut bergembira bersama ibunya. Dengan gembira ibu dan anak kembali ke dalam rumah. Ibunya berkata: “Anggap saja tidak ditemukan. Mari, ini untukmu! Kamu harus makan yang lebih baik, lihat! Kamu terlalu kurus.”
Beberapa tahun kemudian, dia tamat kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Dia lalu menjemput ibunya untuk tinggal bersama di kota, sejak itu ibunya tidak perlu lagi mencuci pakaian orang.
Uang kertas pecahan seratus dolar itu, dia tidak pernah merasa rela untuk mempergunakan dan terus disimpannya. Itu adalah uang kertas pecahan seratus dolar yang dicari ibunya semalaman, melambangkan kehangatan dan perasaan penuh kemantapan.
Setelah beberapa tahun kemudian, dia mengungkit hal ini dalam suatu kesempatan, sambil tersenyum berkata kepada ibunya: “Ibu, saya yang menaruh uang kertas pecahan seratus dolar itu di sana.” Namun yang mengejutkannya adalah jawaban ibunya: “Ibu tahu”.
Dengan heran dia bertanya: “Bagaimana ibu bisa tahu?” Ibunya menjawab: “Uang yang ibu dapatkan selalu diberi tanda, ada tulisan 1, 2, 3 di atasnya, sedangkan uang kertas itu tidak ada tanda, apalagi ditemukan di halaman rumah. Ibu tahu kalau itu adalah uang yang kamu taruh karena takut ibu galau. Dalam hati ibu berpikir, karena anak ibu demikian sayang pada ibu, maka ibu tidak boleh mencari lagi, jikalau sudah hilang dan tidak akan ditemukan lagi, kenapa tidak membuat anak ibu tenang hati saja?”
Dia lalu maju memeluk ibunya dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh ibu dan anak yang bertautan hati, mereka selalu meninggalkan cinta kasih terhangat kepada pihak lain. Benar sekali, walau pun miskin, namun dengan adanya cinta kasih, maka mereka merupakan orang paling kaya di dunia ini.
Pencarian sehelai uang kertas pecahan seratus dolar ini melambangkan dalamnya kasih sayang antara ibu dan anak.
一張百元紙幣
他是苦孩子,出身窮苦,三歲死了爹,娘給人家洗衣服賺錢。所以,他知道自己應該分外努力。
18歲那年,他以優異成績考上大學。母親為了給他湊足學費曾去賣過血,他裝作不知道,怕刺傷母親的心。
他也瞞著母親去賣過血,搬過石頭磨破了手,賣過報紙,為的是減輕母親一些負擔。
大二的寒假,他回家,看到母親正在寒冷的冬天裏給人家洗衣服,手都凍裂了。母親說:「別的工作不好找,只有洗衣服,一件一塊錢:那些都是富人家的衣服,怕洗衣機洗壞了……」
那天,母親領到錢,高興地說:「兒子,媽媽賺了200塊錢。」
說著就掏口袋,誰知口袋裏只剩下一張百元紙幣!
母親一下子慌了:「我丟了100塊錢。」
再也沒有說二話,就慌慌張張地跑了出去。外面夜黑風大下著雪,母親沿著來的路線去找錢。看得出來,那100塊錢對她而言,簡直是太重要了!
那是母親一個月的生活費,那是他一個月的菜金啊!
母親出去了,他也隨著母親走。外面很黑,母親打著手電筒邊走邊找。他的眼淚就下來了。
是啊,那是母親洗了100件衣服的報酬啊!他在院子裏、去外面的路上找,還是沒有。就是有,也早讓人撿去了吧?
母親在寒風中來來回回地走了三趟。他心疼地說:「媽,別找了,天亮了再找吧。」
母親卻執著地找下去,手電筒的光柱晃在黑夜裏,刺得他心疼。
他從母親給的生活費中抽出100元,放在院子裏。他認為,這是讓母親解脫的好辦法。
果然,他聽到母親驚喜的聲音:「孩子,錢找到了!」
他奔出去,配合著母親的驚喜。母子倆興高采烈地回到屋子裏。母親說:「就當沒找到。來,給你,自己多吃點好的,看你瘦的。」
幾年後他大學畢業,有一份好工作。他把母親接到城裏,母親再也不用洗衣服了。
那張百元大鈔,他沒捨得花,還一直留著。 那是他和母親找了半夜的一張百元紙幣,是溫暖,是踏實。
過了幾年,他偶爾提起這事,笑著對母親說:「媽,那100元是我放在那裏的。」讓他驚奇的是,母親說:「我知道」。
倒是他吃了一驚:「你怎麼知道?」母親說:「我領回的錢都有記號,上面寫著1、2、3,而那張百元紙幣上面沒有記號,況且是在院子裏撿到的。我知道那是你怕我著急放的。我想,兒子這樣心疼我,我不能再找了,既然丟了找不回來,為什麼不讓兒子放心呢?」
他上前抱住母親,眼睛潮濕了。
母子連心啊,他們都想把最溫暖的愛留給對方。是啊,雖然貧窮,可是有了愛,他們就是世界上最富有的人。
Kisah Lorong Enam Kaki
Menurut catatan dalam “Rekaman Kabupaten Tongcheng”, keluarga dari “Zhang Ying”, seorang pejabat tinggi pada balai kemuliaan sastra merangkap ketua dewan upacara pada “Era Kaisar Kangxi” dalam dinasti Qing, bersengketa dengan tetangga keluarga marga Wu gara-gara masalah dinding pagar rumah mereka, keluarganya lalu mengirimkan surat ke ibu kota untuk meminta Zhang Ying agar menggunakan kekuasaannya untuk membereskan keluarga marga Wu. Zhang Ying ternyata membalas dengan sebuah sajak:
千里修書為一牆,讓他三尺又何妨。
萬里長城今猶在,不見當年秦始皇。
Ribuan mil hanya demi menulis surat tentang sebuah dinding tembok,
mengapa tidak mau mengalah tiga kaki saja.
Tembok besar China masih ada sampai sekarang,
namun Kaisar Qin Shi Huang dari masa itu sudah tidak ada lagi.
家人見書,主動退讓了三尺,而鄰居吳氏深受感動,也退讓三尺,於是兩家的院牆之間有一條「六尺巷」。
Setelah keluarganya menerima surat ini, dengan sendirinya memundurkan dinding tembok sebanyak tiga kaki, keluarga Wu juga sangat tergugah dan mundur sebanyak tiga kaki, sehingga terdapat sebuah “lorong enam kaki” di antara dinding tembok kedua keluarga ini.
這個美談一直流傳至今。
Kisah indah ini terus diwariskan sampai sekarang ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
