Senin, 28 Mei 2012

108 Kata Perenungan Master Cheng Yen


  1. Orang bodoh membangun tembok pemisah dalam hatinya, orang bijaksana merobohkan tembok pemisah tersebut dan hidup berdampingan secara damai dengan orang lain.
  2. Kesuksesan yang paling besar dalam hidup adalah bisa bangkit kembali dari kegagalan.
  3. Ada dua hal yang tidak bisa ditunda dalam kehidupan: berbakti kepada orangtua dan melakukan kebajikan.
  4. Jika ingin meningkatkan kebijaksanaan, kita mesti membebaskan diri dari sifat kemelekatan dan keraguan.
  5. Cita-cita boleh saja tinggi dan jauh kedepan, namun langkah yang diperlukan untuk itu, harus diterapkan sejak sekarang.
  6. Jangan mengenang terus jasa yang telah diberikan, jangan melupakan kesalahan yang pernah dibuat. Lupakanlah dendam yang ada di dalam hati, namun jangan melupakan budi baik yang pernah diterima.
  7. Keinginan yang belebihan, selain mendatangkan penderitaan juga sering menggiring orang melakukan perbuatan yang mendatangkan karma buruk.
  8. Jangan takut terdorong oleh orang-orang yang lebih mampu dari kita. Karena dorongan tersebut akan memberi semangat untuk terus maju.
  9. Orang tidak mempunyai hak milik atas nyawanya, melainkan hanya memiliki hak untuk menggunakannya.
  10. Tetesan air dapat membentuk sebuah sungai, kumpulan butiran beras bisa memenuhi lumbung. Jangan meremehkan hati nurani sendiri, lakukankalh perbuatan baik meskipun kecil.
  11. Lahan batin manusia bagaikan sepetak sawah, bila tidak ditanami dengan bibit yang baik, tidak akan bisa menuai hasil yang baik.
  12. Orang berbudi luhur mempunyai tujuan hidup, sedang orang yang berpikiran sempit menganggap hidup sebagai tujuan.
  13. Sertakan saya dalam perbuatan baik, jangan libatkan saya dalam perbuatan jahat.
  14. Anggaplah segala permasalahan sebagai pelajaran, pujian sebagai peringatan untuk mawas diri.
  15. Dengan memiliki keyakinan, keuletan, dan keberanian, tidak ada hal yang tidak berhasil dilakukan di dunia ini.
  16. Orang harus menyayangi diri sendiri baru dapat mencintai orang di seluruh dunia.
  17. Dalam mengatasi berbagai masalah hendaknya berhati-hati, cermat, namun jangan berpikiran sempit.
  18. Tidak perlu merasa khawatir atas banyaknya masalah, yang perlu dikhawatirkan hanya masalah yang sengaja dicari-cari.
  19. Hendaknya kita menyadari, mensyukuri, dan membalas budi orangtua.
  20. Jika enggan mengerjakan hal kecil, maka kita pun akan sulit menyelesaikan tugas yang besar.
  21. Ikrar harus luhur, tekad harus kokoh, kepribadian harus lemah lembut, dan hati harus peka.
  22. Hanya orang yang menghargai dirinya sendiri, yang mempunyai keberanian untuk bersikap rendah hati.
  23. Keserakahan, kebencian, dan kebodohan merupakan 3 racun dalam kehidupan manusia. Atasi keserakahan dengan berdana, kebencian dengan hati yang welas asih, dan atasi kebodohan dengan kebijaksanaan.
  24. Penyesalan adalah pengakuan dari hati nurani, dan dapat juga dikatakan sebagai pembersihan terhadap kekotoran batin.
  25. Berdana bukanlah hak khusus yang dimiliki orang kaya, melainkan merupakan perwujudan dari sebuah cinta kasih yang tulus.
  26. Hidup manusia tidak kekal. Bersumbangsihlah pada saat Anda dibutuhkan, dan lakukanlah selama Anda masih bisa melakukannya.
  27. Jadilah orang yang tidak mengandalkan kekuasaan, status social, dan harta kekayaan dalam menjalani hidup.
  28. Malapetaka dan bencana yang melandai dunia, sebagian besar merupakan hasil perbuatan orang-orang yang sehat jasmaninya, namun cacat rohaninya.
  29. Memaafkan orang lain berarti berlaku baik pada diri sendiri.
  30. Ada tiga "tiada" di dunia ini, tiada orang yang tidak saya cintai, tiada orang yang tidak saya percayai, dan tiada orang yang tidak bisa saya maafkan.
  31. Pikiran dan perilaku kita sendiri yang menciptakan dan menentukan surga dan neraka.
  32. Sumber penderitaan manusia ada 3, yaitu: keserakahan, kebencian, dan kebodohan.
  33. Penyakit pada tubuh tidaklah menakutkan, batin yang sakit justru lebih mengerikan.
  34. Kebijaksanaan diperoleh dari bagaimana seseorang menghadapi masalah dalam hidupnya. Apabila ia menghindar dari masalah yang ada, maka ia pun tidak akan dapat mengembangkan kebijaksanaannya.
  35. Sumber dari kerisauan hati adalah keinginan manusia untuk selalu "memiliki".
  36. Ada sebagain orang yang sering merasa risau, akibat perkataan buruk orang lain yang sebenarnya tidak perlu dihiraukan.
  37. "Keserakahan", selain membawa penderitaan, juga akan menjerumuskan manusia ke dalam penderitaan.
  38. Sebelum mengkritik orang lain, pikirkan dahulu apakah kita sendiri telah sempurna dan bebas dari kesalahan.
  39. Setiap hari merupakan lembaran baru dalam hidup kita, setiap orang dan setiap hal yang ada di dalamnya merupakan kisah-kisah yang menarik.
  40. Bila kita selalu ragu dan tidak memiliki tekad yang kuat, walaupun jalan yang benar telah terbentang di depan mata, kita tetap tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan.
  41. Orang yang paling berbahagia adalah orang yang penuh dengan cinta kasih.
  42. Dengan menjaga tutur kata dan bersikap dengan baik, maka kita akan menjadi orang yang disenangi dan dicintai orang lain.
  43. Mengernyitkan dahi dan tersenyum, keduanya sama-sama merupakan sebuah ekspresi, mengapa tidak tersenyum saja?
  44. Hati hendaknya bagaikan bulan purnama yang bersinar terang. Hati hendaknya juga seperti cakrawala luas dengan langit yang cerah.
  45. Niat baik yang tidak dilaksanakan sama halnya seperti bertani tanpa menebarkan benih. Hal ini hanya menyia-nyiakan kesempatan baik yang ada.
  46. Setiap hari kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada orangtua dan semua makhluk. Jangan melakukan sesuatu yang mengecewakan mereka.
  47. Memberi dan melayani jauh lebih berharga dan membahagiakan daripada diberi dan dilayani.
  48. Tidak peduli seberapa jauh jalan yang harus ditempuh dan selalu berusaha sebaik mungkin mencapai tujuan dengan kemampuan yang dimiliki, inilah yang disebut dengan keuletan.
  49. Orang yang paling berbahagia adalah orang yang mampu mencintai dan dicintai orang lain.
  50. Sebaik apa pun hati seseorang, bila tabiat dan tutur katanya tidak baik, maka ia tidak dapat dianggap sebagai orang baik.
  51. Kasih sayang yang mengharapkan pamrih tidak akan bertahan lama. Yang akan bertahan selamanya adalah kasih sayang yang tak berwujud, tak ternoda, dan tanpa pamrih.
  52. Cinta kasih harus bagaikan seduhan the wangi dengan komposisi yang pas. Bila terlalu pekat akan terasa pahit dan kita tidak dapat meminumnya.
  53. Hadiah paling berharga di dunia ini adalah hadiah berbentuk maaf.
  54. Bertuturlah dengan kata yang baik, berpikirlah dengan niat yang baik dan lakukanlah perbuatan baik.
  55. Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi yang tak terhingga.
  56. Kesuksesan hidup selama puluhan tahun merupakan akumulasi perilaku setiap hari, maka setiap hari kita harus menjaga perilaku dengan sebaik-baiknya.
  57. Semua manusia takut mati, takut menderita, apakah makhluk hidup lain tidak merasa takut juga? Oleh karena itu, kita harus melindungi semua makhluk hidup dan menghargai kehidupan.
  58. Marah adalah menghukum diri sendiri atas kesalahan yang diperbuat oleh orang lain.
  59. Hendaknya kita bersaing untuk menjadi siapa yang lebih dicintai, bukan siapa yang lebih ditakuti.
  60. Musuh terbesar kita bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri.
  61. Bekerja untuk hidup sangat menyiksa, hidup untuk bekerja sangat menyenangkan.
  62. Sumber penderitaan manusia adalah nafsu keserakahan untuk memiliki. Bila tidak bisa memperoleh yang diingankannya, dia akan menderita, namun bila telah memperolehnya, dia juga akan menderita karena takut kehilangan.
  63. Kesederhanaan adalah keindahan, keserasian adalah keanggunan.
  64. Hakekat terpenting dari pendidikan adalah pewarisan cinta kasih dan rasa syukur, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
  65. Kita hendaknya bersyukur kepada bumi yang menyediakan sumber daya alam sehingga kita dapat melanjutkan kehidupan, dan bersyukur kepada leluhur yang telah menyediakan lahan dan mengajarkan kita bagaimana cara untuk bertahan hidup.
  66. Hati yang dipenuhi rasa syukur akan membangkitkan rasa haru. Rasa haru merupakan dorongan untuk melakukan kebajikan.
  67. Bila dituduh orang lain, terimalah dengan rasa syukur. Bila menemukan kesalahan orang lain, sadarkan dengan sikap menghargai.
  68. Bersyukurlah kepada orang yang menerima bantuan kita, karena mereka memberikan kesempatan baik bagi tercapainya pembinaan rasa cinta kasih kita.
  69. Merupakan suatu berkah apabila sesama manusia dapat saling menghargai dan saling bersyukur.
  70. Dengan berjiwa besar, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan di dunia ini. Bila berjiwa sempit, walaupun kesenangan berlimpah, kita akan tetap merasa menderita.
  71. Mengurangi nafsu keinginan dan memperluas cinta kasih, kehidupan akan dilalui dengan gembira, nyaman dan bebas tanpa beban.
  72. Pandai menempatkan diri dan berpikir demi orang lain adalah sikap orang yang penuh pengertian.
  73. Pada umumnya orang lebih dapat menanggung beban kerja yang berat daripada menanggung kebencian, namun orang yang berkepribadian mulia adalah orang yang dapat melupakan kebencian.
  74. Cara berterima kasih dan membalas budi kepada bumi adalah dengan terus mempertahankan konsep pelestarian lingkungan.
  75. Intropeksi dirilah bila mendapat kritikan orang lain. Jika salah harus diperbaiki; bila tidak bersalah, cobalah untuk menerimanya dengan lapang dada.
  76. Berjiwa besar menerima kekurangan orang lain merupakan suatu hal yang luar biasa di tengah hal yang biasa.
  77. Binalah cinta kasih yang tulus dan murni. Hati tidak akan risau bila tidak mengharapkan pamrih atau merasa rugi dalam memberikan cinta kasih.
  78. Menghibur orang dengan kata-kata yang baik dan lembut, melerai perselisihan dengan kata-kata bijaksana dan membantu kesulitan orang lain dengan tindakan nyata, inilah yang dinamakan berdana.
  79. Selalu mengejar kenikmatan materi adalah sumber penderitaan manusia. Menderita bila tak bisa memperolehnya, dan bila bisa memperolehnya akan merasa belum puas. Semuanya merupakan penderitaan yang tak akan pernah berakhir.
  80. Mampu merasakan kebahagiaan orang lain seperti kebahagiaan sendiri adalah kehidupan yang penuh dengan kepuasan dan paling kaya akan makna.
  81. Jangan menganggap enteng perbuatan baik sekecil apa pun, karena bila terhimpun menjadi satu merupakan bantuan yang berharga dan bermanfaat bagi orang lain.
  82. Seulas senyuman mampu mendamaikan hati yang gelisah.
  83. Kehidupan kita bermakna apabila kita dapat bermanfaat bagi orang lain.
  84. Jangan mencemaskan beban yang berat, asalkan tetap berjalan di arah yang benar, pasti akan samapi ke tujuan.
  85. Orang yang selalu mengasah orang lain, dirinya sendiri akan terasah, namun bagi orang yang selalu diasah, selain tidak rusak, malah akan lebih bersinar cemerlang, bagaikan berlian yang sesungguhnya.
  86. Prinsip penting mencapai keselarasan dalam penyelesaian masalah adalah menyadari kapan saatnya maju dan kapan saatnya mengalah.
  87. Dengan bersabar dan mengalah, hidup akan damai dan tenteram; saling bersitegang akan mendatangkan malapetaka.
  88. Genggamlah kesempatan untuk berbuat kebajikan. Bila hanya menunggu, kesempatan itu akan berlalu dan semuanya sudah terlambat.
  89. Mampu mematuhi tata tertib dalam berorganisasi, berpadu hati, ramah tamah, saling mengasihi, dan bergotong royong, berarti sebuah kemajuan yang telah dicapai dalam melatih diri yang dilakukan dengan penuh konsentrasi.
  90. Jangan menyia-nyiakan waktu; lakukan hal yang bermanfaat dengan langkah yang mantap.
  91. Tak ada yang tidak dapat diatasi dalam hidup ini; dengan adanya tekad, maka segalanya akan dapat diatasi.
  92. Jangan pusingkan apakah orang akan memperbaiki perilaku atau sikap buruknya, yang terpenting adalah kita tetap melatih diri dengan sebaik mungkin.
  93. Bila cermin dalam hati dapat selalu dibersihkan, maka dapat secara jelas membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan salah.
  94. Jadikan batin kita sebagai tempat pelatihan diri dan hargailah semua orang dengan sikap kesetaraan.
  95. Sebuah tindakan jauh lebih bermakna dibandingkan dengan ribuan ucapan.
  96. Walaupun memiliki impian dan harapan pada masa berabad-abad kedepan, namun jangan sampai mengabaikan hal yang ada pada saat sekarang.
  97. Kepintaran adalah kemampuan untuk membedakan mana yang menguntungkan dan merugikan. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk membedakan yang benar dan salah.
  98. Jangan meremehkan kemampuan sendiri, karenanya mulailah dengan mengubah kondisi hati kita barulah dapat mengubah dunia agar menjadi lebih baik.
  99. Lebih baik belajar dari kelebihan orang lain daripada mencari kelemahan dan kesalahan orang lain.
  100. Hadapilah kesalahan orang lain dengan lapang dada dan lemah lembut.
  101. Iblis yang ada di luar diri kita tidaklah menakutkan, yang mengerikan adalah iblis yang terdapat di dalam hati.
  102. Kehidupan manusia bagaikan meniti kawat baja. Bila kita tidak bersungguh-sungguh melihat ke depan, malah sebaliknya selalu menoleh ke belakang, kita pasti akan terjatuh.
  103. Faktor pemersatu dalam organisasi adalah toleransi dan tenggang rasa terhadap pendapat yang berbeda.
  104. Berbakti adalah sikap yang bersedia berkorban pada saat dibutuhkan oleh orangtua.
  105. Kebiasaan buruk bagaikan virus yang menyerang batin manusia, harus dicegah jangan sampai berkembang.
  106. Berdana ada 3 macam, memberi bantuan makanan dan pakaian, memberikan nasehat bagi orang yang hatinya sedang hampa, dan memberikan kedamaian kepada orang yang panic dan ketakutan.
  107. Masalah di dunia tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, dibutuhkan uluran tangan dan kekuatan banyak orang untuk dapat menyelesaikan.
  108. Orang yang mau mengakui kesalahan dan memperbaikinya dengan rendah hati akan dapat meningkatkan kebijaksanaanya.

Seberapa banyak ditunaikan, sebegitu banyak diperoleh



Jangan meremehkan kemampuan diri sendiri,
dengan menunaikan seberapa banyak kewajiban,
sebegitu banyak pula kemampuan yang akan diperoleh.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -
不輕視自己,盡多少本分,得多少本事。
~摘錄自證嚴上人靜思語~
Don't despise yourself, for your capabilities
will accumulate through the implementation of your duty.
- Jing Si Aphorism by Master Cheng Yen -

Menyalakan Pelita Hati Sendiri Dulu


Seseorang harus menyalakan pelita di dalam hatinya terlebih dulu,
baru dapat menyalakan pelita di dalam hati orang lain.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -
一個人要先點亮自己的心光,
才能去引發別人。
~摘錄自證嚴上人靜思語~
A person must first light up one’s own heart of
brightness then only could transpire others.
- Jing Si Aphorism by Master Cheng Yen -





Kamis, 24 Mei 2012

Orangtua adalah cetakan bagi anak


Dalam agama Buddha disebutkan bahwa hubungan ayah ibu dengan anak adalah sebuah ikatan karma; Pendidikan paling awal bagi ayah ibu dan anak dimulai dari pendidikan pralahir, setelah anak lahir, pendidikan keluarga yang terpenting adalah keteladanan ayah ibu, jadi ayah ibu adalah cetakan bagi anak, jika ingin berperan sebagai ayah ibu jaman kini yang baik, keteladanan merupakan satu-satunya jalan.

Anak sebetulnya sangat polos tanpa noda, mereka bagaikan selembar kertas putih, sedangkan orangtua bagaikan pensil, jika pensil ini dipergunakan dengan baik, pasti akan menghasilkan selembar gambar yang indah atau sebuah artikel yang menggugah hati.

Sejak jaman dulu, orang Tionghoa sangat mementingkan pendidikan keluarga. Demi menjaga agar anak-anak tidak jahat, orang tua dari generasi dulu senantiasa mendidik anak dengan sikap tegas, jika anak sedikit tidak menurut, selalu saja mengancam dan menakut-nakuti mereka, berharap anak menjadi seorang penurut. Tanpa disadari, kata-kata ancaman akan terukir di dalam lubuk hati anak, membuat anak menjadi takut kepada ayah ibu. Ini bukan saja akan menimbulkan perasaan antipati pada diri anak terhadap orang tua, bahkan membentuk sekat pemisah di antara mereka. Bagaikan lingkaran setan, setelah anak dewasa dan punya anak sendiri, mereka juga akan mendidik anak dengan cara mengancam dan menakut-nakuti.

Dalam masyarakat sekarang lain lagi, karena kedua orangtua terlalu sibuk, hubungan ayah ibu dengan anak menjadi renggang, selain itu juga muncul tiga jenis orangtua pengganti, yaitu baby sitter, kelas les dan komputer, mereka telah menggantikan waktu dan peranan ayah ibu dalam mendampingi anak.
Bodhisattva datang ke dunia Saha ini dengan hati penuh welas asih untuk menyelamatkan semua makhluk dalam penderitaan. Setiap makhluk dikarenakan akumulasi karma dari masa kehidupan lampaunya, maka masing-masing memiliki tabiat buruk. Bodhisattva membimbing mereka sesuai dengan tabiat buruk mereka, maka jika orangtua dapat mendidik anak dengan tutur bahasa lembut dan penuh kasih, dengan sendirinya anak akan tumbuh besar dalam lingkungan tanpa tekanan batin dan bebas dari rasa takut, masa kecil mereka akan dipenuhi dengan kebahagiaan. 

Apa yang dimaksud dengan “Mempergunakan kebijaksanaan Bodhisattva untuk mendidik anak”? Yaitu “Jangan bebankan kondisi batin mendapatkan atau kehilangan kita pada diri anak”. Jika ayah ibu memberikan cinta kasih berlebihan bagi anak, ini berbalik menjadi rintangan dalam hubungan ayah ibu dan anak, sebab anak akan merasa tertekan batin dan tidak mampu menerima bimbingan dengan hati tenang, malah merasa kalau ayah ibu sangat cerewet. Ketika ayah ibu mendidik anak, jangan memaksakan harapan dan tuntutan sendiri pada anak, seharusnya membimbing anak dengan “tanpa mengharapkan sesuatu”, tanpa mengharapkan sesuatu sebagai balasan adalah hati Bodhisattva, anak akan bersuka cita mendengarnya dan tanpa disadari dirinya telah pun terbimbing. Jadi kita harus membimbing anak dengan hati Bodhisattva, itu baru merupakan cinta kasih sesungguhnya yang penuh kebijaksanaan.

Hati Bodhisattva bagaikan sinar mentari pada musim semi

Memandang ke seluruh dunia sekarang ini, terlihat empat unsur alam sudah tidak selaras, Master Cheng Yen mengeluhkan kalau nafsu keinginan dalam batin manusia telah menciptakan segala penderitaan di dunia ini, antar sesama manusia saling bersengketa, antar negara saling berperang, bahkan manusia juga berkonflik dengan alam; di mana karena digerakkan oleh keinginan untuk mencari keuntungan, manusia terus mencemari dan merusak alam.
 
“Alam sudah tidak selaras lagi, bencana dan malapetaka terus berdatangan, saya berharap setiap orang dapat mengingatkan diri sendiri agar dapat memberkati seluruh umat manusia di dunia dengan hati bersyukur, juga melakukan perekrutan Bodhisattva dunia secara besar-besaran.”

Dalam “Amitharta Sutra” disebutkan: “Dengan suka cita yang langgeng, menakjubkan dan nyata, serta maha welas asih tiada terhingga menyelamatkan semua makhluk dalam penderitaan.” Master menyampaikan bahwa para Bodhisattva tidak tega melihat makhluk menderita, maka mereka membangkitkan kewelas asihan dan mempergunakan kebijaksanaan mereka untuk bersumbangsih di dunia ini, supaya semua umat manusia mendapatkan kebahagiaan.

Sosok relawan menyebar luas di seluruh dunia, menyelaraskan batin manusia dan memandunya ke arah yang benar

“Hati Bodhisattva tidak kenal pergantian empat musim, selama-lamanya hangat bagaikan sinar mentari pada musim semi yang segera muncul di mana saja ada penderitaan. Ketika musim dingin tiba, mereka memberikan kehangatan  dengan mengenakan selimut dan pakaian tebal ke tubuh orang; mereka memberikan beras dan bahan makanan di tempat yang dilanda bencana kelaparan; biar pun lingkungan tempat tinggal dari orang yang menderita sangat bobrok dan jorok, mereka mampu menghilangkan rintangan batin untuk terjun membersihkan atau merenovasinya demi memberikan sebuah rumah yang penuh kehangatan.”

Master bersyukur karena barisan relawan Tzu Chi sudah sangat panjang, tak peduli negara mana pun yang  dilanda bencana, tetap saja akan ada sosok berseragam biru putih muncul di sana untuk bersumbangsih demi orang yang sedang menderita. “Ketika orang-orang sedang kekurangan kesempatan untuk hidup atau bekal batin, itu adalah saatnya bagi para Bodhisattva untuk bersumbangsih, saya berterima kasih kepada semua orang yang tidak hanya memberikan penghiburan penuh cinta kasih dan perlindungan tanpa pamrih, juga sekaligus menyebar luaskan ajaran yang benar dan membuat arah batin manusia menjadi tepat, sehingga batin mereka bagaikan sinar mentari di musim semi.”
 
Master menyampaikan, jika kita mengharapkan dunia ini aman dan selamat, harus terlebih dahulu menyelaraskan batin manusia, jika batin setiap orang selaras dan setiap keluarga harmonis, dengan sendirinya masyarakat akan aman sejahtera dan cuaca bersahabat. “Saya berharap semua orang dapat meningkatkan kebijaksanaan diri, dengan semerbak akhlak berdoa yang tulus, dengan cinta kasih universal menghapus awan hitam, agar cahaya mentari dapat menyinari batin orang-orang yang menderita, sehingga di mana saja dapat merasakan suasana musim semi.”

Kata perenungan
Dengan semerbak batin berdoa yang tulus, dengan cinta kasih universal menghapus awan hitam, agar cahaya mentari dapat menyinari batin orang, sehingga mereka dapat merasakan suasana musim semi di dalam “batin”.

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 22 Januari 2012
Dikutip dari Majalah Bulanan tzu Chi edisi 543
 
菩薩心 如春陽
 
宏觀天下,四大不調,上人感嘆,人心欲念造成世間苦難,人與人爭、國與國爭,乃至於人與大地爭;利欲所驅,不斷污染、破壞大地。

「天地失調,災禍頻傳,期待人人自我提醒,用感恩心為天下人祝福,亦要人間菩薩大招生。」

《無量義經》偈云:「常住快樂,微妙真實。無量大悲,救苦眾生。」上人表示,菩薩不忍眾生苦,所以秉慈啟悲,運用智慧在人間付出,讓普天下人皆快樂。

志工身影遍全球 調和人心引正道

「菩薩的心沒有四季之分,永遠如春陽般溫暖,及時現身苦難地。在冬寒時刻,為人披上毛毯、厚衣暖身;於飢餓的地方,給予米糧、食物;儘管苦難人的居家環境破舊髒亂,仍去除心靈障礙,投入清掃整理或翻新修補,給人溫暖的家。」

上人感恩慈濟隊伍浩蕩長,無論哪一個國度有災難,都有「藍天白雲」的身影,為苦難人付出。「眾生缺乏生機以及心靈資糧的時候,就是人間菩薩付出時刻,感恩大家不僅給予愛的膚慰、無私呵護,且弘揚正法,讓人心方向正確,心如春陽。」

上人表示,欲祈求天地平安,須先調和人心;人心平順,家庭和順,自然社會祥和,天時順暢。「期待大眾提升智慧,以心靈的德香虔誠祈禱,用大愛撥除烏雲,讓陽光灑進苦難人的心境裡,處處都能感受春的氣息。」

【靜思小語】以心香虔誠祈禱,用大愛撥除烏雲,讓陽光灑進人心,感受「心」春氣

證嚴上人開示於2012122日《農十二月二十九》
本文摘自:《慈濟月刊》543期《證嚴上人.衲履足跡

Why Buddhists Should be Vegetarian

The Buddha ate meat. This is a fairly well attested fact. The issue of vegetarianism is addressed a few times in the Suttas, notably the Jivaka Sutta of the Majjhima Nikaya. The Buddha consistently affirmed that monastics were permitted to eat meat, as long as it was not killed intentionally for them. There are numerous passages in the Vinaya that refer to the Buddha or the monastics eating meat, and meat is regularly mentioned as one of the standard foods.

For these reasons, the standard position in Theravada Buddhism is that there is no ethical problem with eating meat. If you want to be vegetarian, that is a purely optional choice. Most Theravadins, whether lay or monastic, eat meat, and claim to be acting within the ethical guidelines of the Buddha’s teachings.

This position sits squarely within a straightforward application of the law of kamma, understood as intention. Eating meat involves no intention to do harm. As there is no intention, there is no kamma. As there is no kamma, there is no ethical problem.

The situation in Mahayana is more complicated. Mahayanists, especially in East Asia, embrace vegetarianism, often as a temporary measure for religious events, although the monastics are typically vegetarian all the time. The motivation is, at least in part, an expression of the greater emphasis on compassion in Mahayana. In practice, however, Mahayanists often adopt vegetarianism (as do Hindus) as a rite of purification. This is despite such texts as the Amagandha Sutta of the Sutta Nipata, where the Buddha insists that eating meat is not a source of spiritual impurity. Tibetan monastics, on the other hand, usually eat meat.

Despite the apparently straightforward situation in Theravada, the problem does not go away. For obvious reasons: eating meat requires the killing of animals, and this directly violates the first precept. Eating meat is the direct cause of an immense quantity of suffering for sentient beings. Many people, myself included, struggle with the notion that a religion as categorically opposed to violence as Buddhism can so blithely wave away the suffering inherent in eating meat.

Let’s have a closer look and see if we can discern the roots of this problem. There are a few considerations that I would like to begin with. We live in a very different world today than the Buddha lived in, and Buddhist ethics, whatever else they may be, must always be a pragmatic response to real world conditions.

Animals suffer much more today than they did 2500 years ago. In the Buddha’s time, and indeed everywhere up until the invention of modern farming, animals had a much better life. Chickens would wander round the village, or were kept in a coop. Cows roamed the fields. The invention of the factory farm changed all this. Today, the life of most meat animals is unimaginable suffering. I won’t go into this in detail, but if you are not aware of the conditions in factory farms, you should be. Factory farms get away with it, not because they are actually humane, but because they are so mind-bendingly horrific that most people just don’t want to know. We turn away, and our inattention allows the horror to continue.

The other huge change since the Buddha’s time is the destruction of the environment. We are all aware of the damage caused by energy production and wasteful consumerism. But one of the largest, yet least known, contributors to global warming and environmental destruction generally is eating meat. The basic problem is that meat is higher on the food chain as compared with plants, so more resources are required to produce nutrition in the form of meat. In the past this was not an issue, as food animals typically ate things that were not food for humans, like grass. Today, however, most food animals live on grains and other resource-intensive products. This means that meat requires more energy, water, space, and all other resources. In addition to the general burden on the environment, this creates a range of localised problems, due to the use of fertilisers, the disposal of vast amounts of animal waste, and so on.

One entirely predictable outcome of factory farming is the emergence of virulent new diseases. We have all heard of ‘swine flu’ and ‘bird flu’; but the media rarely raises the question: why are these two new threats derived from the two types of animals that are most used in factory farming? The answer is obvious, and has been predicted by opponents of factory farming for decades. In order to force animals to live together in such overcrowded, unnatural conditions, they must be fed a regular diet of antibiotics, as any disease is immediately spread through the whole facility. The outcome of this, as inevitable as the immutable principles of natural selection, is the emergence of virulent new strains of antibiotic resistant diseases. In coming years, as the limited varieties of antibiotics gradually lose their efficacy, this threat will recur in more and more devastating forms.

So, as compared with the Buddha’s day, eating meat involves far more cruelty, it damages the environment, and it creates diseases. If we approach this question as one of weights and balance, then the scales have tipped drastically to the side of not eating meat.
Sometimes in Theravada vegetarianism is slighted, as it is traditionally associated with the ‘5 points’ of Devadatta.

Devadatta wanted to prove he was better than the Buddha, so he asked the Buddha to enforce five ascetic practices, such as only accepting alms food, live all their lives in the forest, and so on. These practices are regarded as praiseworthy, and Devadatta’s fault was not in promoting these as such, but in seeking to make them compulsory. Stories of the Buddha’s childhood emphasize how compassionate he was compared to Devadatta’s cruelty to animals, perhaps because of Devadatta’s asscoiation with vegetarianism. So rather than deprecating the vegetarians as ‘followers of Devadatta’, one could infer from this passage that vegetarianism, like the other practices, was praiseworthy, but the Buddha did not wish to make it compulsory.

To argue in such a way, however, is clutching at straws. There is a wider problem, and I think the discussions of the issue among Buddhists generally avoid this. And the wider issue is this: meat eating is clearly harmful. That harm is a direct but unintended consequence of eating meat. Since there is no intention to cause harm, eating meat is not bad kamma. There are therefore two logical possibilities: eating meat is ethical; or kamma is not a complete account of ethics.

Let us look more closely at this second possibility. The notion that actions should not be done, even when they involve no harmful intention, is found constantly in the Vinaya. For example, a monk is criticised for baking bricks that have small creatures in them, even though he was unaware of them and did not intend any harm. The Buddha laid down a rule forbidding this.

In another case, the Buddha laid down a rule that a monastic must inquire about the source of meat before accepting it. The context of this rule was that someone had offered human flesh (their own – it’s a long story!) and this rule is usually said to only apply if one has doubts as to whether the food is human flesh. But that is not what the rule states – it simply says that one should inquire as the the source of the meat, and that it is an offence to eat meat without doing so. Needless to say, this rule is ignored throughout Theravada.

These are a couple of examples in the context of causing harm to beings. There are many others. Indeed, there are several Vinaya rules that were laid down in response to the actions of arahants. An arahant cannot act in an intentionally harmful manner, so these rules cannot be taken to imply that the motivation behind the acts was wrong.

The acts have unintended harmful consequences, and this is why they are prohibited.

In this sense, if the Vinaya pertains to sila, or ethics, then the scope of sila is broader than the scope of kamma. This is, when you think about it, common sense. Kamma deals only with intention and the consequences of intentional action. This is critical because of its place in the path to liberation. We can change our intentions, and thereby purify our minds and eventually find release from rebirth. That is the significance of kamma to us as individuals.

But ethics is not just a matter of individual personal development. It is also a social question, or even wider, an environmental question in the broad sense. How do we relate to our human and natural context in the most positive and constructive way?

I am suggesting that, while kamma deals with the personal, ethics includes both the personal and the environmental.

As well as broadening ethics in this way, I would suggest we should deepen it. Ethics is not just what is allowable. Sure, you can argue that eating meat is allowable. You can get away with it. That doesn’t mean that it’s a good thing. What if we ask, not what can I get away with, but what can I aspire to?

When we recite the first precept, we say, ‘I undertake the training to refrain from killing living beings’. This is a challenge, and in itself is a powerful ethics. Yet it is merely a short summary of a principle. It was never meant to fully describe the virtue of harmlessness. When the Buddha spoke of this precept in more detail, this is what he had to say:

Having abandoned the taking of life, refraining from the taking of life, one dwells without violence, with the knife laid down, scrupulous, full of mercy, trembling with compassion for all sentient beings.

This is not just an ethic of allowability. It doesn’t merely set a minimum standard. It calls us out, asking us to aspire to a higher sense of compassion, an ethic that deeply feels for the welfare of all beings. More than just asking, ‘Does this act come from an intention to harm’, we ask ourselves, ‘Is this act the best I can possibly do to promote the welfare of all?’ Rather than simply escaping bad kamma, we create good kamma.

One obvious criticism of this approach is that being vegetarian does not mean you don’t cause harm. We hurt beings in many unintentional way, driving cars, buying products, almost everything we do. If we follow this principle to its logical conclusion, we end up with Jainism, and will have to walk everywhere with a cloth over our mouth to keep the flies from dying, and a soft broom to brush the creatures away. (Note, though, that even the Jains have a complex relationship with vegetarianism.) It is simply arbitrary to identify meat eating as the cause of harm. This is, after all, the point of the well-known (though apocryphal) story of Siddhattha as a young boy, seeing the plough turning up the soil, killing some worms, and leaving the others to be picked off by the crows. Even eating rice involves the unintentional destruction of life. The only solution is to get off the wheel.

The problem with this argument is that it confuses the existential with the ethical. On an existential level, quite right, any form of life, even the most scrupulous, will inevitably cause harm to some beings. This is one of the reasons why the only final solution is escape from rebirth altogether. Yet meanwhile, we are still here. Ethics is not concerned with the ultimate escape from all suffering, but with minimising the harm and maximising the benefit we can do right here. It is relative and contextual. Sure, being vegetarian or vegan we will still cause harm. And sure, there are boundary issues as to what is really vegetarian (Honey? Bees are killed. Sugar? Animal bones are used for the purification process… )

But the fact that we can’t do everything does not imply that we shouldn’t do this thing. The simple fact is that eating meat cause massive and direct harm to many creatures. That harm is, almost always, easily avoidable. Becoming vegetarian does not involve any huge sacrifices or moral courage. It just takes a little restraint and care. This is even more so today, when there is a wide range of delicious, cheap, nutritious vegetarian foods available. The choice of becoming vegetarian is, of all moral choices we can make, one of the most beneficial, at the smallest cost to ourselves.

To return to the basic problem. As Buddhists, we expect that the Buddha kept the highest possible ethical conduct. And for the most part, he did. So if the Buddha allowed something, we feel there can’t be anything wrong with it. There is nothing dogmatic or unreasonable about such an expectation. When we read the Suttas and the Vinaya, we find again and again that the Buddha’s conduct was, indeed, of the highest order.

How then, if meat eating is an inferior ethical standard, can it be that the Buddha did it? This is the crux of the matter. And I don’t have an easy answer.

Part of it is to do with the nature of the mendicant life. The Buddha and his disciples wandered from house to house, simply accepting whatever was offered. It’s hard to refuse offerings given in such a spirit. Yet this answer is incomplete, as there are many foods, including several types of meat, that are prohibited in the Vinaya. Clearly the monastics were expected to have some say over what went into their bowls.

There are other considerations I could raise. But I don’t want to press the textual argument too far. In the end, we have a partial, and partially understood record of the Buddha’s life and teachings. For those of us who have been blessed enough to have encountered the Dhamma, we have found it to be an uplifting and wise guide to life.

And yet: we cannot let our ethical choices be dictated by ancient texts. Right and wrong are too important. The scriptures do not contain everything, and do not answer every question. As Buddhists, we take the texts seriously, and do not lightly discard their lessons. Yet there is a difference between learning from scripture and submitting to it.

There are some things that the scriptures simply get wrong. The Suttas make no critique of slavery, for example, and yet for us this is one of the most heinous of all crimes.

Why are these things as they are? I don’t know. I have devoted a considerable portion of my life to studying and understanding the Buddhist scriptures, and in almost all things of importance I find them to be impeccable. But my study has also shown me the limits of study. We cannot access the truth through scripture. We can only access certain ideas. Our understanding and application of those ideas is of necessity imperfect. There is always something left over.

This being so, it is unethical to cite scripture as a justification for doing harm. If eating meat is harmful and unnecessary, it remains so whatever the texts say. Our sacred texts are sacred, not because they determine what is right and wrong, but because they inform our choices and help us to do better.

The principle of harmlessness underlies the very fabric of the Dhamma, and if its application in this context is problematic, the principle itself is not in question. It simply means our scriptures are imperfect, and the practice of ethics is complex and messy. But we knew that already. It is not out of disrespect that we make our choice, but out of respect for the deeper principles of compassion and harmlessness.


Buddhism for a small world: views and opinions

Berapa Kantung Plastik yang Kita Pakai Sehari?

Sampah plastik yang mengambang di utara Samudera Pasifik berkembang 100 kali lipat selama 40 tahun terakhir.

Yayasan Plastic Oceans yang berfokus pada upaya mengurangi sampah plastik di lautan mencatat, ada 500 miliar tas plastik yang digunakan per tahun di seluruh dunia. Pembuatan plastik pun menggunakan bahan bakar minyak dalam jumlah besar, bahkan mencapai 8 persen dari total produksi minyak dunia.




Di Indonesia sendiri, setiap tahunnya kita memakai 100 miliar kantung plastik. Untuk memproduksi kantung plastik dalam jumlah itu, kita menggunakan 12 juta barel minyak bumi. Dengan hitungan itu, artinya setiap orang di Indonesia kurang lebih menggunakan 700 tas plastik per tahun. Kira-kira dua tas plastik dalam sehari.

Apakah Anda merasa angka itu sesuai dengan kenyataan dan masuk akal?

Mari kita tanyakan pada diri sendiri. Berapa kira-kira jumlah tas plastik yang kita pakai dalam sehari? Dari mana saja tas plastik tersebut didapat? Lalu apa yang Anda lakukan dengan tas-tas plastik yang Anda dapat dalam sehari tersebut?