Tampilkan postingan dengan label Master Cheng Yen Bercerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Master Cheng Yen Bercerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Januari 2013

Kesangsian Maha Kausthila terhadap kegelapan batin

Dalam belajar ajaran Buddha adalah belajar sampai memahami secara jelas akan “dari mana berasal ketika lahir dan ke mana pergi setelah mati”, tetapi itu sama sekali tidak semudah yang diucapkan! Bagaimana pun Sang Buddha tahu cara membimbing kita dengan kebijaksanaannya, pertama-tama ingin kita “menenangkan batin”, jika batin dapat ditenangkan, segala kondisi luar akan tampak dengan jelas. Dengan demikian, kita akan mampu melakukan refleksi diri, paham akan “Bagaimana saya sekarang hidup?” Jika manusia dapat berpikiran positif , tentu saja secara otomatis akan dapat melepaskan masalah hidup dan mati, serta bebas dari kerisauan.

Kegelapan batin adalah ilusi yang tidak nyata dan seharusnya dapat dilepaskan secara tuntas

Pada masa Sang Buddha masih hidup, pada selang waktu tertentu Sang Buddha dan para murid akan menetap pada Vihara Venuvana di Rajagrha. Dikarenakan jumlah murid terlalu banyak, maka ada sebagiannya dibawa oleh Sariputra ke Gunung Grdhrakuta ( Puncak Burung Nasar) untuk menetap di sana. Sariputra adalah murid Buddha yang paling unggul dalam kebijaksanaan, sehingga jika dalam hati para Bhikkhu ada timbul kesangsian, mereka akan bertanya kepada Sariputra.  

Suatu hari, ketika Maha Kausthila sedang bermeditasi, tiba-tiba terpikirkan: “Bagaimana sebetulnya saya dilahirkan? Mengapa kita tidak tahu akan hidup dan mati dalam kehidupan?” Karena tidak mampu memecahkan teka teki ini, dia lalu beranjak menuju ruang meditasi Satiputra. Maha Kausthila bertanya pada Sariputra dengan sikap penuh hormat: “Yang Arya, dalam hati saya ada sebuah kesangsian, Sang Buddha selalu mengatakan bahwa semua makhluk berkembang dikarenakan terhimpunnya kegelapan batin, sebetulnya di manakah kegelapan batin berada? Dari manakah ia berasal? Bagaimana caranya agar dapat menguraikan kegelapan batin?”

Sariputra menjawab: “Kegelapan batin berasal dari ketidak tahuan; karena tidak tahu, maka tidak mengerti. Sebetulnya ia berkembang dari ketidak mengertian akan ilusi yang tidak nyata dari ‘panca skandha (lima kelompok pembentuk kehidupan), berupa rupa (badan jasmani), vedana (perasaan), sanna (pencerapan), sankhara (pikiran) dan vinnana (kesadaran)’, itu dikarenakan kita tidak bersungguh hati dalam menghayatinya. Kehidupan tidak pernah terlepas dari ‘rupa skandha’, segala sesuatu yang terlihat adalah rupa, rupa mengalami kelahiran dan musnah. Kita tidak mengerti mengapa materi bisa tercipta dan musnah, sehingga selalu timbul perasaan melekat, itulah kegelapan batin, selanjutnya tidak mengerti akan ‘vedana’ (perasaan), perasaan di dalam hati. Setiap orang, masalah atau benda yang dilihat, didengar atau ada kontak, dalam hati tentu akan timbul berbagai perasaan, jika melihat hal yang sesuai keinginan, tentu merasa senang; jika tidak sesuai keinginan, timbul emosi dalam hati. Jika tidak tahu akan ketidak nyataan dari perasaan, tentu akan menimbulkan kerisauan, itu juga disebut sebagai kegelapan batin.”

Kemudian Sariputra melanjutkan: “Orang awam biasanya setelah merasakan, akan timbul pemikiran sendiri, jika setelah kondisi luar berlalu, masih saja melekat pada rupa, ini juga disebut sebagai kegelapan batin. Mengapa bisa ada ‘sankhara skandha’ (bentuk pikiran) akan masalah hidup dan mati seperti ini? Ini juga bersumber pada kemelekatan. Kita mempergunakan ‘vinnana’  (kesadaran) untuk merasakan kondisi luar, lalu setelah melakukan banyak hal timbul penyesalan dalam hati, ini semua disebut sebagai kegelapan batin. Jika kita tidak mampu memahami panca skandha secara jelas, batin tentu tidak akan bisa berpikiran terbuka dan tidak mampu melepaskan kerisauan, ini juga disebut sebagai kegelapan batin.”

Mengamati proses pembentukan, pemusnahan dan perubahan, lalu melakukan refleksi terhadap sifat hakiki

Perkataan Sariputra ini adalah konsep kebenaran yang sangat abstrak, bagaimana caranya belajar ajaran Buddha agar dapat sepenuhnya mengerti akan “Panca skandha”? Ini membutuhkan kesungguhan hati kita. Sebagai contoh adalah lumpur dan pasir, batu, rumput, pohon, bahkan tubuh jasmani kita, semuanya termasuk dalam “rupa skandha”.

Mengapa sebatang rumput bisa tumbuh dari dalam tanah? Karena ada benih rumput, tanah, kandungan air, sinar matahari dan udara, baru rumput bisa tumbuh, setelah tumbuh juga tidak bisa melepaskan diri dari unsur pendukung seperti tanah, kandungan air, sinar matahari dan udara, baru bisa terus tumbuh besar, namun pada suatu saat nanti rumput juga akan berubah menjadi kuning dan layu, ini adalah perubahan dari “sankhara” (pikiran), bentuk pikiran terus mengalami proses pembentukan, pemusnahan dan perubahan.

Demikian juga dengan kehidupan manusia, pasti melalui masa bayi, balita, usia muda, setengah umur dan perlahan-lahan lanjut usia. Selama selang waktu ini, bagaimana manusia tumbuh besar? Saya pikir setiap orang tidak mengerti secara jelas akan tubuh jasmani sendiri, bukan saja tidak mengerti akan tubuh jasmani sendiri, bahkan terhadap “vinnana skandha” (bentuk kesadaran) yang tidak kekal adanya, yaitu pemikiran dan perasaan sendiri, juga tidak bisa mengerti secara jelas.    

Di rumah sakit, kita bisa menyaksikan segala macam pasien dan setiap orang memiliki pandangan hidup masing-masing. Ada yang sangat takut mati, begitu sakit langsung memikirkan kematian yang mengerikan! Dari itu, ada sebagian orang mati bukan karena sakit, tetapi disebabkan mati “ketakutan”, di mana perasaan takut dan stress membuat penyakitnya semakin parah, akan tetapi juga ada orang yang menghadapi penyakitnya dengan optimis, sehingga penyakitnya lebih mudah disembuhkan.
 
Pernah ada seorang pasien sirosis hati yang menyampaikan, nanti setelah “usianya seratus tahun”, ia akan mendonorkan jasadnya kepada Universitas Tzu Chi untuk dijadikan materi pengajaran Patologi Anatomi, ia mengatakan seumur hidupnya tidak ada bersumbangsih apa pun terhadap umat manusia, maka jika pada akhir hayatnya dapat mempersembahkan jasadnya untuk pendidikan medis, maka hatinya merasa sangat terhibur! Orang yang sedemikian rileks dan optimis ini, boleh dikatakan telah memahami “rupa skandha” secara jelas, ia tidak lagi memberatkan masalah hidup dan mati, jadi tidak penting lagi apakah ia mengerti atau tidak akan “vedana (perasaan), sanna (pencerapan), sankhara (pikiran) dan vinnana (kesadaran)”.

Jika “rupa” awal dapat diterima sebagai fakta, tentu segalanya akan dapat diterima dengan pikiran terbuka, maka kita harus melakukan refleksi pada batin sendiri dengan baik, jika batin dapat ditenangkan, baru kegelapan batin tidak akan menutupi jasmani dan batin kita.

Dikutip dari buku “Sirkulasi keindahan – membahas kelanggengan” karangan Master Cheng Yen
 
摩訶俱絺羅尊者對無明的疑惑
 
學佛,就是要學得可以清楚知道「生從何來、死往何去」,但是談何容易啊!不過,佛陀懂得用智慧來引導我們,首先要我們「心靜」,心若能靜下來,一切的境界就會很明朗。如此,即可反觀自己,了解「我現在是怎麼生活?」人若看得開,自然對生死就會放下、自在。

無明乃虛幻不實 應透徹放下

佛世時代,佛陀與弟子有段時間都住在王舍城的竹園精舍。由於弟子眾多,所以有一群弟子由舍利弗帶領住在靈鷲山。舍利弗「智慧第一」,比丘們心中若有疑惑也會請教他。

天,摩訶俱絺羅尊者在打坐時,忽然想到:「自己是怎樣出生的呢?人生為什麼會有生死無明?」他打不開這些謎題,便起身走到舍利弗的禪房。俱絺羅很恭敬地對 舍利弗說:「尊者,我心中有一點疑惑。佛陀常說眾生是因無明聚集而衍生,到底無明在哪裡?它是從哪裡生出來?要怎樣才能解開無明?」

舍利 弗回答:「無明是出於無知;因為無知,所以不明白。其實,它就是從不了解『色、受、想、行、識』的虛幻不實而衍生,因為我們沒有用心去體會。人生從未離開 過『色蘊』,看得到的東西都是色,色有生有滅。我們不了解物質為什麼會有生滅,因此常會起執著心,那就是無明,再來是不瞭解『受』心中的感受。只要看到、 聽到或接觸到的人事物,心中都會有種種的感受,看到順意的就高興;不順意的就生氣。若不知道感受的虛幻性,就會有煩惱,這也叫做無明。」

說:「平常人感受後,就會有自己的想法,若境界過後還執著於形象,這也叫做無明。為什麼有生死這種『行蘊』?也就是來自於執著。我們用『意識』來感受外面 的境界,所以造作很多事後又心生後悔,這都叫做無明。若無法透徹明瞭『色、受、想、行、識』這五項,心就會解不開、放不下,這也叫做無明。」

觀察生滅變異 反觀自心明鏡

舍利弗這段話是很抽象的道理,我們要怎樣學佛,才能學到對「色、受、想、行、識」都完全透徹、瞭解?這就要憑我們自己去用心。譬如大地上的泥沙、石頭、草、樹木,甚至我們的人體,這一切都包括在「色蘊」中。

一株草為什麼會從土裡生長出來?是因為有草的種子和泥土、水分、陽光、空氣聚合在一起,才會長出草來,而且花草長出來後,仍離不開泥土、水分、陽光和空氣這些因緣,才能不斷地成長,但草長到一定的時間就會變黃、枯萎,這就是「行」的變化,行蘊不斷地生滅變異。

人生也一樣,一定是經過嬰兒期、幼年期,然後少年、中年,再漸漸進入老年。在這段時間,到底是怎樣長大?我想每個人對自己的身體都無法透徹瞭解,不只無法瞭解,對生滅無常的「識蘊」,也就是自己的想法、感受也無法透徹明白。

在醫院裡,我們可以看到各種病患,各有不一樣的人生觀念。有的人很怕死,一生病就想到死的恐怖!因此,有的人不是真正病死,而是「怕」死,是心理的惶恐、鬱悶,而加重他的病情,但也有些病人卻很樂觀,病也就比較容痊癒。

有位肝硬化的病患表示,在他「百年」之後,要將他的遺體捐給慈濟醫學院作為病理解剖,他表示自己這輩子對人類沒什麼貢獻,在最後能將這副臭皮囊奉獻給醫學 教育,內心感到很欣慰!如此灑脫、樂觀的人,可以說已經將「色」蘊看透,他對生死早已看淡,不管「受、想、行、識」是否瞭解都已無關緊要。

初步的「色」看得開,一切也就能看得開,所以,要好好反觀自心;心如能靜下來,無明才不會籠罩著自己的身心。

本文摘自:證嚴上人著作《美的循環談生生世世
 

Kamis, 09 Agustus 2012

Lembu ini adalah abangku

Ada sepasang abang beradik yang sejak kecil tumbuh besar bersama, namun mereka masing-masing memiliki cita-cita yang berbeda, setelah orangtua mereka meninggal dunia, sang adik meninggalkan kampung halaman dan memilih kehidupan non duniawi demi mencari kebenaran sejati dalam hidup, dia lalu menyerahkan pengelolaan semua usaha peninggalan orangtua kepada sang abang. Setelah menjalani pembinaan diri selama beberapa tahun, akhirnya sang adik berhasil menyadari akan ketidak kekalan dalam kehidupan, sadar secara mendalam kalau nama dan keuntungan materi hanyalah fatamorgana, jadi berbuat kebajikan dan menciptakan harus segera. Dari itu, dia juga berharap sang abang dapat ikut memahami prinsip kebenaran ini.

Ketika dia tiba di kampung halaman dan memberitahukan sang abang tentang pemahamannya ini, ternyata sang abang bersungguh sungguh dalam mengelola usaha dan setiap hari sibuk menjalani kehidupan dengan tanpa arti. Dia berkata kepada sang adik: “Kamu telah berhasil dalam pembinaan dirimu dan ucapanmu juga sangat beralasan, namun tanggung jawabku sekarang masih sangat besar dan aku tidak dapat melepaskannya.” Sang adik berkata: “Waktu dikendalikan oleh diri kita sendiri, abang seharusnya meluangkan sedikit waktu untuk mencari kebenaran sejati dari kehidupan.” Abangnya membalas: “Usahaku sekarang sedemikian besar, banyak masalah yang harus kuselesaikan sendiri, mana ada waktu luang sama sekali?” Sang adik berkata: “Jika abang tidak ada waktu luang, juga boleh berdana sedikit untuk membantu orang susah.” Sang abang menjawab: “Tunggu sampai pondasi ekonomiku sudah stabil dan berhasil memperoleh lebih banyak uang, barulah aku akan berdana.”

Sang adik terus berusaha menasehatinya, namun sang abang selalu acuh tak acuh dengan alasan tidak ada waktu atau tunggu sampai usaha lebih stabil dan punya cukup banyak uang. Karena sang abang begitu keras kepala, sang adik juga tidak dapat berbuat apa-apa, dia lalu meninggalkan kampung halaman dengan hati kecewa tanpa daya, dia lalu melanjutkan pembinaan dirinya.

Cengkam waktu untuk menciptakan keberkahan, membina diri dan membina kebijaksanaan dengan hati tenang

Beberapa tahun kemudian, dia mendengar kabar bahwa abangnya telah meninggal dunia, dalam kesedihannya sang adik bersamadhi untuk melihat ke mana abangnya bertumimbal lahir. Dia membayangkan alam surga dan alam manusia, tetapi tidak menemukan sosok abangnya; dia membayangkan alam neraka dan alam setan kelaparan, juga tidak ada. Akhirnya dia menemukan abangnya di alam binatang, ternyata abangnya terlahir kembali sebagai seekor lembu. Sang adik dengan galau kembali ke kampung halamannya dan menemukan sang abang yang telah terlahir kembali sebagai lembu.

Dia melihat tubuh lembu yang merupakan titisan abangnya sedang membajak sawah, karena lumpur di sawah sangat dalam, membuat setiap langkahnya sulit untuk ditapakkan, disebabkan sudah terlalu lelah dan terus dipecut oleh tuannya, lembu ini semakin berjalan semakin lambat dan terus menerus menampakkan rupa sedih dan menderita, sepertinya hendak memberitahukan orang kalau dia sudah tidak dapat bertahan lagi. Sang adik berdiri di pematang sawah dan melihat lembu ini sungguh bersusah payah, biar pun tenaganya sudah terkuras habis, namun sang tuan bukan saja tidak mau memberikan istirahat, malah terus memecut tubuhnya.  

Pemandangan ini membuat sang adik tidak dapat menahan diri untuk tidak mengeluh, dia berkata dengan hati pilu pada sang lembu: “Karena tidak mau segera membina diri, akibatnya harus susah payah seumur hidup dengan dosa terus menjerat tubuh, semoga abang sekarang dapat segera berpikir baik-baik dan segera membebaskan diri dari tubuh ini.” Lembu ini sepertinya dapat memahami perkataannya, tiba-tiba meronta-ronta dan meratap keras, kemudian seluruh tubuhnya lemas dan mati.

Menyaksikan kejadian aneh ini, semua petani lainnya merasa ingin tahu dan mengitari tuan empunya lembu untuk bertanya apa yang sebetulnya telah terjadi? Empunya lembu berkata: “Aku juga merasa sangat aneh, tadi ada seorang praktisi agama berbicara sendiri di sini, tiba-tiba lembuku mengeluarkan suara ratapan dan meronta-ronta, lalu jatuh ke tanah dan langsung mati.”

Para petani curiga kalau sang praktisi agama ini menjalankan sihir, kalau tidak, bagaimana ada hal aneh terjadi pada diri lembu ini, mereka lalu mengerubutinya. Sang praktisi agama lalu menuturkan benih karma dan balasan karma pada diri lembu ini kepada semua orang: “Tahukah kalian? Lembu ini dulunya adalah abangku, aku selalu menasehatinya agar mau membina diri dan menciptakan keberkahan, tetapi dia selalu beralasan kalau sangat sibuk dalam usaha dan menolak melakukannya. Namun kehidupan ini tidak kekal adanya, setelah meninggal dunia dirinya terlahir kembali dalam tubuh lembu. Sebagai lembu juga harus mencengkam waktu, jika mampu, harus segera menciptakan keberkahan, ketika ada waktu juga harus menenangkan hati dan membina batin dengan baik.” Setelah mendengarnya, para petani baru paham apa yang telah terjadi.
 
Pendek kata, kehidupan ini tidak kekal adanya, dalam segala hal harus mencengkam momen sekarang juga untuk segera berbuat, jika tidak maka kehidupan tentu akan terbelenggu oleh nafsu keinginan dan kerisauan, tanpa mampu membebaskan diri sama sekali.
 
  Dikutip dari buku “Membahas masa lalu dan masa sekarang” karangan Master Cheng Yen
 
這頭牛是我大哥
 
有一對兄弟,從小一起長大,卻各有不同的理想,當父母往生後,弟弟為了探求人生真理,於是離開家鄉選擇修行的生活,把父母留下來的事業完全讓給哥哥經營。 經過幾後的苦修,弟弟終於了悟人生無常,深覺一切名利均屬空幻,不論行善、造福皆要及時。所以,他希望哥哥也能領悟這番道理。

當他回到家鄉告訴哥哥這些年的體悟,但哥哥雖然認真經營事業,卻整天忙忙碌碌在空過人生。他對弟弟說:「你修行修得很好,你所說的也都很 有道理,但是我現在責任還很重,無法放下。」弟弟說:「時間掌握在自己手上,你應該撥出一點時間來追求人生的真理。」哥哥回答說:「我現在的事業這麼大, 有很多事務要找我親自處理,哪有空閒的時間呢?」弟弟說:「你如果沒有時間,也可以發撥一分心力,施捨錢財幫助貧困苦難的人。」哥哥回答說:「等我經濟基 礎穩定、賺更多的錢時,再來佈施。」

弟弟不斷地勸他,哥哥總是以沒空或是家業穩定後,有足夠的錢再做等理由來敷衍。哥哥如此頑固,弟弟實在是無可奈何,因此萬般灰心、無奈地離開家鄉,繼續精進修行。

把握時間造福 靜心修行修慧

數年後,聽到哥哥往生的消息,弟弟在悲痛之餘趕緊入定,觀照哥哥的去處。他觀想天堂、人間卻沒有哥哥的蹤影;觀想地獄、餓鬼道也都尋不著。最後,發現哥哥墮入畜生道,轉世為牛。弟弟憂心地趕回故鄉,找到轉世為牛的哥哥。

他看見哥哥轉世的牛身上拖著犁,在沼澤田裡耕作;田裡泥濘不堪,舉步難辛,由於太過疲累,加上主人不時在鞭打,牛愈走愈緩慢,並不時露出悲苦的神情,好像要告訴人牠快支撐不住。弟弟在田埂上看到牛這麼辛苦,體力幾乎消耗殆盡,而主人不但不讓牛休息還一直鞭打它。

這一幕幕情景讓弟弟不禁感歎,心疼地對牛說:「修行不及時,勞累一生,罪業纏身,但願現在你能及時思考,而及時解脫此身。」好像牛聽懂了修行人的話,突然掙扎著、大聲悲鳴;接著全身癱軟,就這樣往生。

其他的農人看到如此奇特的事,都好奇地圍過來問牛主人,究竟是怎麼回事?牛主人說:「我也覺得很奇怪,剛才有位修行人在這裡喃喃自語,我的牛就發出悲鳴聲、掙扎倒地而死。」

農夫們一致懷疑可能是修行人施了什麼法術,否則這 頭牛怎會這麼奇怪,於是大家將修行人團團圍住。修行人就將前因後果告訴大家:「你們知道嗎?這頭牛過去是我的大哥,我時時勸他修行、修福,他卻以事業很重 很忙來推托。但是人生無常,他往生後墮入牛身,當牛還要好好把握時間,有能力就在造福,有時間就要好好靜下 心來修行。」農夫們聽了都略有所悟。

總之,人生無常,凡事要把握當下及時去做,若本末倒置,人生就會被慾念、煩惱所困,不得掙脫。

本文摘自:證嚴上人著作《談古說今

Rabu, 08 Agustus 2012

Batin tidak lepas dari kebajikan dan cinta kasih berada di dunia selama-lamanya

Sang Buddha bersabda: “Seorang praktisi sejati dari ajaran Buddha selalu masuk dari pintu kebajikan”, Master mengambil sebuah kisah sebagai perumpamaan atas prinsip kebenaran ini.
 
Pada masa kuno di India ada satu rombongan saudagar dari satu marga yang hendak menuju ke sebuah tempat jauh untuk berdagang, sehingga perlu melewati gurun pasir dan gunung yang sulit dilalui, mereka patungan dalam menyewa seorang pemandu yang kenal baik akan kondisi perjalanan ini. Dalam perjalanannya, mereka melewati sebuah perkampungan, penduduk di sini memiliki sebuah agama yang menawarkan korban pada dewa, jadi setahun sekali mesti memenggal kepala manusia dan mengambil darahnya sebagai persembahan kepada dewa. Ketika rombongan saudagar sampai di sini, bertepatan dengan waktu menawarkan korban kepada dewa, warga meminta rombongan untuk mengorbankan satu orang di antara mereka, baru sisanya boleh meninggalkan perkampungan. Karena para saudagar ini memiliki ikatan keluarga antara satu sama lainnya dan hanya pemandu jalan yang bukan, maka pemandu tidak berdaya ketika didorong untuk dijadikan korban. Akan tetapi, akibat tiada pemandu jalan, maka rombongan saudagar ini kemudian tersesat di gurun pasir dan satu per satu mati di gurun pasir.
 
“Ajaran yang baik, bukan saja bermanfaat bagi orang banyak, juga dapat membawa keberhasilan bagi diri sendiri. Jika seorang praktisi agama meremehkan ajaran yang baik atau memberangus ajaran yang baik, itu sama artinya dengan membunuh jiwa kebijaksanaan diri sendiri. Hanya jiwa kebijaksanaan yang mampu memandu kita dari pantai kefanaan dan melewati samudera ganas menuju pantai keBuddhaan di seberang. Jika tidak bersandar pada perbuatan baik, maka jiwa kebijaksanaan tidak akan mampu melewati samudera luas yang bagaikan tiada batas ini; seperti rombongan saudagar dalam kisah tadi, tanpa pemandu tentu saja tidak akan mampu melewati gurun pasir yang luas tanpa batas.”

Master menyampaikan, semua ajaran yang membuat orang merasa tenang, bahagia, nyaman dan tanpa beban pikiran, merupakan ajaran yang baik; disebutkan “berbuat kebajikan adalah paling membahagiakan”, sebab ketika memberi manfaat pada orang, pada saat bersamaan juga memberi manfaat pada diri sendiri, maka dari itu, dalam belajar ajaran Buddha harus senantiasa jangan pernah lepas dari kebajikan dan bersungguh hati dalam berbuat kebajikan, ini adalah jalan Bodhisattva yang paling aman dan paling lebar.

Relawan terus mendampingi dalam perjalanan penuh rintangan dari awal sampai akhir

Empat hari lalu, koran di Thailand memuat sebuah berita utama dan Master membicarakannya dalam pertemuan pagi dengan relawan. Ada seorang pengusaha asal Taiwan yang membangun pabrik di Thailand, pada suatu hari di bulan Maret lalu, tiba-tiba ada dua orang lelaki mendobrak masuk ke kantornya dan merampas jam tangan Rolex yang dikenakannya, karena di kantornya tiada barang berharga lainnya, maka mereka menculik pengusaha ini ke dalam mobil dan meninggalkan lokasi kejadian dengan cepat sekali.

Setibanya di tempat persembunyian penjahat, mereka memberikan semangkuk air kacang hijau untuk diminumnya, sehabis minum langsung tertidur lelap, setelah terbangun dua hari kemudian, dia menemukan dirinya telah berada di dalam sebuah rumah. Seorang penjahat bertopeng memaksanya untuk menulis surat kepada keluarga di Taiwan, meminta keluarga untuk menyiapkan USD 1 juta sebagai uang tebusan, asalkan uang sudah ditransfer, mereka akan segera melepaskannya tanpa melukai dirinya sedikit pun.

Setelah menerima surat, isterinya sangat cemas dan segera terbang dengan pesawat udara ke Thailand, dia meminta bantuan kepada TECO (Taipei Economic and Cultural Office) di Thailand. Ketika berada dalam kondisi tidak berdaya dan panik ini, staf TECO memperkenalkannya kepada insan Tzu Chi setempat, insan Tzu Chi Thailand mulai memberikan pendampingan, penghiburan dan perhatian kepadanya. Setelah melalui beberapa kali perundingan telpon dengan penculik, akhirnya kedua belah pihak setuju dengan uang tebusan sebesar USD 250 ribu dan tempat pertemuannya.

Saat itu di Thailand sedang ramai-ramainya siaran pertandingan sepakbola, dikarenakan telah mencapai kesepakatan dengan uang tebusan, para penjahat dengan tenang hati menonton televisi. Karena telah banyak hari diculik penjahat, pengusaha ini menjadi semakin kurus, keduanya tangannya yang semula diborgol dengan ketat, sekarang sudah pun longgar, maka mengambil kesempatan ketika penjahat sedang lengah, dia berhasil melarikan diri. Dia berhasil melaporkan diri ke kantor polisi dan bertemu dengan isterinya. Polisi kemudian berhasil menangkap semua penculik untuk diadili di depan hukum. Ketika ada banyak wartawan mewancarainya, pengusaha ini menyatakan sangat berterima kasih kepada insan Tzu Chi yang telah menghibur isterinya selama dirinya diculik penjahat, mendampingi isterinya dalam perjalanan penuh rintangan ini dari awal sampai akhir.

Master sekali lagi menekankan dalam ceramahnya, para Bodhisattva memandang semua makhluk di dunia bagaikan anak sendiri, tanpa pamrih dalam bersumbangsih demi semua makhluk. Cinta kasih universal ini membawakan kebahagiaan bagi orang-orang dan membuat mereka merasa nyaman dan bebas dari beban pikiran, inilah ajaran yang baik, jika dalam masyarakat ada kebajikan dan cinta kasih, barulah kehidupan akan lebih stabil. Master berharap agar setiap orang memiliki hati baik dan jujur, serta terus bersumbangsih, agar hati cinta kasih dapat terus bersirkulasi di dunia ini.

Dikutip dari Jurnal Harian Master Cheng Yen edisi musim gugur tahun 1998
 
心不離善 愛永續人間
 
佛陀說:「真學佛者,要從善門而入」,上人在晨語中以一則譬喻說明此理。

古印度時代,有一家族性的商隊,要到遠方從事貿 易,因為必須經過廣大沙漠與險峻的高山,所以就合資請一位熟悉路況的領隊來帶路。出發後行經一處山莊,因為地方上的少數民族有祭天的信仰,在一年一度祭祀 時,必須設天壇斬人頭取血際天。商隊來此,正逢舉行祭天的日子,村民便要商隊捐出一個人, 才能放大家走。商人彼此都是親戚,唯有領隊不是,後來領隊很無奈地被商人推出祭天。可是沒有嚮導的商隊,在天煎地逼的沙漠中迷失,因缺水缺糧,大夥兒也前後相繼死亡。

「善法既能利益人群,也能成就自己。學佛的人若輕視善法、或抹殺善法,等於殺害自己的慧命。唯有慧命能引導我們從凡夫的此岸,度過險惡大海,到達成佛的彼岸。如果不靠著這分善行、慧命就無法度過茫茫大海;正如故事中的商隊,沒有領隊就無法通過廣闊無際的沙漠。」

上人表示,讓人安定、幸福、輕安自在,都是善法;所謂「為善最樂」,利人的同時就是利己,所以學佛必須時時心不離善,用心行善,這就是一條最安全、最康莊的菩薩大道。

志工全程陪伴 走過坎坷路

四天前,泰國當地報紙刊載一則頭條新聞,上人在志工早會上,向大家談起新聞事件緣由。有位臺商在泰國開設工廠,三月份的一天,突然有兩位男子闖進公司來,奪取臺商手上的勞力士錶後,查看公司內無價值品,遂將這位先生押入一輛車內,快速駛離現場。

到了歹徒藏身點,他們倒了一碗綠豆湯給他喝,喝完就沈沈入睡,兩天後醒來,發現自己在一間屋內。一位矇面人強迫他寫信給臺灣的家屬,請家屬準備一百萬美金來贖人,只要將錢匯到,馬上放人,不會傷害他。

太太接到信後,非常著急,趕搭飛機到泰國來,求助當地臺灣駐泰辦事處。太太如此無助、惶恐,透過辦事處人員的介紹,當地慈濟人開始陪伴、安撫、關懷她。歹徒與太太以電話多方洽談,最後談妥二十五萬元贖金,以及約定的地點。

當時泰國的電視節目正熱烈播演足球賽,歹徒因為贖金談妥,就放心地觀賞電視。這位先生因為被綁架已有一段時間,原本雙手被扣得很緊,卻隨著身體的消瘦漸漸鬆 弛,他暗中鬆動手拷。終於就在歹徒稍鬆懈的這一天,成功地逃出來,並到警局報案,也見到太太。警方據報將歹徒們一網打盡,繩之以法。很多記者前來訪問這位 臺商時,他表示十分感恩慈濟人在他被綁架期間,安撫他無助的太太,陪著她走過這段坎坷路。

上人再述一次晨語開示強調,菩薩視普天下眾生如己子,無所求地為眾生付出。這分大愛帶給人幸福,使人輕安自在,這就是善法,社會有善、有愛,人生才會穩定。希望人人都有這分善良的心,並且在不斷付出中,使得愛心永遠循環在人間。

本文摘自:《證嚴法師衲履足跡》 一九九八年.秋之

Orang tua berusia 200 tahun

Kehidupan ini indah atau derita ditentukan oleh dari sudut mana kita memandangnya dan dengan kondisi batin apa pula kita merasakannya. Jika berada pada sudut penuh rasa syukur dan berpegang pada kondisi batin yang kenal puas serta menghargai berkah, maka segala sesuatu yang kita lihat dalam keseharian merupakan pemandangan yang sangat indah. Dari itu, kita harus senantiasa memelihara sebuah hati penuh rasa syukur dan kenal puas.

Menjalankan ajaran, melepaskan kekikiran dan keserakahan

Pernah sekali ketika Sang Buddha sedang membabarkan Dharma di Kalandaka Venuvana, Rajagrha, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar, Sang Buddha berkata kepada Ananda: “Coba kamu ke luar dan lihat mengapa ada suara ribut?” Saat Ananda tiba di luar, dia melihat ada seorang tua yang bertubuh bungkuk dan berjalan dengan tongkat, terus memohon kepada penjaga pintu agar diijinkan masuk untuk bertemu dengan Sang Buddha.

Penjaga pintu mengatakan padanya: “Sang Buddha sekarang sedang membabarkan Dharma, anda ini sudah pun pekak, jadi anda juga tidak akan tahu apa yang dibabarkan oleh Sang Buddha; apalagi anda juga kurang leluasa berjalan, jika masuk sekarang hanya akan mengganggu saja.” Orang tua menjawab: “Usiaku sudah sangat lanjut, jika hari ini tidak bisa bertemu dengan Sang Buddha, mungkin di kemudian hari tidak ada kesempatan lagi. Bolehkah anda berbaik hati untuk mengijinkan saya masuk dan bertemu dengan Sang Buddha?” Akan tetapi penjaga pintu tetap melarangnya masuk.

Setelah mendengarnya, Ananda masuk dan menceritakannya pada Sang Buddha, Sang Buddha berkata dengan penuh welas asih: “Lekas papah orang tua itu untuk masuk ke mari.” Oleh karenanya Ananda lalu dengan sikap sangat hormat memapah orang tua menuju ke hadapan Sang Buddha. Orang tua sangat gembira bertemu dengan Sang Buddha dan terus bersujud pada Sang Buddha. Sang Buddha bertanya: “Orang tua, berapa umur anda sekarang?” Dengan tangan gemetar, orang tua mengisyaratkan dengan dua telunjuknya dan berkata: “Dua ratus tahun.”

Sang Buddha berkata: “Usia anda sudah sedemikian lanjutnya, apa urusan anda mencari saya?” Orang tua menjawab: “Sang Buddha, apa sebetulnya karma yang pernah saya ciptakan dulu, mengapa saya harus hidup sedemikian lamanya? Sejak kecil sampai sekarang, saya terus menjalani kehidupan yang miskin dan penuh siksaan. Saya benar-benar ingin terbebaskan darinya, namun urusan hidup dan mati bukan urusan sepele, saya tidak bisa merubah suratan takdir. Mengapa kehidupan saya sedemikian miskin dan penuh hambatan?”

Sang Buddha berkata kepadanya: “Semuanya merupakan hukum karma. Pada masa kehidupan lampau, anda adalah seorang kaya, namun sangat kikir. Ketika ada orang miskin mengemis pada anda, anda tetap tidak mau berdana. Itu sebabnya, walau usia kehidupan anda sekarang sangat panjang, namun kehidupan anda penuh dengan siksaan.” Setelah mendengarnya, orang tua berkata dengan penuh rasa malu: “Ternyata saya sangat kikir dan serakah dalam masa kehidupan lampau, makanya kehidupan sekarang sangat miskin dan menderita. Saya mohon agar Sang Buddha mau menerima saya sebagai murid, agar saya dapat mempergunakan sisa hidup ini untuk bertobat dan membina diri baik-baik, semoga dalam masa kehidupan mendatang, saya berkesempatan untuk mendengarkan ajaran Buddha pada masa masih sangat muda sekali.”

Sang Buddha berkata: “Dalam membina diri tidak membedakan tua atau muda, orang muda boleh membina diri, orang tua juga boleh membina diri; mulai dari sekarang, anda harus berikrar untuk melepaskan kekikiran dan keserakahan, serta memupuk hatin rela bersumbangsih dengan suka cita, anda harus berusaha semampunya untuk menjalin jodoh baik dengan lebih banyak orang.” Orang tua menjawab: “Sang Buddha, saya pasti menjalankan ajaran Anda.” Pada waktu itu juga, Sang Buddha menerima orang tua itu sebagai murid dan menjadi Bhikkhu.  

Kenal puas mendatangkan kehidupan yang bahagia

Lihat pada kisah ini, coba pikirkan jika seseorang hidup panjang umur, apakah hari-harinya dapat dilalui dengan baik? Tidak semuanya begitu! Segala kerisauan bersumber pada keserakahan, kebencian dan kebodohan. Contohnya adalah perampokan atau penculikan yang terjadi dalam masyarakat, mengapa penjahat melakukannya? Sebagian besar karena “serakah”.

Sebetulnya dalam kehidupan ini, satu atau dua mangkuk nasi dalam sekali makan sudah cukup, beberapa kaki panjang bahan kain sudah cukup untuk menghangatkan tubuh, ranjang seluas tiga kali enam kaki sudah cukup untuk tidur nyenyak. Dari itu, asal mau bekerja keras, setiap orang tentu bisa hidup dengan baik, mengapa harus merampok atau mencuri?

Saya sering mengatakan: “Hukuman terberat dalam kehidupan adalah penyesalan.” Jika seumur hidup tidak pernah melakukan hal yang mendatangkan penyesalan, itulah kehidupan paling bahagia; sebaliknya, jika niat pikiran tidak terjaga dengan baik, begitu keserakahan dan kebencian timbul dalam batin, tentu akan berbuat kejahatan, ingin menyesal juga sudah terlambat.

Tidak menyebut lelah, hanya ada bahagia

Kita datang ke dunia ini harus memiliki panggilan jiwa, harus hidup demi bekerja, bukan bekerja demi hidup. Hidup demi bekerja adalah bersumbangsih demi orang banyak; jika bekerja demi hidup, maka kehidupan akan terasa sangat tidak berdaya! Banyak orang baru bekerja beberapa tahun sudah merasakan gejala kelelahan profesi, berteriak capek dan susah; akan tetapi di dalam dunia Tzu Chi, tiada ucapan “lelah”, hanya ada ucapan “bahagia”.

Tak peduli seberapa banyak pun pekerjaan, insan Tzu Chi tetap melakukannya dengan sangat ikhlas, itu sebabnya saya tidak pernah mengatakan kalau mereka telah bekerja dengan melelahkan, melainkan sangat “Bahagia!”, begitu mereka mendengarnya akan dengan otomatis akan membalas dengan perkataan: “Memuaskan!” Inilah kehidupan yang hidup demi bekerja. Jika terpaksa harus bekerja demi hidup, biasanya belum bekerja sudah terasa sangat melelahkan, ini disebabkan oleh perbedaan “konsep pemikiran”.

Jika seseorang memiliki hati berterima kasih, dia tentu akan tahu untuk membalas kebaikan orang; jika dalam hati memiliki cinta kasih, dia tentu akan menciptakan keberkahan bagi orang banyak. Bukankah masyarakat dan kehidupan seperti ini akan sangat indah?

※ Dikutip dari buku “Aku cinta keluargaku” karangan Master Cheng Yen
 
兩百歲老人的故事
 
人生是苦是美,要看站在什麼角度去看、用什麼心情去感受而定。若是站在感恩的角度、抱著知足惜福的心境,那麼每天所看到的一切,都會是很美的景致。因此,我們要時時保有一顆感恩與知足的心。

依教奉行 捨去慳貪

有一次佛陀在王舍城的竹林精舍說法時,忽然外面傳來一陣吵雜聲,佛陀就對阿難說:「你出去看看外面的聲音是怎麼回事?」阿難走到外面時,看到一位駝背、拄著枴杖的老人,一直要求守門人讓他進去見佛陀一面。

守門人告訴他:「佛陀現在正在講經,你老人家耳朵重聽,佛陀講經你聽不懂;而且你走路又不方便,進去會引起騷動。」老人說:「我的年紀這麼大,今天若見不到佛陀,以後可能就再也沒有機會。請你好心讓我進去見佛陀一面好嗎?」但是,守門人仍然不肯讓老人進去。

阿難聽了,便進去告訴佛陀這件事,佛陀慈悲地說:「趕快扶那位老人家進來。」於是,阿難很恭敬地扶老人來到佛陀的座前。老人見到佛陀時很高興,淚流滿面地一直向佛陀叩拜。佛陀問:「老人家,你今年幾歲了?」老人用顫抖的手比了兩指,說:「兩百歲了。」

佛陀說:「你年紀這麼大,找我有什麼事情呢?」老人說:「佛陀,我到底造了什麼業,為什麼讓我活這麼久?從小到現在,我一直過著貧苦且受盡折磨的生活。我真想解脫,但是生死事大,我不能自己改變命運。為什麼我的人生會這麼貧窮、坎坷呢?」

佛陀告訴他:「一切都是因緣。你過去生原本是一位 富有的人,但卻視財如命。有窮人來向你乞討時,你總是吝於布施。所以,你這一生雖然長壽,生活卻受盡各種折磨。」老人聽了,很慚愧地說:「原來我過去生很 慳貪,這一生才會如此貧窮、坎坷!我想請求佛陀收我為弟子,讓我盡此生好好懺悔、修行,來生能在年少時就能 聽聞佛法。」

佛陀說:「修行當然不分老少,年輕人能修行,老人也能修行;從現在開始,你要發願捨去慳貪、培養喜捨之心,盡量廣結善緣。」老人說:「佛陀,我一定依教奉行。」於是,佛陀就讓那位兩百歲的老人出家,收他為弟子。

知足常樂 幸福人生

看了這則故事,想想一個人活得長壽,日子是不是很好過呢?不盡然!一切煩惱,皆因貪瞋癡而起。例如社會上所發生的搶劫、綁架等事件,歹徒為的是什麼呢?大都是因為「貪」。

其實人的生活一餐一、兩碗飯就夠;身體只需幾尺布就能不受寒凍;三尺寬六尺長的床就能睡得很安穩。所以,只要肯認真努力,每個人都可以生活得很好,為什麼要去搶、去偷呢?

我常說:「人生最大的懲罰是後悔。」如果一生從沒做過後悔的事,就是最幸福的人;反之,如果心念沒有照顧好,貪瞋心一起而做錯事,後悔就來不及。

不喊辛苦 只有幸福

我們來到這世間一定要有使命感,要為工作而生活,不要為生活而工作。為工作而生活,就是為人群付出;如果是為生活而工作,人生會很無奈!有很多人才工作沒幾年,就有職業倦怠症,喊累、喊辛苦;但在慈濟世界裡,沒有「辛苦」這兩個字,只有「幸福」。

慈濟人不管有多少工作量,大家都很甘願地投入其中。所以,我都不說他們工作很辛苦,而會說很「幸福!」,他們聽到時,也都會自然地回答:「美滿!」這就是為工作生活的人生。如果是為生活不得不工作,往往還沒開始工作就覺得很累,這是因「觀念」不同所致。

一個人若有感恩心,就會懂得回饋;心中有愛,就會造福人群。這樣的社會和人生,是不是很美麗?

本文摘自:證嚴上人著作《吾愛吾家
 

Menyalakan pelita hati orang agar bumi dipenuhi dengan cahaya terang

“Dunia Tzu Chi” bagai sebuah pentas dalam kehidupan manusia, di mana setiap orang mengambil sebuah peranan yang penting, setiap pemeran merupakan “dewa penolong” dan “faktor pendukung” antara satu sama lainnya, setiap orang selain dapat menyalakan pelita dalam hati sendiri, juga dapat menyalakan pelita dalam hati orang. Jangan meremehkan cahaya dari sebuah pelita kecil atau sebatang lilin kecil, sebab jika cahaya dari jutaan pelita dan lilin dikumpulkan jadi satu, akan dapat menciptakan sebuah dunia yang terang tiada terhingga.

Menyalakan pelita hati agar kegelapan berubah menjadi terang benderang

Dahulu ada seorang samanera cilik yang sedang mengikuti gurunya membina diri di atas sebuah gunung terpencil. Suatu hari, samanera kecil bertanya kepada guru: “Guru, bagimana caranya agar hati saya berubah terang benderang dan pintu kebijaksanaan terbuka?” Guru hanya menjawab dengan sepatah kata: “Nyalakan pelita hatimu --- cahaya lilin di dalam hatimu!” Samanera kecil merasa sangat bingung dan berpikir: “Guru mengajarkanku agar menyalakan cahaya lilin dalam hati, namun entah bagaimana caranya baru dapat memahami maksud sesungguhnya dari guru?”

Tak lama kemudian, guru meninggal dunia. Samanera cilik perlahan-lahan tumbuh dewasa, dia membangun sebuah lahan pelatihan baru dan menerima banyak murid. Lahan pelatihan ini memiliki sebuah ciri khas, yaitu pada sudut aula setiap harinya ditambahkan sebuah pelita, setiap kali satu pelita dinyalakan, aula akan semakin terang sedikit.

Sampai ketika usianya mencapai 70 tahun dan mendekati akhir hayatnya, dia membuka mata dan memandang pada cahaya pelita di dalam ruangan aula, kemudian menggoyangkan kepalanya dan berkata: “Guru mengajarkan agar saya menyalakan pelita hatiku. Saya telah menyalakan cahaya pelita dalam satu ruangan ini, namun saya tidak tahu seberapa banyak cahaya yang sudah saya nyalakan dalam hatiku?” Dia berbicara pada diri sendiri dengan nada penyesalan.

Namun ketika akan menghembuskan nafas terakhirnya dan kembali membuka mata untuk melihat pada semua cahaya itu, akhirnya dia dapat tersenyum dan berkata kepada para muridnya: “Cahaya di luar adalah terangnya lubuk hati. Wahai murid-muridku! Asal kalian setiap orang dapat ke luar untuk meneruskan pelita, maka dunia penuh kegelapan ini akan berubah menjadi dunia yang terang benderang. Wahai murid-muridku! Kalian semua harus seperti saya, jangan pernah meremehkan sebuah pelita kecil.”
 
Semua orang jangan pernah meremehkan sebuah pelita sekecil apa pun! Saya berharap setiap orang bukan saja menyalakan pelita dalam hati sendiri, juga harus terus menerus menyalakan pelita dalam hati orang lain. Saya berharap setiap orang dapat menyalakan sepuluh pelita hati orang lain, sepuluh orang dapat menyalakan seratus pelita hati orang lain, seratus orang dapat menyalakan seribu pelita hati orang lain, sehingga cahaya dari dunia Tzu Chi dapat mencapai setiap pelosok di dunia ini dan membuat dunia ini penuh dengan cahaya tanpa batas!

Dikutip dari buku “Tiga jalan menuju tanah suci” karangan Master Cheng Yen
 
點亮他人心光 燭光照耀大地
 
「慈濟世界」像個人生大舞臺,每個人都扮演著重要的角色,每位演出者都是彼此的「貴人」和「助緣」,除了點燃自己的心燈,也點亮他人的心燈。不要輕忽任何一盞小燈或一支小蠟燭的光亮,因為凝聚千千萬萬的燈火燭光,可以造就無量光明世界!

點亮心燈 黑暗變光明

以前有一個小沙彌尼,跟隨師父在深山裡修行。有一天,小沙彌尼問師父:「師父,如何才能使我心地光明、智慧開啟?」師父只告訴他一句話:「點亮你的心燈──心中的燭光!」小沙彌尼非常迷惑心想:「師父教我點亮心中燭光,不知道該怎麼做才能體會師父真正的意思?」

不久,師父往生,沙彌尼也慢慢長大,另外興建一所道場,並且度化許多弟子。這個道場有個特色,就是在大殿的角落裡,每日增加一盞燈,每點燃一盞燈,大殿就增加了一分光明。

一直到他七十歲即將往生時,他睜開眼睛看了一眼滿屋的燈火,然後搖搖頭說:「師父開示要我點亮心燈。我點亮了滿室的燈火,然而到底點亮了我內心幾分光明呢?」他對自己喃喃自語的慨嘆著。

但是當他即將嚥下最後一口氣,又睜開眼睛看了看所有的燭光,終於微笑著對弟子說:「室外的光,就是內心的明。弟子啊!只要你們每一個人再出去傳燈,這個黑暗的世界就會變成光明的世界。弟子們!大家要跟我一樣,不可輕視每一盞小燈!」

大家不要輕視小小一盞燭光!希望大家除了將自己的心燈燭光點燃之外,還要不斷點亮他人的心光。希望每一位都能一傳十、十傳百、百傳千,將慈濟世界的燭光遍布世界各角落,那麼這個世界將充滿無限光明!

本文摘自:證嚴上人著作《淨因三要

Catatan perjalanan tuan cilik mencari harta

Segala sesuatu di dunia ini tidak kekal adanya, demikian juga dengan manusia. Ketika batin damai, tentu lingkungan sekitar akan aman dan indah, namun jika lingkungan sekitar tidak selaras, manusia tentu tidak akan aman lagi. Dari itu, Sang Buddha selalu mengajarkan kepada para murid agar senantiasa menjaga kondisi batin tetap damai, sedangkan kedamaian hati sendiri datang dari keinginan yang sedikit dan tahu puas, puas atas apa yang telah ada, dengan demikian barulah kehidupan dapat dijalani dengan nyaman dan leluasa.

Takut harta terjatuh ke tangan orang, lalu menggali lubang untuk menyembunyikan barang berharga

Pada zaman dahulu kala, hidup dua orang tuan tanah sebagai pemilik lahan tanah yang luas. Salah seorang tuan tanah ini menikahi seorang wanita belia yang kemudian melahirkan seorang putera. Suatu hari, tuan tanah ini berpikir: “Usiaku sudah lanjut, kalau-kalau saya meninggal dunia dan isteriku menikah lagi, tentu hartaku akan terjatuh ke tangan orang lain. Jika demikian adanya, bagaimana dengan anakku di kemudian hari?” Selanjutnya, dia memberitahukan kekhawatirannya ini kepada pengurus rumahnya, dia juga mendapatkan satu ide dan berkata: “Coba kamu kumpulkan semua barang berharga, kemudian ikuti aku dengan membawa semuanya ke hutan untuk disembunyikan dengan cara dikubur.”

Sesampainya pada suatu tempat di dalam hutan, tuan tanah berkata kepada pengurus rumahnya: “Tempat ini cukup bagus, mari kita menggali lubang di sini.” Tuan dan pesuruhnya ini kemudian menggali sebuah lubang besar, setelah menguburkan sekereta barang berharganya, mereka membuat sebuah tanda di atasnya. Sewaktu pulang, tuan tanah meminta kepada pengurus rumahnya: “Aku berharap kamu dapat merahasiakan hal ini, nanti setelah aku meninggal dunia dan puteraku sudah tumbuh dewasa, baru kamu bawa dirinya ke sini untuk mengambil semua barang berharga ini.” Pengurus rumah yang setia ini segera menyanggupi permintaan tuannya.

Tak lama setelah itu, tuan tanah ini jatuh sakit dan meninggal dunia, beberapa tahun kemudian putera tuan tanah telah tumbuh dewasa, ibunya lalu mengatakan kepadanya: “Ibu tahu kalau ayahmu memiliki banyak barang berharga dan sepertinya pernah disembunyikan di suatu tempat bersama dengan pengurus rumah kita. Menurut ibu, usiamu sudah cukup dewasa dan dapat menjadi kepala keluarga ini, kamu semestinya bertanya kepada pengurus rumah, apakah dapat mengambil harta tersebut untuk dipergunakan sebagai modal memperluas bidang usaha keluarga kita.”

Mendengar perkataan ibunya ini, suatu hari tuan cilik bertanya kepada pengurus rumah: “Kabarnya ayahku dulu pernah menanam barang berharga bersama anda, di manakah tempatnya?” Pengurus rumah menjawab: “Benar! Ketika tuan tua masih hidup, beliau pernah memintaku untuk menyertainya dalam melakukan hal ini.” Tuan cilik berkata: “Kalau begitu harap anda membawaku ke sana untuk mengambil barang berharga tersebut.” Pengurus rumah menganggap bahwa hal ini memang sudah seharusnya, maka dia membawa tuan cilik ke tempat penguburan barang berharga.  

Namun setibanya di sana, pengurus rumah tiba-tiba berpikir, harta ini adalah milik tuan tua, jika tuan cilik mengambil harta ini, lalu menikmati kekayaan ini bersama ibunya, sungguh tidak dapat diterima! Maka pengurus rumah berpura-pura tidak waras dan marah-marah. Tuan cilik merasa aneh, mengapa begitu sampai di sini, emosinya tiba-tiba berubah? Akan tetapi, dia tetap menahan diri dan berkata: “Kalau hari ini tidak ditemukan, juga tidak apa-apa, mari kita pulang saja!” Dia kemudian membawa pulang pengurus rumah dengan baik-baik.

Beberapa hari kemudian, dia melihat pengurus rumah sudah normal kembali dan selalu memberi hormat kepadanya, maka dia berkata: “Pengurus rumah, hari ini marilah kita kembali mencari barang berharga tersebut!” Pengurus rumah dengan tenang mengikuti tuan cilik meninggalkan rumah, namun sesampainya di tempat itu, kembali timbul ketidak relaan dalam hatinya untuk menggali barang berharga, dia kembali marah-marah sembarangan. Tuan cilik tidak dapat berbuat apa-apa dan terpaksa membawanya kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, pengurus rumah kembali pada sikapnya yang sangat hormat dan sangat penurut kepada tuan cilik

Tahu memanfaatkan materi dan mempergunakan pusaka dalam kehidupan.

Tuan cilik merasa sangat galau, suatu hari dia berkunjung pada tuan tanah satunya lagi. Dia pikir, ayahnya dulu bersahabat baik dengan tuan tanah ini dan hubungan mereka sangat akrab, mestinya tahu sedikit tentang permasalahannya. Sesampainya di sana, dia bercerita dari awal sampai akhir kepada tuan tanah itu. Tuan tanah ini dengan bijak berkata kepadanya: “Kamu bawa dia kembali ke sana. Sesampainya di sana, lihat pada posisi mana dia mulai marah-marah padamu, tempat itu pasti merupakan lokasi penyimpanan barang berharga.”

Tuan cilik merasa perkataan ini sangat beralasan, maka dia kembali membawa pengurus rumah ke sana. Setibanya di sana, pengurus rumah kembali marah-marah, dia lalu mengatakan kepada pengurus rumah: “Biar bagaimana pun, sekarang anda bantu aku menggali tempat ini.” Ternyata sebentar saja sudah menemukan barang berharga yang telah terkubur banyak tahun.

Setelah menemukan barang berharga, tuan cilik merasakan kalau semua harta benda ternyata membawa marabahaya. Sebelum memilikinya, hari-hari dapat dilalui dengan tenang, setelah memilikinya, apa yang harus dilakukan? Ketika teringat emosi pengurus rumah menjadi tidak labil setibanya di sini, bagaimana pula dengan orang lain nanti? Maka, dia lalu membereskan barang berharga ini dan kemudian semuanya diamalkan pada banyak orang.

Kisah ini memberitahukan kepada kita kalau memiliki banyak dalam kehidupan ini belum tentu berbahagia, melainkan harus tahu memanfaatkan materi dan mempergunakan hak pakai dari kehidupan dengan baik, ini baru merupakan pusaka sesungguhnya di dalam kehidupan.

Dikutip dari buku “Aku cinta keluargaku” karangan Master Cheng Yen
 
小主人的尋寶記
 
天地萬物無常,人也是一樣。在平靜的時候就是平安、美好的境界;境界一不調和,人就不安。因此,佛陀經常教育弟子們要時時保持一分寧靜的心,而心的寧靜,來自於少欲知足、安於本分,如此,人生才能過得安樂自在。

財產落入他人手中 挖洞藏寶物

在久遠以前,有一處山城住著兩位大地主。其中一位大地主,娶了一個很年輕的太太,兩人生了一個兒子。有一天,這位大地主心想:「我年紀大了,萬一我走了、她再嫁人,我的財產就會落到別人手中。這樣的話,我的 孩子將來怎麼辦?」後來,他告訴管家心中所擔心的事,並且想一個主意說:「你將我所有的寶物都收起來,然後跟著我載去山林中埋藏起來。」

他們來到山林中某個地方時,這位大地主就對管家說:「這個地方不錯,我們趕快來挖洞。」主僕兩人挖了一個大洞,將整車的寶物埋好之後,在上方做了一個記號。 要回去時,這位大地主要求管家說:「今天的事希望你要幫我保密,等我往生、兒子長大後,你再帶他來這裡挖取這些寶物。」這位忠心耿耿的管家,立刻答應主人 的要求。

不久,這位大地主生病往生,幾年之後,大地主的兒子已經長大成人,母親便對他說:「我知道你父親有很多寶物,好像和管家拿去哪裡藏起來。我想,你的年紀可以當一家之主了,你應該去問問管家,看看是否能把那些財產取出來,好好大興家業。」

小主人聽了母親的話後,有一天就問老管家:「聽說我父親曾跟你一起去埋藏寶物,它們藏在哪裡呢?」老管家說:「是啊!老主人在時,曾叫我跟他去做這件事。」小主人就說:「那你帶我去把那些東西取出來。」老管家認為這是應該的,就帶著小主人去埋藏寶物的地方。

到了那裡,老管家忽然生起一個念頭,這些財產是老主人的,如果讓小主人把財產取走,跟他的母親一起享受,實在不服氣!於是,老管家就故意裝瘋賣傻,開口就亂 罵人。小主人覺得很奇怪,為什麼老管家來到這裡後,性情忽然就變了?不過,他還是忍住氣說:「你今天找不到地點沒關係,我們回去吧!」然後很溫順地帶老管 家回去。

過了幾天,他看老管家的精神已恢復正常,對自己必恭必敬,就又對他說:「老管家,我們今天再去找那些寶藏吧!」老管家平靜地跟著 小主人出去,但是一到了那裡,又生起捨不得挖開寶藏的心念,還是一樣口出惡言亂罵。小主人很無奈,只好再把他帶回家。一回到家,老管家又回復對小主人必恭 必敬、百依百順的態度。

懂得應用物質 善用人生至寶

小主人很懊惱,有一天,他就去拜訪城中另一位大地主。他心想父親跟這位伯父是世交、感情很好,應該會知道些什麼。到了那裡,他就將一切經過告訴這位大地主。這位大地主很有智慧地告訴他:「你再帶他去。到了那裡,你看他站在哪個地方罵你,那個地方一定就是寶物埋藏的地方。」

小主人覺得伯父說的話有道理,於是就再帶老管家前往。到了那裡,老管家同樣站在原地罵人,他就對老管家說:「不管怎樣,你現在跟我一起從這裡挖下去就對了。」果然,不久就挖出埋藏多年的寶物。

寶物挖出後,小主人覺得一切財物都隱藏著危機!沒有它們的時候,日子過得很平靜;擁有的時候,到底要做什麼呢?想到老管家站在那裡心就變了樣,何況是其他人呢?因此,他決定將這些寶物整理之後,做大布施。

這個故事告訴我們,人生不是擁有很多就是幸福,而是要懂得如何應用物質,善用生命的使用權,這才是人生真正的至寶。

本文摘自:證嚴上人著作《吾愛吾家

Sabtu, 04 Agustus 2012

Kakek dan Pencuri

Dalam belajar ajaran Buddha, kita harus belajar menyadarkan diri sendiri dan orang lain.
Dalam “menyadarkan diri sendiri”, harus senantiasa melakukan refleksi pada aktifitas tubuh, ucapan dan pikiran, jika ada tutur kata atau prilaku yang kurang pantas atau salah, maka kita harus memecut diri sendiri agar di kemudian hari dapat lebih bersungguh hati lagi.

Sedangkan dalam “menyadarkan orang lain”, harus memberi bimbingan sesuai kesempatan yang ada dan kemampuan batin setiap orang, Sang Buddha mengatakan bahwa semua makhluk memiliki 84 ribu macam kerisauan dan pemikiran setiap orang tidaklah sama, karena tidak sama, maka dalam membimbing semua makhluk harus mempergunakan metode yang disesuaikan dengan kemampuan batin setiap makhluk, juga pada waktu dan tempat yang sesuai pula, sehingga ajarannya dapat terserap ke dalam batin, dengan demikian baru merupakan ajaran yang baik. Intinya adalah mesti benar-benar terserap ke dalam batin semua makhluk.
Ada sebuah kisah yang terjadi pada suatu desa di Nara Jepang ---

Pada sebidang tanah yang lapang dan kosong, berdiri sebuah rumah yang didiami oleh kakek Seikuro dan anak perempuannya.

Pada suatu malam di musim dingin, di mana salju turun dengan disertai angin kencang, sehingga udara dingin masuk ke rumah melalui lubang bolong di dinding. Sepasang ayah dan anak ini sudah pun tertidur dengan lelap, sedangkan hujan salju di luar turun semakin lebat.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan dua orang berjingkat-jingkat masuk ke dalam rumah. Begitu mendengar suara dengkur dari penghuni rumah, mereka dengan tenang mencari-cari barang berharga, tetapi ternyata hanya menemukan dua karung padi. Ketika hendak ke luar dengan masing-masing memanggul sekarung padi, kakek Seikuro tiba-tiba batuk dan terbangun, saat menemukan ada orang di luar pintu, dia bertanya: “Siapa?” Mendengar pertanyaan ini, kedua pencuri terkejut dan terjatuh. 

Kakek Seikuro berdiri dan ke luar rumah, ketika melihat ada dua orang tergeletak di atas tanah, dia berkata dengan suara sangat tenang: “Di luar badai salju sangat besar, karena anda berdua telah datang bertamu di tengah malam, mari masuk untuk minum secangkir teh hangat!”
Mendengar perkataan itu, kedua pencuri itu saling pandang dan berpikir dalam hati: Kakek ini sudah pun tahu kami adalah pencuri, mengapa masih bersikap demikian baik pada kami? Benar-benar orang bodoh!

Kakek menyapa mereka dengan ramah: “Mari masuk! Di luar sangat dingin, mari!” Pencuri menganggap kakek sudah pikun, jadi tidak perlu ditakuti, mereka lalu masuk dengan lenggang sombong. Kakek lalu membangunkan anak perempuannya, memintanya untuk memasak air dan menyeduhkan teh.

Kakek berkata kepada pencuri: “Saya sungguh merasa kurang enak di hati, sebab dalam udara sedemikian dingin, masih harus merepotkan kalian untuk datang ke mari, sungguh terima kasih sekali!” Pencuri merasa heran mendengarnya dan berpikir dalam hati: Anda jelas-jelas tahu kalau kami adalah pencuri, mengapa harus meminta maaf dan berterima kasih kepada kami?

Salah seorangnya lalu bertanya: “Bapak tua, tahukah anda apa tujuan kami ke sini?” Kakek menjawab: “Tahu! Namun maaf sekali, walau pun saya memiliki sedikit lahan sawah, namun tahun ini hasil panen kurang baik, sehingga hanya memperoleh dua karung padi ini. Dulu saya pernah berhutang pada kalian, jadi sudah seharusnya saya bayar, sungguh merepotkan kalian untuk datang begitu jauh mengambilnya, benar-benar berterima kasih sekali pada kalian!”

Saat ini anak perempuannya datang dengan membawa teh hangat, kakek berkata: “Udara begitu dingin, mari minum teh hangat!” Kedua pencuri itu merasa sangat malu di hati, kemudian bertanya: “Kapan anda pernah berhutang kepada kami?”

Kakek berkata: “Mungkin di masa kehidupan lampau! Jika dulu tidak pernah berhutang dan tidak bayar, kalian tentu tidak akan datang ke sini malam-malam begini; lagipula di desa ini ada begitu banyak rumah orang kaya, ternyata kalian malah datang ke tempat terpencil ini, sudah tentu kita ada jalinan jodoh.”

Pencuri satunya lagi yang sedari tadi diam membisu, saat ini tidak dapat menahan diri dan segera berlutut, dia berkata dengan penuh hormat: “Sungguh malu sekali! Lama mendengar cerita di desa bahwa Bapak Seikuro adalah orang baik yang memperlakukan orang lain dengan tulus, kami malah menganggap anda sebagai orang bodoh, benar-benar sangat malu sekali!”

Kemudian dia melanjutkan: “Saya juga pernah mencoba untuk menjadi orang baik-baik, namun sulit sekali untuk memulai dari awal, hidup sudah sedemikian susah, bagaimana mungkin dapat berbuat kebajikan pula?”
Kakek berkata: “Kehidupanku juga sangat susah, namun hari-hari tetap dapat dilewati dengan baik. Sebetulnya, kehidupan miskin sangat menyenangkan, sebab tiada ganjalan batin, nyaman dan bebas dari kerisauan, ini adalah kehidupan yang paling bebas tanpa kekangan.”
Kedamaian dan keleluasaan yang ditampilkan dari dalam  lubuk hati kakek ini membuat pencuri merasa sangat terharu, lalu berpikir dalam hati: Bapak tua ini menangani masalah dengan tenang dan penuh penguasaan diri, lagipula dapat bersikap begitu suka cita dalam menghadapi kemiskinan, pengasuhan dirinya tentu sangat hebat. Maka dia bersujud di lantai dan berkata: “Akhlak anda demikian tingginya, saya ingin berguru pada anda, mohon anda menaruh wela asih dan menerima diriku!” Pencuri lainnya juga berkata: “Saya juga ingin belajar jadi orang baik-baik, harap anda juga menerimaku sebagai murid!”  

Kakek berkata dengan rendah hati: “Saya sama seperti kalian juga sedang belajar, mari kita sama-sama belajar, saling memecut diri dan memberi dorongan  satu sama lainnya!” Dikarenakan kedua orang ini memang sangat ingin menjadi orang baik-baik, mau menghormati guru dan mengikuti ajarannya, maka keduanya bersujud dengan sangat hormat dan mengangkat kakek sebagai guru mereka.

Ternyata kakek Seikuro adalah seorang umat Buddha yang dalam kesehariannya memang sangat bersungguh hati dan giat membina diri, dia selalu memperlakukan orang dengan hati tulus dan penuh cinta kasih, maka ketika kondisi buruk timbul di hadapan, dia tetap dapat menjaga ketenangan diri, dia berhasil mengembangkan kebijaksanaan dan kewelas asihan untuk membimbing orang sesuai kemampuan batinnya, sehingga berhasil menyadarkan kedua pencuri itu untuk menuju ke jalan yang benar.

Penguasaan diri dan kebijaksanaan diri ini berasal dari pembinaan diri dalam keseharian yang giat tanpa kenal kendur. Dalam pembinaan diri memang harus dimulai dari diri sendiri, jika batin sendiri sudah dapat diselaraskan, tak peduli bertemu dengan kondisi bagaimana pun, tetap akan dapat menenangkan diri, serta mengembangkan kebijaksanaan untuk merubah hal tidak baik menjadi hal baik. Dari itu, dalam keseharian, kita harus setiap saat melakukan refleksi diri dan lebih bersungguh hati lagi!
老先生與小偷
學佛要學習自度、度人,「自度」必須時刻反省自己的身、口、意三業,若言行不當或有過失,則必須鞭策自己更用心。

「度人」則必須應機施教,佛陀說眾生有八萬四千煩惱,人人的心念都不同,既然不同,就必須因時因地、運用適合眾生根機的方法來化導眾生,使教法深入其心,如此才是妙法!關鍵是,必須真正深入眾生的心。

有一個故事發生在日本奈良鄉下──

在那片廣漠的土地上,有一間孤伶伶的屋子,住著青九郎老先生和他的女兒。

某個嚴冬的夜裡,風雪交加,寒風從屋子牆壁的破洞鑽進屋內。這對父女都睡得很沈,而外面的風雪愈來愈大。

忽然,小屋的門開了,兩個人躡手躡腳地潛入。他們聽到沈沈的鼾聲,就很安心地到處翻找東西,卻只找到兩包稻米。當他們各自揹一包稻米向門外走去時,青九郎老先生突然咳了一聲,醒了,他發現門外有人,問道:「是誰啊?」小偷聽到這突然的一問,嚇了一跳,腳沒踩穩就跌倒了。

老先生起身走到門外,看到兩人跌倒在地,很平靜地說:「外面風雪這麼大,兩位半夜來造訪,趕緊進來喝一杯熱茶吧!」
兩個小偷聽了,面面相覷,心想:這老先生明知我們是小偷,為何對我們這麼好?分明是個傻瓜嘛!

老先生又親切地招呼他們說:「進來啊!外面這麼冷,來吧!」小偷以為他是個癡呆老人,沒什麼好怕的,於是大搖大擺地走進屋裡。老先生果然喚醒女兒,要她燒水泡茶。

老先生對小偷說:「實在很不好意思,這麼冷的天氣還勞駕你們來這裡,感恩你們!」小偷聽了覺得莫名其妙,心想:你明明知道我們來偷東西,為何向我們道歉、感恩呢?

其中一位就問說:「老先生,你知道我們來這裡做什麼嗎?」老先生說:「知道啊!但是很抱歉,我雖然有兩分多的田地,可是今年欠收,總共才收了這兩包稻米。過去欠你們的,原本就應該還,勞駕你們跑這麼遠來拿,真的很感恩你們!」

此時,女兒端著熱騰騰的茶出來了,老先生就說:「天氣很冷,來,喝個熱茶吧!」兩個小偷打從心裡覺得慚愧,剛才那位又問說:「你何時跟我們借過東西呢?」

老先生說:「可能是在過去生吧!如果以前沒有欠債不還,你們也不會在這麼晚的時候來到這裡;而且村裡有那麼多有錢人家,你們卻偏要來這荒蕪之地,可見一定是有因緣的啊!」

另一個一直沈默不語的小偷,這時再也忍不住了,他跪下來,並且五體投地說:「真的很慚愧!村裡盛傳青九郎老先生是誠懇待人的大好人,而我們卻以為您是傻瓜,實在很慚愧!」

他接著又說:「我也曾想重新做人,但是要從頭開始談何容易啊!生活都有困難了,如何做善事呢?」

老先生說:「我的生活也很困難,可是日子一樣可以過啊!其實,清貧的生活很舒服,因為心無掛礙、輕安自在,這是最逍遙的人生。」

老先生這分從內心流露出來的安詳自在,讓這位小偷 很感動;他心想:老先生處事泰然,具足定力,而且對清貧的生活如此甘之如飴,內心的修養一定很深厚!於是叩頭禮拜,說:「您的品德這麼崇高,我希望能拜您 為師,請您一定要慈悲接受!」另一位小偷也說:「我也很想學好,請您也收我為徒!」

老先生謙虛地說:「我和你們一樣還在學習中,我們一起來學,相互鞭策鼓勵吧!」由於這兩個人決心改過向善、尊師奉道,所以很恭敬地叩頭,禮拜老先生為師。

原來青九郎老先生是位佛教徒,平時修行非常用心、精進,待人誠懇也很有愛心,所以逆境現前時具足定力,發揮智慧與慈悲來觀機逗教,感化兩個小偷回心向善。

這分定力與智慧,來自於平時精勤不懈的自我修養。修行一定要從自己做起,心若調整得好,不論遇到什麼狀況都能鎮定面對,並且發揮智慧將惡事轉往善的方向。所以,平日一定要時刻反省,要多用心

Paras tidak penting, cinta kasih dan kebijaksanaan lebih penting

Sejak zaman dulu, setiap orangtua pasti sayang pada anak-anaknya; namun ada sebagian kecil orang yang melanggar norma alamiah ini, mereka bukan saja tidak sayang pada anak-anak mereka, bahkan menelantarkan anak-anak mereka. Di RS Tzu Chi pernah terjadi kasus demikian.

Dengan segenap kemampuan menyayangi kehidupan kecil, tidak membunuh dan tidak meninggalkannya

Beberapa tahun lalu, ada staf dari Bagian Pelayanan Masyarakat RS Tzu Chi memberitahukan kepada saya, di kamar bayi ada seorang bayi tanpa otak, kehidupannya diperkirakan hanya akan bertahan sekitar setahun saja. Disebabkan ibu bayi ini belum menikah, maka setelah melahirkan, dia mengatakan bahwa dirinya tidak menginginkan bayinya.
 
Saya meminta para staf dari Bagian Pelayanan Masyarakat untuk sepenuh hati memberi bimbingan kepadanya, jikalau pun bayi ini hanya memiliki masa kehidupan selama satu tahun, namun dia seharusnya menunaikan kewajiban sebagai seorang ibu untuk menyayangi kehidupan kecil ini. Kemudian wanita ini menelpon pulang ke rumahnya, ternyata ibu dan abang tertuanya menyatakan padanya agar jangan menelantarkan bayi ini. Di bawah bimbingan tanpa kenal henti dari para staf dari Bagian Pelayanan Masyarakat dan relawan Tzu Chi, akhirnya berhasil membujuk ibu muda ini untuk membawa pulang bayinya dan diasuh. Seorang bayi yang baru lahir hampir saja disia-siakan oleh orangtuanya, lagipula kehidupannya paling banyak hanya akan bertahan selama satu tahun, betapa menyedihkannya!

Tak berapa lama kemudian, saya kembali melihat sebuah laporan berita, ada sepasang suami isteri yang setelah melahirkan seorang bayi yang menderita lumpuh otak, ternyata sang suami memutuskan untuk tidak menginginkan anaknya, dia kemudian diadukan ke pengadilan dan mendapatkan hukuman penjara selama lima tahun, sebab dia dianggap bersalah telah menyia-nyiakan dan membunuh nyawa manusia, ini adalah masalah dalam masyarakat sekarang.

Cinta kasih harus setara, balasan karma bagaikan bayangan yang selalu mengikuti

Pada masa Sang Buddha masih hidup, juga ada kasus yang hampir sama. Saat itu ada sebuah keluarga miskin, sang isteri melahirkan seorang bayi yang berwajah buruk. Wajah bayi itu bagaikan wajah setan dengan roman muka tidak pantas, itu membuat siapa saja yang melihatnya merasa takut. Sepasang suami isteri ini merasa sangat risau melihat paras wajah anak mereka. Karena takut ditertawai orang, maka ketika anak ini bisa mulai berjalan, mereka mengusirnya dari rumah. Anak kurang beruntung ini terpaksa hidup bergelandangan di luar, dia mengemis makanan dari rumah ke rumah. Akan tetapi, banyak orang begitu membuka pintu rumah, langsung terperanjat melihatnya dan segera menutup pintu kembali. Dari itu, anak ini sama sekali tidak mungkin hidup di tempat banyak orang.
 
Kemudian dia sendirian lari ke gunung terpencil dan hidup bersama dengan alam. Suatu hari, ketika Sang Buddha bersama para murid naik ke gunung itu, orang berwujuh buruk ini begitu melihat kedatangan rombongan, dia segera lari menjauh. Sang Buddha lalu meminta seorang Bhikkhu berwajah sangat aneh untuk mendekatinya dan berpesan pada Bhikkhu ini: “Kamu harus mendekatinya secara perlahan-lahan dengan sikap yang lembut dan hangat, jangan membuat dirinya merasa takut.” Bikkkhu berwajah aneh ini mengerti akan maksud hati Sang Buddha, maka dia menggunakan kebijaksanaannya dan sikap lemah lembut dalam mendekatinya.

Begitu orang berparas buruk itu melihat Bhikkhu, dia bertanya: “Mengapa wajahmu sedemikian buruk?” Bhikkhu menjawab: “Walau rupaku tidak enak dipandang, namun apakah kamu ada merasakan kalau diriku tidak baik?” Orang berparas buruk menjawab: “Tidak sama sekali, saya merasa anda sangat ramah dan penuh cinta kasih. Dulu setiap orang yang bertemu denganku merasa sangat takut, mengapa anda terus berusaha mendekatiku?” Bhikkhu menjawab: “Sebab cinta kasih Sang Buddha paling setara. Walau paras wajahku sangat aneh, namun Sang Buddha tetap saja sangat menyayangiku, para Bhikkhu lainnya juga tidak pernah memandang rendah pada diriku. Jadi saya merasa paras tidak penting, terpenting adalah harus memiliki cinta kasih dan kebijaksanaan.” 

Sehabis mendengar perkataan itu, orang berparas buruk bertanya: “Orang sepertiku, apakah Sangha kalian akan menerimaku?” Saat itu kebetulan Sang Buddha telah tiba di sana, Sang Buddha berkata: “Kami sudah tentu mau menerima dirimu. Sebab dalam pembinaan diri tidak mementingkan paras luar, asal kamu mau bersungguh hati untuk membina diri bersama semua orang, di kemudian hari juga pasti bisa menyebarkan Dharma di alam manusia ini.”

Sejak itu, orang berparas buruk ini masuk ke dalam Sangha dan membina diri  dengan mengikuti Sang Buddha. Kita yang hidup dalam keberkahan sudah seharusnya baik-baik menyayangi keberkahan dan memupuk keberkahan, kalau tidak, maka balasan karma akan terus mengiringi bagaikan bayangan tubuh. Ada orang yang begitu dilahirkan sudah harus menerima nasib ditelantarkan oleh orangtuanya, ini juga adalah dampak dari kekuatan karma pada masa kehidupan lampau; karma diciptakan oleh diri sendiri, jika berbuat baik akan mendapatkan karma baik, sedangkan berbuat jahat akan mendapatkan karma buruk. Saya berharap semua orang berada dalam karma baik, menyayangi jalinan jodoh dan kemudian menciptakan jalinan jodoh keberkahan yang baru.

Dikutip dari buku “Aku mencintai keluargaku” karangan Master Cheng Yen
 
 
外貌不重要 愛和智慧才重要
 
自古以來,天下父母都是愛護子女;但是卻也有少數人違反常情,不愛自己的孩子,甚至遺棄子女。在慈濟醫院,就曾有這種案例。

盡力愛護小生命 不扼殺不拋棄

多年前,社會服務部人員告訴我,嬰兒室有一位無腦兒,他的生命大約只能存活一年。由於嬰兒的媽媽仍未婚,生下這個不正常的孩子後,就表明不要小孩。

我請社服同仁要用心輔導她,即使孩子只有一年的生命,也應該盡媽媽的責任去愛護這個小生命。後來這位女子打電話回家,她的母親和大哥都表示不要放棄這個嬰 兒。在社服人員和義工的不斷輔導下,終於說服孩子的媽媽,把嬰兒抱回家撫養。一個剛出生的嬰兒就險些被拋棄,而且生命最長可能只有一年,多麼可悲啊!

事後不久,我又看到一篇報導,有一對夫妻生下一個患有腦性麻痺症的孩子,先生堅決不要孩子,後來被告到法院,結果孩子的父親被判五年徒刑,因為他有拋棄、扼殺生命的行為,這是現代的社會問題。

愛要平等 業報如影隨行

在佛陀時代,也有類似的案例。當時有一個 貧困的家庭,妻子產下一名醜兒。嬰兒的臉有如鬼臉,五官又不正,讓人見了都會害怕。這對父母看到孩子長得如此,非常苦惱!在怕被人取笑的情形下,於是在孩 子會走路時,就把他趕出家門。這個不幸的小孩流落在外後,挨家挨戶到處乞食。可是,很多人開門一見到他都會受到驚 嚇,就很快地又把門關起來。所以,這個孩子在市集中根本無法生活。

後來他獨自跑到深山裡,與大自然為伴。有一天,佛陀帶著比丘們到山上 時,這位容貌醜陋的人一看到他們,便行色匆匆地跑開。佛陀就請一位容貌也長得很怪異的比丘去接近他,並叮嚀這位比丘說:「你要以溫和的態度慢慢地接近他, 不要讓他受到驚嚇。」這位形貌怪異的比丘知道佛陀的心意,於是以他的智慧和溫柔的態度接近他。

醜臉人看見比丘,問道:「你為何也長得這麼 醜?」比丘說:「雖然我的外表不好看,可是你會覺得我不好嗎?」醜臉人說:「不會,我覺得你非常慈祥、有愛心。以前每個人看到我,都非常害怕。為什麼你仍 不斷地接近我?」比丘說:「因為佛陀的愛最平等。雖然我長得怪異,但是佛陀還是很愛護我,其他的比丘們也不會輕視我。所以我覺得外貌並不重要,重要的是要 有愛和智慧!」

醜臉人聽後,問道:「像我這樣的人,你們僧團會接納我嗎?」此時佛陀正好走過來,說:「我們當然願意接納你。因為修行不重外貌,只要你用心和大家共修,將來一定也可以把佛法傳遍於人間。」

從此醜臉人便投入僧團中,跟隨佛陀修行。我們生活在福中,要好好惜福、修福,否則業報如影隨行。有的人一生下來,就遭到被父母厭棄的命運,這也是業力所感;業由自己所造,行善得善業,造惡得惡業。希望人人在善業中,惜緣再造福緣。

本文摘自:證嚴上人著作《吾愛吾家
 

Kalung berlianku adalah imitasi

Di Prancis pernah ada seorang wanita cantik yang berasal dari keluarga miskin, setelah dewasa dirinya menikah dengan seorang pegawai negeri sipil. Bagi keluarganya, kondisinya ini sudah terhitung cukup baik, namun setelah menikah, ternyata wanita ini setiap hari terlihat murung dan kerap mengasihani diri sendiri di depan cermin, selalu berpikir dalam hati: “Saya terlahir tidak lebih jelek dari orang, mengapa menikah ke dalam lingkungan rumah tangga demikian, tidak punya rumah yang menyenangkan atau ruang utama yang mewah, apalagi pelayan yang melayani?” Dia setiap harinya merasa kesal untuk hal itu.

Selalu merasa tidak cukup dalam memenuhi nafsu keserakahan

Suatu hari, sang suami membawa pulang selembar undangan pesta dansa pernikahan dari atasannya, undangan ini diperoleh dengan susah payah setelah mencoba meminta bantuan pada banyak orang, sebab sang istri pernah mengatakan kalau sangat ingin sekali hadir dalam satu pesta dansa yang mewah.
 
Bagi mereka, ini merupakan sebuah kehormatan, sang suami berpikir: “Istriku semestinya sangat senang sekali, tetapi nyatanya dia tidak begitu senang.” Sang suami lalu bertanya mengapa dirinya tidak senang, sang istri menjawab: “Jika ikut pesta dansa dengan pakaian terlalu sederhana tentu akan ditertawai orang, lebih baik tidak usah ikut.” Kemudian menambahkan: “Saya butuh satu set pakaian pesta yang mewah, jika dikenakan di tubuh barulah cocok.” Sang istri menyukai satu set gaun malam yang harganya 400 Frank Prancis, sedangkan uang simpanan sang suami setelah bekerja keras banyak tahun hanyalah 400 Frank lebih sedikit, namun mengingat sang istri benar-benar telah hidup susah bersamanya, sang suami dengan berat hati menarik semua uang simpanan dan membelikan pakaian pesta tersebut.
 
Tetapi ternyata sang istri  tetap tidak terlalu bergembira, sang suami kembali bertanya apa yang masih kurang, sang istri menjawab: “Walau sudah ada pakaian pesta, namun jika tiada perhiasan apa pun di tubuh, misalnya kalung atau cincin, bukankah ini menunjukkan terlalu sederhana?” Mendengar itu, sang suami dipenuhi perasaan bersalah, juga tidak berdaya, akan tetapi tiba-tiba muncul sebuah ide dalam batin sang suami, dia mengingatkan sang istri: “Bukankah kamu ada seorang teman yang kerap mengenakan perhiasan gemerlapan, berdasarkan hubungan dekat kalian, seharusnya tidak sulit untuk meminjam sebuah perhiasan darinya.” Sang istri menjawab: “Betul juga! Kenapa saya tidak teringat padanya?” Sang istri lalu menyampaikan maksudnya kepada teman tersebut, ternyata temannya itu dengan sangat murah hati mengeluarkan semua perhiasannya untuk dipilih, setelah memilih agak lama, akhirnya sang istri memilih sebuah kalung berlian, dia merasa kalau kalung ini paling cocok dengan identitas dirinya dan sebanding dengan pakaian pestanya, temannya itu dengan murah hati meminjamkannya.

Pada hari pesta, sang istri muda belia ini mengenakan pakaian pesta yang mewah dan kalung berlian yang mahal itu, ternyata dia berhasil menarik pandangan kagum dari banyak hadirin, serta mendapatkan banyak pujian, hal itu membuatnya sangat senang dan puas hati. Sehabis pesta, sepasang suami istri ini pulang dengan sangat gembira, tetapi ternyata menemukan kalau kalung berlian telah hilang! Dia tidak tahu bagaimana hendak menjelaskan kepada temannya, sehingga dengan terpaksa meminjam banyak uang ke sana ke mari demi membelikan sebuah kalung berlian yang sama persis untuk dikembalikan kepada temannya.

Setelah 4 - 5 tahun kemudian, suatu hari temannya bertemu dengan sang istri dan melihat kalau dirinya berubah menjadi sangat pucat dan lesu, bahkan tangannya juga berubah menjadi sangat kasar, temannya lalu menanyakan kabarnya dengan penuh simpati. Sang istri lalu menjawab dengan penuh penyesalan: “Dulu saya menghilangkan kalung berlian yang saya pinjam darimu, maka demi menggantikannya terpaksa meminjam banyak uang, saya harus bekerja keras untuk membayar hutang, sampai sekarang saja hutangku masih belum lunas semuanya!” Mendengar itu temannya merasa pilu di hati dan juga bersalah padanya: “Tahukah kamu? Kalung berlian saya dulu adalah imitasi!” “Apa? Imitasi! Tetapi saya membelikan kalung berlian asli untuk dikembalikan kepadamu! Benar-benar saya telah kerja dengan susah payah selama beberapa tahun ini.”

Jika tidak membiarkan diri dipermainkan oleh sikap suka pada kementerengan yang lahiriah, kehidupan akan nyaman dan bebas dari kerisauan

Dari kisah ini dapat diketahui bahwa jika seseorang memiliki sifat suka pada kementerengan yang lahiriah, itu bagaikan tertembus panah pertama; dikarenakan suka pada kementerengan yang lahiriah, lalu mencari kenikmatan yang mewah tapi tidak realistis, itu bagaikan tertembus panah kedua, jika masih terus tidak mau sadar jua, pada akhirnya tentu akan memperoleh buah penderitaan.

Saya pernah mengatakan, bagai orang sakit, “sakit jasmani” sudah cukup mendatangkan penderitaan, maka jangan lagi ditambah dengan “sakit batin”, kalau tidak, tentu hanya akan menambah parah penyakitnya dan menjadi lebih menderita lagi.

Pendek kata, dalam menghadapi penderitaan dan kesenangan di luar, harus ditangani dengan tenang hati, jika tiada keinginan untuk mengejar sesuatu, juga tiada perasaan bosan dan hendak lari darinya, maka dengan sendirinya hidup akan dapat dilalui dengan lebih bahagia, nyaman dan tanpa ganjalan di hati.

※ Dikutip dari buku “Aku cinta keluargaku” karangan Master Cheng Yen
 
我的鑽石項鍊是假的
 
法國有一個漂亮的女孩子,家境清寒,長大後嫁給一個公務員,對她的家庭而言,這已經算不錯,但婚後她卻天天悶悶不樂,常常對鏡自憐,心想:「我長得不比別人醜,為什麼我嫁到這種家境,沒有舒適的房子、豪華的大廳,更沒有僕人來服侍我?」她天天都為此而苦惱。

有九缺一 滿足貪念

有一天,她先生帶了一張上司的結婚舞會邀請卡回家,這是他費盡心思、到處拜託人才拿到,因為太太曾說,很希望能參加一次豪華舞會。

對他們而言,這是很榮幸的事,他想:「太太一定很歡喜,可是她卻不怎麼高興。」先生問她為何不開心,她說:「參加舞會時穿著太寒酸讓人家笑,不如不要參加。」 她又說:「我需要一套豪華的禮服,穿在身上才像樣啊!」她看中意一套晚禮服,價值四百法朗,而她丈夫節儉儲蓄多年的錢,總共才四百多法朗,但想到太太跟著他真的很委曲,只好咬緊牙關把銀行裡的存款提出來,為太太訂製那套禮服。

可是,她仍然不太高興,先生再問她還缺什麼,她說:「雖然有了禮 服,身上一件飾物,如項鍊、戒子都沒有,是不是太寒酸。」先生聽了覺得既歉疚又無奈!不過,他靈機一動提醒太太說:「妳不是有一位朋友,經常都戴得珠光寶 氣,憑你們的感情,向她借一件首飾應該不難啊!」太太說:「對啊!我怎麼都沒有想到她呢?」於是,她到朋友那兒表明來意,她的朋友很大方,把珠寶盒全部拿 出來給她挑選,她又戴又挑地看了好久,最後選了一條鑽石項鍊,她覺得這件首飾最適合自己的身份,和那套禮服也很相襯,她的朋友慷慨地借給她。

舞會那天,這位年輕的太太穿上豪華的禮服,戴上貴重的鑽石項鍊,在會場中果真引來許多羨慕的眼光,並且得到許多讚美,她非常歡喜、滿足。舞會結束後,夫妻倆 很高興地回到家,卻發現那條鑽石項鍊竟然不見了!她不知如何向朋友交待,只好想辦法借了很多錢,買一條一模一樣的鑽石項鍊還給朋友。

過了 四、五年之後,有一天,她朋友看到她變得很憔悴,連手也變得很粗糙,就十分關心地問候她。這位太太很慨歎地說:「當時我向你借的鑽石項鍊遺失了,為了還你 項鍊,所以去借很多錢,再做工來償還債務,一直熬到現在都沒有償清!」她的朋友聽了很心疼也很內疚地說:「你知道嗎?我那條項鍊不是真的!」「啊!是假 的,可是我去買真的鑽石項鍊還你!真是苦了我做這麼多年的苦工。」

不受虛榮心擺佈 生活輕安自在

由這則故事可以瞭解,人有了虛榮心,就像是中了第一隻箭;因愛慕虛榮而追求豪華不實的享受,就是中了第二隻箭,若繼續執迷不悟,所得的終究是苦果啊!

我也曾說過,例如生病的人,「身病」已經就夠苦了,不要在加上「心病」,否則會病上加病,苦上加苦。

總而言之,面對外界的苦或樂,要淡然處之,若沒有貪求之慾念,也無厭煩逃避之心,自然就會過得快樂自在、無所罣礙。

本文摘自:證嚴上人著作《吾愛吾家

Rabu, 20 Juni 2012

Dengan Catur-samgraha-vastu melangkah di jalan yang benar dan merekrut Bodhisatwa dunia secara meluas

Raja Bimbisara sangat mengagumi Sang Buddha, suatu hari dia datang ke hadapan Sang Buddha dan menyampaikan permintaan tulus kepada Sang Buddha agar mau membawa serta para murid ke istana untuk menerima persembahan seumur hidup. Mendengar perkataan ini, Sang Buddha tidak menjawab sama sekali.

Melihat itu, Raja Bimbisara menurunkan permintaannya menjadi 12 tahun, namun Sang Buddha juga tidak menjawab; kemudian dia meminta lagi: “Biarkanlah saya memberi persembahan selama 12 bulan!” Sang Buddha tetap tidak menjawab. Raja Bimbisara tidak ingin melewatkan kesempatan yang ada, dia kembali meminta dengan tulus: “Paling tidak Anda membiarkan saya memberi persembahan selama 3 bulan.” Akhirnya Sang Buddha tersenyum dan menganggukkan kepala: “Baiklah! Demi memenuhi harapanmu, anda akan dibiarkan memberi persembahan kepada Buddha dan Sangha selama 3 bulan.”

Mengapa Sang Buddha tidak mau menerima usul Raja Bimbisara untuk menerima persembahan selama seumur hidup, 12 tahun atau 12 bulan? Sebab jika hanya menerima persembahan dari satu individu saja, berarti para anggota Sangha tidak perlu lagi melakukan pindapata, tidak berkesempatan lagi untuk berhubungan dengan khalayak banyak, orang-orang juga tiada kesempatan untuk memberikan persembahan pada anggota Sangha dan mendengarkan pembabaran dhamma, lalu bagaimana ajaran Buddha dapat disebarkan secara lebih meluas?

Ini juga merupakan semangat “perekrutan Bodhisatwa dunia” dari Tzu Chi pada masa sekarang. Saya berharap biar berada di negara mana pun atau pelosok mana pun, insan Tzu Chi dapat terjun ke dalam masyarakat luas dengan citra bersih dari murid Buddha, membangkitkan cinta kasih tanpa pamrih dalam diri semua orang dan membawa orang-orang melangkah ke arah yang tepat, agar jalan Bodhisatwa yang ditapaki dapat semakin lebar, semakin luas dan semakin jauh.

Menyerap dhamma ke dalam batin dan menerimanya dengan suka cita, menjalin jodoh baik secara luas demi menyadarkan semua makhluk

“Catur-samgraha-vastu” (Empat metode dalam memeluk semua makhluk) yang terdiri atas dana (berdana), priyavacana (berkata baik), arthakriya (berbuat baik), serta samanarthata (dapat bekerja sama dengan baik) merupakan metode yang tidak boleh tidak ada bagi Bodhisatwa dalam upaya menyadarkan semua makhluk.
 
“Dana”: selain “amisa dana” (berdana berupa materi) yang berwujud, kita juga harus menanamkan benih kebajikan dengan “dhamma dana” (berdana berupa dhamma atau ajaran) dan “abhaya dana” (berdana dengan memberikan rasa aman), membasahi lahan batin para penerima bantuan dengan air dhamma, membuat mereka menjadi tegar tanpa rasa takut dan mampu melangkah maju dengan langkah yang mantap.

“Priyavacana”: kita harus mempergunakan “kekuatan lembut” dan di mulai dari ucapan, mempergunakan tutur kata baik dan lembut untuk menghibur, memberi dorongan semangat dan bimbingan sesuai kemampuan batin setiap orang; jika di antara sesama dapat berkomunikasi dengan kata-kata baik, tentu akan dapat “saling mewariskan kata-kata baik”.

“Arthakriya”: kita harus menjaga tindakan diri sendiri, agar setiap langkah yang ditapaki atau setiap hal yang diperbuat dapat memberi manfaat bagi dunia ini. Selain berbuat baik, lebih penting lagi adalah “bertindak secara nyata”, harus membangun keteladanan bagi dunia ini, dengan memberikan bimbingan tanpa kata berupa keteladanan diri sendiri.

“Samanarthata”: ketika melangkah ke dalam masyarakat ramai, kita harus mempergunakan kewelas asihan dan kebijaksanaan, memberikan bimbingan dengan sabar dan secara sistimatis, saling memberi perhatian, serta mengajak masyarakat luas untuk sama-sama berbuat baik dan merasakan manfaat dhamma.

Dhamma harus diserapkan ke dalam batin dan diterima dengan suka cita, baru kita dapat menjalin jodoh baik secara luas di dalam masyarakat luas sesuai dengan tingkat pemahaman orang-orang, sehingga orang-orang dapat menaruh hormat dan mencintai kita; saya berharap setiap orang dapat menjaga aktifitas tubuh, ucapan dan pikiran dengan baik, agar orang-orang dapat tergugah untuk ikut berpartisipasi, sehingga terbentuk barisan Bodhisatwa yang panjang, sama-sama menunaikan perbuatan baik di dunia ini.

Dikutip dari Majalah Bulanan Tzu Chi edisi 543
 
四攝法行正道 人間菩薩大招生
 
頻婆沙羅王非常景仰佛陀,一日,他至誠懇切地來到佛陀面前,請佛帶領弟子入王宮,接受他的終身供養。佛陀聞言默然。

頻婆沙羅王見狀,退而請求供養十二年,但佛陀仍未答應;他再提出請求:「讓我虔誠供養十二個月吧!」佛陀依舊沒有回應。頻婆沙羅王不願放棄機會,再度懇求:「至少請您讓我供養三個月吧!」這時,佛陀終於微笑點頭:「好吧!就圓滿你的心願,讓你供佛及僧三個月。」

為何佛陀不願接受頻婆沙羅王的提議,帶領僧團弟子接受一輩子、十二年或是十二個月的供養?因為假使只接受一人供養,出家眾無須托缽化緣,就無法接觸人群,眾生也沒有機會供僧聞法,佛法如何普遍開展?

回到現代,這也是慈濟「人間菩薩招生」的精神。我希望,不論在哪一個國度、任何一個角落,慈濟人都能以佛弟子的清淨形象,走入人群,啟發眾生無私之愛,帶領人人行往正確的方向,讓菩薩道愈走愈寬、愈廣、愈遠。

法入心喜受用 廣結善緣度眾生

「四攝法」布施、愛語、利行、同事,是菩薩度眾不能缺少的方法。

「布施」:除了有形的「財施」,還要以「法施」和「無畏施」,播下善種,引法水滋潤受助者心田,讓人堅定無畏,安穩前行。

「愛語」:要運用「軟實力」,從說話開始,隨順對方根機,用善而柔的語言去安慰、勉勵、教育;彼此好話相對,就能「愛語相受」。

「利行」:要愛惜自己的身行,所走的每一步、所做的每一件事,都是有利人間。利行更需「力行」,要為人間立典範,做「不言之教」。

「同事」:行入人群,要提起慈悲智慧,循循善誘、相互關懷,接引大眾同做好事,同霑法益。

法要入心、歡喜受用,才能在人群中觀機逗教,廣結善緣,使人敬而愛之;期待人人照顧好身、口、意,讓人感動相隨,號召浩蕩長的菩薩隊伍,共同成就人間好事。

本文摘自《慈濟月刊》543

Jumat, 01 Juni 2012

Keinginan malaikat cilik

Suatu hari, ketika Tuhan sedang berbincang-bincang dengan sekelompok malaikat cilik, ada seorang malaikat cilik yang berkata: “Saya sangat menginginkan agar diri saya memiliki karakter khas tersendiri.” Tuhan lalu bertanya: “Apa karakter khas yang kamu inginkan?” Setelah berpikir sejenak, malaikat kecil menjawab: “Bolehkah saya menjadi malaikat kecil yang mampu memberi maaf pada orang?” Tuhan menjawab: “Tetapi semua di sini adalah orang baik, tiada seorang pun yang akan berbuat kesalahan padamu, jadi tiada kesempatan bagimu untuk memberi maaf pada orang.”
 
Saat ini ada seorang malaikat cilik lainnya berkata: “Biarlah saya menjadi seorang yang menerima maaf darimu.” Malaikat kecil bertanya: “Bagaimana kamu melakukannya?” “Kelak saya akan lahir ke alam manusia, saya akan menjadi seseorang yang senantiasa memperlakukanmu dengan buruk dan terus menyiksa dirimu, agar ada kesempatan bagimu untuk memberi maaf padaku. Namun, saya ada syarat.” “Apa syaratmu?” “Setelah terlahir ke dunia, saya harus tidak ingat lagi kalau diriku adalah malaikat, baru saya bisa berbuat banyak kesalahan; namun jika kebetulan kamu juga lupa bahwa dirimu adalah malaikat dan tidak mau memaafkanku, bukankah nantinya kita berdua tidak akan dapat kembali lagi ke sini?” Pada saat ini Tuhan berkata: “Jika terjadi hal demikian, maka pada saat itu saya akan mengirimkan banyak malaikat untuk menolong kalian.”

Bukankah keteladanan Buddha juga demikian? Biar pun Devadatta telah berulang kali mencelakai dan berusaha membunuh Sang Buddha, serta merusak Sangha, namun Sang Buddha tetap memaafkannya. Sang Buddha berkata: “Saya berterima kasih kepada Devadatta, jika bukan karenanya, bagaimana mungkin saya dapat membimbing semua orang dengan berbagai jenis metode, jadi Devadatta adalah kalyanamitra (teman sejati dan guru pembimbing) yang menopang keberhasilanku.”

Agama mengajarkan kepada kita agar mau memaafkan orang dan mengembangkan cinta kasih dalam hati kita. Kita harus mencintai semua makhluk dalam penderitaan, kita juga harus memaafkan orang yang sangat jahat. Setiap kali menerima siksaan, setiap kali juga dapat memaafkan pihak lawan, itu baru merupakan kemampuan sesungguhnya, baru merupakan pengasuhan diri sesungguhnya. Dalam pembinaan diri, perlu orang lain untuk memberi gosokan, intan dapat bersinar dikarenakan tahan gosok. Jangan biarkan diri kita menjadi batu kasar yang terus menggosok orang lain, sebab batu kasar akan tergosok habis, sedangkan intan akan semakin mengkilap setelah digosok. Seperti kedua malaikat cilik yang takut tersesat, sesungguhnya bukankah setiap manusia awam sedang tersesat? Berada dalam kebingungan adalah manusia awam, jika sudah tersadarkan, itulah para Buddha dan Bodhisattva. Segala sesuatu di dunia ini adalah Dharma, jadi kita harus mencengkam setiap momen untuk menerima ajarannya.
 
小天使的願望
 
有一天,上帝跟一群小天使談話。其中一位小天使說:「我很想要有自己的特色。」上帝就說:「你想要有什麼特色呢?」小天使想一想說:「我來做一位會原諒別人的小天使好嗎?」上帝說:「可是大家都是好人,沒有人會做對不起你的事,因此也沒有讓你有原諒別人的機會。
 
這時有一位小天使跑 出來說:「就讓我來做一位能讓你原諒的人吧!」小天使問:「你要怎麼做?」「將來我們轉世到人間去,我就做一位對你很不好的人,一直折磨你,好讓你有機會 來原諒我。可是,要有條件。」「什麼條件呢?」「轉世以後,我必須忘掉我是天使,我才能做許多錯事;但是萬一你也忘掉你是天使,結果你不願意原諒我,那我 們不就都回不來了嗎?」這時上帝說:「如果這樣,到時我就要派很多天使去救你們。」

佛陀的教化不也是這樣嗎?提婆達多雖然屢次陷害、試圖毒殺佛陀,破壞僧團,但佛陀還是原諒他。佛陀說:「我感恩提婆達多,若不是他,我怎能以種種方法來教化大家,因此提婆達多是成就我的善知識。」

教,是教育我們去原諒別人,去發揮心中的愛。要去愛苦難中的眾生,要去原諒很惡毒的人。每次受到折磨,而每次都可以原諒對方的人,才是真功夫,才是真修 養。修行就是要有人來磨,鑽石會閃亮,就是因為耐磨。我們可不要讓自己成為一塊粗石,又一直在磨別人;因為粗石會磨損,鑽石磨了後會光亮。如同那兩位小天 使怕迷失一般,其實,每一位凡夫不都在迷失中嗎?迷,就是凡夫;覺悟時,就是菩薩諸佛。世間無不是法,我們要把握時間來接受教育