Tampilkan postingan dengan label Dhamma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dhamma. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2015

Akhir Perjalanan dari Kelahiran Kembali


Manusia selalu mendapat kesulitan untuk percaya bahwa hidupnya berakhir dengan kematian badan jasmani. Pertanyaannya adalah : Apakah kita terus hidup setelah kematian ? Hal ini telah menjadi spekulasi manusia yang menonjol, karena berhubungan dengan setiap masalah mendasar dari keberadaan dan tujuan manusia di dunia ini.

Apakah tiada akhir bagi kelahiran yang berulang ini ? Buddha menunjukkan jalannya :

“ Para Bhikkhu, karena tidak mengerti, tidak menembus empat hal ( dhamma ), kita harus menempuh perjalanan begitu lama, kita semua terus mengembara dalam lingkaran kehidupan. Apakah ke empat hal itu ? Moral kebajikan, konsentrasi, kebijaksanaan dan pembebasan. Tetapi ketika empat hal ini, Bhikkhu, dimengerti dan dijalani, musnahlah nafsu keinginan untuk dilahirkan, hancurlah apa yang menyebabkan kelahiran kembali dan tidak ada lagi kelahiran kembali “.

Tanpa moral kebajikan, tidak ada konsentrasi, tanpa konsentrasi, tidak ada kebijaksanaan. Ketiga hal ini merupakan ajaran utama yang jika benar – benar dilatih, akan meningkatkan kehidupan batin seseorang dari tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi, menuntun seseorang dari kegelapan menuju terang, dari bernafsu menuju ketenangan, dari kekacauan menuju kedamaian, dari perbudakan menuju perlindungan – pembebasan.

Oleh karena itu, pencari kebebasan melatih ucapan benar, perbuatan benar dan mata pencaharian benar ( sila atau moral kebajikan ). Ia melatih daya upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar ( samadhi atau konsentrasi ) dan lebih lanjut juga melatih pikiran benar dan pengertian benar ( panna atau kebijaksanaan ). Buddha menyebut semua ini Jalan Mulia Berunsur Delapan atau Jalan Tengah karena menghindari dua jalan ekstrem : Kegemaran akan kenikmatan hawa nafsu yang rendah, yang bersifat duniawi dan menimbulkan kerugian adalah salah satu jalan ekstrem ; penyiksaan terhadap diri sendiri dalam bentuk pertapaan yang keras menyakitkan, yang tidak menguntungkan dan menimbulkan kerugian ; adalah jalan ekstrem lainnya.

Dengan berusaha secara benar, para pencari berhasil menembus tirai kebenaran satu per satu, hingga suatu hari, semua kotoran terbakar habis, luhur sepenuhnya dan berhasil mencapai penerangan. Ketika manusia seperti itu meninggal dunia, maka bersamanya berakhir pula keinginan untuk hidup ini. Berakhirlah kelahiran, usia tua, penyakit, ratapan, kesedihan, kesengsaraan, keputusasaan dan kematian ; maka lenyaplah semua penderitaan. Roda kehidupan yang berputar kepot menuju kehancurannya ; pusatnya yaitu kebodohan ; jari – jarinya yaitu ketamakan dan lingkarannya yaitu kebencian, dihancurkan dan musnah menjadi abu pada akhirnya dan itu adalah Nirwana – “ tidak dilahirkan, tidak berawal, tidak diciptakan dan tidak berkondisi “.

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/doktrin-kelahiran-kembali/

Kamis, 11 Desember 2014

Enam Paramita

Minggu, 7 Desember 2014 pukul 08.30 – 11.30 WIB, diadakan kegiatan bedah buku di Kantor Perwakilan Tzu Chi Medan tepatnya di Jl. Cemara Boulevard Blok G/1 No. 1-3, Cemara Asri yang bertemakan “Enam Paramita”. Kegiatan bedah buku ini dibawakan oleh Januar Shixiong dan Jusni Shijie dan di ikuti oleh 16 orang relawan.

[靜思] merupakan produk Jingsi untuk membekali batin kita yang terdiri dari CD, buku dan [淨斯] merupakan produk Jingsi untuk membekali materi yang terdiri dari makanan, sabun. Enam Paramita yang terdiri dari berdana, mematuhi sila, bersabar, semangat, samadhi dan bijaksana.

Berdana akan mendapatkan kekayaan batin dan materi,
Mematuhi sila akan terlahir di alam bahagia,
Bersabar akan terhindar dari rasa dendam dan kebencian,
Semangat akan memupuk segala jasa pahala kebajikan,
Samadhi akan meredakan segala kerisauan batin,
Kebijaksanaan akan terlepas dari segala kerisauan.
Pembahasan pertama dari enam paramita adalah tentang berdana.

“Berdana” bisa diartikan dengan bersumbangsih. Orang yang bisa bersumbangsih adalah sebuah keberkahan. Orang yang benar-benar tahu bersumbangsih, dengan menganggap bersumbangsih merupakan sebuah kewajiban itu merupakan sebuah pelatihan diri.

Ada 5 point dalam berdana, diantaranya :
1. “Bersumbangsih seperti menimba air, hanya dengan terus bersumbangsih baru bisa terus menciptakan berkah, menambah berkah” dikutip dari kata perenungan Master Cheng Yen.
2. “Berbuat kebajikan bukanlah hak orang kaya, tetapi adalah hak bagi orang yang ingin bersumbangsih” dikutip dari kata perenungan Master Cheng Yen.
3. Berdana harus bersumbangsih tanpa pamrih, pada saat yang bersamaan juga harus bersyukur.
4. Kehidupan di Jingsi penuh dengan kemandirian, bukan hanya bekerja untuk bertahan hidup tetapi juga bekerja untuk menyongkong insan Tzu Chi yang kembali ke Jingsi.

Ada yang berkata :”Jangan pulang dan makan-makanan yang disediakan Master”. Tetapi Master mengatakan :”Kebijaksanaan Guru adalah bagaimana menjalin jodoh baik dengan makhluk hidup, kalau bukan karena jalinan jodoh masa lalu, mana mungkin ketika kita mendengar Master mengatakan demikian kita merasa sangat masuk akal dan mau mengikuti langkah Master, ini semua adalah jodoh, jika bukan karena jodoh mana mungkin ini semua bisa terjadi, inilah yang dinamakan jalinan jodoh”.
Ada sebuah cerita “tiada benih maka tiada hasil yang dipetik”, ada seorang abang yang mempunyai sebidang lahan yang luas dan ditanami cocok tanam, tetapi dia berpikir “bercocok tanam sangatlah menderita, lebih baik memohon Tuhan untuk memberikan saya berkah, supaya saya mempunyai berkah yang besar”. Kemudian dia menyerahkan semua lahan dan produk kepada adiknya dan meminta adiknya untuk menjaga dan bercocok tanam dengan baik.

Kemudian abang ini pergi ke kelenteng dan menyiapkan sesajian yang berlimpah. Setiap hari berdoa dengan tulus dan mogok makan. Suatu hari, Tuhan yang dia sembahi tersentuh karena ketulusannya dan Tuhan kemudian mengecek buku berkah tetapi abang ini pada masa lalu tidak pernah menciptakan berkah, tidak pernah bersumbangsih, dan mempunyai akar kebajikan. bagaimana saya memberikan dia berkah? Jadi Tuhan merasa sangat gelisah, dia begitu tulus datang memohon jika tidak diwujudkan pasti hatinya akan timbul rasa tamak, benci, dendam.

Terakhir Tuhan menjelma menjadi adiknya dan muncul di depan abang. Si abang begitu melihat adiknya dan berkata :”Kamu tidak pergi bercocok tanam, untuk apa datang kesini ?” Si adik berkata :”abang, saya juga ingin memohon berkah, bercocok tanam sangat menderita, jadi saya ingin memohon supaya saya diberikan keberkahan sehingga tidak perlu lagi bercocok tanam”. Si abang kemudian menjawab :”Kamu ini adik yang bodoh, jika tidak bercocok tanam maka tidak akan panen”. Mana ada prinsip jika kita tidak menebarkan benih malah ada hasil yang kita petik, cepat pulang untuk bercocok tanam.

Pada saat itu, Tuhan yang menjelma menjadi adiknya menghilang dan kembali muncul di hadapan si abang dan berkata :”Betul yang kamu katakan, dalam dunia ini jika kita tidak menebarkan benih, tiada benih maka tiada hasil. Pada masa lalu kamu tidak menciptakan berkah dan tidak ada niat baik hanya ingin memohon berkah, setiap hari terus memohon kepada saya dan menyiapkan persembahan untuk saya, apakah kamu tahu ini membuat saya merasa risau! Lebih baik kamu pulang dan ciptakan berkah, setelah menciptakan berkah maka akan mendapatkan berkah, inilah hukum sebab akibat. Akhirnya si abang sadar bahwa tiada benih maka tiada hasil. Untuk itu dalam melatih diri kita harus memahami hukum sebab akibat.

“Mematuhi sila” adalah peraturan Jingsi, dari dalam melatih ketulusan, ketepatan, kepercayaan dan kebenaran. Ke luar melatih cinta kasih, welas asih, kebahagian, dan keseimbangan batin. Mengontrol diri sendiri untuk memperbaiki kebiasaan buruk, berhemat untuk berbuat kebajikan, asalkan taat pada peraturan dan mengembangkan cinta kasih itulah mematuhi sila.

Point dalam mematuhi sila, diantaranya :
1. Melakukan kewajiban yang seharusnya dilakukan adalah mematuhi sila.
2. Dengan menjaga hati dengan baik, senantiasa bersabar itulah mematuhi sila.
3. “Sehari tidak bekerja, sehari tidak makan”. Master mengatakan :”Saya bukan merasa diri sendiri suci tetapi hanya berharap bisa menerapkan Ajaran Dharma dalam Kehidupan.
4. Hidup mandiri, kehidupan para Bhiksuni di Jingsi semua didapatkan dari hasil kerja sendiri. Pernah ada orang yang bersikeras untuk menyumbangkan materi buat Master. Master berkata :”Jika benar-benar mencintai Master maka kita harus menjadi pelindung Master dan mewujudkan jalinan jodoh jiwa kebijaksanaan Master”.
5. Belajar semangat Jingsi adalah menjalani Dharma dengan menjaga moralitas seperti bambu, ada sopan santun dan tata krama. Sikap tenang untuk membina batin dan hemat untuk membina moralitas.

“Bersabar” menghilangkan kebencian dan merasa nyaman. Semangat melindungi bumi dan menyanyangi nyawa benda merupakan cara untuk membina diri. Dalam bersumbangsih membutuhkan kesabaran.

Ada beberapa point dalam bersabar, diantaranya :
1. Bisa bersabar, menahan derita merupakan sikap sabar.
2. Kekuatan bersabar bisa membuat kita bertahan pada kewajiban yang harus dilakukan.
3. Orang yang sabar pasti bisa mematuhi sila, ketika dimarahi tidak akan timbul rasa benci, ketika melihat materi tidak timbul rasa tamak, segala sesuatu yang terjadi bisa diatasi dengan akal sehat.
4. Mematuhi sila harus punya kesabaran, jika tidak mempunyai kesabaran maka akan mudah terpengaruh.
5. Bersabar sampai tahap dimana kita tidak merasa bersabar, “bersabar” bukan hanya ditahan untuk tidak dikatakan, itu akan sangat menderita. Hanya bersabar saja tidak cukup tetapi juga harus ditelan, bukan hanya ditelan tetapi juga harus dicerna.
6. Orang yang bisa bersabar adalah seseorang yang tegar. Asalkan berlapang dada, segala sesuatu akan bisa bersabar maka secara tidak langsung akan mengubah masalah menjadi tidak masalah. Bersabar adalah panutan yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan.
7. Untuk menjadi seseorang yang bisa diterima dan dicintai orang lain maka kita terlebih dahulu harus menjaga sikap dan kelakuan kita, segala tindak tanduk merupakan cara pembinaan diri.

“Semangat”, bukan hanya sekedar mengenal prinsip tetapi tidak dilakukan; harus benar-benar dilakukan inilah yang dinamakan semangat.

Point dalam bagian semangat, diantaranya adalah :
1. Menggenggam setiap menit dan detik, setiap langkah dijalankan dengan pasti, niat kebajikan tidak pernah putus, setiap hari melakukan kebajikan, Dharma yang baik sering dipraktekan, Dharma sering di sharing.
2. Jing ( 靜 ) tidak bercabang-cabang, jin( 進 ), setiap detik menguntungkan semua makhluk hidup.
3. Menggenggam setiap saat, itu adalah semangat.
4. Di Jingsi, setiap hari pukul 3.30 sudah bangun, tidak peduli musim dingin, maupun musim panas, setiap hari mempertahankan kehidupan yang begitu. Sehabis kebaktian pagi, meditasi kemudian mendengar ceramah dari Master, walaupun capek juga tetap harus dipertahankan. Bagaimana susahnya juga harus bersabar dan terus semangat tanpa mundur, semua ini berasal dari sebuah niat.

“Samadhi”, dalam kehidupan sehari-hari tidak terhindar dari samadhi, menghadapi segala sesuatu harus dengan sikap samadhi, senantiasa mempertahankan niat ini maka hati yang tenang akan muncul samadhi.

Samadhi harus dimiliki oleh para Bodhisatva, samadhi bukan hanya duduk begitu saja tetapi juga harus mempunyai pemikiran yang benar, pandangan yang benar. Harus belajar tetap
tenang menghadapi kondisi luar yang terus berubah. Semangat Jingsi dalam pelatihan diri yaitu dalam bekerja, hati dan pikiran tidak terlepas dari Dharma, dalam melakukan kita harus “berbuat sambil belajar, belajar dan kemudian paham, dari kepahaman timbul kesadaran.

“Kebijaksanaan”, setiap orang mempunyai sifat yang setara dengan Buddha. Orang yang bijaksana akan terus belajar dengan hati yang polos, segala sesuatu harus dipahami, mengerjakan sesuatu yang seharusnya dikerjakan adalah bijaksana.

Kesimpulannya adalah berdana akan mendapatkan kekayaan, mematuhi sila akan terlingat anggun, bersabar akan mendapatkan kekuatan, semangat akan membuat kita berumur panjang, samadhi mendapatkan kebahagiaan, menyampaikan sesuatu dengan bijaksana.

Gan en :D

Tulisan diatas diposted oleh  Rina SJ di yahoogroup tzuchi medan.

Sabtu, 05 Januari 2013

Bagaimana menghentikan nafsu keserakahan akan harta kekayaan?

Ada orang yang bertanya kepada Master Cheng Yen:
Ibu kami sangat serakah akan harta kekayaan dan sangat gila duit, demi uang rela mengorbankan keluarga dan martabat diri, kami sebagai anak jadinya sering bertengkar dengannya, bahkan merasa sangat terganggu dan menderita oleh perbuatannya, kami sama sekali tidak dapat memahami mengapa beliau berbuat demikian?

Master menjawab:
Kondisi batin ibu anda yang gila duit itu mungkin disebabkan oleh karena dirinya merasa serba kekurangan dan tidak memiliki perasaan aman, sebagai anak harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menguji batin kalian sendiri dengan lebih banyak bersimpati kepada beliau. Pergunakan cinta kasih dan berikan belas kasih kalian padanya, perlakukan beliau dengan hati cinta kasih yang seluas samudera, jika memungkinkan bawa beliau ke rumah sakit untuk menyaksikan kesedihan orang lain akibat derita dilahirkan, menjadi tua, sakit dan mati, biar dia merasa bersyukur karena masih memiliki jasmani yang sehat, juga tidak kekurangan duit untuk dipakai, mungkin ini akan dapat membantu kondisi batinnya agar lebih seimbang dan stabil. Jika sifat ibu anda tidak juga berubah, maka sebagai anak, kalian yang harus merubah perlakuan kalian terhadap beliau dengan lebih lebih banyak bersumbangsih dan lebih banyak mengalah kepadanya, lambat laun tentu akan dapat memberikan pengaruh dan menimbulkan penyesalan pada diri beliau. Saya yakin kalau batin ibu kalian lebih menderita daripada kalian sendiri, sebab nafsu keinginan beliau tiada habis-habisnya.

Dikutip dari Tabloid Tzu Chi edisi 120
 
如何停止貪財的心念?
 
有人問:母親十分貪財,嗜錢如命,為了金錢可以犧牲親情和人格,子女不但常和母親起衝突,更感到莫大的困擾與痛苦,根本不能諒解母親的作為。

上人開示:母親愛財的心態,可能是基於她極度匱乏、久缺安全感所致,子女要藉事練心、多體諒母親。用慈施悲,以寬大的愛心對待她,可能的 話,帶她去醫院看看人間的生老病死等苦離,讓她欣慰自己身體健康,又不缺錢使用,或許可以幫助她的心態趨於平衡、穩定。母親如果不改變,則由子女來改變對 她的態度,對她多付出、多寬讓,久而久之自然能引導她生出懺悔的心。我相信母親比子女更痛苦,因為她所要的永無止盡。

本文摘自《慈濟道侶》120

Kesangsian Maha Kausthila terhadap kegelapan batin

Dalam belajar ajaran Buddha adalah belajar sampai memahami secara jelas akan “dari mana berasal ketika lahir dan ke mana pergi setelah mati”, tetapi itu sama sekali tidak semudah yang diucapkan! Bagaimana pun Sang Buddha tahu cara membimbing kita dengan kebijaksanaannya, pertama-tama ingin kita “menenangkan batin”, jika batin dapat ditenangkan, segala kondisi luar akan tampak dengan jelas. Dengan demikian, kita akan mampu melakukan refleksi diri, paham akan “Bagaimana saya sekarang hidup?” Jika manusia dapat berpikiran positif , tentu saja secara otomatis akan dapat melepaskan masalah hidup dan mati, serta bebas dari kerisauan.

Kegelapan batin adalah ilusi yang tidak nyata dan seharusnya dapat dilepaskan secara tuntas

Pada masa Sang Buddha masih hidup, pada selang waktu tertentu Sang Buddha dan para murid akan menetap pada Vihara Venuvana di Rajagrha. Dikarenakan jumlah murid terlalu banyak, maka ada sebagiannya dibawa oleh Sariputra ke Gunung Grdhrakuta ( Puncak Burung Nasar) untuk menetap di sana. Sariputra adalah murid Buddha yang paling unggul dalam kebijaksanaan, sehingga jika dalam hati para Bhikkhu ada timbul kesangsian, mereka akan bertanya kepada Sariputra.  

Suatu hari, ketika Maha Kausthila sedang bermeditasi, tiba-tiba terpikirkan: “Bagaimana sebetulnya saya dilahirkan? Mengapa kita tidak tahu akan hidup dan mati dalam kehidupan?” Karena tidak mampu memecahkan teka teki ini, dia lalu beranjak menuju ruang meditasi Satiputra. Maha Kausthila bertanya pada Sariputra dengan sikap penuh hormat: “Yang Arya, dalam hati saya ada sebuah kesangsian, Sang Buddha selalu mengatakan bahwa semua makhluk berkembang dikarenakan terhimpunnya kegelapan batin, sebetulnya di manakah kegelapan batin berada? Dari manakah ia berasal? Bagaimana caranya agar dapat menguraikan kegelapan batin?”

Sariputra menjawab: “Kegelapan batin berasal dari ketidak tahuan; karena tidak tahu, maka tidak mengerti. Sebetulnya ia berkembang dari ketidak mengertian akan ilusi yang tidak nyata dari ‘panca skandha (lima kelompok pembentuk kehidupan), berupa rupa (badan jasmani), vedana (perasaan), sanna (pencerapan), sankhara (pikiran) dan vinnana (kesadaran)’, itu dikarenakan kita tidak bersungguh hati dalam menghayatinya. Kehidupan tidak pernah terlepas dari ‘rupa skandha’, segala sesuatu yang terlihat adalah rupa, rupa mengalami kelahiran dan musnah. Kita tidak mengerti mengapa materi bisa tercipta dan musnah, sehingga selalu timbul perasaan melekat, itulah kegelapan batin, selanjutnya tidak mengerti akan ‘vedana’ (perasaan), perasaan di dalam hati. Setiap orang, masalah atau benda yang dilihat, didengar atau ada kontak, dalam hati tentu akan timbul berbagai perasaan, jika melihat hal yang sesuai keinginan, tentu merasa senang; jika tidak sesuai keinginan, timbul emosi dalam hati. Jika tidak tahu akan ketidak nyataan dari perasaan, tentu akan menimbulkan kerisauan, itu juga disebut sebagai kegelapan batin.”

Kemudian Sariputra melanjutkan: “Orang awam biasanya setelah merasakan, akan timbul pemikiran sendiri, jika setelah kondisi luar berlalu, masih saja melekat pada rupa, ini juga disebut sebagai kegelapan batin. Mengapa bisa ada ‘sankhara skandha’ (bentuk pikiran) akan masalah hidup dan mati seperti ini? Ini juga bersumber pada kemelekatan. Kita mempergunakan ‘vinnana’  (kesadaran) untuk merasakan kondisi luar, lalu setelah melakukan banyak hal timbul penyesalan dalam hati, ini semua disebut sebagai kegelapan batin. Jika kita tidak mampu memahami panca skandha secara jelas, batin tentu tidak akan bisa berpikiran terbuka dan tidak mampu melepaskan kerisauan, ini juga disebut sebagai kegelapan batin.”

Mengamati proses pembentukan, pemusnahan dan perubahan, lalu melakukan refleksi terhadap sifat hakiki

Perkataan Sariputra ini adalah konsep kebenaran yang sangat abstrak, bagaimana caranya belajar ajaran Buddha agar dapat sepenuhnya mengerti akan “Panca skandha”? Ini membutuhkan kesungguhan hati kita. Sebagai contoh adalah lumpur dan pasir, batu, rumput, pohon, bahkan tubuh jasmani kita, semuanya termasuk dalam “rupa skandha”.

Mengapa sebatang rumput bisa tumbuh dari dalam tanah? Karena ada benih rumput, tanah, kandungan air, sinar matahari dan udara, baru rumput bisa tumbuh, setelah tumbuh juga tidak bisa melepaskan diri dari unsur pendukung seperti tanah, kandungan air, sinar matahari dan udara, baru bisa terus tumbuh besar, namun pada suatu saat nanti rumput juga akan berubah menjadi kuning dan layu, ini adalah perubahan dari “sankhara” (pikiran), bentuk pikiran terus mengalami proses pembentukan, pemusnahan dan perubahan.

Demikian juga dengan kehidupan manusia, pasti melalui masa bayi, balita, usia muda, setengah umur dan perlahan-lahan lanjut usia. Selama selang waktu ini, bagaimana manusia tumbuh besar? Saya pikir setiap orang tidak mengerti secara jelas akan tubuh jasmani sendiri, bukan saja tidak mengerti akan tubuh jasmani sendiri, bahkan terhadap “vinnana skandha” (bentuk kesadaran) yang tidak kekal adanya, yaitu pemikiran dan perasaan sendiri, juga tidak bisa mengerti secara jelas.    

Di rumah sakit, kita bisa menyaksikan segala macam pasien dan setiap orang memiliki pandangan hidup masing-masing. Ada yang sangat takut mati, begitu sakit langsung memikirkan kematian yang mengerikan! Dari itu, ada sebagian orang mati bukan karena sakit, tetapi disebabkan mati “ketakutan”, di mana perasaan takut dan stress membuat penyakitnya semakin parah, akan tetapi juga ada orang yang menghadapi penyakitnya dengan optimis, sehingga penyakitnya lebih mudah disembuhkan.
 
Pernah ada seorang pasien sirosis hati yang menyampaikan, nanti setelah “usianya seratus tahun”, ia akan mendonorkan jasadnya kepada Universitas Tzu Chi untuk dijadikan materi pengajaran Patologi Anatomi, ia mengatakan seumur hidupnya tidak ada bersumbangsih apa pun terhadap umat manusia, maka jika pada akhir hayatnya dapat mempersembahkan jasadnya untuk pendidikan medis, maka hatinya merasa sangat terhibur! Orang yang sedemikian rileks dan optimis ini, boleh dikatakan telah memahami “rupa skandha” secara jelas, ia tidak lagi memberatkan masalah hidup dan mati, jadi tidak penting lagi apakah ia mengerti atau tidak akan “vedana (perasaan), sanna (pencerapan), sankhara (pikiran) dan vinnana (kesadaran)”.

Jika “rupa” awal dapat diterima sebagai fakta, tentu segalanya akan dapat diterima dengan pikiran terbuka, maka kita harus melakukan refleksi pada batin sendiri dengan baik, jika batin dapat ditenangkan, baru kegelapan batin tidak akan menutupi jasmani dan batin kita.

Dikutip dari buku “Sirkulasi keindahan – membahas kelanggengan” karangan Master Cheng Yen
 
摩訶俱絺羅尊者對無明的疑惑
 
學佛,就是要學得可以清楚知道「生從何來、死往何去」,但是談何容易啊!不過,佛陀懂得用智慧來引導我們,首先要我們「心靜」,心若能靜下來,一切的境界就會很明朗。如此,即可反觀自己,了解「我現在是怎麼生活?」人若看得開,自然對生死就會放下、自在。

無明乃虛幻不實 應透徹放下

佛世時代,佛陀與弟子有段時間都住在王舍城的竹園精舍。由於弟子眾多,所以有一群弟子由舍利弗帶領住在靈鷲山。舍利弗「智慧第一」,比丘們心中若有疑惑也會請教他。

天,摩訶俱絺羅尊者在打坐時,忽然想到:「自己是怎樣出生的呢?人生為什麼會有生死無明?」他打不開這些謎題,便起身走到舍利弗的禪房。俱絺羅很恭敬地對 舍利弗說:「尊者,我心中有一點疑惑。佛陀常說眾生是因無明聚集而衍生,到底無明在哪裡?它是從哪裡生出來?要怎樣才能解開無明?」

舍利 弗回答:「無明是出於無知;因為無知,所以不明白。其實,它就是從不了解『色、受、想、行、識』的虛幻不實而衍生,因為我們沒有用心去體會。人生從未離開 過『色蘊』,看得到的東西都是色,色有生有滅。我們不了解物質為什麼會有生滅,因此常會起執著心,那就是無明,再來是不瞭解『受』心中的感受。只要看到、 聽到或接觸到的人事物,心中都會有種種的感受,看到順意的就高興;不順意的就生氣。若不知道感受的虛幻性,就會有煩惱,這也叫做無明。」

說:「平常人感受後,就會有自己的想法,若境界過後還執著於形象,這也叫做無明。為什麼有生死這種『行蘊』?也就是來自於執著。我們用『意識』來感受外面 的境界,所以造作很多事後又心生後悔,這都叫做無明。若無法透徹明瞭『色、受、想、行、識』這五項,心就會解不開、放不下,這也叫做無明。」

觀察生滅變異 反觀自心明鏡

舍利弗這段話是很抽象的道理,我們要怎樣學佛,才能學到對「色、受、想、行、識」都完全透徹、瞭解?這就要憑我們自己去用心。譬如大地上的泥沙、石頭、草、樹木,甚至我們的人體,這一切都包括在「色蘊」中。

一株草為什麼會從土裡生長出來?是因為有草的種子和泥土、水分、陽光、空氣聚合在一起,才會長出草來,而且花草長出來後,仍離不開泥土、水分、陽光和空氣這些因緣,才能不斷地成長,但草長到一定的時間就會變黃、枯萎,這就是「行」的變化,行蘊不斷地生滅變異。

人生也一樣,一定是經過嬰兒期、幼年期,然後少年、中年,再漸漸進入老年。在這段時間,到底是怎樣長大?我想每個人對自己的身體都無法透徹瞭解,不只無法瞭解,對生滅無常的「識蘊」,也就是自己的想法、感受也無法透徹明白。

在醫院裡,我們可以看到各種病患,各有不一樣的人生觀念。有的人很怕死,一生病就想到死的恐怖!因此,有的人不是真正病死,而是「怕」死,是心理的惶恐、鬱悶,而加重他的病情,但也有些病人卻很樂觀,病也就比較容痊癒。

有位肝硬化的病患表示,在他「百年」之後,要將他的遺體捐給慈濟醫學院作為病理解剖,他表示自己這輩子對人類沒什麼貢獻,在最後能將這副臭皮囊奉獻給醫學 教育,內心感到很欣慰!如此灑脫、樂觀的人,可以說已經將「色」蘊看透,他對生死早已看淡,不管「受、想、行、識」是否瞭解都已無關緊要。

初步的「色」看得開,一切也就能看得開,所以,要好好反觀自心;心如能靜下來,無明才不會籠罩著自己的身心。

本文摘自:證嚴上人著作《美的循環談生生世世
 

Apakah Tzu Chi hanya mendalami “Sutra Amitharta” (Sutra Makna Tak Terhingga) sebagai konsep pemikiran sentral satu-satunya?

Ada orang bertanya kepada Master Cheng Yen:
Apakah Tzu Chi hanya mendalami “Sutra Amitharta” (Sutra Makna Tak Terhingga) sebagai konsep pemikiran sentral satu-satunya?

Master menjawab:
Konsep pemikiran dalam “Sutra Amitharta” adalah jumlah tiada terhingga berawal dari satu benih dan satu benih bisa tumbuh menjadi tiada terhingga. Saya sering mengatakan “Pohon besar sekali pun tumbuh dari tunas sangat kecil”, di dunia ini asal ada niat di hati, walau “niat di hati” ini tidak terlihat dan tidak dapat diraba, namun dapat membawa keberhasilan bagi hal-hal yang tiada terhingga jumlahnya. “Sutra Amitharta” menjelaskan hal ini dengan sangat jelas dan semangat Tzu Chi memang berasal dari sini, hati Bodhisattva dari insan Tzu Chi bagaikan air yang jernih, tanpa kontaminasi dan tanpa warna.
 
慈濟是否以《無量義經》做為中心思想一門深入?
 
問題:慈濟是否以《無量義經》做為中心思想一門深入?

上人的回答:《無量義經》的思想是,無量為一,一為無量。我常常說「合抱之樹,始於毫芒」,普天之下,只要有心,這個「心」雖然看不到,摸不著, 但卻可以成就無量事。《無量義經》對這些說的非常清楚,慈濟的精神就是從此而生,慈濟人這一片菩薩心,像一灘清淨的水,無染無色
 

Tata kelola finansial: Mengikhlaskan kekayaan duniawi dan memupuk kekayaan Dharma

“Seorang mulia memperoleh kekayaan dengan cara yang benar”, terlebih lagi harus “mempergunakannya dengan cara yang tetap”. Harta kekayaan merupakan harta duniawi dan dimiliki secara bersama-sama dengan lima kelompok (yaitu perampok/pencuri, pejabat korup, anak durhaka, bencana banjir dan musibah kebakaran), jadi jangan sesekali berusaha untuk mendapatkan kekayaan dengan cara yang tidak benar, selanjutnya bagi orang yang dapat mengelola harta kekayaan dengan bijak, mereka mampu merubah kekayaan duniawi menjadi kekayaan Dharma berupa kebijaksanaan, sehingga harta kekayaan mereka tidak pernah berhenti datangnya dan tidak pernah habis dipergunakan.
 
Dalam “Bodhisattva Ksitigarbha Sutra” ada sepatah kata: “Dengan memberikan satu, sepuluh ribu kali lipat balasan akan diperoleh”, ini mengajarkan kepada kita agar dapat mengikhlaskan harta kekayaan duniawi dengan sukacita dan sebagai balasannya akan memperoleh kekayaan Dharma berupa berkah dan kebijaksanaan; artinya “siapa yang menanam benih keberkahan, dia yang akan menuai buah keberkahan”. Semua ini memang perlu kebijaksanaan untuk melakukan pilihan, ada orang yang beranggapan: “Jika punya duit, kenapa tidak dipakai sendiri, kenapa harus diberikan pada orang lain? Ini adalah pikiran egois pada kebanyakan penghuni alam manusia, inilah bentuk manusia awam.”

Ini bagaikan hanya menyimpan sebutir benih di dalam kantungan dan tidak mau menggenggam kesempatan datangnya musim untuk menebarkan benih ke dalam tanah, ketika kesempatan telah lewat, maka benih tersebut tentu tidak berguna lagi, jadi kita harus segera memupuknya, agar benih dapat mengembangkan kemampuannya untuk tumbuh, ketika masanya telah tiba, dengan sendirinya akan berbuah dengan lebat. Prinsip yang sama, jika kita sendiri yang berdana, tentu akan mendatangkan pahala kebajikan lebih besar daripada meninggalkan harta kekayaan kepada anak cucu dan menunggu mereka berdana atas nama kita, sebab anak cucu memiliki berkah mereka sendiri.

Kekayaan duniawi dipergunakan untuk
memupuk kekayaan pahala kebajikan berupa berkah dan kebijaksanaan
Sang Buddha pernah mengajarkan kepada kita akan tata kelola finansial, lalu bagaimana caranya mengelola kekayaan duniawi dan memupuk kekayaan Dharma? Kekayaan duniawi mestinya dapat dibagi menjadi empat bagian:
 
1.    Mengasuh ayah dan ibu, sebagai balas budi luhur mereka --- Dari segala bentuk kebajikan, terpenting adalah berbakti pada orangtua, manusia harus tahu berbakti pada orangtua, dalam membina diri sesuai ajaran Buddha juga mengutamakan bakti terhadap orangtua, sama sekali tidak boleh melalaikan bakti terhadap orangtua. Jadi harta kekayaan harus disisakan seperempat bagian untuk berbakti pada orangtua, agar orangtua cukup sandang dan pangan, serta mereka bebas untuk mempergunakannya demi menuntaskan amal kebajikan yang hendak mereka lakukan.
2.    Membesarkan dan mendidik anak --- Sesudah melahirkan anak harus bertanggung jawab, kita mesti menyisakan harta kekayaan sebagai dana pendidikan mereka, agar mereka dapat belajar sampai tamat sekolah dengan hati yang tenang, jadi seperempat bagian dari harta kekayaan perlu disisakan sebagai dana untuk membesarkan dan mendidik anak.
3.    Memenuhi kebutuhan rumah tangga --- Seperempat bagian dari harta kekayaan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari, kita mesti berusaha menambah penghasilan dan mengurangi pengeluaran, agar harta kekayaan tetap tidak berkurang, ini baru merupakan cara untuk memperoleh harta kekayaan.
4.    Kesejahteraan masyarakat --- Sang Buddha mengajarkan kepada kita, dalam memperpanjang pengetahuan intuitif dan jiwa kebijaksanaan yang merupakan sifat hakiki, kita mesti menciptakan keberkahan bagi masyarakat banyak. Kita seharusnya mempergunakan seperempat harta kekayaan untuk menyebar luaskan ajaran benar dan berbuat amal dalam masyarakat, dengan demikian kita akan dapat memupuk berkah dan kebijaksanaan bagi diri sendiri. Dalam masa kehidupan sekarang, kita berkesempatan untuk terlahir di negeri penuh keberkahan, menikmati kehidupan cukup sandang dan pangan, itu disebabkan kita telah menanam benih keberkahan dengan menciptakan keberkahan bagi masyarakat dalam masa kehidupan lampau. Sang Buddha mengharapkan balasan keberkahan kita terus mengalir tanpa henti, maka mendorong umat manusia agar mempergunakan seperempat harta kekayaan untuk menciptakan keberkahan bagi masyarakat banyak, menjalin jodoh baik dengan berdana terhadap semua makhluk. Ini adalah wujud mengikhlaskan kekayaan duniawi demi memperoleh kekayaan Dharma yang abadi.

Semoga kita semua dapat saling memberi dorongan semangat antara satu sama lainnya, berlandaskan pada semangat yang diajarkan Sang Buddha dalam mengelola kekayaan duniawi dan memupuk kekayaan pahala kebajikan berupa berkah dan kebijaksanaan.

Dikutip dari Tabloid Tzu Chi edisi 123
 
理財之道:捨世間財 修取法財
 
「君子愛財,取之有道」,更必須「用之有道」。錢財是身外之物,為五家所共有,因此不取不義之財,然而,能善於理財者,卻可以將世間財換成智慧法財,取之不竭,用之無盡。

《地藏經》有一句話說:「捨一得萬報」,就是教導我們喜捨世間財物,自得福慧功德法財;亦即「播福因、得福果」。這都必須靠智慧的選擇,有的人認為:「有錢為什麼不留著自己用,為什麼要拿給別人用呢?這就是世間人的自私心念,亦即是凡夫。」

像一顆種子放在袋子中,不肯把握季節播種於土壤中,錯過生長時機,就無法發揮作用,因此必須即時培育,使這顆種子發揮其生長功能,等到氣候成熟,自然有纍纍的果實。同樣的道理,自己親手布施,比留給子孫替我們布施的功德還大,兒孫自有兒孫福!

世間財產 修持福慧功德財

佛陀曾教導我們理財的方法,如何處理世間財產,培育出世法財呢?世間財物應該分成四份:

一、供養父母,以報宏恩萬善以孝為首,人必定要以孝為重,修學佛法也是以孝為宗,絕不能沒有孝道。所以,財產要留給四分之一孝養父母,讓父母的生活溫暖飽足,使他們自由享用,以完成父母想做的善業。

二、培育子女生養子女要有責任心,須為他們留一份教育基金,使其能安心完成學業,因此,四分之一的財產是為子女留存養育金。

三、家庭生活另外四分之一財產是維持日常生活安康的事業基金,應開源節流,使其綿綿不息,方為生財之道。

四、 社會福利佛陀教育我們,延續本性的良知慧命必須造福人群。我們應該用四分之一的基金,奉獻於宏揚宗教正法,做社會福利善業,如此亦可進修自己的福德智 慧。今生此世能夠生在福地,享受豐衣足食的生活,是因為過去生中曾經有一份造福人群的福業。佛陀希望我們的福報綿延不絕,所以鼓勵人們以四分之一財產造福 人群,布施眾生結善緣。這就是捨世間財修取永恆的法財。

願與大眾共勉,以佛陀的教育精神,處理世間財產,修持福慧功德財。

本文摘自《慈濟道侶》123

Kemewahan Yang Tidak Sanggup Dijangkau

Artikel tulisan He Feipeng
(Business Weekly Taiwan edisi 989 / 6 Nopember 2006)
 
Pada tahun 1981, saat itu Hotel Lai Lai Sheraton baru dibuka, hotel ini merupakan hotel mewah paling terkenal di Taipei, The Sheraton Taipei Club pada lantai lantai 17 hotel tersebut juga merupakan tempat berkumpulnya para pengusaha kaya. Maka jika seseorang memiliki kartu keanggotaan pada klub tersebut, ini melambangkan kemuliaannya.
 
Pada waktu itu, saya baru saja berpindah kerja, demi menunjukkan keyakinannya terhadap diriku, Bos baruku membuatkan kartu keanggotaan The Sheraton Taipei Club dan memberitahukan bahwa semua tagihan biayanya akan ditanggung oleh perusahaan. Saya sangat berterima kasih kepada Bos, tapi saya tidak pernah menggunakan kartu keanggotaan itu.
 
Setengah tahun kemudian, Bos sangat terkejut begitu mengetahui saya tidak pernah menghabiskan biaya sepeser pun di klub itu, dia mengatakan kepadaku agar mempergunakannya sesuka hati, di mana sesudah saya lelah bekerja sudah seharusnya bersantai sejenak di sana, belum lagi memang perusahaan membutuhkan perluasan hubungan masyarakat. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih pada Bos, tapi kartu keanggotaan VIP itu tetap tidak pernah saya pergunakan sampai saya meninggalkan perusahaan itu.
 
Saya tidak pernah memberitahu Bos kenapa saya tidak pernah menggunakannya, tapi dalam hatiku sangat jelas bahwa itu merupakan “kemewahan” yang tidak sanggup dijangkau oleh gajiku, juga merupakan “kemewahan” yang tidak sanggup ditanggung oleh kemampuanku, jadi jika membiarkan perusahaan membayarkan konsumsi pribadiku, saya merasa sangat berdosa; lebih menakutkan diriku adalah setelah saya memupuk kebiasaan “bermewahan” ini, lalu ketika suatu hari nanti saya kehilangan “kemewahan” ini, saya akan lebih menderita lagi; dikarenakan saya tidak mampu untuk menjangkaunya, maka saya tidak berani mencobanya dan tidak berani memilikinya, juga tidak berani belajar bermewah-mewahan.
 
Memanipulasi keinginan manusia selalu menjadi jurus maut dari semua perusahaan merek terkenal, Louis Vuitton tumbuh cepat juga bergantung pada nafsu keinginan manusia untuk mencari kemewahan, tetapi dia juga membuat manusia terjerumus ke jurang nafsu keinginan yang sulit terisi penuh; perusahaan lainnya Coach juga mempromosikan kemewahan yang sanggup dijangkau (affordable luxury), perusahaan ini juga tumbuh berkembang cepat; tampaknya “kemewahan” adalah milik orang kaya raya, kemewahan yang mampu dijangkau baru merupakan kenyataan sesungguhnya yang harus diakui oleh orang banyak seperti anda dan saya. Jika kita mampu memahami kemampuan sendiri dan mengendalikan prilaku sendiri, baru kita memiliki kesempatan untuk benar-benar menjadi majikan daripada diri kita sendiri.
 
Kemewahan dan kesenangan adalah keinginan umum dari manusia, tiada seorang pun yang tidak suka pada kemewahan dan kesenangan. Hanya saja ada orang yang menikmati kemewahan sesuai dengan kemampuan mereka, namun ada orang yang menikmati kemewahan dengan memanipulasi keuangan mereka, sama seperti banyak orang muda yang mempergunakan kartu debit atau kartu kredit untuk meminjam uang dengan mengagunkan penghasilan mereka di masa mendatang; tentu saja, juga ada orang yang menggunakan jabatan untuk menikmati kemewahan, banyak PNS atau manajer senior menggunakan sumber daya yang disediakan oleh pemerintah atau perusahaan untuk menikmati kemewahan dengan mengatas namakan urusan kantor;  tentu saja, juga ada orang yang menikmati kemewahan dengan mengandalkan keluarga, banyak anak muda yang menggunakan dan menghabiskan uang orangtua untuk bermewah-mewahan, berlagak seperti anak orang kaya saja, di mata mereka seolah-olah kemewahan itu adalah hal yang wajar, benar-benar tidak mampu menahan diri!
 
Sebetulnya kemewahan adalah sejenis racun yang mendatangkan kecanduan, setelah anda memilikinya, tentu anda akan takut kehilangan, begitu kehilangan, langsung mendatangkan penderitaan tak tertahankan.

Ini adalah alasan mengapa ketika masih muda dulu, saya tidak mau menggunakan kartu keanggotaan klub. Saya takut sejak saat itu saya tidak akan mampu lagi meninggalkan pekerjaan itu, tidak mampu dipisahkan lagi dari perusahaan itu, karena saya sudah terbiasa dengan kemewahan yang diberikannya. 
 
Jika saya memakai obat penenang yang diberikan perusahaan itu, maka sejak saat itu saya tidak akan berani mengambil risiko dari kehilangan pekerjaan, sejak saat itu saya memanjakan diri dalam zona nyaman yang diberikan oleh orang lain.

Tentu saja, saya juga tidak berani memberikan kemewahan kepada anak-anakku yang melebihi kemampuan mereka sendiri, karena saya tahu bahwa keinginan mereka perlu dicapai oleh mereka sendiri nantinya.
 
Jika terlalu dini memberikan kesenangan terlalu banyak pada mereka, itu hanya akan membuat kemampuan mereka untuk bertahan hidup menjadi rendah, hanya membuat mereka menjadi budak nafsu keinginan untuk mencari kemewahan saja, kasih sayang orangtua dapat berubah menjadi racun mematikan ketika mereka menghadapi lingkungan yang sulit.

Saya juga melihat banyak orang muda yang dikarenakan terlalu dini memiliki kemewahan di luar jangkauan mereka, apakah itu adalah karena keberuntungan sesaat, atau nasib membawa mereka mendadak kaya, atau benar-benar memiliki kemampuan, namun begitu lingkungan berubah, sejak itu mereka pun tenggelam ke dalam jurang nafsu keinginan. 
 
Oleh karena itu, saya juga tahu bahwa walau pun mampu bermewah-mewahan, juga harus digunakan dengan hati-hati, karena itu adalah perangkap yang dibuat oleh setan nafsu keinginan yang senantiasa bersiap sedia untuk menculik jiwa anda.
 
 
無力負擔的奢華
                                                                                                            /何飛鵬

民國七0年代,來來飯店開幕不久,那是台北最著名的豪華飯店,而它的十七樓會員俱樂部更是富商巨賈雲集的場所。擁有一張來來十七樓的會員證,就是尊貴的象徵。
 
當時,我換了一個工作,新老闆為了表示肯定,替我買了一張來來飯店的會員證,並告訴我,所有的消費由公司埋單。我非常感謝老闆的賞識,但我從來沒去使用過。
 
半年過後,老闆發覺我沒有任何消費,十分訝異,他告訴我,儘管去用,工作辛苦,放鬆一下也是應該的,更何況,替公司做公關也是必要的。我再一次謝謝老闆的厚愛,但那一張貴賓卡,一直到我離開那家公司,仍然是一張沒用過的呆卡!
 
我 沒告訴老闆我不去使用的原因,但我內心清楚,那是我薪水不能負擔的「奢華」,那也是我能力不能負擔的「奢華」,讓公司負擔我個人的消費,我覺得罪惡;我更 害怕的是,一旦我養成這樣的「奢華」習慣,當我失去時,我會更痛苦,因為我無力負擔,我就不敢嘗試,不敢擁有,也不敢奢華成習。

操縱人類的慾望,一向是所有精品公司的拿手絕活,LV靠的是人類的奢華慾望,快速成長,但也讓人類走向慾望難填的深淵;另一家公司Coach喊出能負擔的奢華(affordable luxury),也大獲成長,顯然「奢華」是豪門巨富的事,能負擔的奢華才是大眾你我的真實。瞭解自己的能力,控制自己的行為,才有機會真正做自己的主人。
 
奢華、享樂,都是人類的共同慾望,沒有人不喜歡奢華享樂。只 不過有的人是用自己的能力享受奢華,有的人是用財務槓桿享受奢華,就如同許多年輕人用現金卡、信用卡,預借未來的收入;當然還有人用職務享受奢華,許多的 公務員、高階經理人,用政府及公司提供的資源,以公務為名,行自我享樂之實;當然還有人因親情享受奢華,許多的年輕人,用的是父母的錢,花起錢來,宛如豪 門富家子弟,奢華在他們眼中彷彿理所當然,完全不需要自我約束! 

但奢華是會上癮的毒藥,一旦擁有,就怕失去,一旦失去,就痛苦難堪。
 
這是我年輕時為何不肯使用來來會員俱樂部的原因。我怕我從此離不開那個職位,離不開那家公司,因為我已​​經習慣優渥、習慣奢華。
 
但那都是公司給予的安定劑,我從此不敢冒險犯難,從此喪失鬥志,沉迷在接受別人餵養的舒適圈中!

當然,我也不敢給自己的兒女超過太多他們自己能力的奢華,因為我知道,他們的慾望,需要用自己的能力去完成。

太早擁有太多享樂,只會讓他們的生存能力變差,只會讓他們變成奢華慾望的奴隸,父母的親情,可能化為他們面臨艱困環境時的毒藥。
 
我還看到許多年輕人,因為太早擁有自己無法負擔的奢華,不論是一時走運,或者因緣際會一步登天,還是真有能力、真有實力,只要環境改變他們就從此沉淪慾望深淵。

因此我更知道,就算有能力負擔的奢華,也要謹慎使用,因為那是慾望魔鬼設下的陷阱,隨時準備綁架你的靈魂

Kamis, 09 Agustus 2012

Lembu ini adalah abangku

Ada sepasang abang beradik yang sejak kecil tumbuh besar bersama, namun mereka masing-masing memiliki cita-cita yang berbeda, setelah orangtua mereka meninggal dunia, sang adik meninggalkan kampung halaman dan memilih kehidupan non duniawi demi mencari kebenaran sejati dalam hidup, dia lalu menyerahkan pengelolaan semua usaha peninggalan orangtua kepada sang abang. Setelah menjalani pembinaan diri selama beberapa tahun, akhirnya sang adik berhasil menyadari akan ketidak kekalan dalam kehidupan, sadar secara mendalam kalau nama dan keuntungan materi hanyalah fatamorgana, jadi berbuat kebajikan dan menciptakan harus segera. Dari itu, dia juga berharap sang abang dapat ikut memahami prinsip kebenaran ini.

Ketika dia tiba di kampung halaman dan memberitahukan sang abang tentang pemahamannya ini, ternyata sang abang bersungguh sungguh dalam mengelola usaha dan setiap hari sibuk menjalani kehidupan dengan tanpa arti. Dia berkata kepada sang adik: “Kamu telah berhasil dalam pembinaan dirimu dan ucapanmu juga sangat beralasan, namun tanggung jawabku sekarang masih sangat besar dan aku tidak dapat melepaskannya.” Sang adik berkata: “Waktu dikendalikan oleh diri kita sendiri, abang seharusnya meluangkan sedikit waktu untuk mencari kebenaran sejati dari kehidupan.” Abangnya membalas: “Usahaku sekarang sedemikian besar, banyak masalah yang harus kuselesaikan sendiri, mana ada waktu luang sama sekali?” Sang adik berkata: “Jika abang tidak ada waktu luang, juga boleh berdana sedikit untuk membantu orang susah.” Sang abang menjawab: “Tunggu sampai pondasi ekonomiku sudah stabil dan berhasil memperoleh lebih banyak uang, barulah aku akan berdana.”

Sang adik terus berusaha menasehatinya, namun sang abang selalu acuh tak acuh dengan alasan tidak ada waktu atau tunggu sampai usaha lebih stabil dan punya cukup banyak uang. Karena sang abang begitu keras kepala, sang adik juga tidak dapat berbuat apa-apa, dia lalu meninggalkan kampung halaman dengan hati kecewa tanpa daya, dia lalu melanjutkan pembinaan dirinya.

Cengkam waktu untuk menciptakan keberkahan, membina diri dan membina kebijaksanaan dengan hati tenang

Beberapa tahun kemudian, dia mendengar kabar bahwa abangnya telah meninggal dunia, dalam kesedihannya sang adik bersamadhi untuk melihat ke mana abangnya bertumimbal lahir. Dia membayangkan alam surga dan alam manusia, tetapi tidak menemukan sosok abangnya; dia membayangkan alam neraka dan alam setan kelaparan, juga tidak ada. Akhirnya dia menemukan abangnya di alam binatang, ternyata abangnya terlahir kembali sebagai seekor lembu. Sang adik dengan galau kembali ke kampung halamannya dan menemukan sang abang yang telah terlahir kembali sebagai lembu.

Dia melihat tubuh lembu yang merupakan titisan abangnya sedang membajak sawah, karena lumpur di sawah sangat dalam, membuat setiap langkahnya sulit untuk ditapakkan, disebabkan sudah terlalu lelah dan terus dipecut oleh tuannya, lembu ini semakin berjalan semakin lambat dan terus menerus menampakkan rupa sedih dan menderita, sepertinya hendak memberitahukan orang kalau dia sudah tidak dapat bertahan lagi. Sang adik berdiri di pematang sawah dan melihat lembu ini sungguh bersusah payah, biar pun tenaganya sudah terkuras habis, namun sang tuan bukan saja tidak mau memberikan istirahat, malah terus memecut tubuhnya.  

Pemandangan ini membuat sang adik tidak dapat menahan diri untuk tidak mengeluh, dia berkata dengan hati pilu pada sang lembu: “Karena tidak mau segera membina diri, akibatnya harus susah payah seumur hidup dengan dosa terus menjerat tubuh, semoga abang sekarang dapat segera berpikir baik-baik dan segera membebaskan diri dari tubuh ini.” Lembu ini sepertinya dapat memahami perkataannya, tiba-tiba meronta-ronta dan meratap keras, kemudian seluruh tubuhnya lemas dan mati.

Menyaksikan kejadian aneh ini, semua petani lainnya merasa ingin tahu dan mengitari tuan empunya lembu untuk bertanya apa yang sebetulnya telah terjadi? Empunya lembu berkata: “Aku juga merasa sangat aneh, tadi ada seorang praktisi agama berbicara sendiri di sini, tiba-tiba lembuku mengeluarkan suara ratapan dan meronta-ronta, lalu jatuh ke tanah dan langsung mati.”

Para petani curiga kalau sang praktisi agama ini menjalankan sihir, kalau tidak, bagaimana ada hal aneh terjadi pada diri lembu ini, mereka lalu mengerubutinya. Sang praktisi agama lalu menuturkan benih karma dan balasan karma pada diri lembu ini kepada semua orang: “Tahukah kalian? Lembu ini dulunya adalah abangku, aku selalu menasehatinya agar mau membina diri dan menciptakan keberkahan, tetapi dia selalu beralasan kalau sangat sibuk dalam usaha dan menolak melakukannya. Namun kehidupan ini tidak kekal adanya, setelah meninggal dunia dirinya terlahir kembali dalam tubuh lembu. Sebagai lembu juga harus mencengkam waktu, jika mampu, harus segera menciptakan keberkahan, ketika ada waktu juga harus menenangkan hati dan membina batin dengan baik.” Setelah mendengarnya, para petani baru paham apa yang telah terjadi.
 
Pendek kata, kehidupan ini tidak kekal adanya, dalam segala hal harus mencengkam momen sekarang juga untuk segera berbuat, jika tidak maka kehidupan tentu akan terbelenggu oleh nafsu keinginan dan kerisauan, tanpa mampu membebaskan diri sama sekali.
 
  Dikutip dari buku “Membahas masa lalu dan masa sekarang” karangan Master Cheng Yen
 
這頭牛是我大哥
 
有一對兄弟,從小一起長大,卻各有不同的理想,當父母往生後,弟弟為了探求人生真理,於是離開家鄉選擇修行的生活,把父母留下來的事業完全讓給哥哥經營。 經過幾後的苦修,弟弟終於了悟人生無常,深覺一切名利均屬空幻,不論行善、造福皆要及時。所以,他希望哥哥也能領悟這番道理。

當他回到家鄉告訴哥哥這些年的體悟,但哥哥雖然認真經營事業,卻整天忙忙碌碌在空過人生。他對弟弟說:「你修行修得很好,你所說的也都很 有道理,但是我現在責任還很重,無法放下。」弟弟說:「時間掌握在自己手上,你應該撥出一點時間來追求人生的真理。」哥哥回答說:「我現在的事業這麼大, 有很多事務要找我親自處理,哪有空閒的時間呢?」弟弟說:「你如果沒有時間,也可以發撥一分心力,施捨錢財幫助貧困苦難的人。」哥哥回答說:「等我經濟基 礎穩定、賺更多的錢時,再來佈施。」

弟弟不斷地勸他,哥哥總是以沒空或是家業穩定後,有足夠的錢再做等理由來敷衍。哥哥如此頑固,弟弟實在是無可奈何,因此萬般灰心、無奈地離開家鄉,繼續精進修行。

把握時間造福 靜心修行修慧

數年後,聽到哥哥往生的消息,弟弟在悲痛之餘趕緊入定,觀照哥哥的去處。他觀想天堂、人間卻沒有哥哥的蹤影;觀想地獄、餓鬼道也都尋不著。最後,發現哥哥墮入畜生道,轉世為牛。弟弟憂心地趕回故鄉,找到轉世為牛的哥哥。

他看見哥哥轉世的牛身上拖著犁,在沼澤田裡耕作;田裡泥濘不堪,舉步難辛,由於太過疲累,加上主人不時在鞭打,牛愈走愈緩慢,並不時露出悲苦的神情,好像要告訴人牠快支撐不住。弟弟在田埂上看到牛這麼辛苦,體力幾乎消耗殆盡,而主人不但不讓牛休息還一直鞭打它。

這一幕幕情景讓弟弟不禁感歎,心疼地對牛說:「修行不及時,勞累一生,罪業纏身,但願現在你能及時思考,而及時解脫此身。」好像牛聽懂了修行人的話,突然掙扎著、大聲悲鳴;接著全身癱軟,就這樣往生。

其他的農人看到如此奇特的事,都好奇地圍過來問牛主人,究竟是怎麼回事?牛主人說:「我也覺得很奇怪,剛才有位修行人在這裡喃喃自語,我的牛就發出悲鳴聲、掙扎倒地而死。」

農夫們一致懷疑可能是修行人施了什麼法術,否則這 頭牛怎會這麼奇怪,於是大家將修行人團團圍住。修行人就將前因後果告訴大家:「你們知道嗎?這頭牛過去是我的大哥,我時時勸他修行、修福,他卻以事業很重 很忙來推托。但是人生無常,他往生後墮入牛身,當牛還要好好把握時間,有能力就在造福,有時間就要好好靜下 心來修行。」農夫們聽了都略有所悟。

總之,人生無常,凡事要把握當下及時去做,若本末倒置,人生就會被慾念、煩惱所困,不得掙脫。

本文摘自:證嚴上人著作《談古說今

Membangkitkan Empat Ikrar Agung Bodhisattva dan Mewarisi Ajaran Jingsi

Siraman embun air Dharma dari Master Cheng Yen


Sering disebutkan bahwa “Dharma bagaikan air”. “Air” ada dua jenis —— pertama adalah air untuk membilas, kedua adalah “sumsum” tulang di dalam kehidupan. Jika sumsum tulang dalam kondisi sehat, barulah bisa menghasilkan darah. Alasan Tzu Chi menggalakkan “Misi Donor Sumsum Tulang” adalah disebabkan oleh karena ada sebagian orang yang sumsum tulangnya sudah tidak selaras dan kehilangan kemampuan untuk menghasilkan darah, sehingga demi kelangsungan hidup perlu terus ditransfusi darah tanpa henti. Jika yang bersangkutan mendapatkan pasangan donor yang memiliki sumsum tulang yang cocok, suatu hari nanti, tubuh penerima donor ini kembali akan mampu menghasilkan darah dengan normal.
 
Dharma juga ada “Sumsum Dharma” dan air Dharma dapat membersihkan kotoran dalam batin. Jika kita tidak memahami Dharma dan tidak menggunakan Dharma, dalam batin tentu akan timbul keserakahan, kebencian, kebodohan, keangkuhan dan kecurigaan. Ketika menyelami Dharma Pertobatan pada tahun lalu, setiap orang mampu memahami tabiat buruk masing-masing dan tahu untuk bertobat dan memperbaiki kesalahan, di sinilah inti dari ajaran Buddha. Mampu melakukan analisa untuk diri kita, sehingga dalam diri kita timbul pemahaman dan penghayatan yang cermat. Jika sumsum Dharma dapat terserap ke dalam batin, kegelapan batin dan kerisauan yang jelimet tentu akan hilang dengan sendirinya.
 
Saya tidak memiliki permintaan lain, hanya berharap semua murid harus lebih giat lagi demi Dharma. Jika ada murid yang tidak mau mencari kemajuan, saya merasa iba dalam hati dan menghela napas kenapa orang-orang ini begitu bodoh ? Dharma sudah pun berada di depan mata, mengapa masih tidak tahu menyerapnya ? Setelah sebelumnya dengan susah payah meluangkan waktu untuk membina diri, jika pergi atau kendur di tengah perjalanan, tentu saja saya merasa sangat tidak rela. Hubungan antara guru dan murid bagaikan orangtua memperlakukan anak, jika para murid mampu menyerapkan Dharma ke dalam batin dan mempraktekkan Dharma dalam perbuatan, ini sebetulnya lebih istimewa daripada persembahan apa pun bagi diri saya.  
 
Ajaran Jingsi adalah membina “ketulusan, kebenaran, keyakinan dan kejujuran” di dalam diri. Jika sudah masuk ke Tzu Chi secara suka rela, maka harus membangkitkan “Empat Ikrar Agung Bodhisattva”. “Ketulusan” adalah landasan ikrar pertama, “Aku bertekad membebaskan semua makhluk yang tiada batas”, dikarenakan bencana di dunia terus terjadi, penderitaan semua makhluk semakin banyak pula, semua orang harus membangkitkan hati penuh ketulusan untuk terjun ke dalam masyarakat banyak, dengan tekad luhur untuk membebaskan semua makhluk. Dengan hati penuh “kebenaran”, “Aku bertekad mengakhiri segala kerisauan yang tiada henti”. Jika hati tidak benar, maka Dharma juga tidak benar, sehingga mudah melakukan satu kesalahan kecil yang dapat berakibat sesat ribuan kilometer, jadi harus mempergunakan perhatian benar barulah dapat mengakhiri kerisauan.
 
Kita menaruh keyakinan mendalam terhadap Dharma yang diajarkan Sang Buddha dan harus memiliki “keyakinan” untuk memasuki mazhab Tzu Chi, inilah ikrar ketiga “Aku bertekad mempelajari segala Dharma tiada terhingga”. Jika tidak memiliki keyakinan mendalam, tentu tidak akan mampu memahami Dharma sejati dari ekayana (kenderaan tunggal) Sang Buddha yang mulia dan mendalam. “Kejujuran” adalah ikrar ke-empat “Aku bertekad mencapai keBuddhaan pamungkas”. Jika batin ceroboh, bagaimana dapat mencapai keBuddhaan? Hanya dengan jujur membina diri dan mantap melangkah barulah dapat mencapai keBuddhaan. Bukan dengan meninggalkan keduniawian barulah disebut sebagai membina diri, dalam diri setiap orang ada sifat hakiki dari Sang Triratna, harus terlebih dahulu menjaga rumah tangga, usaha atau pekerjaan dengan baik, kemudian baru berdana waktu, ini disebut dengan kewelas asihan dan rela bersumbangsih dengan suka cita.
 
Berdana waktu dan kebijaksanaan, serta berdana kata baik (Priyavacana) dan perbuatan baik (Arthakriya). Ketika melihat ada orang berada dalam kebingungan, memberi penghiburan kepadanya dengan kata-kata lembut dan baik, ini disebut dengan “berdana rasa aman dari marabahaya” (Abhaya dana). Memberi bimbingan padanya dengan kalem dan membicarakan sedikit prinsip kebenaran untuknya, inilah “berdana Dharma” (Dharma dana). Mencukupi materi dan uang yang dibutuhkan olehnya, inilah “berdana harta” (Amisa dana). Baik bersumbangsih waktu atau menghibur dengan kata-kata, semuanya merupakan “berdana”, semuanya bermanfaat bagi alam manusia. Semua “berdana (Dana), berbuat baik (Arthakriya), berkata baik (Priyavacana) serta dapat bekerja sama dengan baik (Samanarthata)” dari empat metode dalam memeluk semua makhluk (Catur samgraha vastu) merupakan landasan untuk melangkah di jalan Bodhisattva.
 
Maha cinta kasih tanpa penyesalan, terjun ke dalam masyarakat ramai dengan cinta kasih universal.
Maha welas asih tanpa keluhan, antar sesama harmonis dalam kesunyataan mulia tentang adanya derita.
Maha simpati tanpa kekuatiran, terjun ke dalam masyarakat ramai demi mewariskan Dharma.
Maha keseimbangan batin tanpa pamrih, bersumbangsih dengan penuh syukur.
 
Mazhab Tzu Chi berada dalam masyarakat banyak, terhadap pihak luar menerapkan “Maha cinta kasih tanpa penyesalan, maha welas asih tanpa keluhan, maha simpati tanpa kekuatiran dan maha keseimbangan batin tanpa pamrih”. Dengan “maha cinta kasih” mampu “terjun ke dalam masyarakat ramai dengan cinta kasih universal”, “maha welas asih” adalah “antar sesama harmonis dalam kesunyataan mulia tentang adanya derita”, dengan semangat empat kondisi batin yang luhur (Catur paramita) memahami “kesunyataan mulia tentang adanya derita” (Dukkha satya) di dalam kehidupan manusia, sehingga kita sangat hamonis dengan orang dan masalah. “Maha simpati tanpa kekuatiran” harus “terjun ke dalam masyarakat ramai demi mewariskan Dharma”, jadi harus menapak ke dalam masyarakat banyak. “Maha keseimbangan batin tanpa pamrih” adalah harus berterima kasih kepada setiap orang dan bersumbangsih tanpa pamrih.
 
~~ Dikutip dari ceramah Master dalam temu ramah insan Tzu Chi Kaohsiung tanggal 7 Juli 2012 dan ceramah Master terhadap Tim He-xin Taiwan bagian tengah tanggal 2 Juli 2012

Rabu, 08 Agustus 2012

Apakah Buddha adalah orang suci atau dewa?

Ada orang bertanya kepada Master Cheng Yen:
Mengapa kita menganggap Sang Buddha sebagai orang suci, bukannya sebagai dewa?

Master menjawab:
Dewa dan iblis berada dalam satu jalan, sebab masih memiliki hawa amarah dan kebencian, makanya mereka masih mengikuti ikatan karma dan terlahir di tiga alam samsara. Sedangkan para Buddha dan Bodhisattva sangat mengasihi semua makhluk bagaikan ibu mengasihi anak, tanpa keluhan, tanpa penyesalan dan tanpa pamrih; dari itu, Sang Buddha adalah orang suci dan bukan dewa, dewa sangat jauh dari umat manusia, sedangkan orang suci senantiasa berada di sekitar kita.

Dikutip dari buku “Kata Perenungan Master Cheng Yen Jilid I”
 
佛是聖人還是神?
 
有人問:為何要將佛聖化,而不可神化?

上人開示:神鬼同道,因為他還有瞋心在,所還會隨業轉於三界內。而佛菩薩疼愛眾生,如母之愛子,無怨無悔無求;因此佛是聖人而非神,神離人很遠,而聖人隨時在我們周圍。

本文摘自:《證嚴法師靜思語第一集
 

Setelah bersabar, bagaimana pula cara menghilangkan perasaan telah bersabar ini?

Ada orang bertanya kepada Master Cheng Yen:
Master pernah mengatakan jikalau bersabar saja tidak cukup, kita masih harus menghilangkan perasaan telah bersabar ini, bagaimana pula cara kita melakukannya?

Master menjawab:
Mengumbar emosi hanya merupakan pikiran sesaat, asal pada momen itu kita mau sedikit merubah pola pikir dan meminum “empat ramuan berkhasiat Tzu Chi”, yaitu tahu berpuas diri, bersyukur/berterima kasih, penuh pengertian dan bertenggang rasa, semua api kebencian dan amarah akan hilang dengan sendirinya.

Sebab jika tahu berpuas diri dan penuh pengertian, maka kita tidak akan berhitungan dengan orang; jika dalam setiap hal tahu berterima kasih dan bertenggang rasa pada orang, maka api amarah tidak akan bangkit. Semua orang dan semua hal di sekitar kita merupakan faktor pendukung untuk mencapai keberhasilan dalam pengasuhan kepribadian diri kita, jika kita selalu meminum obat mujarab berupa empat ramuan berkhasiat Tzu Chi yang mampu menurunkan gejala demam panas, pasti kehidupan kita akan nyaman dan bebas dari beban pikiran, sehingga dengan sendirinya kehidupan akan menjadi lebih menyenangkan.

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 6 Juni 1999
Dikutip dari Jurnal harian Master Cheng Yen edisi musim panas tahun 1999
 
忍一口氣之後,如何消化掉?
 
問題:上人曾說忍一口氣還不夠,要吞下那口氣並消化掉,這如何才能做到?

上人的回答:
發脾氣只是瞬間的念頭,只要當下稍微轉變觀念,喝下「慈濟四神湯」──知足、善解、感恩、包容,瞋怒怨氣自然消散。

因為懂得知足、善解就不會計較;事事感恩、包容,怒氣就生不起來。周遭的人事環境無不在成就我們的品格,常喝慈濟四神湯這清涼退火的妙藥,生活必然輕安又自在,人生自然可愛。

上人開示於199966
本文摘自:《證嚴法師衲履足跡》1999年夏之

Perhatian mudah teralihkan, bagaimana pula dapat “bersungguh hati”

Ada tamu bertanya kepada Master Cheng Yen:
Perhatian saya sangat mudah teralihkan, ketika sedang melakukan sesuatu, saya selalu merasa kuatir akan bagaimana nantinya menangani urusan selanjutnya. Harap Master dapat memberi petunjuk bagaimana agar dapat bersungguh hati?

Master menjawab:
Jika kita tahu memanfaatkan waktu dan mencengkam momen sekarang juga, itulah bersungguh hati. Dalam melakukan sesuatu, kita harus dapat memusatkan perhatian dan hati harus seluas alam semesta. Bagaikan burung garuda yang selalu memusatkan perhatian untuk menyimpan energi dan setiap saat siap untuk beraksi, ketika angin datang menerpa, dia akan terbang dengan segenap kemampuannya dan kekuatan yang menggelora. Sesungguh hati adalah alamiah, bukannya sengaja dibuat-buat.

Tamu tersebut kembali bertanya:
Jika dengan bersungguh hati akan terbebas dari rintangan dan kemelekatan, namun kenapa bersungguh hati perlu memusatkan perhatian dengan segenap kemampuan, bukankah ada kontradiksi antara keduanya?

Master menjawab:
Ketika bersungguh hati dengan sepenuh perhatian, sama sekali tidak ada hati yang digunakan. Hati hanyalah sebuah nama sebutan saja, kebanyakan makhluk terjerat oleh nama sebutan. Kala berjalan atau makan, apakah anda sengaja bersungguh hati? Anda berjalan dengan nyaman dan leluasa, makan dengan lancar. Maka dikatakan, bersungguh hati tetapi “tidak menggunakan hati”.

Dikutip dari: Majalah Bulanan Tzu Chi edisi 103
 
容易分心,該如何「用心」?
 
客問:「我很容易分心,在做事的同時,會操心下一刻的事務該如何處理。請問師父:要怎樣才能用心?」

上人的回答:
知道利用時間、能夠把握當下、此刻,就是用心。做事要專注,心懷要如海天般寬廣。好比大鵬鳥,專注地蓄勢待發,一陣風來,即全力衝飛,氣勢磅礡。用心是自然而然,並非刻意造作的。

再問:「既然用心是可以無罣礙、不執著,但用心又必須是全力去專注,此兩者是否有所矛盾?」

上人的回答:
專注地用心時,根本無心可用。心只是一個名相而已,眾生大都被名相所縳。走路、吃飯時,你刻意用心了嗎?它是那麼自由自在地走得好、吃得順。所以說,用心而「不用心」。

本文摘自:《慈濟道侶》103

Bagaimana cara menyelaraskan kepekaan dengan logika?

Ada orang bertanya pada Master Cheng Yen:
Dalam proses pengelolaan sebuah perusahaan, biasanya logika dan kepekaan harus bercampur jadi satu, namun diantara keduanya pasti ada kontradiksi, bagaimana cara yang lebih baik untuk menyelaraskan keduanya?

Master menjawab:
Paling baik kalau kepekaan dan logika dapat seimbang di dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ajaran Buddha disebut dengan kewelas asihan dan kebijaksanaan, keduanya tidak bisa diabaikan, jika harus dikatakan yang manakah yang lebih penting, saya beranggapan kepekaan lebih penting daripada logika. Jika terlalu berpegang pada logika, tentu menjadi kurang peka, kehidupan acuh tidak acuh terhadap orang lain seperti ini akan membuat seseorang tidak memiliki daya pendorong lagi untuk lebih maju.

Perasaan antar sesama merupakan kekuatan pendukung bagi diri kita untuk lebih aktif menuju sasaran kehidupan kita. Jadi sebaiknya keduanya dapat seimbang, kalau tidak maka lebih baik bertambah peka sedikit, logika berkurang sedikit juga tidak apa-apa. Tetapi paling baik kalau kewelas asihan dan kebijaksanaan dapat berjalan seiring, jika harus dipilih salah satunya, lebih baik memilih kewelas asihan saja, sebab orang yang benar-benar memiliki cinta kasih yang jernih, dengan sendirinya akan dapat membangkitkan kebijaksanaan di kala dirinya sedang menerapkan kewelas asihan.

Dikutip dari Jurnal Harian Master Cheng Yen edisi musim panas tahun 1999
 
感性與理性如何協調
 
有人問:在企業經營過程,通常理性和感性要融合在一起,但在兩者當中,一定有很多矛盾的地方,應該怎麼協調比較好?

上人開示:感性與理性在日常生活中最好能平衡。在佛教來說就是慈悲與智慧,兩者不可偏廢,如果一定要說哪樣比較重要,我認為感性比理性重要。太過於理性缺少感性,這種冷漠的人生,會使人沒有前進的動力。

人與人之間的感情,是支持我們朝向積極人生目標邁進的力量。所以兩者最好能平衡,要不然的話,寧可感性多一點,理性少一點還不要緊。最好慈悲、智慧能平行,如果二者僅能擇其一,寧可選慈悲,因為一個具有真正清淨愛心的人,自然能由慈悲產生智慧。

※本文摘自:《證嚴法師衲履足跡》 一九九九年.夏之
 

Takdir? Mentakdirkan?

Ada orang bertanya kepada Master Cheng Yen:
Bagaimana caranya Master menghadapi takdir? Bagaimana pula mengendalikan takdir?

Master menjawab:
Menurut pandangan beragama saya adalah bersikap optimis dan rela melepaskan dalam segala masalah, ketika terjadi kemunduran, terimalah dengan suka cita dan terus bekerja keras untuk mengatasi masalah. Dalam tindakan sehari-hari harus bersumbangsih dengan tanpa persyaratan dan tanpa mengharapkan balasan. Berbuat dengan sangat gembira dan berbuat demi mendapatkan kegembiraan, inilah “rela bersumbangsih dengan suka cita”, jika rela bersumbangsih dengan suka cita, tentu pikiran akan terang dan jernih, bebas dari beban pikiran, dan riang. Jangan terlalu mempedulikan apakah kita yang dikendalikan oleh takdir atau kita yang mengendalikan takdir, kita hanya perlu menunaikan kewajiban diri pada momen sekarang juga, demikian saja sudah cukup.

Dikutip dari Majalah Bulanan Tzu Chi edisi 142
 
命運?運命?
 
有人問:師父是如何面對命運?如何運命?

上人開示:依我的宗教觀而言,凡事看得開、放得下,挫折來時,要歡喜承受,要努力去解決問題。平常行事則無條件、不求回報的付出。做得很高興,為高興而做,這就是「喜捨」,能喜捨,心念清明則自在愉悅。不必在意是命轉我或我轉它,我就是守住自己當下的本分,如此而已。

本文摘自:《慈濟道侶》142

Batin tidak lepas dari kebajikan dan cinta kasih berada di dunia selama-lamanya

Sang Buddha bersabda: “Seorang praktisi sejati dari ajaran Buddha selalu masuk dari pintu kebajikan”, Master mengambil sebuah kisah sebagai perumpamaan atas prinsip kebenaran ini.
 
Pada masa kuno di India ada satu rombongan saudagar dari satu marga yang hendak menuju ke sebuah tempat jauh untuk berdagang, sehingga perlu melewati gurun pasir dan gunung yang sulit dilalui, mereka patungan dalam menyewa seorang pemandu yang kenal baik akan kondisi perjalanan ini. Dalam perjalanannya, mereka melewati sebuah perkampungan, penduduk di sini memiliki sebuah agama yang menawarkan korban pada dewa, jadi setahun sekali mesti memenggal kepala manusia dan mengambil darahnya sebagai persembahan kepada dewa. Ketika rombongan saudagar sampai di sini, bertepatan dengan waktu menawarkan korban kepada dewa, warga meminta rombongan untuk mengorbankan satu orang di antara mereka, baru sisanya boleh meninggalkan perkampungan. Karena para saudagar ini memiliki ikatan keluarga antara satu sama lainnya dan hanya pemandu jalan yang bukan, maka pemandu tidak berdaya ketika didorong untuk dijadikan korban. Akan tetapi, akibat tiada pemandu jalan, maka rombongan saudagar ini kemudian tersesat di gurun pasir dan satu per satu mati di gurun pasir.
 
“Ajaran yang baik, bukan saja bermanfaat bagi orang banyak, juga dapat membawa keberhasilan bagi diri sendiri. Jika seorang praktisi agama meremehkan ajaran yang baik atau memberangus ajaran yang baik, itu sama artinya dengan membunuh jiwa kebijaksanaan diri sendiri. Hanya jiwa kebijaksanaan yang mampu memandu kita dari pantai kefanaan dan melewati samudera ganas menuju pantai keBuddhaan di seberang. Jika tidak bersandar pada perbuatan baik, maka jiwa kebijaksanaan tidak akan mampu melewati samudera luas yang bagaikan tiada batas ini; seperti rombongan saudagar dalam kisah tadi, tanpa pemandu tentu saja tidak akan mampu melewati gurun pasir yang luas tanpa batas.”

Master menyampaikan, semua ajaran yang membuat orang merasa tenang, bahagia, nyaman dan tanpa beban pikiran, merupakan ajaran yang baik; disebutkan “berbuat kebajikan adalah paling membahagiakan”, sebab ketika memberi manfaat pada orang, pada saat bersamaan juga memberi manfaat pada diri sendiri, maka dari itu, dalam belajar ajaran Buddha harus senantiasa jangan pernah lepas dari kebajikan dan bersungguh hati dalam berbuat kebajikan, ini adalah jalan Bodhisattva yang paling aman dan paling lebar.

Relawan terus mendampingi dalam perjalanan penuh rintangan dari awal sampai akhir

Empat hari lalu, koran di Thailand memuat sebuah berita utama dan Master membicarakannya dalam pertemuan pagi dengan relawan. Ada seorang pengusaha asal Taiwan yang membangun pabrik di Thailand, pada suatu hari di bulan Maret lalu, tiba-tiba ada dua orang lelaki mendobrak masuk ke kantornya dan merampas jam tangan Rolex yang dikenakannya, karena di kantornya tiada barang berharga lainnya, maka mereka menculik pengusaha ini ke dalam mobil dan meninggalkan lokasi kejadian dengan cepat sekali.

Setibanya di tempat persembunyian penjahat, mereka memberikan semangkuk air kacang hijau untuk diminumnya, sehabis minum langsung tertidur lelap, setelah terbangun dua hari kemudian, dia menemukan dirinya telah berada di dalam sebuah rumah. Seorang penjahat bertopeng memaksanya untuk menulis surat kepada keluarga di Taiwan, meminta keluarga untuk menyiapkan USD 1 juta sebagai uang tebusan, asalkan uang sudah ditransfer, mereka akan segera melepaskannya tanpa melukai dirinya sedikit pun.

Setelah menerima surat, isterinya sangat cemas dan segera terbang dengan pesawat udara ke Thailand, dia meminta bantuan kepada TECO (Taipei Economic and Cultural Office) di Thailand. Ketika berada dalam kondisi tidak berdaya dan panik ini, staf TECO memperkenalkannya kepada insan Tzu Chi setempat, insan Tzu Chi Thailand mulai memberikan pendampingan, penghiburan dan perhatian kepadanya. Setelah melalui beberapa kali perundingan telpon dengan penculik, akhirnya kedua belah pihak setuju dengan uang tebusan sebesar USD 250 ribu dan tempat pertemuannya.

Saat itu di Thailand sedang ramai-ramainya siaran pertandingan sepakbola, dikarenakan telah mencapai kesepakatan dengan uang tebusan, para penjahat dengan tenang hati menonton televisi. Karena telah banyak hari diculik penjahat, pengusaha ini menjadi semakin kurus, keduanya tangannya yang semula diborgol dengan ketat, sekarang sudah pun longgar, maka mengambil kesempatan ketika penjahat sedang lengah, dia berhasil melarikan diri. Dia berhasil melaporkan diri ke kantor polisi dan bertemu dengan isterinya. Polisi kemudian berhasil menangkap semua penculik untuk diadili di depan hukum. Ketika ada banyak wartawan mewancarainya, pengusaha ini menyatakan sangat berterima kasih kepada insan Tzu Chi yang telah menghibur isterinya selama dirinya diculik penjahat, mendampingi isterinya dalam perjalanan penuh rintangan ini dari awal sampai akhir.

Master sekali lagi menekankan dalam ceramahnya, para Bodhisattva memandang semua makhluk di dunia bagaikan anak sendiri, tanpa pamrih dalam bersumbangsih demi semua makhluk. Cinta kasih universal ini membawakan kebahagiaan bagi orang-orang dan membuat mereka merasa nyaman dan bebas dari beban pikiran, inilah ajaran yang baik, jika dalam masyarakat ada kebajikan dan cinta kasih, barulah kehidupan akan lebih stabil. Master berharap agar setiap orang memiliki hati baik dan jujur, serta terus bersumbangsih, agar hati cinta kasih dapat terus bersirkulasi di dunia ini.

Dikutip dari Jurnal Harian Master Cheng Yen edisi musim gugur tahun 1998
 
心不離善 愛永續人間
 
佛陀說:「真學佛者,要從善門而入」,上人在晨語中以一則譬喻說明此理。

古印度時代,有一家族性的商隊,要到遠方從事貿 易,因為必須經過廣大沙漠與險峻的高山,所以就合資請一位熟悉路況的領隊來帶路。出發後行經一處山莊,因為地方上的少數民族有祭天的信仰,在一年一度祭祀 時,必須設天壇斬人頭取血際天。商隊來此,正逢舉行祭天的日子,村民便要商隊捐出一個人, 才能放大家走。商人彼此都是親戚,唯有領隊不是,後來領隊很無奈地被商人推出祭天。可是沒有嚮導的商隊,在天煎地逼的沙漠中迷失,因缺水缺糧,大夥兒也前後相繼死亡。

「善法既能利益人群,也能成就自己。學佛的人若輕視善法、或抹殺善法,等於殺害自己的慧命。唯有慧命能引導我們從凡夫的此岸,度過險惡大海,到達成佛的彼岸。如果不靠著這分善行、慧命就無法度過茫茫大海;正如故事中的商隊,沒有領隊就無法通過廣闊無際的沙漠。」

上人表示,讓人安定、幸福、輕安自在,都是善法;所謂「為善最樂」,利人的同時就是利己,所以學佛必須時時心不離善,用心行善,這就是一條最安全、最康莊的菩薩大道。

志工全程陪伴 走過坎坷路

四天前,泰國當地報紙刊載一則頭條新聞,上人在志工早會上,向大家談起新聞事件緣由。有位臺商在泰國開設工廠,三月份的一天,突然有兩位男子闖進公司來,奪取臺商手上的勞力士錶後,查看公司內無價值品,遂將這位先生押入一輛車內,快速駛離現場。

到了歹徒藏身點,他們倒了一碗綠豆湯給他喝,喝完就沈沈入睡,兩天後醒來,發現自己在一間屋內。一位矇面人強迫他寫信給臺灣的家屬,請家屬準備一百萬美金來贖人,只要將錢匯到,馬上放人,不會傷害他。

太太接到信後,非常著急,趕搭飛機到泰國來,求助當地臺灣駐泰辦事處。太太如此無助、惶恐,透過辦事處人員的介紹,當地慈濟人開始陪伴、安撫、關懷她。歹徒與太太以電話多方洽談,最後談妥二十五萬元贖金,以及約定的地點。

當時泰國的電視節目正熱烈播演足球賽,歹徒因為贖金談妥,就放心地觀賞電視。這位先生因為被綁架已有一段時間,原本雙手被扣得很緊,卻隨著身體的消瘦漸漸鬆 弛,他暗中鬆動手拷。終於就在歹徒稍鬆懈的這一天,成功地逃出來,並到警局報案,也見到太太。警方據報將歹徒們一網打盡,繩之以法。很多記者前來訪問這位 臺商時,他表示十分感恩慈濟人在他被綁架期間,安撫他無助的太太,陪著她走過這段坎坷路。

上人再述一次晨語開示強調,菩薩視普天下眾生如己子,無所求地為眾生付出。這分大愛帶給人幸福,使人輕安自在,這就是善法,社會有善、有愛,人生才會穩定。希望人人都有這分善良的心,並且在不斷付出中,使得愛心永遠循環在人間。

本文摘自:《證嚴法師衲履足跡》 一九九八年.秋之