Rabu, 08 Agustus 2012

Apakah pengetahuan itu luas tanpa batas?

Ada orang bertanya kepada Master Cheng Yen:
Saya sudah pun menjadi seorang guru, mengapa masih perlu menjalani pendidikan?

Master menjawab:
Dalam belajar itu tiada habis-habisnya. Pengetahuan yang harus diwariskan kepada murid, juga pengetahuan yang belum kita pelajari, apalagi prinsip kebenaran sebagai seorang manusia, jadi kita harus setiap saat terus menerus mencari kemajuan.

Meski pun pengetahuan di dunia ini sangat luas, namun ada sejenis pengetahuan yang luas tanpa batas, yaitu ajaran Buddha; pembelajaran ajaran Buddha merupakan pembelajaran yang luas tanpa batas.

Dikutip dari “Almanak Tzu Chi
 
學問是無窮無盡的嗎?
 
有人問:我們都已經當老師了,為什麼還要教育?

上人開示:學無止境。要傳授給學生的知識,還有我們本身尚未學到的,更何況做人的道理?所以要時時刻刻不斷的向上追求。

世間的學問縱然廣博,但有一種學問更是無窮無盡,那就是佛法;佛陀的教育就是無窮無盡的教育。

本文摘自:《慈濟年鑑

Memiliki cinta kasih dan keberkahan merupakan sumber kebahagiaan

“Suka dan duka tergantung pada sebuah pikiran, jika kita tahu akan keberkahan diri sendiri dan tahu berpuas hati, maka dalam melakukan pekerjaan apa pun, tentu akan merasa bahagia.” Dalam acara penutupan camp pelatihan kader berbakat dalam misi pengobatan Tzu Chi, Master menyampaikan, insan Tzu Chi beranggapan bahwa mampu bersumbangsih adalah keberkahan, sekali pun lelah batin, lelah jasmani dan keringat bercucuran, namun dalam kesibukan kerja tetap saja dapat menjaga kondisi batin yang gembira, sehingga setiap urusan dapat dituntaskan dengan baik dan memuaskan.

“Walau insan Tzu Chi ada yang kaya dan ada pula yang miskin, namun semuanya setara di mata saya. Orang kaya dapat melepaskan jati diri untuk bersatu padu dengan semua orang, sama-sama bersumbangsih demi orang menderita, mereka memiliki moralitas dan pengasuhan diri; orang miskin mampu mengatasi kesulitan materi untuk bersumbangsih hati cinta kasih, biar pun harus melakukan pekerjaan kasar dan melelahkan, juga ingin menyumbangkan dana untuk membantu orang, hal yang patut dikagumi.”

Pada era kemunduran Dharma ini, etika dan moralitas sudah hampir hilang, Master meminta semua orang agar merenungkan secara mendalam, bagaimana memikul tanggung jawab dalam era besar ini? “Dalam menghadapi masa krisis penuh bencana alam dan bencana akibat ulah manusia ini, kita harus memupuk hati maha welas asih yaitu ‘merasakan rasa sakit dan penderitaan orang bagai terjadi pada diri sendiri’, selain menyelamatkan orang dari penderitaan, masih harus membimbing batinnya dan membuka pintu kebijaksanaannya, memandunya agar tahu jelas akan benar dan salah, serta menggerakkannya agar mau bersumbangsih cinta kasih universal tanpa pamrih.”

Jingsi menenangkan batin orang, bersumbangsih memperoleh kehidupan mantap

Master menjelaskan lebih lanjut akan makna kata “Jingsi”, “Jing” artinya tidak kacau, “Si” artinya merenungkan dengan sepenuh hati, dengan batin paling jernih memandang pada dunia ini, membimbing umat manusia agar tetap tenang di dalam kekacauan. “Empat unsur alam di seluruh dunia telah tidak selaras lagi, ditambah lagi dengan batin umat manusia yang sudah kacau, menyebabkan terus timbul kekacauan di seluruh dunia; pada era penuh kekacauan ini, kita harus bergegas untuk menggalakkan pertobatan besar, semua orang merenungkan secara mendalam dan berpikir dengan tenang, barulah dapat mengarah ke arah yang benar.”
 
Master mengatakan, budaya humanis Tzu Chi tidak terlepas dari semangat dari ajaran Jingsi dan mazhab Tzu Chi, namun maknanya sangat mendalam dan luas, serta kandungannya berlimpah; sebagai contoh, lafal “Ren” (artinya manusia) dalam aksara Mandarin saja, goresan tulisannya memang sederhana, namun “manusia” sangat rumit, jika ingin merubah kerumitan menjadi sederhana, maka harus menggunakan “Gan En, Zun Zhong, Ai” (berterima kasih, menghormati dan cinta kasih) di antara sesama, agar tercapai kondisi bersatu hati, harmonis, saling mengasihi dan bergotong royong.

Master mengajarkan bahwa hal ini dapat dimulai dengan memupuk hati cinta kasih, dalam kesibukan kerja dapat berdana (Dana), berbuat baik (Arthakriya ), berkata baik (Priyavacana) dan dapat bekerja sama dengan baik (Samanarthata), serta saling memberi dorongan semangat. “Saya mendoakan semua orang agar setiap hari dapat bersumbangsih cinta kasih, dalam kesibukan dapat merasakan kebahagiaan, serta memperoleh kehidupan yang memuaskan dan mantap.”

Kata perenungan
Mendorong “pemerataan kekayaan” dalam masyarakat --- setiap orang memiliki hati cinta kasih dan rela bersumbangsih untuk membantu orang, dengan sendirinya masyarakat tentu akan aman sejahtera.

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 18 - 19 Februari 2012
※ Dikutip dari Jurnal Harian Master Cheng Yen dalam “Majalah Bulanan Tzu Chi” edisi 544
 
 
有愛有福 快樂之源
 
「苦與樂在一念間,知福、知足,則做任何工作,都能覺得幸福。」慈濟醫療志業人才培訓共識營圓緣,上人舉述,慈濟人認為能夠付出就是有福,即使勞心勞力、汗流浹背,都能在忙碌的工作中維持快樂心境,而致諸事「美滿」。

「雖然慈濟人的貧富程度參差不齊,在我眼中看來都平等。富有的人能夠放下身段與眾合心,共同為苦難人付出,具有品德修養;窮困人克服物資匱乏的困難,用愛付出,做苦工、辛勤工作也要捐款助人,亦令人讚歎。」

末法壞劫、人倫道德喪失之際,上人教眾靜心深思身處此一大時代,應該如何承擔?「面對天災人禍的大劫難,要培養『人傷我痛,人苦我悲』的大慈悲心,拯救苦難,還要教育人心、啟發智慧,引導明辨『是』與『非』,帶動付出無私大愛。」

靜思定人心 付出得踏實

上人進一步說明,「靜思」:靜就是不動亂;思就是用心慎思,用最清淨的心來看世界,引導世間人能從動亂中穩定。「普天之下四大不調,加上人心混亂以致地球動亂頻生;在此大動亂時刻,要加緊推動大懺悔,深切省思、靜靜思量,才能對準正向。」

上人說,慈濟人文不離法脈宗門精神,但是意義深廣、內容豐富;猶如「人」之筆畫簡單,但是「人」也很複雜,要將複雜化為簡單,就要在人與人之間運用「感恩、尊重、愛」,以達合和互協。

上人勉眾從培養愛心做起,在繁忙的工作中達到布施、愛語、利行、同事,相互勉勵。「祝福大家日日用愛付出,在忙碌中感覺幸福,得到美滿而踏實的人生。」

【靜思小語】推動社會「均富」——人人富有愛心、願意付出助人,社會即能平安祥和。

證嚴上人開示於2012218日至19 《農正月二十七至二十八》
本文摘自:《慈濟月刊》544期《證嚴上人.衲履足跡

Bodhisattva yang berbuat dengan hati suka cita akan hidup demi bekerja


Dalam masyarakat, banyak orang “bekerja demi hidup”, sehingga selalu saja mudah timbul perasaan lelah, malas dan menderita; namun jika dapat memahami akan makna kehidupan, tentu akan “hidup demi bekerja”, sehingga pandangan terhadap segala macam kelelahan jasmani dan batin akan berubah jadinya.

Di Taiwan ada pepatah mengatakan “ayam kebiri menyeret bakiak”, di mana kehidupannya tetap harus dijalani, ini merupakan gambaran dari bekerja demi hidup. Pada masa lampau di daerah perdesaan, ayam-ayam dipelihara tanpa kandang dan hanya dikelilingi dengan pagar saja, supaya ayam tidak hilang, maka pada kakinya diikatkan sebuah bakiak, akibatnya ayam hanya dapat mencari makanan dengan menyeret bakiak yang berat. Ini menggambarkan kondisi orang yang terpaksa harus bekerja demi hidup.

Berbuat dengan ikhlas dan menerima hasilnya dengan suka cita, hati suka cita dan diri bebas leluasa

Dalam kata perenungan ada sepatah “Berbuat dengan ikhlas dan menerima hasilnya dengan suka cita”, ada orang yang mengatakan “Berbuat dengan suka cita dan menerima hasilnya dengan ikhlas”, artinnya berbeda sama sekali. “Berbuat dengan ikhlas” adalah diri sendiri telah berikrar tekad yang bulat, jadi walau lebih susah sekali pun, tetap ingin berbuat, “ikhlas” adalah keinginan yang berasal dari lubuk hati, maka jika berbuat dengan ikhlas, tentu dengan sendirinya semakin berbuat akan semakin bersuka cita, merasa nyaman dan bebas dari beban pikiran.

Lain pula dengan “Berbuat dengan suka cita dan menerima hasilnya dengan ikhlas”, sebetulnya “Berbuat dengan suka cita” tidak pasti benar, contohnya ada sebagian para kawula muda sekarang, mereka berpakaian dengan tidak karuan dan bertindak urakan, rambut dicat warna warni, jika ditanya mengapa demikian, dia mungkin akan menjawab: “Asal saya suka, apa yang tidak boleh?” Orang berpenampilan tidak karuan seperti ini menunjukkan kalau arah batinnya telah menyimpang, tanpa moral dan etika, serta tiada lagi sopan santun bagi mereka. Pakaian yang rapi dan penampilan yang bermartabat melambangkan kesopanan, juga merupakan sikap hormat pada diri sendiri dan orang lain, inilah kelakuan yang baik dan merupakan prinsip kebenaran.

Ketika menyaksikan begitu banyak relawan yang mempersembahkan waktu, jiwa dan tenaga untuk bersumbangsih dengan ikhlas demi orang banyak, apalagi mereka menganggap tindakan bersumbangsih sebagai tujuan hidup yang paling bermakna, inilah yang disebut dengan “hidup demi bekerja”, juga merupakan sebuah panggilan jiwa dalam kehidupan ini. Contohnya para relawan yang dengan segenap kemampuan menggalakkan misi pelestarian lingkungan, mereka tidak pernah berubah sedikit pun selama puluhan tahun, mereka bukan saja mengumpulkan dan memilah barang daur ulang saja, di dalamnya juga terkandung banyak pengetahuan; dari itu, tak peduli tua atau muda, berpendidikan tinggi atau rendah, setiap orang memiliki banyak pengalaman tentang pelestarian lingkungan yang dapat dibagikan kepada orang-orang.

Memandang profesi sebagai misi untuk mengembangkan nilai kehidupan

Jika setiap orang dapat memandang profesi bagaikan misi, sebagai bidang usaha yang ditekuni dengan keikhlasan seumur hidup, maka tentu akan menjadi “Bodhisattva berbuat dengan hati suka cita” sebagaimana disebutkan dalam ajaran Buddha, dapat berpartisipasi dengan hati suka cita seakan bermain-main dan sangat ikhlas, sehingga tidak akan terasa susah.

Contohnya banyak dari personil bidang medis yang seharian sibuk demi menyelamatkan nyawa dan melindungi kesehatan manusia, mereka juga dapat berpartisipasi dakan kegiatan pelestarian lingkungan dalam masa liburan mereka, berbuat nyata demi menyayangi bumi ini, bahkan kalau diperlukan juga akan ikut dalam bakti sosial pengobatan, kunjungan pengobatan, kunjungan kasih, membantu orang miskin dan sakit yang tidak mampu mengurus diri sendiri untuk membersihkan rumah mereka, ini semua adalah “hidup demi bekerja”.

Lihat, dunia ini penuh dengan penderitaan, kita semua hidup di atas bumi yang sama, jika ingin menjauhkan bencana, maka kita harus menghimpun kekuatan dari setiap orang, barulah ada kemungkinan untuk berhasil; dari itu, jika kita memiliki suatu keahlian, maka kita harus berbuat sekuat tenaga sesuai dengan keahlian kita, jika berbuat dengan ikhlas, tentu akan berkerja dengan gembira dan benar-benar akan dapat mengembangkan nilai kehidupan kita.

Dikutip dari “Economic Daily News”
 
菩薩遊戲人間 為工作而生活
 
在社會上,有很多人都是「為了生活而工作」,往往容易產生倦怠與痛苦;倘若了解人生的意義,就能「為工作而生活」,種種身心疲憊的狀況,就會為之改觀。

臺灣有句俗諺「閹雞拖木屐」這種得過且過,可說是為生活而工作的寫照。早期鄉間養雞不用籠子,只是圍個籬笆,避免雞隻走失,就在牠的腳上綁一只木屐,讓雞因為重物繫縛只能拖著走覓食。以此比喻人為了生活,不得不工作的無奈。

甘願做歡喜受 心歡喜人自在

《靜思語》有句「甘願做,歡喜受」,有人說成「歡喜做,甘願受」,意涵完全不同。「甘願做」是自己發心立願,因此再辛苦都會心甘意願,「甘」就是甜,有甜就不會苦;「願」,就是發自內心願意做,以這分心甘意願付出,自然愈做愈歡喜,而輕安自在。

倘若是「歡喜做,甘願受」,其實「歡喜做」的事未 必是對的,就如有些年輕人,穿著邋遢、舉止輕浮,頭髮染得五顏六色,若問他為何如此,他可能會說:「只要我喜歡,有什麼不可以?」像這樣外表邋遢,就表示 心靈的方向已經偏失,缺乏倫理道德觀念,沒有禮節可言;服裝整齊、儀容端莊代表禮貌,也是對自他的尊重,這 就是規矩、道理。

看到許多志工們奉獻時間、心力,甘願地為人群付出,而且將付出視為最有意義的人生目標,這就是「為工作而生活」,也是人 生使命。諸如志工們推動環保不遺餘力,十餘年如一日,他們並非僅是將資源集中分類而已,其中也蘊含很多學問;因此不論年紀大小、學歷高低,個個都有滿腹的 環保經驗可以侃侃而談或作分享。

視職業如志業 發揮人生價值

倘若人人能將職業視如志業,是終身志願的事業,就會如佛教所說的「菩薩遊戲人間」,以遊戲般的歡喜心,很甘願地投入,而不會覺得辛苦。

如許多醫護人員平日為搶救生命、守護健康而忙碌,休假時又能投入環保工作,為疼惜地球盡一分力,甚至有需要時還參與義診、往診、居家關懷,幫忙貧病無力者打掃房子等,這都是「為工作而生活」。

看看世間苦難偏多,我們都是共同生活在這片土地上,要消弭災難必須匯聚每個人的力量才有可能;因此,具有何種專長,就在該領域全力以赴,如此能夠心甘意願,就會樂在工作,真正發揮人生的價值。

本文摘自:《經濟日報

Menyalakan pelita hati orang agar bumi dipenuhi dengan cahaya terang

“Dunia Tzu Chi” bagai sebuah pentas dalam kehidupan manusia, di mana setiap orang mengambil sebuah peranan yang penting, setiap pemeran merupakan “dewa penolong” dan “faktor pendukung” antara satu sama lainnya, setiap orang selain dapat menyalakan pelita dalam hati sendiri, juga dapat menyalakan pelita dalam hati orang. Jangan meremehkan cahaya dari sebuah pelita kecil atau sebatang lilin kecil, sebab jika cahaya dari jutaan pelita dan lilin dikumpulkan jadi satu, akan dapat menciptakan sebuah dunia yang terang tiada terhingga.

Menyalakan pelita hati agar kegelapan berubah menjadi terang benderang

Dahulu ada seorang samanera cilik yang sedang mengikuti gurunya membina diri di atas sebuah gunung terpencil. Suatu hari, samanera kecil bertanya kepada guru: “Guru, bagimana caranya agar hati saya berubah terang benderang dan pintu kebijaksanaan terbuka?” Guru hanya menjawab dengan sepatah kata: “Nyalakan pelita hatimu --- cahaya lilin di dalam hatimu!” Samanera kecil merasa sangat bingung dan berpikir: “Guru mengajarkanku agar menyalakan cahaya lilin dalam hati, namun entah bagaimana caranya baru dapat memahami maksud sesungguhnya dari guru?”

Tak lama kemudian, guru meninggal dunia. Samanera cilik perlahan-lahan tumbuh dewasa, dia membangun sebuah lahan pelatihan baru dan menerima banyak murid. Lahan pelatihan ini memiliki sebuah ciri khas, yaitu pada sudut aula setiap harinya ditambahkan sebuah pelita, setiap kali satu pelita dinyalakan, aula akan semakin terang sedikit.

Sampai ketika usianya mencapai 70 tahun dan mendekati akhir hayatnya, dia membuka mata dan memandang pada cahaya pelita di dalam ruangan aula, kemudian menggoyangkan kepalanya dan berkata: “Guru mengajarkan agar saya menyalakan pelita hatiku. Saya telah menyalakan cahaya pelita dalam satu ruangan ini, namun saya tidak tahu seberapa banyak cahaya yang sudah saya nyalakan dalam hatiku?” Dia berbicara pada diri sendiri dengan nada penyesalan.

Namun ketika akan menghembuskan nafas terakhirnya dan kembali membuka mata untuk melihat pada semua cahaya itu, akhirnya dia dapat tersenyum dan berkata kepada para muridnya: “Cahaya di luar adalah terangnya lubuk hati. Wahai murid-muridku! Asal kalian setiap orang dapat ke luar untuk meneruskan pelita, maka dunia penuh kegelapan ini akan berubah menjadi dunia yang terang benderang. Wahai murid-muridku! Kalian semua harus seperti saya, jangan pernah meremehkan sebuah pelita kecil.”
 
Semua orang jangan pernah meremehkan sebuah pelita sekecil apa pun! Saya berharap setiap orang bukan saja menyalakan pelita dalam hati sendiri, juga harus terus menerus menyalakan pelita dalam hati orang lain. Saya berharap setiap orang dapat menyalakan sepuluh pelita hati orang lain, sepuluh orang dapat menyalakan seratus pelita hati orang lain, seratus orang dapat menyalakan seribu pelita hati orang lain, sehingga cahaya dari dunia Tzu Chi dapat mencapai setiap pelosok di dunia ini dan membuat dunia ini penuh dengan cahaya tanpa batas!

Dikutip dari buku “Tiga jalan menuju tanah suci” karangan Master Cheng Yen
 
點亮他人心光 燭光照耀大地
 
「慈濟世界」像個人生大舞臺,每個人都扮演著重要的角色,每位演出者都是彼此的「貴人」和「助緣」,除了點燃自己的心燈,也點亮他人的心燈。不要輕忽任何一盞小燈或一支小蠟燭的光亮,因為凝聚千千萬萬的燈火燭光,可以造就無量光明世界!

點亮心燈 黑暗變光明

以前有一個小沙彌尼,跟隨師父在深山裡修行。有一天,小沙彌尼問師父:「師父,如何才能使我心地光明、智慧開啟?」師父只告訴他一句話:「點亮你的心燈──心中的燭光!」小沙彌尼非常迷惑心想:「師父教我點亮心中燭光,不知道該怎麼做才能體會師父真正的意思?」

不久,師父往生,沙彌尼也慢慢長大,另外興建一所道場,並且度化許多弟子。這個道場有個特色,就是在大殿的角落裡,每日增加一盞燈,每點燃一盞燈,大殿就增加了一分光明。

一直到他七十歲即將往生時,他睜開眼睛看了一眼滿屋的燈火,然後搖搖頭說:「師父開示要我點亮心燈。我點亮了滿室的燈火,然而到底點亮了我內心幾分光明呢?」他對自己喃喃自語的慨嘆著。

但是當他即將嚥下最後一口氣,又睜開眼睛看了看所有的燭光,終於微笑著對弟子說:「室外的光,就是內心的明。弟子啊!只要你們每一個人再出去傳燈,這個黑暗的世界就會變成光明的世界。弟子們!大家要跟我一樣,不可輕視每一盞小燈!」

大家不要輕視小小一盞燭光!希望大家除了將自己的心燈燭光點燃之外,還要不斷點亮他人的心光。希望每一位都能一傳十、十傳百、百傳千,將慈濟世界的燭光遍布世界各角落,那麼這個世界將充滿無限光明!

本文摘自:證嚴上人著作《淨因三要

Bagaimana caranya menemukan kemantapan dalam kehidupan?

Ada orang bertanya kepada Master Cheng Yen:
“Apa yang merupakan kekuatan paling mantap dalam kehidupan ini?”

Master Cheng Yen menjawab:
Seberapa banyak pun harta kekayaan seseorang, juga tidak akan terbawa pergi saat mati nanti; seberapa hebat pun bakat kemampuan seseorang, juga tidak akan dapat menjamin kehidupannya bakal stabil seumur hidup; dalam kehidupan nyata, semuanya bagaikan khayalan dan selalu berubah-rubah.

Lalu apa pula yang merupakan kekuatan paling mantap dalam kehidupan ini? Ini harus ditemukan pada “the ultimate concern” atau suatu keprihatinan mendasar/kepentingan mutlak dalam kehidupan. Hanya di sini, ketika seseorang memiliki keprihatinan mendasar/kepentingan mutlak dalam kehidupan (misalnya agama), maka tak peduli berada dalam kondisi apa pun atau menghadapi masalah apa pun, dia akan terus melangkah maju dengan mengikuti tujuan pokok dan arah tertentu.

※ Dikutip dari buku “Kata Perenungan Master Cheng Yen Jilid 1”
 
如何在生活中找到踏實感?
 
有人問:「什麼才是生命中最踏實的力量?」

上人開示:「一個人錢再多,總帶不去;才華再高,也不能保障他一生的穩定;現實生活中,一切都是那麼虛幻,漂浮不定。」

什麼才是生命中最踏實的安定力量呢?這就必需要到生命的終極關懷去尋找。只有在這裡,當一個人有了生命的終極關懷,不管什麼環境下,遇到什麼困難,總會循著一定的宗旨和方向安然前行。

本文摘自:《證嚴法師靜思語第一集
 

Catatan perjalanan tuan cilik mencari harta

Segala sesuatu di dunia ini tidak kekal adanya, demikian juga dengan manusia. Ketika batin damai, tentu lingkungan sekitar akan aman dan indah, namun jika lingkungan sekitar tidak selaras, manusia tentu tidak akan aman lagi. Dari itu, Sang Buddha selalu mengajarkan kepada para murid agar senantiasa menjaga kondisi batin tetap damai, sedangkan kedamaian hati sendiri datang dari keinginan yang sedikit dan tahu puas, puas atas apa yang telah ada, dengan demikian barulah kehidupan dapat dijalani dengan nyaman dan leluasa.

Takut harta terjatuh ke tangan orang, lalu menggali lubang untuk menyembunyikan barang berharga

Pada zaman dahulu kala, hidup dua orang tuan tanah sebagai pemilik lahan tanah yang luas. Salah seorang tuan tanah ini menikahi seorang wanita belia yang kemudian melahirkan seorang putera. Suatu hari, tuan tanah ini berpikir: “Usiaku sudah lanjut, kalau-kalau saya meninggal dunia dan isteriku menikah lagi, tentu hartaku akan terjatuh ke tangan orang lain. Jika demikian adanya, bagaimana dengan anakku di kemudian hari?” Selanjutnya, dia memberitahukan kekhawatirannya ini kepada pengurus rumahnya, dia juga mendapatkan satu ide dan berkata: “Coba kamu kumpulkan semua barang berharga, kemudian ikuti aku dengan membawa semuanya ke hutan untuk disembunyikan dengan cara dikubur.”

Sesampainya pada suatu tempat di dalam hutan, tuan tanah berkata kepada pengurus rumahnya: “Tempat ini cukup bagus, mari kita menggali lubang di sini.” Tuan dan pesuruhnya ini kemudian menggali sebuah lubang besar, setelah menguburkan sekereta barang berharganya, mereka membuat sebuah tanda di atasnya. Sewaktu pulang, tuan tanah meminta kepada pengurus rumahnya: “Aku berharap kamu dapat merahasiakan hal ini, nanti setelah aku meninggal dunia dan puteraku sudah tumbuh dewasa, baru kamu bawa dirinya ke sini untuk mengambil semua barang berharga ini.” Pengurus rumah yang setia ini segera menyanggupi permintaan tuannya.

Tak lama setelah itu, tuan tanah ini jatuh sakit dan meninggal dunia, beberapa tahun kemudian putera tuan tanah telah tumbuh dewasa, ibunya lalu mengatakan kepadanya: “Ibu tahu kalau ayahmu memiliki banyak barang berharga dan sepertinya pernah disembunyikan di suatu tempat bersama dengan pengurus rumah kita. Menurut ibu, usiamu sudah cukup dewasa dan dapat menjadi kepala keluarga ini, kamu semestinya bertanya kepada pengurus rumah, apakah dapat mengambil harta tersebut untuk dipergunakan sebagai modal memperluas bidang usaha keluarga kita.”

Mendengar perkataan ibunya ini, suatu hari tuan cilik bertanya kepada pengurus rumah: “Kabarnya ayahku dulu pernah menanam barang berharga bersama anda, di manakah tempatnya?” Pengurus rumah menjawab: “Benar! Ketika tuan tua masih hidup, beliau pernah memintaku untuk menyertainya dalam melakukan hal ini.” Tuan cilik berkata: “Kalau begitu harap anda membawaku ke sana untuk mengambil barang berharga tersebut.” Pengurus rumah menganggap bahwa hal ini memang sudah seharusnya, maka dia membawa tuan cilik ke tempat penguburan barang berharga.  

Namun setibanya di sana, pengurus rumah tiba-tiba berpikir, harta ini adalah milik tuan tua, jika tuan cilik mengambil harta ini, lalu menikmati kekayaan ini bersama ibunya, sungguh tidak dapat diterima! Maka pengurus rumah berpura-pura tidak waras dan marah-marah. Tuan cilik merasa aneh, mengapa begitu sampai di sini, emosinya tiba-tiba berubah? Akan tetapi, dia tetap menahan diri dan berkata: “Kalau hari ini tidak ditemukan, juga tidak apa-apa, mari kita pulang saja!” Dia kemudian membawa pulang pengurus rumah dengan baik-baik.

Beberapa hari kemudian, dia melihat pengurus rumah sudah normal kembali dan selalu memberi hormat kepadanya, maka dia berkata: “Pengurus rumah, hari ini marilah kita kembali mencari barang berharga tersebut!” Pengurus rumah dengan tenang mengikuti tuan cilik meninggalkan rumah, namun sesampainya di tempat itu, kembali timbul ketidak relaan dalam hatinya untuk menggali barang berharga, dia kembali marah-marah sembarangan. Tuan cilik tidak dapat berbuat apa-apa dan terpaksa membawanya kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, pengurus rumah kembali pada sikapnya yang sangat hormat dan sangat penurut kepada tuan cilik

Tahu memanfaatkan materi dan mempergunakan pusaka dalam kehidupan.

Tuan cilik merasa sangat galau, suatu hari dia berkunjung pada tuan tanah satunya lagi. Dia pikir, ayahnya dulu bersahabat baik dengan tuan tanah ini dan hubungan mereka sangat akrab, mestinya tahu sedikit tentang permasalahannya. Sesampainya di sana, dia bercerita dari awal sampai akhir kepada tuan tanah itu. Tuan tanah ini dengan bijak berkata kepadanya: “Kamu bawa dia kembali ke sana. Sesampainya di sana, lihat pada posisi mana dia mulai marah-marah padamu, tempat itu pasti merupakan lokasi penyimpanan barang berharga.”

Tuan cilik merasa perkataan ini sangat beralasan, maka dia kembali membawa pengurus rumah ke sana. Setibanya di sana, pengurus rumah kembali marah-marah, dia lalu mengatakan kepada pengurus rumah: “Biar bagaimana pun, sekarang anda bantu aku menggali tempat ini.” Ternyata sebentar saja sudah menemukan barang berharga yang telah terkubur banyak tahun.

Setelah menemukan barang berharga, tuan cilik merasakan kalau semua harta benda ternyata membawa marabahaya. Sebelum memilikinya, hari-hari dapat dilalui dengan tenang, setelah memilikinya, apa yang harus dilakukan? Ketika teringat emosi pengurus rumah menjadi tidak labil setibanya di sini, bagaimana pula dengan orang lain nanti? Maka, dia lalu membereskan barang berharga ini dan kemudian semuanya diamalkan pada banyak orang.

Kisah ini memberitahukan kepada kita kalau memiliki banyak dalam kehidupan ini belum tentu berbahagia, melainkan harus tahu memanfaatkan materi dan mempergunakan hak pakai dari kehidupan dengan baik, ini baru merupakan pusaka sesungguhnya di dalam kehidupan.

Dikutip dari buku “Aku cinta keluargaku” karangan Master Cheng Yen
 
小主人的尋寶記
 
天地萬物無常,人也是一樣。在平靜的時候就是平安、美好的境界;境界一不調和,人就不安。因此,佛陀經常教育弟子們要時時保持一分寧靜的心,而心的寧靜,來自於少欲知足、安於本分,如此,人生才能過得安樂自在。

財產落入他人手中 挖洞藏寶物

在久遠以前,有一處山城住著兩位大地主。其中一位大地主,娶了一個很年輕的太太,兩人生了一個兒子。有一天,這位大地主心想:「我年紀大了,萬一我走了、她再嫁人,我的財產就會落到別人手中。這樣的話,我的 孩子將來怎麼辦?」後來,他告訴管家心中所擔心的事,並且想一個主意說:「你將我所有的寶物都收起來,然後跟著我載去山林中埋藏起來。」

他們來到山林中某個地方時,這位大地主就對管家說:「這個地方不錯,我們趕快來挖洞。」主僕兩人挖了一個大洞,將整車的寶物埋好之後,在上方做了一個記號。 要回去時,這位大地主要求管家說:「今天的事希望你要幫我保密,等我往生、兒子長大後,你再帶他來這裡挖取這些寶物。」這位忠心耿耿的管家,立刻答應主人 的要求。

不久,這位大地主生病往生,幾年之後,大地主的兒子已經長大成人,母親便對他說:「我知道你父親有很多寶物,好像和管家拿去哪裡藏起來。我想,你的年紀可以當一家之主了,你應該去問問管家,看看是否能把那些財產取出來,好好大興家業。」

小主人聽了母親的話後,有一天就問老管家:「聽說我父親曾跟你一起去埋藏寶物,它們藏在哪裡呢?」老管家說:「是啊!老主人在時,曾叫我跟他去做這件事。」小主人就說:「那你帶我去把那些東西取出來。」老管家認為這是應該的,就帶著小主人去埋藏寶物的地方。

到了那裡,老管家忽然生起一個念頭,這些財產是老主人的,如果讓小主人把財產取走,跟他的母親一起享受,實在不服氣!於是,老管家就故意裝瘋賣傻,開口就亂 罵人。小主人覺得很奇怪,為什麼老管家來到這裡後,性情忽然就變了?不過,他還是忍住氣說:「你今天找不到地點沒關係,我們回去吧!」然後很溫順地帶老管 家回去。

過了幾天,他看老管家的精神已恢復正常,對自己必恭必敬,就又對他說:「老管家,我們今天再去找那些寶藏吧!」老管家平靜地跟著 小主人出去,但是一到了那裡,又生起捨不得挖開寶藏的心念,還是一樣口出惡言亂罵。小主人很無奈,只好再把他帶回家。一回到家,老管家又回復對小主人必恭 必敬、百依百順的態度。

懂得應用物質 善用人生至寶

小主人很懊惱,有一天,他就去拜訪城中另一位大地主。他心想父親跟這位伯父是世交、感情很好,應該會知道些什麼。到了那裡,他就將一切經過告訴這位大地主。這位大地主很有智慧地告訴他:「你再帶他去。到了那裡,你看他站在哪個地方罵你,那個地方一定就是寶物埋藏的地方。」

小主人覺得伯父說的話有道理,於是就再帶老管家前往。到了那裡,老管家同樣站在原地罵人,他就對老管家說:「不管怎樣,你現在跟我一起從這裡挖下去就對了。」果然,不久就挖出埋藏多年的寶物。

寶物挖出後,小主人覺得一切財物都隱藏著危機!沒有它們的時候,日子過得很平靜;擁有的時候,到底要做什麼呢?想到老管家站在那裡心就變了樣,何況是其他人呢?因此,他決定將這些寶物整理之後,做大布施。

這個故事告訴我們,人生不是擁有很多就是幸福,而是要懂得如何應用物質,善用生命的使用權,這才是人生真正的至寶。

本文摘自:證嚴上人著作《吾愛吾家

Mengapa masyarakat sedemikian tidak adilnya?

Ada orang bertanya:
Saya sering merasakan bahwa masyarakat adalah tidak adil, sebagai seorang cendekiawan, saya juga tidak bisa menahan diri untuk merasakan kalau tanggung jawabnya sangat berat dan tekanannya juga sangat besar.

Master menjawab:
Jika filosofi hidup berbeda, sudah tentu kondisi batin juga berbeda. Sama-sama dapat membedakan dengan jelas antara baik dan jahat, benar dan salah, maka jikalau orang tanpa agama berpegang pada hati yang tidak seimbang, sehingga ketika semakin besar tekad untuk menyelamatkan dunia, tekanannya akan terasa semakin besar; sedangkan umat beragama berkeinginan untuk menyelamatkan semua makhluk dengan segenap kemampuannya, jadi walau pun tanggung jawabnya berat, namun kondisi hatinya terasa sangat lapang dan lembut.

Dikutip dari buku Kata Perenungan Master Cheng Yen jilid 1
 
為什麼社會如此不公平?
 
有人問:「我常覺得社會不公平,身為學者的我,也不禁感到責任很重、壓力很大。」
上人開示:「人生觀不同,心態亦將不同。同樣能明辨世間善惡是非,無宗教信仰者,抱持不平之心,濟世之志愈大,壓力就愈大;有宗教信仰者,亦欲渡眾生,然其善盡本分,責任雖重,心態卻很寬柔。」

本文摘自:《證嚴法師靜思語第一集