Kamis, 01 Maret 2012

Sumber Penderitaan Hidup di Dunia

Penderitaan hidup di dunia ini bersumber pada
ketidak seimbangan kondisi batin manusia ,
hanya cinta kasih yang dapat membuat
kondisi batin menjadi seimbang.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -
世間苦,苦在人心不平衡,
要平衡人心,唯有愛。
~摘錄自證嚴上人靜思語~
The world’s problems are rooted
in the disgruntlement of human beings,
and can only be dissolved with love.
- Jing-Si Aphorism by Master Cheng-Yen -

Mempersatukan Potensi Semua Orang

若能把眾人的力量結合一起,
在同一個時間就能利益更多的眾生,
所以一定要把握時間。
~摘錄自證嚴上人靜思語~
Jika dapat mempersatukan potensi dari semua orang,
pada saat itu kita akan dapat berbuat
hal yang bermanfaat bagi lebih banyak orang,
maka hendaknya kita dapat memanfaatkan waktu dengan baik.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -
When we work together,
we can benefit more people at a given time,
so let’s not waste any second.
- Jing-Si Aphorism by Master Cheng-Yen -

Menjadi “Kalyanamitra” (Teman yang Baik) bagi orang lain

Dalam forum diskusi relawan pengobatan dari Hexin seluruh Taiwan, Master Cheng Yen berkata dengan penuh perasaan di hadapan banyak relawan senior yang hadir, bahwa jika seseorang dapat mengikuti dirinya selama tahunan tanpa pernah mengendurkan tekadnya, maka dia bukan hanya “insan Tzu Chi dalam sebutan nama”, melainkan merupakan “insan Tzu Chi dalam arti sebenarnya”; selama 40 tahun lebih, antara Master dengan para murid dan antara sesama saudara sedharma, boleh dikatakan merupakan “kehidupan kolektif”.

“Waktu tidak menunggu orang. Umur saya semakin lama semakin lanjut, kekuatan tubuh juga semakin lama semakin turun. Bukan saja dengan berlalunya satu hari, umur saya ikut berkurang satu hari, anda sekalian yang hadir di sini juga sama saja, jadi kita harus menggenggam setiap detiknya untuk memeluk semua makhluk dan mensucikan batin manusia.” Master memberi dorongan semangat agar semua orang membangkitkan kembali ketabahan dan ketegasan masa muda dulu, lebih giat membina diri di jalan Bodhisattva.  
 
Dunia Tzu Chi bagaikan disebutkan dalam “Amitartha Sutra”: “Dari satu benih tumbuh menjadi milyaran benih, satu persatu benih dari milyaran benih itu tumbuh kembali menjadi milyaran benih lainnya, terus menerus sehingga menjadi tiada terhingga jumlahnya.” Selama 40 tahun lebih, insan Tzu Chi  terus bereproduksi sehingga sekarang telah merata di seluruh dunia untuk menolong orang-orang yang dalam penderitaan. Master mengatakan, tak peduli berada di negara mana pun, semua insan Tzu Chi tetap bersumbangsih dengan satu hati dan satu tekad. Maka disebutkan: “ajaran Jingsi giat mempraktikkan jalan kebenaran dengan makna tiada terhingga”.

“Bencana alam dan malapetaka akibat ulah manusia sudah semakin sering terjadi, penderitaan di dunia seakan tiada pernah hilang. Banyak dari bencana dan malapetaka bersumber dari sebersit niat pikiran manusia.” Dunia saha ini disebutkan sebagai dunia jahat karena adanya “lima kekeruhan”. Master menyatakan kalau sekarang ini pemahaman manusia sudah kacau dan pemikiran manusia sudah tidak jelas lagi, itulah “kekeruhan pandangan”; pemahaman yang kacau melahirkan kerisauan tanpa batas, itulah “kekeruhan kerisauan”; bencana alam, malapetaka peperangan dan wabah penyakit merenggut jiwa manusia, itulah “kekeruhan kehidupan” ...
 
“Siapa yang dapat memperbaiki kekeruhan pandangan di dunia ini? Bagaimana pula mensucikan kekeruhan kerisauan di dunia? Insan Tzu Chi harus memikul tanggung jawab tersebut.” Master menyatakan, ketika bersumbangsih di rumah sakit, kita dapat melihat dan mendengar banyak kisah kehidupan dengan pemikiran yang menyimpang dan salah. Jika mereka menemukan jalinan jodoh baik dan kalyanamitra (teman yang baik) yang dapat membimbing mereka tepat pada waktunya, maka mereka akan dapat segera melakukan introspeksi dan kembali ke jalan yang benar, bahkan kemudian dapat membimbing orang lain juga untuk sama-sama bersumbangsih bagi masyarakat. “dari itu, insan Tzu Chi harus menjadi kalyanamitra dan dewa penyelamat bagi orang lain.”

Empat Misi Utama Tzu Chi dan Delapan Jejak Dharma telah mewujudkan semangat “berbelas kasihan tanpa syarat dan mengasihani insan lain bagai diri sendiri” dari Buddha. Master menyatakan, empat kondisi batin “metta (cinta kasih), karuna (belas kasih), mudita (turut bersuka cita) dan upekkha (keseimbangan batin)” yang disebut dengan “Brahmavihara” (empat kondisi batin luhur) benar-benar telah berhasil dipraktekkan oleh insan Tzu Chi. “Buddha memandang semua makhluk sebagai anak sendiri, insan Tzu Chi telah berikrar cita-cita besar dan tekad luhur, juga memperlakukan semua makhluk dengan setara, tidak membeda-bedakan agama, ras dan batas negara, mengembangkan empat kondisi batin luhur untuk memberi penghiburan kepada mereka yang berada dalam penderitaan dan menyebar luaskan cinta kasih universal sampai ke seluruh dunia.”
 
Jika ingin mengembangkan empat kondisi batin luhur, Master menekankan bahwa dada dan hati harus dilapangkan sampai tiada berbatas. “Hanya dengan melepaskan kerisauan, menghapus tabiat buruk dan membuka pintu hati selebar-lebarnya, baru kita dapat benar-benar memeluk semua makhluk. Jika kita bersumbangsih dengan tanpa pamrih, maka sesudah bersumbangsih tidak akan meninggalkan ganjalan di hati, juga tiada perasaan mendapatkan atau kehilangan sesuatu; dengan setiap saat bersuka cita dan bersyukur, kita akan selalu terbebas dari kerisauan.”

Master mengatakan kepada para murid senior kalau senior bukan berarti pensiun, atau senior harus “naik pangkat”; sebab dengan pemikiran demikian berarti masih memiliki perasaan “mendapatkan atau kehilangan” dan “arogansi”. “Semua orang adalah murid Jingsi, sudah semestinya dapat ‘mengendalikan diri’ --- mengendalikan perasaan mendapatkan atau kehilangan dan arogansi; juga harus ‘rajin’ --- terus memecut diri sendiri dan giat membina diri. Insan Tzu Chi tidak pernah pensiun untuk selama-lamanya, sebab dengan lebih banyak berbuat akan lebih banyak mendapatkan, tak peduli sudah seberapa pun usia kita, selama-lamanya harus menjadi orang ‘berguna’!”
 
Dikutip dari: Majalah Tzu Chi edisi 497
 
做他人「善知識」
 
全台合心醫療志工研討會上,面對座中許多資深志工,上人有感而言,能夠長年跟隨、矢志不移,不只是「名稱上的慈濟人」,更是「實質的慈濟人」;四十多年來,師徒、法親之間,可說是「生命共同體」。

「歲月不饒人!年齡愈來愈增長、體力愈來愈衰退。不只我的生命過一天、減一天,在座大家也一樣,所以要把握分秒,擁抱蒼生、淨化人心。」上人勉眾提起年輕時的魄力,更加精進菩薩道。
 
慈濟世界,猶如《無量義經》所言:「從一種子生百千萬,百千萬中,一一復生百千萬數,如是展轉乃至無量。」四十多年來展轉復生,慈濟人遍布全球,救苦救難。上人說,無論身在哪一個國度,海內外慈濟人同一心志付出。故說:「靜思勤行道‧無量義」

「天災人禍頻繁,世間苦難不絕。許多災禍的源頭,實起於人的一念心。」娑婆世界因為有「五濁」,故稱惡世。上人表示當今此時,人的見解混亂、觀念混淆不清,是「見濁」;混亂的見解衍生無盡的煩惱,是「煩惱濁」;天災、戰禍、瘟疫奪去人命,是「命濁」……

「人間見濁,誰能糾正?人間煩惱濁,如何淨化?慈濟人要承擔起來!」上人指出,大家在醫院付出,可以見聞許多觀念偏差而錯誤的人生。他們若得遇善緣、善知識及時引導,就能及早反省而歸於正途,甚至還能帶動別人,齊為社會付出。「所以,慈濟人要作他人的善知識、貴人。」

慈濟四大志業八大法印,體現了佛陀「無緣大慈,同體大悲」精神。上人指出,「慈、悲、喜、捨」這「四等」法,亦即「四無量心」,慈濟人真正做到了。
「佛陀視天下蒼生如己子,慈濟人發大心、立大願,也要對眾生一視同仁,不分宗教、種族、國界,發揮四無量心去膚慰苦難,將大愛擴展到全球。」
 
既要發揮四無量心,上人強調心胸必須無限開闊。「唯有捨去煩惱、習氣,徹底打開心門,才能真正擁抱蒼生。無所求付出,付出之後心無罣礙,也沒有得失心;時時歡喜、感恩,即能時時自在。」

上人勉資深弟子,資深不代表可以退休了,或是老資格就要「升等」;如此尚存「得失」與「自大」心態。「大家都是靜思弟子,應該要『克己』——克服得失、自大的心態;還要『克勤』——自我鞭策,殷勤精進。慈濟人永不退休,多做多得,不論年齡多大,永遠要做『有用』的人!」
 
本文摘錄自:《慈濟月刊》497
 

Formula untuk menghadapi kemunduran kondisi ekonomi

Chen Zhi-guang dari Surat Kabar “Commercial Times” Taiwan bertanya kepada Master Cheng Yen, disebabkan tahun depan diperkirakan kondisi ekonomi akan memburuk, maka banyak perusahaan atau warga biasa yang merasa khawatir, bagaimana pandangan Master terhadap hal ini?

Master menyatakan bahwa dia bukan ahli ekonomi, namun menurutnya Taiwan sangat kaya, asal setiap orang mau patuh pada hukum dan berprilaku baik, dengan hati tahu puas dan jangan terlalu boros, maka bukan saja tidak usah mengkhawatirkan kehidupan keluarga sendiri, malah masih ada kemampuan berlebih untuk menolong orang lain.

Batin suci dan tahu berpuas hati akan mendatangkan keberkahan

“Saya menghimbau insan Tzu Chi agar ‘makan dengan 80% kenyang dan 20 % sisanya untuk membantu orang miskin dan kelaparan’. Asal kita mau mengurangi makan di luar dan masak sendiri di rumah, serta mengendalikan kuantitas bahan makanan dan mengurangi sampah dapur, maka kita akan dapat menghemat biaya makan yang lumayan jumlahnya dan dapat membantu banyak orang.” Master menekankan kalau orang yang tahu berpuas hati adalah paling kaya. Di depo pelestarian lingkungan Tzu Chi sering dijumpai barang hasil pengumpulan, setelah ditata oleh relawan ternyata dapat kembali menjadi barang berguna, makanya dengan hidup hemat dan sederhana, serta mengurangi belanja konsumtif, relatif kita akan dapat mengurangi konsumsi sumber daya alam dan mengatasi masalah masyarakat yang disebabkan oleh konsumsi berlebihan.

Ketika berbicara tentang pelestarian lingkungan, Li Guo-zheng yang turut hadir menyatakan kalau dirinya sangat pesimis terhadap masa depan dari lingkungan dunia. Master memberi dorongan semangat: “Nafsu keinginan manusia sangat mendalam, maka mensucikan batin manusia adalah cara melestarikan lingkungan yang paling tuntas; dengan mengurangi nafsu keinginan dan tahu berpuas hati, akan dapat merubah kebiasaan hidup, dengan sendirinya lingkungan tidak perlu dirusak lagi oleh eksploitasi tanpa batas.”

Master mengungkit kalau dulu pernah mendengar sharing dari seseorang, orang itu pergi ke Srilanka untuk melakukan penambangan batu berharga, walau lokasi penambangannya sangat luas, namun hasil penambangannya hanya sedikit saja, jika dipandang dari sudut ekonomi mau pun lingkungan, sungguh keuntungannya tidak dapat menutup kerugiannya. “Demi ekonomi, semua orang mencari ‘keuntungan’, namun ‘bahaya’ bencana mengikutinya. Jika orang yang berkeinginan untuk merubahnya saja sudah pesimis, maka dunia ini sudah tiada harapan lagi di masa mendatang.” Master menyampaikan, keberhasilan Taiwan dalam bidang daur ulang sampah telah menduduki peringkat atas di dunia. Tahun ini, ketika Tzu Chi menggalakkan pementasan Sutra “Dharma bagaikan air”, juga sekaligus menggalakkan pola makan vegetarian di komunitas-komunitas, membuat banyak orang berhasil merubah kebiasaan hidup bermewah-mewahan dan penuh pemborosan.

“Asal batin manusia dibersihkan dengan Dharma, sadar dan bebas dari nafsu keserakahan, tentu akan tahu kalau pola hidup hemat akan menguntungkan diri sendiri dan orang lain. Walau pun lingkungan besar masih gelap gulita, namun asal ada sebuah pelita kecil, itu sudah cukup untuk menyalakan harapan terang bagi dunia.”

Jangan saling membandingkan dan harus jelas akan kebenaran sejati

Ada seorang wanita yang sharing kalau dulu dirinya pernah salah paham terhadap Tzu Chi, juga pernah menulis hal sangat negatif tentang Tzu Chi dalam penerbitan; namun sesudah kali ini hadir dalam Acara Pemberkatan Akhir Tahun Tzu Chi, dia merasa sangat terharu dan berikrar akan menjadi relawan, serta akan mengunakan media massa untuk “melaporkan kebenaran dan membimbing ke arah benar”.

Master mengatakan: “Setiap kali membaca berita miring terhadap Tzu Chi, saya hanya dapat memberi dorongan semangat pada diri sendiri kalau sedang ‘beraktifitas tanpa beban di dunia ini’ --- saya tidak mau terlibat dalam perselisihan antar manusia, namun harus sungguh-sungguh berbuat kebajikan dan sungguh-sungguh mencari kebenaran sejati.”

Terhadap perbincangan benar salah di luar bisa saja dianggap sepi dengan senyum saja, namun Master menyampaikan: “‘Dalam era besar ini perlu membedakan benar dan salah’ --- kita harus menuntut diri sendiri agar dapat membedakan benar dan salah, serta mengenal jelas akan kebenaran sejati; jika tidak, kalau pola pikir dan prilaku ada sedikit menyimpang, itu mungkin akan menimbulkan kekacauan di dalam masyarakat.”

“Selanjutnya, ‘dalam bencana besar perlu memupuk kewelas asihan terluhur’ --- ketika menyaksikan penderitaan di dunia ini, mestinya tahu kalau sangat beruntung dapat hidup di Taiwan, kita harus menghargainya dan senantiasa memberkati diri sendiri; jika kita tidak mau memberkati Taiwan, malah memutar balikkan fakta, membuat semua orang merasa cemas dan risau tanpa ketenangan, sehingga tidak dapat saling mengasihi dan saling bantu, maka Taiwan akan menjadi bagaikan sebuah perahu kesepian di samudera luas, mudah sekali untuk terbalik.”

“Kemudian, ‘dalam ketidak tahuan besar perlu kebijaksanaan terluhur’ --- dalam kegelapan perlu ada orang yang membawa pelita untuk menerangi jalan, media massa memiliki kesempatan terbesar untuk menerangi jalan bagi masyarakat luas. Jika ingin menyelamatkan dunia ini, media massa harus dapat “melaporkan kebenaran dan membimbing ke arah benar”, baru masyarakat dapat lebih aman dan selamat.”
 
Master mengeluhkan bahwa orang jaman sekarang hanya memiliki pengetahuan tinggi, namun tidak mampu meningkatkan kebijaksanaan diri, sehingga saling berseteru dan tidak mampu bersumbangsih cinta kasih universal dengan tanpa membeda-bedakan; Master mengharapkan agar semua orang dapat merubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan. “Mungkin dahulu pernah membuat berita yang menghasut orang dan menyebabkan kekacauan, maka ‘dalam kekacauan besar perlu pertobatan besar’ --- harus bertobat dengan tulus hati, mulai sekarang bersumbangsih dengan cinta kasih dan menjaganya dengan kebijaksanaan, sungguh-sungguh beraktifitas di alam manusia dengan perasaan bebas dari kerisauan.”
 
Kata Perenungan Master Cheng Yen
Dengan membangkitkan hati cinta kasih dan niat kebajikan, tentu akan bisa menanam benih “kekayaan” untuk masa kehidupan mendatang.

Ceramah Master Cheng Yen pada tanggal 20 - 22 Desember 2011
Dikutip dari Majalah Bulanan Tzu Chi edisi 542
 
經濟惡化對治有方
 
《工商時報》陳志光先生提問,據學者觀察,明年全球經濟景氣惡化;很多企業家或一般民眾為此憂心,上人有何看法?

上人表示,自己並非經濟學家,不過據自己看來,臺灣很有福,只要人人安分守己,心能知足,不要太浪費,不只自家生活無虞,還有餘力能助人。

心靈淨化 知足有福

「我呼籲慈濟人『吃八分飽,兩分助飢貧』。只要減少外食、在家開伙,控制食物量、減少廚餘,就能節省一筆可觀的伙食費,幫助很多人。」上人強調,心能知足最富 有。在慈濟環保站常見回收物品,經志工整理就能發揮功用,所以儉樸節約、減少消費,相對地也能減少資源耗用以及過度消費衍生的社會問題。

談及環保,座中李國政先生表示,自己對於全球環境生態的未來持悲觀態度。上人勉勵:「人心欲望深重,所以心靈淨化是最徹底的環保;少欲知足,就能改變生活習慣,自然環境就不再受無盡的開發、破壞。」

人提及,曾聽聞一位先生分享,他到斯里蘭卡挖寶石礦,鑿山挖礦的範圍很大,但所挖到的礦石只有一點點,從經濟效益與環境角度來看,皆是得不償失。「為了經 濟,人人向『利』看齊,災『害』隨之而來。如果有心改變的人再持悲觀消極態度,世界將來就沒有希望了。」上人表示,臺灣的資源回收成果在世界名列前茅,今 年慈濟推動「法譬如水」經藏演繹,也在社區帶動素食,讓許多人改變奢侈浪費的習慣。

「只要人心得法洗滌,能起覺悟、洗淨貪欲,就懂得儉約生活才是利人利己。雖然大範圍都是黑暗無明,只要有一盞小小燈火,就能為人間燃起光明的希望!」

人我勿較 真理要明

一位女士分享,過去對慈濟有誤解,刊物也曾寫了非常負面的新聞;這次前來參與歲末祝福深受感動,她發願要做志工,且運用媒體力量「報真導正」。

上人嘆道:「每次看到誤解慈濟的報導,只能自勉『遊戲人間』——不計較人我是非,但是要很認真做好事、認真追求真理。」

對於外在的是非言論可以一笑置之,但上人表示:「『大時代需明大是非』——要自我要求明辨是非、認清真理;否則個人思想行為稍有偏差,可能引發社會動亂。」

「其次,『大劫難需養大慈悲』——看到天下災難,應知臺灣很有福,要珍惜且時時自我祝福;假如不祝福臺灣,反而搬弄是非、使人焦躁浮動,無法互愛互助,臺灣就如大海中的一葉孤舟,極易遭遇覆舟之禍!」

「再者,『大無明需要大智慧』——黑暗之中,亟需提燈照路人,而媒體最有機會為大眾提燈照路。要救世,媒體就要『報真導正』,社會才能更平安。」

上人感嘆現代人徒有高知識,智慧卻沒有提升,才會彼此對立,無法平等付出大愛;期待人人轉知識成為智慧。「或許過去曾做了煽動人心的報導,造成動亂,然『大動亂需要大懺悔』——要誠心懺悔,從現在開始用愛付出、用智慧關照,認真遊戲人間。」

【靜思小語】啟動愛心善念,就能為未來種下「富有」的因。

證嚴上人開示於2011122022
本文引用自2012.01.25《慈濟月刊》第542期衲履足

Ketidak beruntungan bersumber pada cacat batiniah

Sejak jaman dahulu, masyarakat Tionghoa sangat menekankan nilai-nilai positif daripada pola hidup “rajin, hemat dan tahan susah”, tak peduli berada di negara mana pun, selalu saja mengandalkan kerja keras, makanya kebanyakan dari warga Tionghoa berhasil menggapai kesuksesan di berbagai belahan dunia.

Namun sekarang angin barat telah berhembus ke timur, pola hidup yang menekankan konsumsi dan kenikmatan perlahan-lahan mulai menggantikan pola pemikiran “rajin dan hemat pangkal kaya”; kehidupan bermewah-mewahan dari banyak orang sebetulnya dibangun pada landasan yang rentan, membuatnya mudah goyah dan sulit tenang.

Di daerah Yunlin Taiwan ada sepasang ibu dan anak dengan keterbelakangan mental, anak bernama A Yi sangat rajin, setiap hari pulang pergi dengan bersepeda menempuh jarak 20 kilometer untuk bekerja sebagai pemindah kotak karton di “Pabrik Harapan” bagi penyandang cacat fisik dan mental; ibunya juga ikut mengajukan diri kepada pemilik pabrik untuk bekerja sebagai pekerja kasar, tetapi pemilik pabrik khawatir kalau usianya sudah sangat lanjut, dia menjawab: “Kalau puteraku sanggup memindahkan barang, saya juga sanggup memanggulnya.”

Kedua ibu dan anak ini menggunakan hati yang murni dan jernih untuk menutupi cacat lahir mereka, mereka dengan kerja jasmani mencukupi kebutuhan hidup sendiri; bukan saja tidak membutuhkan bantuan sanak keluarga dan teman lagi, bahkan mereka mampu hidup hemat untuk menyisihkan uang dan menyumbangkannya ke Tzu Chi demi membantu orang lain; benar-benar membuat orang merasa kagum dan terharu.

Kuli pengangkut barang berlengan tunggal yang tidak ditaklukkan oleh kesulitan

Di Tiongkok ada seorang ayah yang berlengan tunggal, selama 21 tahun ini dia membesarkan kedua orang puteranya seorang diri. Semula dia adalah seorang pekerja tambang batu bara, namun dia kehilangan sebuah lengan dalam suatu kecelakaan, kemudian dia pergi ke Gunung Huashan untuk bekerja sebagai kuli pengangkut barang, dalam sehari dia mengangkut barang sebanyak dua kali perjalanan, setiap kali perjalanan memikul beban lebih dari 70 kg dan menghabiskan waktu selama dua jam lebih dalam mendaki anak tangga setinggi 1.100 meter untuk menghantarkan bahan kebutuhan hidup ke atas gunung.
 
Jika kuli pengangkut barang lain bisa sebelah tangan berpegang pada rantai, sebelah tangan lagi menyangga pada tongkat, mendaki ke atas gunung dengan hati-hati; namun dia hanya memiliki sebuah lengan, dia terpaksa menggunakan dua jari tangan untuk memegang tongkat dan tiga jari tangan mengait pada rantai besi, memungkukkan badan untuk menahan beban sampai ke atas gunung. Kerja kerasnya ini hanya mendapatkan imbalan sebanyak sembilan puluhan ribu perhari. Ketika puteranya yang bekerja di luar daerah pulang ke rumah, dia pernah sekali menemani sang ayah bekerja, ada beberapa kali puteranya ini menangis ingin menggantikan sang ayah memikul barang; namun sang ayah tidak ingin anaknya mengalami kesusahan ini dan berkata pada anaknya: “Asalkan kamu memiliki cita-cita tinggi dan berprilaku benar, maka kesusahan ini akan ada nilainya.”
 
Tak peduli kondisi luar bagaimana, asal setiap orang dapat meningkatkan taraf batin masing-masing, menunaikan kewajiban dengan baik, menjaga sebuah niat pikiran baik, tahu untuk mengatasi kesulitan, bukannya ditaklukkan oleh kesulitan, maka masyarakat ini baru bisa aman dan selamat; jika semua orang bersatu hati dan bergotong royong, tentu akan dapat sama-sama menciptakan masyarakat yang damai dan makmur. Sebaliknya jika dilihat pada masyarakat jaman sekarang, banyak orang tidak mau hidup menghadapi kesusahan, atau jika menemui sedikit kesusahan, lalu merasa semua orang bersalah padanya; “cacat batiniah” pada manusia dapat menyebabkan “bencana batiniah” pada masyarakat.
 
Saya berharap agar batin setiap manusia dalam masyarakat dapat lebih “murni dan bajik” --- setiap orang berpanutan pada orang yang telah bertekad luhur; dalam pola kehidupan yang rajin dan hemat, berusaha menaklukkan nafsu keserakahan dan kemalasan, serta membangkitkan kondisi batin yang aktif, dapat menggenggam setiap detik untuk bersumbangsih demi masyarakat.

Dikutip dari Majalah Tzu Chi edisi 539
 
不幸來自心理殘障
 
自古以來,華人社會很強調「克勤、克儉、克難」的價值觀,不論落腳到哪一個國家,總是胼手胝足打拚,所以華人在世界各地大多能有很好的成就。

然而現今西風東漸,強調消費、享受的生活型態,逐漸取代「勤儉致富」的觀念;許多人奢侈的生活,其實是建立在危脆的基礎上,以致飄搖難安。

在臺灣雲林有一對弱智的母子,兒子阿義非常勤奮,每天騎腳踏車來回奔波二十公里,到身心障礙者「希望工廠」搬運紙箱;媽媽也向老闆毛遂自薦要來做粗工,老闆擔心她年紀太大,她說:「我兒子搬得動,我也扛得動。」

母子倆用單純清淨心,彌補先天的缺陷,靠勞力自食其力生活;不只不再接受親友接濟,更省吃儉用每月捐款給慈濟助人;實在令人讚歎且感動。

獨臂挑夫 不被困難克服

在大陸則有一位獨臂的父親,二十一年來父兼母職獨立撫養兩個兒子。他原本是煤礦工人,在災變中失去一隻手臂,後來到華山當挑夫,一天兩趟,每次負重超過七十公斤,花兩個多小時爬上一千一百公尺的階梯,運送生活物資上山。

他挑夫可以一手拉著鐵鍊、一手撐拐杖,戰戰兢兢往上爬;但他只有一隻手,只好用兩根手指頭拿拐杖、三根手指頭扣住鐵索,一路駝負重物上山。如此辛勤工作, 每天收入約只新臺幣三百多元。在外地工作的兒子回來,陪著爸爸走一趟,好幾次哭著要代替爸爸挑;但他不讓孩子體驗這樣的苦,告訴兒子:「只要你有志氣,做 人做得正,這分辛苦就有價值。」

無論外在環境如何,只要人人提升自我心靈境界,守好本分、守好一念善,懂得克服困難、不被困難克服,社會 才能平安;人人合心、協力,就能共創祥和而富有的社會。反觀現代社會,許多人不願吃苦,或是吃了一點點苦,就好像天底下人都對不起他;人的「心理殘障」, 會造成社會的「心理災難」。

期待社會人心能多一點「純善」——人人向立志的人生看齊;從克勤克儉中,克服貪念與懶散,提起積極的心態,把握分秒為社會付出。

本文摘自:《慈濟月刊》539期〈無盡藏

Pola hidup yang sederhana dan bersahaja

Jika kita menjalani pola hidup yang sederhana dan bersahaja,
dengan sendirinya akan selalu berada dalam kondisi selamat.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -
清清淡淡地生活,
自然就平平安安。
~摘錄自證嚴上人靜思語~
Live a simple life to enjoy peace and bliss.
- Jing-Si Aphorism by Master Cheng-Yen -

Ada orang yang selalu merasa risau

Ada orang yang selalu merasa risau,
karena menanggapi dengan serius sepatah kata
yang diucapkan orang lain secara tanpa disengaja.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -
有些人常常起煩惱,
因為別人一句無心的話,
他卻有意的接受。
~摘錄自證嚴上人靜思語~
People often feel upset,
because they take careless remarks too seriously.
- Jing-Si Aphorism by Master Cheng-Yen -